Follow us:

Selalu Dikenang Sepanjang Zaman

“Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”, salah satu ungkapan popular di tengah masyarakat kita.

Maknanya,bahwa salah satu tujuan hidup manusia di dunia ini yaitu beribadah hanya kepada Allah Ta’ala. Dan merupakan usaha kita untuk mengukir prestasi sehingga ketika kita ditakdirkan oleh Allah Ta’ala meninggalkan dunia ini, maka kita masih didoakan dengan kebaikan oleh orang-orang yang masih hidup, dan itulah yang harus kita perjuangkan.

Beberapa waktu lalu ada beberapa gembong narkoba yang dieksekusi mati, tentunya mereka meninggalkan nama tidak baik. Bahkan yang tercoreng bukan hanya pelaku, namun keluarganya juga ikut merasakan beban malu dan seterusnya. Oleh itu, penting bagi kita untuk memperbanyak prestasi-prestasi positif agar saat meninggal dunia, meninggalkan nama yang baik dan doapun terus mengalir kepada kita. Karena pada akhirnya, yang ditunggu dan yang bermanfaat bagi mayit adalah doa.

Maka, salah satu perjuangan kita adalah bagaimana menjadi orang-orang yang dikenal sepanjang zaman. Dan tidak mungkin seseorang dikenang sepanjang zaman kecuali karena prestasi yang ditorehkan secara positif.

Mari kita belajar dari salah seorang nabi yang mengungkapkan keinginan kuatnya dalam sebuah do’anya. Yaitu Nabi Ibrahim Alaihissalam.

وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ (الشعراء: 84)

“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian”. (Asy Syu’ara’: 84)

Bukankah ketika memohon untuk menjadi buah tutur yang baik, sebenarnya beliau Nabi Ibrahim sedang meminta kepada Allah agar kebaikan-kebaikannya dikenang sepanjang zaman. Dan ketika seseorang dikenang kebaikannya, maka generasi-generasi berikutnya akan mengalirkan doa untuknya. Lalu apakah doa ini dikabulkan oleh Allah Ta’ala? Dikabulkan. Apa buktinya?

Salah satunya adalah tuntunan untuk selalu bershalawat kepada Nabi Ibrahim dalam setiap kali shalat kita. Shalawat ini berarti mendoakan kebaikan kepada beliau Alaihissalam. Dan jika membaca kisah Nabi Ibrahim di dalam alquran, maka salah satu hal yang menarik adalah diabadikannya doa-doa beliau Alaihissalam. Dan ketika beliau sudah mengungkapkan keinginannya, maka beliau berusaha sungguh-sungguh untuk mengukir prestasi agar yang dipinta dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bukan hanya sampai disitu, agama samawi selain islam, semuanya membanggakan Nabi Ibrahim Alaihissalam. Dalam islam juga dimasukkan ke dalam rukun islam yaitu beriman kepada para Nabi dan Rasul.

Pertanyaannya: ketika Allah Ta’ala mengabulkan doa Nabi Ibrahim di atas bukan tanpa perjuangan dan prestasi amal-amal shalih beliau. Apa saja prestasi-prestasi beliau Alaihissalam??

Pertama, beliau adalah sosok yang semangat dalam mencari kebenaran

Beliau juga adalah orang yang berjasa dalam memancang pondasi tauhid secara kokoh di tengah masyarakat paganisme (penyembah berhala). Allah Ta’ala menceritakan kisah Nabi Ibrahim dalam ayat-ayat berikut;

“Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” Dan Demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Dan dia dibantah oleh kaumnya. dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah diantara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (Al An’am: 74-83)

Ayat-ayat di atas menerangkan proses penemuan Nabi Ibrahim terhadap kebenaran meyakini Allah sebagai Rabb. Tapi kesungguhannya memberdayakan nikmat Allah berupa akal untuk mencari kebenaran, inilah yang patut kita tiru. Beliau mencoba lebih memperkokoh iman dengan analisa alam semesta dan pembuktian empirik. Namun hari ini kita tidak perlu mencari kebenarannya, tetapi cukup meyakini apa yang sudah ditemukan oleh Nabi Ibrahim.

Jadi, diantara pelajaran yang bisa kita ambil adalah semangat Nabi Ibrahim dalam mencari kebenaran. Inilah yang kemudian oleh Allah Ta’ala dikonklusikan (disimpulkan) dalam surah An Nahl ayat 120-121.

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus”.  (An Nahl: 120-121)

Setelah Nabi Ibrahim mencari kebenaran kemudian menemukannya dan beriman kepada-Nya, maka apakah beliau menikmati kebenaran itu untuk dirinya sendiri atau menularkannya kepada orang lain?? Tidak.

Itulah yang beliau perjuangkan, pertama kali beliau berhadapan dengan orangtuanya sendiri, kaumnya hingga penguasa kaumnya. Maksudnya, beliau mengajak kaumnya untuk memberantas kemusyrikan dan mentauhidkan Allah Ta’ala.

Kedua, keberanian nabi ibrahim dalam berdakwah mentauhidkan allah

Kisah perjuangan beliau diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam surah Al Anbiya’ ayat 51-70. Keberanian beliau perlu kita tiru, dan ini merupakan prestasi Nabi Ibrahim sehingga dikenang sepanjang zaman.

“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya.  Ingatlah, ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah Ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?” Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”. Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?” Ibrahim berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu”. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan Ini terhadap tuhan-tuhan kami, Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”. Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala Ini yang bernama Ibrahim”. Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”. Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan Ini terhadap tuhan-tuhan kami, Hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar Itulah yang melakukannya, Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)”. Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara”. Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?”. Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi”. (Al Anbiya’: 51-70)

Sensitifitas melihat fenomena kemusyrikan, kemudian tidak diam dan ada perasaan galau tidak tenang, adalah sikap positif. Tidak semua orang memiliki sifat ini. Sebab, banyak orang tau kemusyrikan tapi dibiarkan dan cuek saja. Tetapi nabi Ibrahim bukan tipe seperti ini, beliau tidak berhenti hanya untuk menjadikan dirinya shalih, melainkan tetap berusaha untuk merubah kemusyrikan di tengah kaumnya.

Nabi Ibrahim masuk untuk menjatuhkan mental para penguasa dan kaumnya ketika beliau disidang dihadapan raja, disebabkan perbuatan Nabi Ibrahim yang menghancurkan patung-patung berhala yang disembah, namun meninggalkan patung yang paling besar. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Nabi Ibrahim untuk berdakwah dan berargumen dihadapan raja dan kaumnya bahwa berhala-berhala tersebut tidak dapat bicara dan tidak pula memberikan manfaat dan madharat. Ini merupakan kecerdasan Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam menyampaikan kebenaran.

Dan ketika para penguasa kehabisan argumen, maka mereka khawatir jika dakwah nabi Ibrahim ini menyebar dan membekas dalam hati kaumnya sehingga mereka beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, diputuskanlah untuk membakar Nabi Ibrahim. Kenapa dihukum bakar? Karena pada saat itu sudah terlanjur mengumpulkan banyak orang, dan agar masyarakat lain ikut menyaksikan, maka hukuman yang paling tepat bagi orang yang dianggap telah menghina tuhan-tuhan mereka adalah dihukum bakar.

Namun ingatlah bahwa pertolongan Allah datang pada saat yang tepat, sehingga ketika Nabi Ibrahim dibakar, api yang membakar tidak mengelupaskan kulit beliau. Namun sebaliknya, api tersebut memberikan kesejukan dan rasa dingin kepada Nabi Ibrahim.

Ketiga, keberhasilan beliau dalam mendidik anak, keluarga dan umatnya

Setia menjaga isterinya yang sedang mengandung keturunannya, menemaninya hingga ke sebuah tempat yang sangat jauh dari daerahnya semula. Kemudian meninggalkan istri dan putra yang beberapa waktu setelah kelahirannya ditinggalkan untuk memenuhi seruan Allah Ta’ala di sebuah lembah yang tidak bertanam. Dan istrinya pun mentaatinya merupakan salah satu keberhasilan Nabi Ibrahim dalam mendidik istrinya.

 “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (Ibrahim: 37)

Kerelaan dan kesabaran Nabi Ismail untuk disembelih juga merupakan bagian dari hasil didikan akhlak yang luar biasa Nabi Ibrahim kepadanya. Nabi Ibrahim mendidik keluarganya dengan materi aqidah, ibadah, tazkiyatun nafsi, dan akhlak. Metode yang dipakai nabi Ibrahim dalam menanamkan nilai-nilai luhur yaitu keteladanan, nasihat, dialog, dan do’a.

Yang ingin kita sampaikan bahwa diantara prestasi amal shalih yang ditorehkan dalam kehidupan Nabi Ibrahim sehingga akhirnya Allah benar-benar mengabulkan doanya untuk menjadi buah tutur yang baik bagi generasi berikutnya hingga hari kiamat kelak diantaranya adalah kesungguhannya dan keberhasilan beliau dalam membangun keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah.

Proses dan tahapan untuk menjadikan keluarga beliau sakinah, mawaddah dan rahmah itu panjang, bahkan puluhan tahun lamanya. Alquran telah menjelaskannya, diantaranya;

Pertama, kesabaran beliau menunggu lahirnya seorang anak dari rahim istrinya selama bertahun-tahun lamanya. Hal ini telah dikisahkan dalam surah Ash Shafat: 100-113 dan Adz Dzariyat: 24-30.

Kedua, setelah anaknya lahir dan beranjak dewasa. Nabi Ibrahim Alaihissalam rela dan bersabar untuk menyembelih putranya Nabi Isma’il Alaihissalam dalam rangka menjalankan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (الصافات: 102)

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Ash Shaffat: 102)

Jadi, akhirnya betul-betul, sesuatu yang diminta oleh Nabi Ibrahim dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Tetapi Allah Ta’ala mengabulkannya tidak secara gratis, ada perjuangan dan ujian yang dilewati oleh Nabi Ibrahim dan hampir semua ujian dilewatinya dengan lulus. Dan itulah prestasi-prestasi yang menjadikan doa Nabi Ibrahim dikabulkan. Sehingga beliau menjadi manusia yang dikenang sepanjang zaman hingga hari kiamat. Maka, jika ingin dikenang sepanjang zaman, mendapatkan doa dari orang-orang sekitar adalah dengan menorehkan prestasi-prestasi yang baik dalam kehidupan ini.

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh:Ahmad Kusyairi Suhail, MA

(Hud/DARUSSALAM.ID)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved