Follow us:

RUMAH YANG TIDAK DIMASUKI SYAITHAN

Pembahasan kita pada kali ini adalah tentang rumah-rumah yang tidak dimasuki syaithan. Jika sebuah rumah dimasuki syaithan maka akan menjadi sebuah masalah hidup bahkan sumber masalah. Karena rumah merupakan tempat bernaung keseharian manusia. Syaithan akan menyebarkan jerat-jerat racunnya ke seluruh penghuni rumah sehingga rumah itu penuh dengan kemaksiatan dan kesesatan. Manakala jerat rayuannya berhasil mengenai sasaran, syaithan pun akan bersuka ria gembira.

Dan sudah merupakan janji Iblis kepada Allah Ta’ala bahwa dirinya akan menyesatkan mereka dari jalan Allah dengan menggodanya dari segala arah, baik depan, belakang, samping kanan, maupun kiri. Kisah iblis telah disebutkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kitab-Nya,

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلآئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ لَمْ يَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ (الأعراف: 11) قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ{12} قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ{13} قَالَ أَنظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ{14} قَالَ إِنَّكَ مِنَ المُنظَرِينَ{15} قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ{16} ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ{17}

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, Kemudian kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis, dia tidak termasuk mereka yang bersujud”. 12. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. 13.  Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; Karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. 14. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. 15. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” 16.  Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. 17.  Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).  (Al A’raf: 11-17)

Apakah Perbedaan Antara Jin, Syaithan, Dan Iblis?

Dalam kitab Ahkamul Qur’an karangan Al Qurthubi Rahimahullahu dijelaskan perbedaan pendapat para ulama  mengenai asal-usul Jin;

Imam Hasan al-Bashri Rahimahullahu berpendapat: bahwa Jin adalah keturunan Iblis, seperti manusia keturunan Adam. Dari dua kelompok ini ada yang beriman dan ada yang kafir, keduanya juga berhak mendapatkan pahala dan siksaan dari Allah. Mereka yang beriman dari keduanya adalah kekasih Allah dan mereka yang kafir adalah Syaithan.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاء مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلاً (الكهف:50)

Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis, dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim”. (Al Kahfi: 50)

Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berpendapat; Jin adalah keturunan Jann, mereka bukan syaithan, mereka bisa mati dan mereka ada yang beriman dan ada yang kafir. Sedangkan syaithan adalah anak Iblis, mereka tidak akan mati kecuali bersama-sama Iblis.

Dalam tafsir surat An-Nas, Qatadah Rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya dari jin dan manusia terdapat syaithan-syaithan”. Ini mirip dengan pendapat Hasan Bashri di atas. Dalam surah Al-An’am ayat 112, dikatakan,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً

“Dan demikianlah Aku jadikan untuk setiap nabi musuh dari syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)”. (Al An’am: 112)

أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاء مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ

“Apakah kalian akan menjadikan mereka (jin) dan keturunanya sebagai kekasih selain Aku (Allah) padahal mereka adalah musuh kalian”. (Al-Kahfi: 55)

Dalam kitab “Ahkaamul-Marjan fi Ahkamil Jan” karangan Syibli (hal. 6) disebutkan bahwa jin mencakup malaikat dan mahluk lainnya yang kasat mata. Sedangkan syaithan adalah jin yang durhaka dan kafir, mereka adalah anak-anak Iblis.

Yang terpenting bagi umat manusia adalah meyakini bahwa Syaithan adalah musuh mereka dan selalu berusaha untuk menyesatkannya dan menjauhkannya dari jalan Allah. Syaithan adalah sifat untuk menyebut setiap makhluk yang jahat, membangkang, tidak taat, suka membelot, suka maksiat, suka melawan aturan, atau semacamnya.

  1. Umar Sulaiman Al-Asyqar mengatakan,

الشيطان في لغة العرب يطلق على كل عاد متمرد

“Syaithan dalam bahasa Arab digunakan untuk menyebut setiap makhluk yang menentang dan membangkang”. (‘Alamul Jinni was Syayathin)

Dinamakan syaithan, karena berasal dari kata; syutun (Arab: شطون) yang artinya jauh. Karena syaithan dijauhkan dari rahmat Allah. (Al-Mu’jam Al-Wasith, kata: الشيطان)

Dalam surah Yasin ayat 60 disebutkan bahwa Allah Ta’ala melarang kita untuk menyembah syaithan,

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Bukankah Aku (Allah) telah membuat perjanjian kepadamu hai bani Adam agar kalian tidak menyembah syaithan, mereka adalah musuh yang paling jelas”. (Yasin: 60)

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً

“Sesungguhnya syaithan adalah musuh kalian maka jadikanlah mereka musuh”.. (Fathir: 6)

Dan banyak dalil-dalil yang mengingatkan kita agar hati-hati terhadap tipu daya dan rayuan syaithan ini.

Adakah Rumah Yang Terbebas Dari Gangguan Syaithan

Kembali kepada inti pembahasan tentang adakah rumah yang terbebas dari gangguan Syaithan dan tidak dapat dimasukinya? Rumah itu adalah rumah yang penghuninya menerapkan aturan Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan berakhlak mulia. Kita berharap rumah kita menjadi salah satu yang tidak bisa dimasuki Syaithan.

Setiap keluarga muslim pasti mendambakan ketenteraman dan ketenangan dalam rumah yang mereka huni, baik dia seorang suami, seorang istri, ataupun sebagai seorang anak. Semua ingin rumah mereka seperti kata orang: Baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Bukan karena rumah itu mewah dilengkapi perabotannya yang wah, namun karena semua merasa tentram ketika masuk dan berada di dalamnya, meskipun rumah tersebut kecil dan sederhana.

Seorang suami pulang ke rumah usai aktivitasnya di luar rumah, baik untuk mencari penghidupan ataupun untuk berdakwah. Ia masuk ke rumahnya, didapatinya rahah (lapang). Lelah dan kepenatannya serasa hilang saat bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Ketenangan menyelimutinya.

Seorang istri merasa betah berdiam dalam rumahnya. Karena memang seperti titah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kaum hawa:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Tetaplah kalian tinggal di rumah kalian”. (Al-Ahzab: 33)

Juga karena suasana dalam rumah turut mendukung timbulnya rasa betah tersebut. Anak-anak pun merasa senang dalam rumah mereka walaupun rumahnya kecil dan sederhana. Kerukunan dan kasih sayang senantiasa terjalin di antara anggotanya.

Gambaran seperti yang kita ungkapkan tentunya menjadi keinginan setiap insan. Lalu, apa rahasianya untuk mewujudkan baiti jannati tersebut? Diantara faktor yang sangat penting adalah menjauhkan rumah dari para syaithan. Kenapa demikian? Karena syaithan merupakan musuh anak Adam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagi kalian maka jadikanlah dia sebagai musuh”. (Fathir: 6)

Yang namanya musuh tentu selalu berupaya mencari celah untuk mencelakakan orang yang dimusuhinya. Yang disebut musuh pasti ingin menghancurkan orang yang dimusuhinya. Salah satu target utama syaithan adalah merusak sebuah keluarga, menghancurkan ikatan di antara anggota-anggotanya.

Iblis, gembong para syaithan, demikian bergembira bila anak buahnya berhasil memisahkan seorang istri dari suaminya. Sebagaimana kabar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

إِنَّ إِبلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْماَءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُم فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirimkan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat diantara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang syaithan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (anak Adam yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim)

Al-Imam An-Nawawi Rahimahullahu menerangkan bahwa iblis bermarkas di lautan, dan dari situlah ia mengirim tentara-tentaranya ke penjuru bumi. Iblis memuji anak buahnya yang berhasil memisahkan suami dengan istrinya, karena kagum dengan apa yang dilakukan si anak buah dan ia dapat mencapai puncak tujuan yang dikehendaki iblis. Iblis pun merangkulnya. (Al-Minhaj, 17/154-155)

Kata Al-Imam Al-Qadhi Iyadh Rahimahullahu, hadits ini menunjukkan besarnya perkara firaq (perpisahan suami dengan istrinya) dan talak, serta besarnya kemadharatan dan fitnahnya. Selain itu, juga menunjukkan besarnya dosa orang yang berupaya memisahkan suami dari istrinya. Karena dengan berbuat demikian berarti memutuskan hubungan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan untuk disambung, menceraiberaikan rahmah dan mawaddah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan di dalamnya, serta merobohkan rumah yang dibangun dalam Islam. (Ikmalul Mu’lim bi Fawa’id Muslim, 8/349)

Iblis berikut bala tentaranya ini berambisi menghancurkan hubungan suami dengan istrinya. Sementara suami dan istri ini tentunya bernaung dalam sebuah rumah. Nah, tentunya syaithan tidak akan tenang bila tidak bisa masuk ke rumah tersebut. Bila syaithan telah berhasil mendiami sebuah rumah, niscaya ia akan menebarkan kerusakan di dalamnya, sehingga terjadilah perselisihan di antara anak-anak dan perpisahan antara suami dengan istrinya. Berubahlah mawaddah (kasih sayang) menjadi ‘adawah (permusuhan), rahmah menjadi adzab.

Menjaga lebih baik daripada mengobati. Namun terkadang kita tidak menyadari bahwa kondisi rumah kita selama ini rawan dijadikan sarang Syaithan, atau gangguan mereka sudah terlanjur datang dan mereka telah melakukan serangan, baik kepada diri kita maupun kepada anggota keluarga lainnya. Jika demikian keadaannya, lakukanlah tindakan pembersihan. Namun jangan sekali-kali menggunakan jasa dukun atau orang pinter untuk mengusir dan memburu Syaithan. Karena mereka sendiri hakikatnya adalah agen Syaithan di bumi ini.

Kalau dengan cara perdukunan, gangguan Syaithan di rumah hilang, maka itu adalah tipuan. Hilangnya gangguan hanya sementara, lalu akan muncul lagi. Atau gangguan yang ada selama ini hilang, tapi secara tidak sadar, ternyata kita sudah masuk pada gangguan Syaithan lainnya, yaitu memanfaatkan jasa perdukunan yang beraroma kesyirikan. Keluar dari sumur, lalu masuk ke jurang yang lebih dalam.

Karena pada dasarnya kita tidak bisa melihat wujud asli jin atau Syaithan, maka sangat mustahil bagi kita untuk menangkap jin pengganggu lalu membuangnya. Kalau kita melakukan hal itu, berarti kita telah melakukan tindakan yang konyol. Lebih baik bagi kita untuk memohon langsung kepada Dzat yang menguasai mereka, iblis dan teman-temannya.

Manusia tidak bisa melihat jin, namun jin bisa melihat manusia. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu di suatu keadaan yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)

Diantara Senjata Dalam Menghadapi Syaithan

  • Membaca Bismillah dalam memulai setiap aktivitas (makan, minum, masuk rumah dan sebagainya)
  • Memperbanyak dzikir dan Istighfar kepada Allah Ta’ala
  • Memperbanyak kalimat dzikir لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين
  • Jangan tidur sendirian dan jangan tidur di tempat yang tidak suci
  • Senantiasa melazimi dzikir pagi dan sore hari
  • Memelihara shalat berjama’ah di masjid
  • Tidak mendengarkan music dan nyanyian yang membangkitkan syahwat
  • Tidak memakai pakaian yang tidak sesuai syari’at

Pintu Terbesar Yang Dimasuki Syaithan

Cara syaithan untuk memasuki (menggoda) seorang hamba jumlahnya amatlah banyak. Pada kali ini kami akan menunjukkan pintu-pintu tersebut yang merupakan pintu terbesar yang syaithan biasa memasukinya.

  1. Hasad dan Dengki

Ini adalah pintu terbesar yang akan dimasuki syaithan yaitu hasad (dengki) dan tamak. Jika seseorang begitu tamak pada sesuatu, ketamakan tersebut akan membutakan, membuat tuli dan menggelapkan cahaya kebenaran, sehingga orang seperti ini tidak lagi mengenal jalan masuknya syaithan. Begitu pula jika seseorang memiliki sifat hasad, syaithan akan menghias-hiasi sesuatu seolah-olah menjadi baik sehingga disukai oleh syahwat padahal hal tersebut adalah sesuatu yang mungkar.

  1. Marah

Ini juga adalah pintu terbesar yaitu. Ketahuilah, marah dapat merusak akal. Jika akal lemah, pada saat ini tentara syaithan akan melakukan serangan dan mereka akan menertawakan manusia. Jika kondisi kita seperti ini, minta perlindunganlah pada Allah.

  1. Berlebihan Dalam Menghias-hiasi tempat tinggal

Yaitu sangat suka menghias-hiasi tempat tinggal, pakaian dan segala perabot yang ada. Orang seperti ini sungguh akan sangat merugi karena umurnya hanya dihabiskan untuk tujuan ini.

  1. Terlalu Kenyang

Kenyang karena telah menyantap banyak makanan. Keadaan seperti ini akan menguatkan syahwat dan melemahkan untuk melakukan ketaatan pada Allah. Kerugian lainnya akan dia dapatkan di akhirat.

  1. Tamak Kepada Orang Lain

Jika seseorang memiliki sifat seperti ini, maka dia akan berlebih-lebihan memuji orang tersebut padahal orang itu tidak memiliki sifat seperti yang ada pada pujiannya. Akhirnya, dia akan mencari muka dihadapannya, tidak mau memerintahkan orang yang disanjung tadi pada kebajikan dan tidak mau melarangnya dari kemungkaran.

  1. Tergesa-gesa

Sifat selalu tergesa-gesa dan tidak mau bersabar untuk perlahan-lahan. Padahal terdapat sebuah hadits dari Anas, di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

“Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari syaithan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Kubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shaghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

  1. Cinta Harta

Sifat seperti ini akan membuat berusaha mencari harta bagaimana pun caranya. Sifat ini akan membuat seseorang menjadi bakhil (kikir), takut miskin dan tidak mau melakukan kewajiban yang berkaitan dengan harta.

  1. Fanatik

Yaitu mengajak orang awam supaya ta’ashub (fanatik) pada madzhab atau golongan tertentu, tidak mau beramal selain dari yang diajarkan dalam madzhab atau golongannya.

  1. Memikirkan Hakekat (Kaifiyah) dzat dan sifat Allah yang sulit digapai akal

Yaitu mengajak orang lain untuk memikirkan hakekat (kaifiyah) dzat dan sifat Allah yang sulit digapai oleh akal mereka sehingga membuat mereka menjadi ragu dalam masalah paling urgen dalam agama ini yaitu masalah aqidah.

  1. Berburuk Sangka

Yaitu selalu berburuk sangka terhadap muslim lainnya. Jika seseorang selalu berburuk sangka (bersu’uzhon) pada muslim lainnya, pasti dia akan selalu merendahkannya dan selalu merasa lebih baik darinya. Seharusnya seorang mukmin selalu mencari udzur dari saudaranya. Berbeda dengan orang munafik yang selalu mencari-cari ‘aib orang lain.

Dengan penjelasan di atas kita bisa memahami kenapa kita harus membentengi diri dan rumah kita dari syaithan yang terkutuk. Sebab, rumah merupakan syurga kita di dunia, betapapun jeleknya rumah kita, tetap saja ia adalah tempat yang senantiasa menjadi obat dan penawar keletihan kita, baik dari aktivitas jasmani maupun rohani kita, tapi bila rumah yang kita tinggali  juga menjadi tempat tinggal syetan bagaimana jadinya, semegah apapun rumah kita akan terasa sempit bahkan menyesakkan dada. Berikut syarat rumah tangga islami agar syetan tidak bersemayam dalam kehidupan rumah tangga kita.

Muhammad Asy-Syahim dalam kitabnya Buyuut Laa Tadhkhuluuhaa Asy-Syayaathiin (Rumah yang tidak dimasuki syaithan) memaparkan adanya rumah-rumah yang tidak dimasuki syaithan lantaran kondisi anggota keluarga teguh mentaati ajaran islam.

Muhammad Asy-Syahim menggolongkan rumah menjadi dua jenis rumah yang enggan dimasuki syaithan. yaitu:

Pertama, rumah yang terjaga aqidah dan ibadahnya, yaitu yang penghuninya selalu melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Menyucikan diri dan berdzikir (ingat kepada Allah)
  2. Selalu sujud dan Ruku’
  3. Orang yang benar dan menetapi janji
  4. Selalu memakan makanan yang halal
  5. Memelihara silaturrahim
  6. Berbakti kepada orang tua
  7. Istri yang shalihah dan suami yang shalih
  8. Menunaikan hak dan kewajiban

Kedua, penghuninya mempunyai kemuliaan akhlaq dan perilaku, diantaranya menjaga adab sebagai berikut:

  1. Dapat menjaga rahasia
  2. Tidak menghimpun hal-hal yang diharamkan
  3. Menolak segala bentuk dan perbuatan bid’ah
  4. Selalu menebar ucapan salam
  5. Bersikap tawadhu’ (memiliki kerendahan hati)
  6. Suka memaafkan kesalahan dan suka berbuat baik kepada sesame
  7. Menolak hal-hal yang sama, serta mencintai dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Itulah beberapa sifat yang harus dimiliki sebuah keluarga muslim agar rumahnya menjadi rumah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja jika sebuah rumah sudah dilingkupi oleh barakah Allah maka syetan pun tak mampu menyusup ke dalam rumah untuk menggoda anggota kelyarga itu dan rumah pun dapat menjadi surga yang diidam-idamkan setiap muslim.

Bersambung….

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh:Ust. Abu Rabbani Abdullah

(Hud/DARUSSALAM.ID)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved