9 Keajaiban Komunikasi Antara Hudhud dengan Nabi Sulaiman yang Diabadikan Alquran
Tanda-tanda kebesaran Allah SWT tampak pada makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang ditundukkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus menjadi penolong dan pendukung dalam menghadapi berbagai tantangan dan musuh.
Jika kita mencermati perhatian Alquran terhadap burung, khususnya kisah burung Hudhud bersama Nabi Sulaiman AS, kita akan menemukan keajaiban yang nyata, terutama dalam pemanfaatan makhluk ini untuk kepentingan komunikasi secara damai.
Hal tersebut berkaitan dengan kecepatan terbangnya, kecerdasannya, serta kemampuannya berpindah tempat dengan cara yang menakjubkan.
Sejumlah kajian modern disebut menunjukkan bahwa burung Hudhud memiliki keunggulan dibandingkan burung merpati dalam pemanfaatannya untuk pengangkutan dan komunikasi.
Hudhud dikatakan mampu terbang lebih cepat, tidak harus terbang berkelompok, memiliki kemampuan mempertahankan diri yang lebih baik, serta lebih tahan terhadap rasa lapar dan haus.
Selain itu, burung ini dikenal memiliki kecerdasan dan kelicikan tersendiri. Karena itu, wallahu a’lam, Hudhud mungkin menjadi pilihan terbaik dibandingkan burung-burung lainnya karena mempunyai karakteristik yang unik. Allah SWT berfirman:
وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ * لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ * فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ * إِنِّي وَجَدتُّ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ * وَجَدتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِن دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ * أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ * اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ * قَالَ سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ * اذْهَب بِّكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ
“Dan dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung, lalu berkata, ‘Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah ia termasuk yang tidak hadir? Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.’
Maka tidak lama kemudian (datanglah Hudhud), lalu ia berkata, ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita yang meyakinkan. Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.
Aku (juga) mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan Allah. Setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi serta yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan. Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang agung.’
Dia (Sulaiman) berkata, ‘Akan kami lihat, apakah engkau benar atau termasuk yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.’” (QS An-Naml [27]: 20–28).
Ayat-ayat dalam Surah An-Naml tersebut mengisahkan perjalanan burung Hudhud pada masa Nabi Sulaiman AS.
Kisah ini menyimpan berbagai hal menakjubkan tentang peran seekor burung dalam menyampaikan informasi kepada seorang nabi sekaligus pemimpin besar.
Perlu dipahami sejak awal bahwa Hudhud dalam kisah ini bukanlah burung Hudhud sembarangan, melainkan seekor Hudhud tertentu yang memiliki peran khusus.
Keistimewaan komunikasi yang tergambar dalam kisah tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek berikut, sebagaimana dinukilkan Dr Ali Muhammad Muhammad ash-Shallabi, dalam karnyanya Al-Mu‘jizah al-Khalidah: Al-I‘jaz al-‘Ilmi fi al-Qur’an al-Karim.
1. Menggunakan pembukaan yang menggugah rasa ingin tahu
Dalam kisah tersebut, burung Hudhud menggunakan teknik penyampaian pesan yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu sejak awal. Hal itu terlihat ketika ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita yang meyakinkan.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Hudhud tidak langsung memaparkan seluruh informasi yang dibawanya. Ia terlebih dahulu menyampaikan kalimat pembuka yang kuat untuk menarik perhatian Nabi Sulaiman AS.
Kata ahattu dalam ungkapan “Ahattu bima lam tuhit bihi” berarti aku telah mengetahui atau menguasai informasi yang belum engkau ketahui.
Dalam konteks ini, Hudhud menyatakan bahwa ia telah melihat, menyaksikan, mendengar, memahami, dan menganalisis keadaan yang ditemuinya. Dengan kata lain, ia telah memperoleh pengetahuan yang menyeluruh mengenai situasi tersebut.
Hudhud juga mengetahui bahwa Nabi Sulaiman AS belum mengetahui informasi yang dibawanya. Karena itu, ia dengan tegas mengatakan, “Bima lam tuhit bihi” (sesuatu yang belum engkau ketahui).
Hudhud memahami ketegasan dan kewibawaan sang raja. Oleh sebab itu, ia membuka laporannya dengan pernyataan yang mengejutkan dan mampu mengalihkan perhatian Nabi Sulaiman dari persoalan ketidakhadirannya.
Pernyataan tersebut sekaligus memastikan bahwa sang nabi akan mendengarkan penjelasannya. Raja mana yang tidak akan tertarik ketika salah seorang bawahannya mengatakan bahwa ia mengetahui sesuatu yang belum diketahui oleh sang raja sendiri?
Hudhud juga telah menelusuri dan memeriksa informasi yang diperolehnya hingga mengetahui bahwa negeri yang dikunjunginya bernama Saba’, yang terletak di wilayah Yaman.
Ia datang membawa berita yang belum pernah disampaikan kepada Nabi Sulaiman sebelumnya. Kata ji’tuka (aku datang kepadamu) menunjukkan bahwa Hudhud membawa informasi dan pengetahuan dari tempat lain, di luar tempat Nabi Sulaiman berada.
Dengan demikian, Hudhud menggunakan teknik penyampaian yang menggugah rasa ingin tahu karena menyadari bahwa ia membawa informasi eksklusif yang belum diketahui Nabi Sulaiman AS.
Ia juga yakin terhadap kebenaran berita tersebut sehingga menyebutnya sebagai naba’in yaqin, yakni berita yang meyakinkan.
Pembukaan yang menarik itu juga dapat dipahami sebagai upaya Hudhud untuk meredakan kemarahan Nabi Sulaiman akibat ketidakhadirannya, sekaligus membangkitkan minat sang nabi terhadap informasi yang dibawanya.
Sebelumnya, Nabi Sulaiman telah mengancam akan menghukumnya dengan hukuman berat atau menyembelihnya, kecuali jika Hudhud datang dengan alasan yang jelas. Dengan membawa informasi yang penting, Hudhud berusaha memenuhi pengecualian tersebut.
2. Kesesuaian dan ketepatan penyajian informasi
Para ahli jurnalistik menegaskan bahwa sebuah berita idealnya terdiri atas judul, teras berita, tubuh berita, dan penutup. Jika kita mencermati kisah Hudhud bersama Nabi Sulaiman AS, kita dapat menemukan pola penyampaian informasi yang menarik.
Hudhud membagi laporannya menjadi dua kelompok, yaitu informasi yang dapat diketahui melalui pengamatan indrawi dan informasi yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak dapat diketahui hanya melalui pancaindra.
a. Informasi yang diperoleh melalui pengamatan
Kelompok pertama adalah informasi tentang hal-hal yang dapat diamati secara langsung melalui pancaindra, seperti sesuatu yang dapat dilihat, didengar, atau disentuh.
Hal itu tampak dalam firman Allah SWT:
Pertama, “Inni wajadtu imra’atan tamlikuhum” — “Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka.”
Hudhud mengetahui bahwa pemimpin negeri tersebut adalah seorang perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa ia mampu mengenali perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Selain itu, ungkapan tamlikuhum menunjukkan bahwa perempuan tersebut mempunyai kekuasaan atas kaumnya.
Hudhud bukan sekadar mengetahui bahwa perempuan itu memimpin mereka, melainkan juga memahami kedudukan dan hubungan kekuasaannya dengan masyarakat yang diperintahnya.
Kedua, “Wa utiyat min kulli syai’in” — “Dia dianugerahi segala sesuatu.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Hudhud telah mengamati dan menilai kekayaan serta kekuasaan yang dimiliki sang ratu. Ia seolah mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang memungkinkannya menilai berbagai aspek dari kerajaan tersebut.
Ketiga, “Wa laha ‘arsyun ‘azhim” — “Dan dia mempunyai singgasana yang besar.”
Hudhud tidak hanya menyaksikan singgasana sang ratu, tetapi juga menilainya sebagai sesuatu yang agung. Dari mana ia memperoleh kemampuan untuk mengenali dan menilai semua itu?
Dalam perspektif keimanan, pengetahuan dan kemampuan makhluk pada akhirnya berasal dari Allah SWT, Tuhan seluruh alam.
Ketiga informasi tersebut menggambarkan pengamatan terhadap keadaan yang dapat ditangkap oleh pancaindra, baik secara langsung maupun melalui sebagian indra.
b. Informasi tentang sesuatu yang tidak tampak oleh pancaindra
Kelompok kedua adalah informasi yang tidak cukup diketahui hanya melalui pengamatan fisik. Informasi semacam ini berkaitan dengan keyakinan, niat, atau keadaan batin seseorang yang memerlukan pemahaman lebih mendalam.
Hal tersebut terlihat dalam firman Allah SWT: “Wajadtuhu wa qaumaha yasjuduna lisy-syamsi min dunillah” — “Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan Allah.”
Seseorang yang melihat sekelompok orang bersujud belum tentu dapat mengetahui secara langsung apa yang sesungguhnya mereka sembah.
Gerakan yang tampak dari luar tidak selalu cukup untuk memastikan niat seseorang. Namun, dalam kisah ini, Hudhud melaporkan bahwa sang ratu dan kaumnya menyembah matahari, bukan Allah.
Selanjutnya, Hudhud menyatakan bahwa setan telah menghalangi mereka dari jalan Allah. Hal ini berkaitan dengan keadaan mereka yang tidak sekadar terlihat secara fisik, tetapi juga menyangkut kesesatan dalam keyakinan dan arah kehidupan mereka.
Pernyataan “fahum la yahtadun” (maka mereka tidak mendapat petunjuk) juga menunjukkan bahwa Hudhud dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan dalam konteks yang dikisahkan Alquran.
Dengan demikian, laporan Hudhud tidak hanya berisi fakta-fakta yang tampak di permukaan, tetapi juga menjelaskan makna dan keadaan di balik peristiwa tersebut.
Kisah ini memperlihatkan bahwa informasi yang disampaikan dengan baik tidak berhenti pada penggambaran keadaan yang terlihat. Informasi juga perlu disusun sedemikian rupa agar penerima pesan dapat memahami persoalan secara lebih utuh.
3. Variasi dalam penyajian tokoh dan peristiwa
Salah satu ciri menarik dalam kisah Nabi Sulaiman AS dan burung Hudhud adalah keberagaman tokoh serta peristiwa yang ditampilkan.
Pada satu bagian, kita melihat Nabi Sulaiman memeriksa barisan burung dan menyadari bahwa Hudhud tidak hadir.
Pada bagian berikutnya, Hudhud datang menghadap dan menyampaikan pernyataan yang mengejutkan, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui.”
Pada bagian lain, perhatian pembaca diarahkan kepada Ratu Saba’ dan kaumnya yang menyembah matahari, bukan Allah SWT.
Peralihan dari satu tokoh ke tokoh lain, serta dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya, membuat kisah ini terasa dinamis.
Pembaca tidak hanya mengetahui persoalan ketidakhadiran Hudhud, tetapi juga diajak mengikuti perkembangan informasi yang dibawanya hingga mengungkap keadaan sebuah kerajaan.
Variasi penyajian tokoh dan peristiwa tersebut menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dikaji dari sudut pandang komunikasi dan jurnalistik.
4. Tahapan dalam menilai kesalahan dan menentukan hukuman
Jika diperhatikan secara saksama, Nabi Sulaiman AS menunjukkan tahapan dalam menanggapi ketidakhadiran Hudhud.
Pertama, beliau mempertanyakan keadaan dirinya sendiri melalui firman Allah SWT:
“Ma liya la ara al-hud-hud” — “Mengapa aku tidak melihat Hudhud?”
Pertanyaan ini menunjukkan bahwa beliau terlebih dahulu mengemukakan keadaan yang belum dipahaminya, tanpa langsung menjatuhkan tuduhan.
Kedua, beliau mempertimbangkan kemungkinan bahwa Hudhud memang tidak hadir:
“Am kana minal gha’ibin” — “Apakah ia termasuk yang tidak hadir?”
Setelah itu, Nabi Sulaiman menyebutkan kemungkinan hukuman yang akan dijatuhkan. Beliau mengancam akan memberikan hukuman berat atau menyembelih Hudhud, tetapi memberikan pengecualian apabila burung itu datang dengan alasan atau bukti yang jelas.
Dari sudut pandang penulis, urutan ini dapat dipahami sebagai gambaran kehati-hatian dalam menilai persoalan. Seseorang hendaknya tidak terburu-buru menyalahkan pihak lain sebelum memahami keadaan yang sebenarnya.
Kisah ini juga mengajarkan pentingnya mempertimbangkan alasan dan bukti sebelum mengambil keputusan.
Meskipun Nabi Sulaiman menunjukkan ketegasan sebagai seorang pemimpin, beliau tetap membuka ruang bagi penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, ketegasan tidak harus meniadakan kesempatan untuk menjelaskan keadaan. Sebaliknya, keputusan yang baik perlu mempertimbangkan fakta dan alasan yang jelas.
5. Kepiawaian membela diri
Kemampuan Hudhud membela diri terlihat dari cara ia menyampaikan alasan atas ketidakhadirannya di hadapan Nabi Sulaiman AS.
Ia berkata, “Ahattu bima lam tuhit bihi” — “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui.”
Dalam kajian jurnalistik, pembukaan semacam ini dapat dianalogikan dengan lead yang mengejutkan atau pembuka yang langsung menarik perhatian pembaca.
Alih-alih memulai dengan permintaan maaf atau penjelasan panjang tentang ketidakhadirannya, Hudhud langsung mengemukakan informasi yang sangat penting. Kalimat tersebut membuat Nabi Sulaiman tertarik untuk mendengarkan penjelasannya.
Strategi ini mengubah fokus pembicaraan. Persoalan yang semula berkaitan dengan ketidakhadiran Hudhud beralih kepada berita penting yang dibawanya dari negeri Saba’.
Dari sisi komunikasi, hal tersebut menunjukkan pentingnya menyampaikan pokok informasi secara jelas, tepat, dan menarik perhatian. Pesan yang relevan dapat membantu penerima memahami alasan di balik suatu tindakan, selama informasi tersebut benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Ketepatan memilih kata
Pemilihan kata dalam kisah Hudhud pada masa Nabi Sulaiman AS memperlihatkan susunan bahasa yang kaya makna. Ungkapan yang digunakan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan memiliki maksud tertentu yang sesuai dengan informasi yang hendak disampaikan.
Salah satu contohnya adalah ungkapan:
“Ahattu bima lam tuhit bihi.”
Kata ihathah atau ahattu mengandung makna meliputi atau menguasai sesuatu secara menyeluruh. Dalam konteks laporan Hudhud, ungkapan ini menegaskan bahwa ia telah memperoleh pengetahuan mengenai keadaan yang belum diketahui Nabi Sulaiman.
Contoh lainnya adalah ungkapan:
“Wa ji’tuka min Saba’in binaba’in yaqin.”
Hudhud menggunakan kata naba’ yang dapat dimaknai sebagai berita penting, bukan sekadar informasi biasa. Kata tersebut memberi penekanan pada bobot informasi yang dibawanya.
Sementara itu, kata yaqin menegaskan keyakinannya terhadap kebenaran berita tersebut.
Pilihan kata ini memperlihatkan bahwa Hudhud tidak hanya ingin menyampaikan informasi, tetapi juga menegaskan pentingnya informasi itu serta keyakinannya terhadap apa yang dilaporkannya.
Keistimewaan bahasa juga tampak pada penggunaan kata al-khab’a dalam firman Allah SWT: “Alladzi yukhrijul-khab’a fis-samawati wal-ardh” — “Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi.”
Kata tersebut menggambarkan sesuatu yang tersembunyi atau terpendam, sekaligus menunjukkan keluasan kekuasaan dan pengetahuan Allah SWT atas segala sesuatu.
Demikian pula penggunaan kata sujud dalam ungkapan: “Yasjuduna lisy-syamsi min dunillah” — “Mereka menyembah matahari, bukan Allah.”
Penggunaan kata tersebut menegaskan persoalan mendasar dalam kisah ini, yaitu penyimpangan dalam penghambaan.
Dalam ajaran Islam, ibadah dan ketundukan tertinggi hanya layak ditujukan kepada Allah SWT, Sang Pencipta dan Pemberi segala nikmat.
Dengan demikian, ketepatan pemilihan kata dalam kisah Hudhud memperlihatkan bagaimana sebuah pesan dapat disampaikan secara ringkas, tegas, dan sarat makna.
7. Kepiawaian menggambarkan peristiwa
Orang yang mencermati ayat-ayat Alquran tentang kisah Nabi Sulaiman AS dan burung Hudhud akan menemukan penggambaran peristiwa yang kuat dan hidup.
Kita seolah-olah diajak menyaksikan Nabi Sulaiman ketika memeriksa barisan burung dan mencari Hudhud yang tidak terlihat.
Setelah itu, kita mengikuti kedatangan Hudhud dari negeri Saba’ dengan membawa berita yang meyakinkan.
Susunan peristiwa tersebut membuat pembaca dapat membayangkan situasi yang berlangsung.
Ada seorang pemimpin yang sedang memeriksa keadaan pasukannya, seekor burung yang datang membawa informasi penting, dan sebuah kerajaan yang ternyata memiliki persoalan mendasar dalam keyakinan kepada Allah SWT.
Kisah ini juga memperlihatkan perhatian Nabi Sulaiman terhadap keadaan pihak-pihak yang berada di bawah kepemimpinannya.
Beliau tidak mengabaikan ketidakhadiran salah satu burung dalam barisannya, melainkan memeriksa dan mempertanyakan keberadaannya.
Sementara itu, laporan Hudhud menggambarkan kepeduliannya terhadap keadaan Ratu Saba’ dan kaumnya yang menyembah matahari.
Berita yang dibawanya bukan sekadar informasi mengenai sebuah kerajaan, melainkan juga mengenai persoalan akidah yang penting.
Kekuatan penggambaran peristiwa ini membuat kisah tersebut tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan rangkaian kejadian yang dapat direnungkan oleh pembaca.
8. Ringkas, tetapi kaya makna
Keistimewaan lain dalam kisah Hudhud adalah penggunaan kata-kata yang ringkas untuk menyampaikan informasi yang luas.
Salah satu contohnya terdapat dalam firman Allah SWT:
“Wa utiyat min kulli syai’in” — “Dia dianugerahi segala sesuatu.”
Ungkapan singkat ini memberikan gambaran mengenai luasnya anugerah yang dimiliki Ratu Saba’.
Tanpa menguraikan satu per satu kekayaan, fasilitas, dan kekuasaan yang dimilikinya, Alquran menggunakan kalimat ringkas yang mengandung cakupan makna luas.
Dari sudut pandang komunikasi, hal ini memperlihatkan bahwa penyampaian pesan tidak selalu memerlukan uraian panjang. Kalimat yang tepat dapat menyampaikan banyak informasi selama digunakan sesuai dengan konteksnya.
Namun, ringkas bukan berarti menghilangkan informasi penting. Justru, kemampuan merangkum berbagai keadaan ke dalam ungkapan yang padat merupakan salah satu bentuk kecermatan dalam menyampaikan pesan.
Kisah Hudhud memberikan gambaran tentang bagaimana informasi dapat disampaikan dengan kata-kata yang sedikit, tetapi tetap memiliki kekuatan makna.
9. Ketepatan dalam memilih peristiwa yang disampaikan
Aspek lain yang menarik adalah kemampuan memilih peristiwa yang paling penting untuk disampaikan kepada penerima informasi.
Hal ini terlihat ketika Hudhud berkata. “Wa ji’tuka min Saba’in binaba’in yaqin” — “Aku datang kepadamu dari negeri Saba/’ membawa suatu berita yang meyakinkan.”
Nabi Sulaiman kemudian mendengarkan laporan Hudhud, yang langsung menjelaskan:
“Inni wajadtu imra’atan tamlikuhum” — “Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka.”
Dalam penyajian tersebut, perhatian langsung diarahkan kepada inti informasi, yaitu keberadaan seorang perempuan yang memerintah negeri Saba’. Uraian mengenai pertanyaan Nabi Sulaiman setelah mendengar pernyataan pembuka Hudhud tidak ditampilkan secara terperinci dalam rangkaian ayat tersebut.
Penyajian seperti ini dapat dikaitkan dengan prinsip jurnalistik yang mengutamakan informasi paling penting agar pembaca atau pendengar segera memahami inti persoalan.
Hudhud tidak mengawali laporannya dengan rincian perjalanan, keadaan geografis, atau hal-hal lain yang kurang relevan dengan pokok berita.
Ia langsung menyampaikan informasi yang dianggap penting, kemudian menjelaskan keadaan negeri Saba’, kekuasaan sang ratu, singgasananya, serta keyakinan yang dianut oleh sang ratu dan kaumnya.
Pemilihan informasi tersebut membuat laporannya memiliki arah yang jelas dan tidak kehilangan fokus.
Berbagai karakteristik inilah yang dapat membantu menjelaskan mengapa Hudhud memiliki kedudukan khusus dalam kisah Nabi Sulaiman AS. Ia menyampaikan informasi dengan cara yang menarik, memilih kata secara tepat, serta mengutamakan hal-hal yang dianggap penting.
Kisah tersebut juga dapat memberikan pelajaran tentang pentingnya kecermatan dalam mengumpulkan dan menyampaikan informasi.
Meski demikian, anggapan bahwa Hudhud merupakan burung yang secara khusus dilatih atau dibina dengan metode tertentu merupakan interpretasi penulis, bukan keterangan eksplisit yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments