Follow us:

Pentingnya Ilmu Dan Peranan Ulama’ Dalam Kehidupan

Oleh:Ustadz Mirdas Eka Yora, Lc., MSI.

Ulama merupakan bagian penting dalam perkembangan hidup dan kehidupan manusia. Dalam hal ini ulama memiliki peranan yang sangat penting. Pentingnya peranan ini dapat dirasakan dengan adanya perbedaan antara sikap dan perilaku orang yang berilmu dengan orang yang tidak. Untuk menjadikan seseorang memiliki ilmu, tentu saja peran ulama sangat dibutuhkan.

Ilmu yang disebarkan ulama tersebut menjadi tolak ukur baik buruknya peradaban manusia. Ilmu yang menuntun manusia untuk dapat berjalan sesuai rel yang seharusnya.

Hadits ke-1

Imam At-Tirmidziy (279H) rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya “Al-Jaami’ Al-Kabiir” atau yang lebih terkenal dengan nama “Sunan At-Tirmidziy”, dari Abu Kabsyah Al-Anmaariy radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ، عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ ” (سنن الترمذي: صحيح)

“Sesungguhnya dunia itu untuk empat orang; Pertama, seorang hamba yang dikaruniai Allah harta dan ilmu, dengan ilmu ia bertakwa kepada Allah dan dengan harta ia menyambung silaturrahim dan ia mengetahui Allah memiliki hak padanya dan ini adalah tingkatan yang paling baik. Kedua, selanjutnya hamba yang diberi Allah ilmu tapi tidak diberi harta, niatnya tulus, ia berkata: Andai saja aku memiliki harta niscaya aku akan melakukan seperti amalan si fulan, maka ia mendapatkan apa yang ia niatkan, pahala mereka berdua sama. Ketiga, selanjutnya hamba yang diberi harta oleh Allah tapi tidak diberi ilmu, ia melangkah serampangan tanpa ilmu menggunakan hartanya, ia tidak takut kepada Rabbinya dengan harta itu dan tidak menyambung silaturrahimnya serta tidak mengetahui hak Allah padanya, ini adalah tingkatan terburuk. Keempat, selanjutnya orang yang tidak diberi Allah harta atau pun ilmu, ia bekata: Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan yang serampangan mengelola hartanya, dan niatnya benar, maka dosa keduanya sama.” (Sunan Tirmidziy: Shahih)

Hadits ini disahihkan oleh Imam Tirmidziy, An-Nawawiy, Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy, syekh Albaniy dan ulama yang lain rahimahumullah.

Hadits di atas menunjukkan bahwa jika engkau tidak memiliki harta, tapi engkau hanya bermodalkan kejujuran, lalu dengan ikhlas engkau beniat dan berkata: “Kalau seandainya aku memiliki harta seperti saudagar Fulan, sungguh aku akan berbuat kebaikan seperti yang ia kerjakan.” Maka pahala kalian berdua sama. Sungguh ini merupakan kenikmatan yang agung, dan segala puji hanya bagi Allah, Pemilik segala pujian dan kemuliaan.

Begitu juga sebaliknya, jika engkau tidak memiliki harta dan ilmu, lalu engkau beniat dan berkata: “Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan yang serampangan mengelola hartanya.” Maka dosa kalian berdua pun sama.

Oleh karena itu, jika tujuan bernegara hanya membuat masyarakat sejahtera, hal ini bisa berbahaya. Sebab, manusia kepada Allah sangatlah ingkar (terhadap nikmat-Nya). Menurut islam, masyarakat sejahtera adalah apabila masyarakatnya cinta ibadah, apapun yang dilakukan tujuannya untuk ibadah kepada Allah Ta’ala.

Dengan hadits di atas, dapat dipahami tentang kedudukan ilmu. Orang yang berada pada puncak tertinggi adalah yang terkumpul pada diri mereka harta dan ilmu, lalu mempergunakan harta dan ilmunya di jalan Allah Ta’ala. Termasuk kelompok paling mulia adalah orang yang hanya berilmu, tanpa harta, namun jika memperoleh harta, ilmu dan hartanya akan ia gunakan juga di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sementara kelompok paling jahat dan keji adalah pemilik ilmu, harta, atau ilmu dan harta, namun ilmu dan hartanya tidak dipergunakan di jalan Allah Ta’ala.

Hadits ke-2

Dari Katsir bin Qais, ia berkata: “Dahulu saya pernah duduk-duduk di sebelah Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu di masjid Damaskus lalu datang seorang lelaki kepadanya seraya berkata: “wahai Abu Darda’ saya datang dari kota Madinah kepadamu untuk sebuah hadist yang telah sampai kepadaku bahwa engkau telah menceritakannya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam?”

lalu Abu Darda’ betanya: “apakah kamu datang karena urusan dagang?”

ia jawab: “bukan”

Abu Darda’ bertanya: “apakah karena ada urusan lain (selain hanya ingin bertanya tentang hadis)?”

ia menjawab: “tidak”

lalu Abu Darda berkata: sesungguhnya aku mendengar Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

 

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Barangsiapa meniti jalan untuk mencari ilmu, Allah akan permudahkan baginya jalan menuju surga. Para Malaikat akan membentangkan sayapnya karena ridla kepada penuntut ilmu. Dan seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampunan oleh penghuni langit dan bumi hingga ikan yang ada di air. Sungguh, keutamaan seorang alim dibanding seorang ahli ibadah adalah ibarat bulan purnama atas semua bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat besar.” (HR. Ibnu Majah dan lainnya)

Diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Jundab dari Kamil bin Ziyad berkata: Ali bin Abi Thalib memegang tanganku dan mengajakku keluar menuju daerah padang pasir, setelah sampai di padang pasir, dia duduk dan mengambil nafas lalu berkata:

يا كميل بن زياد القلوب أوعية فخيرها أوعاها، احفظ عني ما أقول لك:

الناس ثلاثة: فعالمٌ رباني، ومتعلمٌ على سبيل نجاة، وهمج رعاع أتباع كل ناعق، يميلون مع كل ريح، لم يستضيئوا بنور العلم، ولم يلجأوا إلى ركن وثيق، العلم خير من المال، العلم يحرسك وأنت تحرس المال، العلم يزكو بالإنفاق والمال تنقصه النفقة، ومحبة العلم دين يدان به، العلم يكسب العالم الطاعة في حياته وجميل الأحدوثة بعد وفاته، وصنيعة المال تزول بزواله، مات خزّان الأموال وهم أحياء، والعلماء باقون ما بقي الدهر، أعيانهم مفقودة، وأمثالهم في القلوب موجودة؛ هاه هاه إن ههنا – وأشار بيده إلى صدره – علما لو أصبت له حملة، بل أصبته لَقِنَا غير مأمون عليه، يستعمل آلة الدين للدنيا، يستظهر بحجج الله على كتابه، وبنعمه على عباده، أو منقادا لأهل الحق لا بصيرة له في أحِنّائه، ينقدح الشك في قلبه بأول عارض من شبهة، لا ذا ولا ذاك، أو منهوما باللذات، سلس القياد للشهوات، أو مغرى بجمع الأموال والإدخار، فهؤلاء ليسوا من دعاة الدين، أقرب شبها بهم الأنعام السائبة، كذلك يموت العلم بموت حامليه،

“Wahai Kamil bin Ziyad, hati adalah kesadaran, hati yang paling baik adalah yang paling sadar. Hafalkanlah apa yang akan aku katakan padamu: manusia itu terbagi menjadi tiga bagian: orang alim yang rabbani, orang yang belajar dalam menempuh jalan keselamatan, dan orang yang hina-dina yang mengikuti semua orang, mereka terombang-ambing oleh angin, mereka tidak mendapatkan cahaya ilmu, mereka tidak berpegang pada prinsip yang kuat.

Ilmu adalah lebih baik dari harta, ilmu menjaga dirimu sedangkan kamu menjaga harta, ilmu akan bertambah bila dipakai sedangkan harta akan berkurang bila dipakai, kecintaan orang yang berilmu adalah kepada agama yang dipeluknya, ilmu membuat orang taat dalam kehidupnya, dan akan dikenang setelah mati. Harta akan hilang bersama dengan kematian, sedangkan orang alim akan abadi sepanjang masa, jasadnya bisa saja tidak ada, tetapi kebaikannya akan tetap ada dalam hati. Sesungguhnya ilmu itu ada di sini −Ali menunjuk ke dadanya−.

Andaikan ilmu yang kamu dapatkan itu benar, kamu tidak akan mempergunakan alasan agama untuk memperoleh dunia, mendustakan bukti Allah dalam Al-Quran, mendustakan nikmat Allah kepada hamba-Nya, menentang kebenaran dan tidak ingin menegakkannya, meragukan hati naraninya ketika melakukan perbuatan syubhat (yang tidak jelas halal dan haramnya), atau ketika merasakan kesenangan, kehilangan kendali terhadap syahwat, senang mengumpulkan harta dan kehinaan, suka menipu pendakwah agama, karena yang demikian itu sama dengan binatang ternak. Begitulah ilmu akan mati bersama dengan orangnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia:”Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Ali Imran: 79)

 

Banyak ulama yang telah mencoba memberi penjelasan tentang maksud dari ulama Rabbani. Tapi, paparan yang singkat namun padat datang dari Al ’Allamah Ibnu Jarir al-Thabari rahimahullah (w. 310 H.), beliau menjelaskan ulama rabbani:

 

“Yaitu orang yang berhimpun padanya ilmu dan pandangan politisnya… orang yang alim tentang halal, haram, perintah dan larangan serta mengetahui kondisi umat, baik yang lalu dan yang sedang terjadi”.

 

Ibnu Qayyim rahimahullahu menyatakan bahwa ilmu merupakan pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Diantaranya karena:

  • Ilmu adalah warisan para Nabi, sedang harta adalah warisan para raja dan orang kaya.
  • Ilmu menjaga pemiliknya, sedang pemilik harta justru harus menjaga hartanya.
  • Ilmu adalah penguasa atas harta, sedang harta tidak berkuasa atas ilmu.
  • Harta bisa habis dengan sebab dibelanjakan, sedangkan ilmu justru bertambah dengan diajarkan.
  • Pemilik harta jika telah meninggal dunia, ia berpisah dengan hartanya, sedangkan ilmu mengiringinya masuk ke dalam kubur bersama para pemiliknya.
  • Harta bisa didapatkan oleh siapa saja, baik orang ber-iman, kafir, orang shalih dan orang jahat, sedangkan ilmu yang bermanfaat hanya didapatkan oleh orang yang beriman saja.
  • Ilmu mengatur harta, tapi harta tidak dapat mengatur ilmu
  • Ilmu dibutuhkan oleh para raja dan orang-orang di bawahnya, sedang harta hanya diperlukan oleh orang-orang miskin dan papa.
  • Jiwa manusia menjadi mulia dan suci dengan mengumpulkan dan menuntut ilmu, karena ilmu adalah elemen kesempurnaan jiwa. Tapi, harta tidak memberi sifat kesempurnaan pada jiwa. Sebaliknya, jiwa selalu merasa kurang, kikir dan bakhil karena menumpuk-numpuk harta. Jadi, ‘rakusnya’ seseorang pada ilmu menunjukkan kesempurnaan jiwanya, dan serakahnya seseorang pada harta menjadi bukti kekurangannya.
  • Harta menyebabkan jiwa angkuh, sombong, dan berbuat dosa. Tapi ilmu mendorongnya untuk tawadhu’ dan melaksanakan tuntutan ‘ubudiyah. Karena harta mengarahkan jiwa kepada sifat-sifat para raja, sedang ilmu mengarahkan kepada sifat-sifat hamba.
  • Sesungguhnya mencintai ilmu dan mencarinya adalah akar seluruh ketaatan, sedangkan mencintai harta dan dunia adalah akar berbagai kesalahan.
  • Harga orang kaya adalah pada hartanya, sedang nilai ulama adalah ilmunya. Orang kaya bernilai karena harta yang ia miliki. Apabila hartanya habis, maka nilainya hilang. Ia tidak lagi berharga. Sedang orang alim nilainya tidak pernah lenyap, bahkan selalu berlipat ganda dan bertambah.

Oleh itu, untuk terhindar dari berbagai macam hal yang berkembang di tengah masyarakat kita, khususnya terhadap keyakinan dan ajaran yang nyeleweng lagi sesat. Maka salah satu obatnya adalah meningkatkan pemahaman ilmu tentang islam. Sehingga kita semua dapat bertindak benar, mengambil sikap dan langkah yang tepat lagi baik.

Wallahu Ta’ala A’lam

 

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved