6 Pesan Mendalam Surat Ad-Dhuha yang Tersirat dari 11 Ayat-Ayat Pendeknya
Terdiri dari 11 ayat, surat Ad-Dhuha mempunyai pesan mendalam. Surat yang berada dalam urutan ke-93 Alquran ini sarat dengan risalah teologis hingga kosmis.
Berikut ini, enam risalah yang diisyaratkan secara kuat dari surat Ad-Dhuha:
Pertama, pergantian antara cahaya dan kegelapan merupakan sunnatullah di alam semesta. Allah membuka Surah Ad-Dhuha dengan sumpah demi waktu dhuha dan malam:
وَٱلضُّحَىٰ ١ وَٱلَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ ٢
“Dan demi malam apabila telah sunyi. Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalan).” (QS ad-Dhuha: 1–2)
Imam Al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani menjelaskan Allah secara khusus menyebut dua waktu tersebut dalam sumpah-Nya untuk mengisyaratkan melalui keadaan keduanya kepada keadaan yang dialami Rasulullah SAW sekaligus menegaskan penolakan terhadap apa yang sempat disangka orang tentang beliau.
“Seakan-akan Allah berfirman: Waktu itu terdiri dari saat-saat; ada saat malam dan ada saat siang. Terkadang waktu malam bertambah dan waktu siang berkurang, dan pada waktu yang lain terjadi sebaliknya. Pertambahan itu bukan karena kebetulan, dan pengurangan itu bukan karena kebencian, tetapi semuanya berlangsung berdasarkan hikmah,” tulis dia.
Setiap sesuatu di alam ini memiliki “dhuha” dan “malam”-nya.
Dalam ibadah, ada masa “dhuha” berupa semangat dan kesungguhan dalam beramal, dan ada pula “malam”-nya berupa kelesuan dan kemunduran.
Dalam menuntut ilmu, ada masa “dhuha” berupa kesungguhan dalam belajar, dan ada masa “malam” berupa kebodohan. Dalam beramal, ada masa “dhuha” berupa kesungguhan dan kerja keras, dan ada masa “malam” berupa kemalasan serta keengganan untuk berbuat.
Demikian pula kehidupan seorang mukmin. Ia senantiasa berputar antara malam dan dhuha.
Pesan kosmis dari pergantian cahaya dan kegelapan ini memberikan pelajaran yang sangat dalam: kehidupan memang senantiasa berubah antara terang dan gelap, sebagaimana matahari dan bulan silih berganti.
Karena itu, jangan bersedih ketika melewati “malam” berupa masa-masa kelesuan. Sebab, waktu dhuha akan datang, cahaya akan kembali, dan fajar sudah dekat.
Kedua, Allah tidak meninggalkan hamba-hamba-Nya yang saleh.
Allah berfirman:
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ ٣
“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.” (QS Ad-Dhuha: 3)
Ada sebuah pelajaran menarik dalam pemilihan kata “مَا وَدَّعَكَ” Dia tidak meninggalkanmu).
Dalam Allah tidak mengatakan, “Tuhanmu tidak meninggalkanmu” dengan kata yang bermakna meninggalkan begitu saja, tetapi menggunakan kata “wadda‘aka” yang berkaitan dengan perpisahan atau berpamitan.
Sebab, perpisahan biasanya terjadi antara orang-orang yang saling mencintai dan berat untuk berpisah.
Ketika seseorang mengalami sunnatullah dalam kehidupan, lalu diuji dengan kelesuan dalam beribadah, rasa takut dan lapar, atau kekurangan harta, jiwa, dan hasil-hasil kehidupan, janganlah ia mengira bahwa Allah telah meninggalkannya.
Allah hanya sedang mengujinya untuk memurnikan dan menempa dirinya. Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ ١٥٥
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155)
Seberapa pun lemahnya imanmu dan seberapa pun kurangnya dirimu dalam memenuhi hak Allah, jangan pernah mengira bahwa Allah telah meninggalkan atau menjauhimu.
Allah masih menantimu. Dia membukakan jalan pertolongan-Nya dan mengajakmu untuk kembali.
Karena itu, jangan berputus asa. Jangan menyerah kepada kelesuan. Jangan mengira bahwa setelah berakhirnya musim-musim kebaikan, berakhir pula rahmat Allah.
Ketiga, masa yang akan datang lebih baik. Maka bersabarlah dan tetaplah teguh.
Allah berfirman:
وَلَلْـَٔاخِرَةُ خَيْرٌۭ لَّكَ مِنَ ٱلْأُولَىٰ ٤
“Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”
“Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.” (QS Ad-Dhuha: 4)
Ini adalah pesan bagi setiap orang yang bimbang, setiap orang yang lelah, dan setiap orang yang merasakan kemalasan setelah Ramadan.
Jangan mengira bahwa kebaikanmu telah berlalu. Justru yang akan datang bisa lebih besar dan masa depan bisa lebih indah, jika engkau tetap teguh dalam ketaatan kepada Allah.
Menikmati hasil buah sering kali lebih menyenangkan daripada proses menanam dan memeliharanya. Akhir yang baik menunjukkan baiknya permulaan. Dan pahala di akhirat jauh lebih baik daripada dunia beserta seluruh isinya.
Keempat, pemberian dan karunia Allah akan terus mengalir.
Allah berfirman:
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰٓ ٥
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” (QS Ad-Dhuha: 5)
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash bahwa Rasulullah SAW membaca firman Allah tentang Nabi Ibrahim:
رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلنَّاسِ ۖ فَمَن تَبِعَنِى فَإِنَّهُۥ مِنِّى ۖ وَمَنْ عَصَانِى فَإِنَّكَ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ ٣٦
“Ya Tuhan, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia. Barangsiapa mengikutiku, maka orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku, maka Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Ibrahim: 36)
Beliau juga membaca perkataan Nabi Isa
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ ١١٨
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS Al-Ma’idah: 118)
Kemudian Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya seraya berkata, “Ya Allah, umatku, umatku!” Beliau pun menangis.
Lalu Allah berfirman kepada Jibril, “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad—dan Tuhanmu lebih mengetahui—lalu tanyakan kepadanya, apa yang membuatnya menangis?”
Jibril pun mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya kepadanya. Rasulullah SAW menyampaikan apa yang telah beliau katakan, sementara Allah lebih mengetahuinya.
Allah kemudian berfirman, “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakan kepadanya: Sesungguhnya Kami akan membuatmu ridha terhadap umatmu dan Kami tidak akan membuatmu bersedih karena mereka.”
Itulah janji yang benar dari Allah Yang Mahatinggi. Jangan bersedih atas saat-saat ketika dirimu lemah. Kembalilah kepada Tuhanmu dan bergembiralah.
Allah akan memberikan kepadamu iman yang membuatmu ridha, ketenangan yang mencukupimu, dan karunia yang membuatmu tidak lagi bergantung kepada selain-Nya.
Dalam Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil, al-Khazin menjelaskan, sebagaimana Allah telah memberikan kepada Nabi kita SAW kebaikan dunia dan akhirat sekaligus.
Allah memberikan kepadanya di dunia kemenangan dan kejayaan atas musuh-musuh, banyaknya pengikut, serta berbagai penaklukan pada masa beliau dan setelahnya hingga hari kiamat. Allah juga meninggikan agama beliau dan menjadikan umatnya sebagai umat terbaik.
Adapun di akhirat, Allah memberikan kepadanya syafaat yang agung dan syafaat khusus, kedudukan yang terpuji, serta berbagai karunia lainnya, baik di dunia maupun di akhirat.
Kelima, mengingat nikmat Allah akan membantumu untuk tetap teguh.
Allah berfirman:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًۭا فَـَٔاوَىٰ ٦ وَوَجَدَكَ ضَآلًّۭا فَهَدَىٰ ٧ وَوَجَدَكَ عَآئِلًۭا فَأَغْنَىٰ ٨
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu). Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”(QS Ad-Dhuha: 6–8)
Sebelum kalian meminta kepada Allah tentang apa yang belum kalian miliki, bersyukurlah kepada-Nya atas apa yang telah kalian miliki.
Dari Ibnu Abbas RA, Nabi SAW bersabda:
سألتُ الله مسألةً، وددت أني لم أكن سألته، ذكرتُ رُسُلَ ربي فقلت: يا رب، سخَّرت لسليمانَ الريح، وكلَّمت موسى، فقال تبارك وتعالى: ألم أجدك يتيمًا فآويتك، وضالًّا فهديتك، وعائلًا فأغنيتك؟ قال: فقلت: نعم، فوددت أن لم أسأله
“Aku pernah meminta sesuatu kepada Allah, kemudian aku berharap seandainya aku tidak meminta hal itu. Aku teringat kepada para rasul Tuhanku. Aku berkata, ‘Wahai Tuhanku, Engkau telah menundukkan angin untuk Sulaiman dan Engkau berbicara kepada Musa.’ Maka Allah berfirman, ‘Bukankah Aku mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Aku melindungimu, dalam keadaan tersesat lalu Aku memberimu petunjuk, dan dalam keadaan kekurangan lalu Aku memberikan kecukupan kepadamu?’ Aku menjawab, ‘Benar.’ Maka aku berharap seandainya aku tidak meminta kepada-Nya.” (HR Hakim)
Dalam menjelaskan hakikat kekayaan Rasulullah SAW, Imam Al-Farra’ dalam Ma’ani al-Quran berkata, “Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta, tetapi karena Allah menjadikannya ridha dengan apa yang Dia berikan kepadanya.”
Merasa cukup dan ridha terhadap pemberian Allah itulah hakikat kekayaan.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
يأخذ عني هؤلاء الكلمات، فيعملَ بهن أو يُعلِّم من يعمل بهن؟ فقال أبو هريرة: فقلت: أنا يا رسول الله، فأخذ بيدي فعدَّ خمسًا وقال: اتَّقِ المحارمَ تكن أعبدَ الناس، وارضَ بما قسم الله لك تكن أغنى الناس، وأحسِن إلى جارك تكن مؤمنًا، وأحِبَّ للناس ما تحب لنفسك تكن مسلمًا، ولا تُكثر الضحك؛ فإن كثرة الضحك تُميت القلب
“Siapa yang mau mengambil dariku beberapa nasihat ini, lalu mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang yang mau mengamalkannya?”
Abu Hurairah berkata, “Aku, wahai Rasulullah.” Beliau kemudian menggenggam tanganku dan menyebutkan lima perkara: “Jauhilah perkara-perkara yang diharamkan, niscaya engkau menjadi manusia yang paling ahli ibadah. Ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin. Cintailah untuk orang lain apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang Muslim. Dan jangan terlalu banyak tertawa, karena terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR at-Tirmidzi)
Renungkanlah bagaimana keadaanmu sebelum Allah memberimu petunjuk. Di mana engkau berada sebelum Allah memenuhi hatimu dengan iman? Bukankah Allah yang memberikan taufik kepadamu? Lalu mengapa engkau merasa lemah dan malas? Mengapa engkau mulai kehilangan semangat?
Ingatlah nikmat-nikmat-Nya. Engkau akan menyadari bahwa keteguhan menjadi mudah bagi orang yang senantiasa mengingat karunia Allah kepadanya.
Keenam, berbuat baik adalah jalan untuk tetap teguh.
Allah berfirman:
فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ ٩ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنْهَرْ ١٠ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ١١
“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya.” (QS Ad-Dhuha: 9–11)
Jadikanlah ihsan dan kebaikan sebagai jalan hidupmu. Bersedekahlah. Bantulah orang yang lemah. Tolonglah mereka yang membutuhkan. Ceritakan dan syukurilah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.
Sebab, siapa yang bersyukur kepada Allah, niscaya Allah akan menambah nikmatnya. Dan siapa yang memberi, Allah akan menambah pemberian kepadanya.
Allah berfirman:
فَلَمَّا دَخَلُوا۟ عَلَيْهِ قَالُوا۟ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا ٱلضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَـٰعَةٍۢ مُّزْجَىٰةٍۢ فَأَوْفِ لَنَا ٱلْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَجْزِى ٱلْمُتَصَدِّقِينَ ٨٨
“Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, “Wahai Al-Aziz! Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga, maka penuhilah jatah (gandum) untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang yang bersedekah.” (QS Yusuf: 88).
(UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments