Follow us:

Syubhat dan Syahwat Sebagai Sumber Penyakit Hati

Berbicara tentang penyakit hati, Allah SWT di dalam Al-Quran berulang kali menyebutkan penyakit hati. Secara global ada dua penyakit hati yang disebutkan di dalam Al-Quran, penyakit hati yang disebabkan oleh syubhat (kebodohan) dan penyakit hati yang disebabkan oeh syahwat (hawa nafsu).

Allah Ta’ala berfirman mengenai orang-orang munafik

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; (QS. Al-Baqarah : 10)

Juga berfirman

لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ

agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit  (QS.AL-Hajj : 53)

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya (QS.Al-Ahzab:32)

Dalam ayat ini, Allah melarang istri Nabi berbicara dengan memerdukan suara, sebagaimana wanita lain yang biasa bicara dengan gaya demikian, sehingga orang yang didalam hatinya terdapat penyakit syahwat menjadi berkeinginan. Namun, jangan sampai mereka berbicara kasar,hendaklah berbicara dengan perkataan yang baik.

Allah berfirman

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka,” (QS. Al-Ahzab:60)

وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلا مَلائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا وَلا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلا

Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” (QS. Al-Mudatstsir: 31)

Allah memberitahukan hikmah, mengapa Dia menjadikan jumlah malaikat yang bertugas menjaga neraka sembilan belas. Allah menyebutkan lima hikmahnya :

  1. Sebagai fitnah bagi orang-orang kafir. Hal itu akan menjadikan mereka bertambah kafir dan tersesat.
  2. Sebagai penguat keyakinan Ahlul Kitab. Ia bisa menguatkan keyakinan mereka, karena pemberitahuan itu sesuai dengan informasi yang mereka peroleh dari nabi mereka, padahal Rasulullah tidak pernah berjumpa dan belajar dari mereka. Dengan demikian, tegaklah hujjah bagi siapa di antara mereka yang membangkang dan akan berimanlah siapa di antara mereka yang membangkang dan akan berimanlah siapa di antara mereka yang dikehendaki Allah akan mendapatkan petunjuk.
  3. Sebagai penambah iman orang yang telah beriman, lantaran sempurnanya keyakinan dan pengakuan mereka terhadap hal itu.
  4. Sebagai penghapus keraguan dari Ahlul Kitab karena keyakinan mereka mengenai hal itu menjadi pasti dan dari orang-orang mukmin karena kepercayaan mereka terhadap hal itu menjadi sempurna.
  5. Agar orang kafir, orang yang dihatinya terdapat penyakit dan yang hatinya buta terhadap maksud bilangan tersebut menjadi bingung sehingga mengatakan, “Apa yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?”

Inilah keadaan hati ketika kebenaran yang diturunkan kepadanya datang. Ada hati yang terkena fitnah olehnya karena kekafiran dan penolakannya. Ada hati yang bertambah iman dan yakin karenanya. Ada hati yang meyakininya sehingga tegaklah alasan baginya. Dan ada pula hati yang tertimpa kebingungan, tidak tahu apa yang dimaksudkan darinya.

Sekiranya kata “keyakinan” dan “ketidakraguan” pada ayat di atas dimaksudkan untuk satu hal yang sama, maka disebutkannya ketidakraguan adalah sebagai penegas dari keyakinan dan penafi dari kebalikannya. Akan tetapi, bila kedua kata tersebut dimaksudkan untuk dua hal yang berbeda, di mana kata keyakinan ditujukan kepada kabar mengenai jumlah malaikat, sedangkan ketidakraguan ditujukan kepada segala yang dikabarkan oleh Rasul secara umum, karena kabar yang hanya diketahui dari Rasul ini mengindikasi kebenaran beliau, sehingga orang yang telah mengetahui kebenaran kabar ini tidak ragu-ragu terhadap kadar kejujuran Rasulullah, maka jelaslah faedah penyebutannya.

Yang jelas ayat-ayat di atas telah menyebutkan penyakit hati dan hakikatnya.

Allah Ta’ala berfirman :

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS.Yunus:57)

Jadi, Al-Quran adalah penyembuh bagi penyakit jahl (kebodohan) dan ghay (penyimpangan) yang berada di dalam dada. Jahl adalah penyakit yang bisa disembuhkan dengan ilmu dan petunjuk, sedangkan ghayy adalah penyakit yang bisa disembuhkan dengan rasyd (kelurusan).

Allah telah menyatakan bahwa Nabi-Nya terbebas kedua penyakit tersebut. Dia berfirman

“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidaklah sesat dan tidak pula menyimpang.” (QS. An-Najm: 1-2)

Rasul-Nya juga mensifati para khalifah dengan sifat yang berlawanan dengan kedua penyakit tersebut. Beliau bersabda

“Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk, setelahku.”

Allah telah menjadikan kalam-Nya sebagai pelajaran bagi manusia  secara umum, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman kepadanya secara khusus, serta sebagai penyembuh yang sempurna bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam hati. Barangsiapa yang berobat dengannya, niscaya akan sehat dan sembuh dari penyakit. Tetapi barangsiapa enggan berobat dengannya, maka ia sebagaimana perkataan syair berikut :

Bila sembuh dari penyakit yang ada padanya, ia menyangka

bahwa dirinya telah selamat, padahal pada dirinya

masih terdapat penyakit yang akan membunuhnya

Allah Ta’ala berfirman

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.” (QS.Al-Isra:82)

Yang lebih lahir, kata “min” di ayat ini sebagai keterangan jenis-jenis. Jadi, seluruh Al-Quran merupakan penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Oleh: Dani El Ashim

(hud/darussalam.id)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved