Follow us:

Rahasia Umur Panjang dan Banyak Rezeki dalam Islam

Dalam ajaran Islam, ajal merupakan ketetapan Allah SWT yang bersifat pasti. Alquran menegaskan bahwa apabila waktu yang ditentukan itu datang, maka tidak dapat dimajukan ataupun ditunda. Namun demikian, Alquran tidak pernah menjelaskan secara rinci kapan batas akhir kehidupan seseorang akan tiba.

Ketidakjelasan waktu ajal inilah yang kemudian membuka ruang perenungan, apakah manusia sama sekali tidak memiliki peran dalam upaya memperpanjang usia atau melapangkan rezeki?

Salah satu hadis Nabi SAW yang paling sering dikutip dalam konteks ini tercantum dalam hadits shahih, di mana Rasulullah SAW bersabda, 

عَن ابْن شهاب أَخْبَرَنٍيْ أَنَس بْن مَالِك أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ  –  رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

“Diriwayatkan dari Ibnu Sihab (dimana) telah menginformasikan padaku Anas bin Malik ra., bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang suka diluaskan rezekinya dan dipanjangkan (sisa) umurnya, maka sambunglah (tali) kerabatnya.” (HR Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa Islam menjunjung tinggi ukhuwah sesama manusia sebagai makhluk Allah swt. Salah satu nama Allah adalah ar-Rahman (Maha Pengasih). Umat Islam diminta untuk meneladani sifat Allah tersebut untuk menjadi  hamba yang pengasih, menjadi manusia rabbani. 

Para ulama berbeda pandangan dalam menafsirkan makna “ditambah umurnya” dalam hadis tersebut. Sebagian memahami maknanya secara hakiki, yakni Allah SWT benar-benar menambah usia seseorang sebagai buah dari amal kebaikannya, terutama dalam menjaga silaturahmi.

Sementara itu, sebagian ulama lain menafsirkan penambahan umur secara majazi, yakni berupa keberkahan hidup. Umur yang diberkahi ditandai dengan produktivitas yang tinggi, kebaikan yang luas manfaatnya, serta nama baik yang terus dikenang meskipun seseorang telah wafat.

Meski berbeda penafsiran, para ulama sepakat bahwa silaturahmi membawa dampak besar bagi kehidupan manusia, baik secara spiritual maupun sosial.

Silaturahmi bukan sekadar ajaran moral, melainkan juga memiliki dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan keluarga yang harmonis dapat menciptakan ketenangan batin, mengurangi konflik, dan menekan tingkat stres. Kondisi jiwa yang tenang berpengaruh langsung pada kesehatan fisik dan daya tahan tubuh.

Dalam perspektif modern, banyak penelitian menyebutkan bahwa stres berkepanjangan mempercepat proses penuaan dan memicu berbagai penyakit. Sebaliknya, kehidupan yang harmonis, relasi sosial yang sehat, dan dukungan emosional yang kuat berkontribusi pada umur yang lebih panjang dan kualitas hidup yang lebih baik.

Kendati demikian, ulama muda NU, KH Bahaudin Nur Salim (Gus Baha) menekankan bahwa meski silaturahim mempunyai banyak manfaat dan keberkahan, tetapi harus dilakukan dengan ilmu. Di antaranya, ketika bertamu ke rumah seseorang pastikan pastikan orang tersebut dalam keadaan nyaman.

“Silaturahim bukan berarti sering bertamu saja, tapi harus tahu tata aturannya, jangan sampai gara-gara silaturahim malah mempersulit orang lain” kata Gus Baha dalam Ngaji Kitab Sahih Muslim di Pondok Pesantren Mazro’atul Ulum Damaran, Kudus, Jawa Tengah.

Rezeki pun tidak selalu bermakna materi semata. Rezeki mencakup kesehatan, ketenangan, keluarga yang rukun, serta kemudahan dalam berbagai urusan hidup.

Islam mengajarkan keseimbangan antara takdir dan ikhtiar. Ketetapan Allah SWT tidak meniadakan usaha manusia. Justru, manusia diperintahkan untuk berikhtiar melalui amal saleh, menjaga hubungan sosial, hidup sehat, dan menjauhi hal-hal yang merusak diri.

Dengan demikian, rahasia banyak rezeki dan panjang umur dalam Islam tidak terletak pada upaya melawan takdir, melainkan pada kesungguhan menjalani hidup sesuai tuntunan Ilahi.

Pada akhirnya, umur yang panjang dan rezeki yang melimpah akan bernilai apabila dipenuhi dengan keberkahan, amal kebajikan, serta manfaat bagi sesama. Inilah hakikat umur panjang dan rezeki luas yang diajarkan Islam.

Doa saat silaturahmi

Saat silaturahmi, ada yang sering dilupakan yakni mendoakan tuan rumah yang telah menyambut dengan ramah dan berbaik hati menyuguhkan berbagai hidangan. Karena itu, dianjurkan ketika bertamu ke rumah orang lain untuk membaca doa bagi sohibul bait atau tuan rumah. Berikut doanya,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي مَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ

Allahumma barik lahum fiy maa rozaqtahum waghfirlahum warhamhum

‘Ya Allah, berilah mereka berkah dalam segala yang telah Engkau rezekikan kepada mereka, ampunilah mereka dan sayangilah mereka.’”

Doa ini adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya. Doa ini dapat ditemukan pada hadits riwayat Iman Tirmidzi. Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah SAW silaturahmi ke rumah sahabat Ubay. Kemudian ia menyajikan berbagai hidangan untuk Rasulullah. Lalu setelahnya Ubay memohon Rasulullah untuk mendoakannya. 

Oleh karenanya, apabila tamu lupa untuk mendoakan sohibul bait, maka boleh bagi tuan rumah untuk mengingatkan dan memintanya. Dan apabila tamu telah mendoakan tuan rumah, menjadi lebih baik apabila tuan rumah pun mendoakan keselamatan untuk tamunya ketika hendak pulang. (UYR/Republika)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved