10 Perkara Penguat Keimanan kepada Allah SWT yang Diungkap Alquran
Iman merupakan fondasi utama yang menjadikan seseorang sebagai bagian dari umat Islam. Iman juga menjadi tolok ukur bagi amal-amal lainnya.
Baik atau buruknya amal seseorang sangat bergantung pada keadaan hatinya, apakah hati itu baik atau rusak. Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh akan menjadi baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh akan menjadi rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim).
Lantas, bagaimana cara kita menempuh berbagai upaya untuk memperkuat iman kepada Allah SWT?
Persoalan ini sangat penting dan besar manfaatnya, bahkan menjadi kebutuhan mendesak bagi setiap Muslim untuk memahami dan mengamalkannya.
Iman merupakan kesempurnaan seorang hamba. Dengan iman, derajat seseorang terangkat, baik di dunia maupun di akhirat. Iman juga menjadi sebab sekaligus jalan menuju segala kebaikan, baik yang dapat dirasakan dalam waktu dekat maupun yang akan diperoleh kelak.
Namun, iman tidak akan tumbuh, menguat, dan mencapai kesempurnaan tanpa mengetahui sumber, landasan, sebab, serta jalan yang dapat mengantarkan kepadanya.
Allah SWT telah menetapkan sebab dan jalan bagi setiap tujuan yang hendak dicapai. Sementara itu, iman merupakan tujuan yang paling agung, paling penting, dan paling menyeluruh.
Ada sepuluh hal utama yang dapat memperkuat iman kepada Allah SWT, sebagaimana dijelaskan Syekh Muhammad Ash-Shalab, dikutip dari laman resminya, Selasa (20 Juni 2026).
1. Memahami Asmaulhusna dalam Alquran dan sunnah
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Siapa yang menghitungnya, niscaya masuk surga.” (HR Bukhari dan Muslim).
Yang dimaksud dengan menghitung nama-nama Allah tersebut bukan sekadar menghafalnya, melainkan juga memahami maknanya, meyakini kandungannya, dan beribadah kepada Allah dengan menghayati nama-nama-Nya.
Orang yang melakukannya dijanjikan masuk surga, sedangkan surga hanya dimasuki oleh orang-orang yang beriman.
Hal ini menunjukkan bahwa mengenal Asmaulhusna merupakan salah satu sumber dan landasan terpenting untuk memperoleh, memperkuat, serta meneguhkan iman.
Pengetahuan tentang nama-nama Allah yang indah merupakan fondasi keimanan. Semakin dalam seseorang mengenal nama dan sifat-sifat Allah, semakin bertambah pula imannya dan semakin kuat keyakinannya.
Pengetahuan yang bermanfaat ini akan membuat iman seorang hamba terus meningkat, keyakinannya semakin kokoh, dan hatinya semakin tenteram dalam menjalani kehidupan.
2. Merenungkan ayat-ayat Alquran
Orang yang merenungkan Alquran akan terus memperoleh ilmu dan pemahaman yang menambah keimanannya. Allah SWT berfirman:
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya, dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.” (QS Al-Anfal [8]: 2).
Adakah nasihat yang lebih baik daripada nasihat yang bersumber dari Allah? Alquran merupakan penyembuh berbagai penyakit berupa keraguan, hawa nafsu, penyimpangan, kemusyrikan, serta penyakit hati dan jiwa.
Alquran juga memberikan petunjuk untuk mengatasi berbagai persoalan yang berkaitan dengan perilaku, kehidupan sosial, politik, ekonomi, akhlak, hingga peradaban.
Allah SWT berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Kami turunkan dari Alquran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin.” (QS Al-Isra’ [17]: 82).
Alquran adalah makanan bagi ruh dan obat yang menyembuhkan berbagai penyakit jiwa. Alquran juga memberikan kekuatan dan daya tahan agar manusia tidak mudah terjerumus dalam berbagai penyimpangan.
Salah satu buah dari perenungan terhadap Alquran adalah terbukanya pemahaman mengenai apa yang Allah kehendaki dari manusia dan bagaimana cara beribadah kepada-Nya.
Melalui perenungan tersebut, seorang Muslim dapat memahami petunjuk yang telah Allah turunkan untuk kehidupannya.
Alquran merupakan pedoman hidup yang diturunkan Allah SWT sekaligus landasan syariat. Karena itu, setiap Muslim hendaknya merenungkan kandungannya, menaati segala perintahnya, dan menjauhi semua larangannya.
3. Mengenal sirah dan akhlak Nabi Muhammad SAW
Mengenal perjalanan hidup dan kepribadian Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu cara untuk memperkuat iman. Seseorang yang mengenal beliau dengan baik tidak akan meragukan kejujurannya maupun kebenaran ajaran yang dibawanya.
Allah SWT berfirman:
أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ
“Ataukah mereka tidak mengenal Rasul mereka (Muhammad), karena itu mereka mengingkarinya?” (QS. Al-Mu’minun [23]: 69).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa pengenalan yang benar terhadap Rasulullah SAW akan mengantarkan seseorang pada pemahaman tentang kebenaran risalah yang beliau bawa.
Allah SWT juga bersumpah dengan pena dan apa yang dituliskan, kemudian menegaskan kemuliaan akhlak Rasulullah SAW. Allah berfirman:
ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan, berkat karunia Tuhanmu engkau (Nabi Muhammad) bukanlah orang gila. Sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang tidak putus-putusnya. Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 1–4).
Nabi Muhammad SAW merupakan teladan utama yang mengajak manusia menuju keimanan. Kemuliaan sifat-sifat beliau, keindahan akhlaknya, kebenaran perkataannya, serta kebijaksanaan tindakannya menjadi bukti nyata yang menguatkan iman. Beliau adalah pemimpin agung sekaligus teladan paling sempurna bagi umat manusia.
4. Merenungkan alam semesta dan memperhatikan diri Sendiri
Merenungkan alam semesta, penciptaan langit dan bumi, serta beragam makhluk yang ada di dalamnya dapat memperkuat keimanan.
Demikian pula, memperhatikan diri sendiri dan berbagai sifat yang melekat pada manusia akan mengantarkan seseorang untuk semakin mengenal kebesaran Allah SWT.
Seluruh makhluk menunjukkan keagungan penciptaan yang menjadi bukti kekuasaan dan kebesaran Sang Pencipta. Keindahan, keteraturan, dan kesempurnaan alam semesta menghadirkan tanda-tanda yang mengagumkan akal manusia. Semua itu menunjukkan betapa luas ilmu Allah dan betapa sempurna hikmah-Nya.
Di alam semesta juga terdapat beragam manfaat dan nikmat yang tidak terhitung jumlahnya. Semuanya menjadi bukti keluasan rahmat, kemurahan, dan kebaikan Allah SWT kepada makhluk-Nya.
Kesadaran terhadap berbagai tanda tersebut seharusnya mendorong manusia untuk mengagungkan Sang Pencipta, bersyukur atas segala nikmat-Nya, senantiasa mengingat-Nya, dan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.
Inilah ruh dan rahasia keimanan: mengenal kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya, kemudian menumbuhkan rasa cinta, syukur, dan ketundukan kepada-Nya.
5. Memperbanyak zikir dan Doa
Zikir merupakan ruh ibadah seorang Muslim. Mengingat Allah akan menumbuhkan pohon keimanan di dalam hati, memeliharanya, dan membuatnya semakin berkembang. Semakin banyak seseorang berzikir kepada Allah, semakin kuat pula imannya.
Sebaliknya, iman juga mendorong seseorang untuk memperbanyak zikir. Orang yang mencintai Allah akan banyak mengingat-Nya, sebab cinta kepada Allah merupakan bagian mendasar dari iman, bahkan menjadi ruh yang menghidupkannya.
Zikir memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan seorang Muslim, baik di dunia maupun di akhirat. Di antara manfaat tersebut adalah sebagai berikut.
a. Memperoleh kehidupan yang baik dan hakiki
Kehidupan yang hakiki adalah kehidupan ruhani yang mendapatkan asupan petunjuk Ilahi dan memiliki hati yang senantiasa terhubung dengan zikir kepada Allah.
Kehidupan seperti inilah yang disebut Allah sebagai hayatan thayyibah, yakni kehidupan yang baik.
Allah SWT berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 97).
b. Menguatkan fisik serta menunjang aktivitas dan perjuangan
Zikir dapat memberikan kekuatan kepada orang yang melakukannya. Bahkan, dengan pertolongan Allah, seseorang dapat melakukan berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan mampu dikerjakannya tanpa zikir.
Hal ini dapat dilihat dari kisah Rasulullah SAW bersama putri beliau, Fatimah, dan menantu beliau, Ali bin Abi Thalib RA.
Fatimah pernah meminta seorang pembantu kepada Rasulullah SAW karena mengeluhkan beratnya pekerjaan yang harus ia lakukan, mulai dari menggiling gandum hingga berbagai pekerjaan rumah tangga lainnya.
Rasulullah SAW kemudian mengajarkan kepada keduanya agar setiap malam, ketika hendak berbaring di tempat tidur, membaca tasbih sebanyak 33 kali, tahmid sebanyak 33 kali, dan takbir sebanyak 34 kali.
Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَىٰ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَسَبِّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَاحْمَدَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ
“Tidakkah aku tunjukkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik daripada seorang pembantu? Ketika kalian berdua hendak berbaring di tempat tidur, bertasbihlah 33 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertakbirlah 34 kali.”
Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan redaksi yang sedikit berbeda.
Dikisahkan bahwa orang yang senantiasa mengamalkan zikir tersebut akan merasakan kekuatan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, sehingga dapat terbantu dalam mengerjakan pekerjaan yang sebelumnya terasa berat.
c. Melembutkan hati dan menumbuhkan kekhusyukan
Mengingat Allah dapat menghadirkan kekhusyukan, memperbaiki keadaan hati, melembutkannya, serta menghilangkan kelalaian. Hati yang senantiasa mengingat Allah akan lebih mudah menerima nasihat dan tunduk kepada kebenaran.
Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d [13]: 28).
d. Memperbanyak saksi kebaikan pada hari kiamat
Berbagai tempat di bumi akan menjadi saksi bagi orang-orang yang mengingat Allah. Kelak, ketika bumi menyampaikan segala beritanya, tempat-tempat yang digunakan untuk berzikir akan menjadi saksi atas amal tersebut.
Gunung-gunung dan tanah lapang digambarkan bergembira karena pernah menjadi tempat seseorang mengingat Allah SWT.
Ibnu Mas’ud RA berkata bahwa gunung yang satu dapat memanggil gunung lainnya dengan menyebut namanya, lalu bertanya:
يَا فُلَانُ، هَلْ مَرَّ بِكَ الْيَوْمَ أَحَدٌ يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ؟
“Wahai Fulan, apakah hari ini ada seseorang yang berzikir kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung di dekatmu?”
Jika gunung itu menjawab, “Ya, ada,” gunung tersebut pun bergembira.
Kisah ini menggambarkan betapa mulianya zikir kepada Allah dan betapa besar nilai tempat yang menjadi saksi ketaatan seorang hamba.
6. Mengenal keindahan dan keunggulan ajaran Islam
Salah satu hal yang dapat memperkuat iman adalah mengenal keindahan ajaran Islam. Seluruh ajaran Islam mengandung kebaikan.
Akidahnya merupakan keyakinan yang paling benar, jujur, dan bermanfaat. Akhlaknya merupakan akhlak yang terpuji dan indah, sedangkan amal serta hukum-hukumnya mengandung kebaikan dan keadilan.
Dengan memahami keindahan ajaran Islam, Allah akan menghiasi hati seorang hamba dengan iman dan menjadikan iman itu dicintainya. Hal ini merupakan anugerah Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ
“Akan tetapi, Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 7).
Dengan demikian, iman menjadi sesuatu yang paling dicintai dan paling indah di dalam hati. Seorang hamba akan merasakan manisnya iman ketika keyakinan dan nilai-nilai keimanan telah tertanam kuat dalam dirinya.
Keindahan batin tersebut kemudian tercermin dalam perilaku lahiriah. Hati dihiasi dengan prinsip-prinsip dan hakikat keimanan, sedangkan anggota tubuh dihiasi dengan amal saleh yang mencerminkan iman.
Dalam sebuah doa yang diriwayatkan, terdapat permohonan:
اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ
“Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman dan jadikanlah kami orang-orang yang memberi petunjuk serta mendapat petunjuk.”
Salah satu contoh nyata tentang penjelasan keindahan Islam dapat dilihat dalam kisah Ja’far bin Abi Thalib RA ketika berhadapan dengan delegasi kaum Quraisy di hadapan Raja Najasyi di Habasyah.
Dalam kesempatan tersebut, Ja’far menjelaskan keburukan kehidupan jahiliah dan kesesatan yang mereka alami, sekaligus memaparkan keindahan, kemuliaan, dan keagungan agama Islam yang mereka anut.
Kisah ini menunjukkan bahwa memahami keunggulan Islam dapat memperkokoh keyakinan seseorang sekaligus membantunya menjelaskan kebenaran agama dengan penuh kepercayaan diri.
7. Mewujudkan Ihsan dalam ibadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama
Salah satu cara untuk memperkuat iman adalah berusaha mencapai derajat ihsan dalam beribadah kepada Allah SWT.
Ihsan berarti beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Jika seseorang tidak mampu mencapai penghayatan tersebut, ia hendaknya menyadari bahwa Allah senantiasa melihat dirinya.
Kesadaran ini mendorong seorang hamba untuk menyempurnakan ibadah dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
Ia akan terus berjuang melawan hawa nafsunya agar dapat mencapai kedudukan yang mulia tersebut, memperbaiki iman dan keyakinannya, hingga mencapai haqqul yaqin, yaitu tingkat keyakinan yang paling tinggi.
Dengan demikian, ia dapat merasakan manisnya ketaatan dan memetik buah dari setiap hubungan serta transaksi yang dijalaninya. Inilah salah satu gambaran keimanan yang sempurna.
Ihsan juga diwujudkan melalui kebaikan kepada sesama, baik dengan perkataan, perbuatan, harta, kedudukan, maupun berbagai bentuk manfaat lainnya.
Berbuat baik kepada manusia merupakan bagian dari iman sekaligus salah satu hal yang dapat memperkuatnya.
Balasan yang diberikan Allah sejalan dengan jenis amal yang dilakukan hamba-Nya. Ketika seseorang berbuat baik kepada hamba-hamba Allah dan memberikan manfaat kepada mereka, Allah akan membalasnya dengan berbagai bentuk kebaikan.
Salah satu balasan terbaik adalah semakin kuatnya iman, bertambahnya keinginan untuk melakukan kebaikan, meningkatnya kedekatan kepada Allah, serta semakin tulusnya amal ibadah.
Dengan cara ini, seorang hamba akan semakin mampu menjalankan ketulusan dalam memenuhi hak Allah dan memberikan nasihat serta kebaikan kepada sesama.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat.” (QS An-Nahl [16]: 90).
8. Berdakwah mengajak manusia kepada Allah
Dakwah merupakan salah satu sebab yang dapat memperkuat iman. Mengajak manusia menuju agama Allah, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta menyeru kepada ajaran pokok Islam merupakan bagian penting dari upaya memelihara dan menumbuhkan keimanan.
Dakwah juga mencakup ajakan untuk menjalankan syariat Islam, melakukan amar makruf nahi mungkar, yakni mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Menyeru manusia kepada Allah dan memberikan nasihat kepada mereka termasuk di antara faktor terbesar yang menguatkan iman.
Orang yang berdakwah hendaknya berusaha menyebarkan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh, menyampaikan dalil dan bukti yang mendukung kebenaran dakwahnya, serta menempuh cara yang tepat untuk mencapai tujuan.
Ia perlu memahami persoalan yang dihadapi, mengetahui jalan penyelesaiannya, dan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan keadaan. Semua itu merupakan bagian dari jalan dan sarana yang dapat memperkuat iman.
Balasan Allah sejalan dengan amal yang dilakukan hamba-Nya. Ketika seseorang berusaha menyempurnakan kehidupan orang lain, memberikan nasihat, mengajak mereka kepada kebenaran, dan bersabar dalam menjalankan tugas tersebut, Allah akan membalasnya dengan kebaikan yang sepadan.
Allah akan menguatkannya dengan cahaya petunjuk, keteguhan jiwa, kekuatan, keimanan, serta kemampuan bertawakal kepada-Nya.
Iman dan tawakal yang baik kepada Allah merupakan bekal penting untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk menghadapi musuh dan godaan setan, baik dari kalangan manusia maupun jin.
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ٣
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (QS. Fussilat [41]: 33).
Allah juga menjelaskan bahwa kebaikan tidak dapat disamakan dengan keburukan. Keburukan hendaknya dibalas dengan cara yang lebih baik sehingga orang yang semula memiliki permusuhan dapat berubah menjadi seolah-olah sahabat yang setia.
Sikap tersebut merupakan anugerah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang sabar dan memiliki bagian kebaikan yang besar. (QS. Fussilat [41]: 34–35).
9. Membiasakan diri melawan hal-hal yang melemahkan iman
Salah satu unsur penting dalam menjaga dan memperkuat iman adalah membiasakan diri melawan segala sesuatu yang bertentangan dengan keimanan, termasuk berbagai bentuk kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.
Sebagaimana iman perlu diperkuat melalui berbagai amalan yang menumbuhkan dan mengembangkannya, seseorang juga harus menyingkirkan segala penghalang yang dapat merusak keimanan.
Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menjauhi perbuatan maksiat, bertobat atas dosa yang telanjur dilakukan, serta menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang diharamkan.
Pada saat yang sama, seorang Muslim perlu menumbuhkan kecintaan terhadap kebaikan dan bersungguh-sungguh mengamalkannya.
Perjuangan ini tidak selalu mudah. Terkadang, hawa nafsu yang mendorong kepada keburukan menguasai diri seseorang.
Ia juga dapat terjerumus dalam fitnah berupa keraguan terhadap kebenaran (syubhat), godaan hawa nafsu (syahwat), atau bahkan keduanya sekaligus.
Allah SWT memberikan perumpamaan yang menggambarkan betapa besar kerugian akibat hilangnya kebaikan ketika seseorang berada dalam keadaan sangat membutuhkannya.
Allah berfirman:
أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
“Apakah salah seorang di antara kamu ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu, sedangkan dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu, kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api sehingga terbakar. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan(-nya).” (QS Al-Baqarah [2]: 266).
Perumpamaan tersebut mengandung pelajaran tentang pentingnya menjaga amal kebaikan dan tidak membiarkan segala sesuatu yang merusak iman menguasai diri.
Sebagaimana seseorang tidak ingin kehilangan kebun yang menjadi sumber penghidupan ketika ia berada dalam keadaan lemah dan sangat membutuhkannya, seorang mukmin juga hendaknya tidak menyia-nyiakan keimanan yang menjadi bekal keselamatannya.
Karena itu, memperkuat iman bukan hanya tentang menambah amal saleh, melainkan juga menjaga diri dari dosa, memperbaiki kesalahan, dan terus berjuang menghadapi godaan yang dapat menjauhkan seseorang dari Allah SWT.
10. Memahami hakikat dunia sebagai jalan menuju akhirat
Salah satu hal yang dapat memperkuat iman adalah memahami hakikat kehidupan dunia dan menyadari bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan menuju akhirat.
Betapapun panjang kehidupan dunia, pada akhirnya ia akan berakhir. Sebesar apa pun kenikmatan dan kemewahan yang dimiliki manusia, semuanya tetap terbatas dan tidak sebanding dengan kenikmatan akhirat.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia adalah ibarat air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah karenanya macam-macam tanaman bumi yang (dapat) dimakan oleh manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, serta pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)-nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu kepada kaum yang berpikir.” (QS Yunus [10]: 24).
Allah SWT juga berfirman:
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا
“Buatkanlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, yaitu ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Kahf [18]: 45).
Kedua ayat tersebut menggambarkan hakikat kehidupan dunia yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan, tetapi pada akhirnya akan lenyap.
Apa yang tampak megah dan menyenangkan pada suatu masa dapat berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi berarti ketika waktunya berakhir.
Kenyataan ini mengajarkan manusia agar tidak terperdaya oleh gemerlap dunia dan tidak menjadikan kenikmatan sementara sebagai tujuan akhir kehidupannya. Jika dibandingkan dengan kenikmatan akhirat, segala sesuatu yang dimiliki manusia di dunia sangatlah sedikit dan bersifat sementara. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments