Inspirasi Pembebasan Al-Aqsa (Bagian 3)
Berkolaborasi
Dr. Majid Irsan al-Kilani dalam bukunya, Hakadza Zhahara Jil Shalahuddin wa Hakadza ‘Aadatil Quds (1985), memaparkan kolaborasi antara Nuruddin Mahmud dan para alumnus madrasah Qadiriyah. Sang raja Zankiyah menerima dengan penuh sukacita dan penghormatan para tokoh yang pernah menimba ilmu dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Sebut saja, Syekh Musa. Salah seorang putra waliyullah itu memimpin migrasi sejumlah alumni Qadiriyah ke Syam. Bahkan, Musa terus mengajar di Damaskus hingga wafatnya pada 1209 M.
Demi mendukung pola-pola pendidikan para alumnus Qadiriyah, Nuruddin membangun sebuah madrasah besar di Harran—dekat perbatasan Suriah-Republik Turki kini. Pengelolaan lembaga itu diserahkan sepenuhnya kepada Asad bin al-Manja bin Barakat, seorang murid Syekh Abdul Qadir. Secara estafet, anak keturunan Ibnu al-Manja meneruskan posisinya sebagai pengajar di institusi tersebut. Penguasa Zankiyah itu juga bersahabat dengan seorang santri Sulthan al-Awliya, yakni Hamid bin Mahmud. Baginya, sebuah madrasah juga didirikan untuk dipimpin sang alim.
Tidak semua pegiat madrasah Qadiriyah pindah ke Syam. Lagipula, gerakan Islah tidak hanya berpusat pada aktivitas jaringan lembaga tersebut. Ada cukup banyak madrasah yang mengambil inspirasi dan sejalan dengan Islah ala al-Ghazali dan Syekh Abdul Qadir. Tidak sedikit pula di antara mereka yang berperan mendukung Zankiyah—dan kemudian Ayyubiyah, dinasti yang pada akhirnya mengusir Salibis dari Baitul Makdis pada 1187 M.
Pemerintahan Zankiyah di Syam tetap berhubungan baik dengan madrasah-madrasah Qadiriyah di pusat Kekhalifahan Abbasiyah, yakni Baghdad dan sekitarnya. Lebih dari itu, Nuruddin pun menyokong persebaran madrasah-madrasah Sunni di wilayah perdesaan. Ash-Shallabi mengatakan, ada sejumlah madrasah yang turut mendukung kejayaan dinasti tersebut.
Misalnya, madrasah al-Adawiyah yang didirikan oleh Syekh Adi bin Musafir. Mursyid itu pernah dipuji Syekh Abdul Qadir, “Jika kenabian dapat diraih dengan kesungguhan ibadah, maka Syekh Adi bin Musafir akan meraihnya.” Syekh Adi hidup di tengah suku Kurdi Hakar. Bahkan, masyarakat setempat mendirikan madrasah khusus sebagai tempatnya mengajar.
Dakwah yang dilakukannya menimbulkan keamanan. Pasalnya, begitu banyak perampok atau penjahat dari suku Kurdi yang bertobat setelah mendengar petuah Syekh Adi bin Musafir yang menyentuh hati. Mereka menjadi orang yang hanya takut kepada Allah dan mengharapkan ridha-Nya. Banyak di antaranya yang di kemudian hari menjadi bagian dari tentara Shalahuddin al-Ayyubi.
Madrasah berikutnya ialah yang didirikan Syekh Abu Madyan Syuaib bin Husain al-Andalusi. Mursyid tersebut hidup di wilayah Sevilla, Andalusia. Ahli fikih mazhab Maliki itu mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya di Maghribi (Maroko), mengajarkan ilmu dan hikmah, serta berlaku zuhud hingga akhir hayatnya.
Masih banyak madrasah lain yang dicatat baik oleh ash-Shallabi maupun al-Kilani. Misalnya, madrasah Rislan al-Ja’bari, madrasah Uqail al-Manihi, madrasah Syekh Ali bin al-Haiti, serta madrasah Syekh Baqa bin Bathu.
Buah kaderisasi
Nuruddin Mahmud wafat dalam usia 56 tahun akibat sakit. Putranya yang masih berusia 11 tahun, as-Shalih Ismail al-Malik, kemudian menjadi penerusnya.
Di satu sisi, pergantian kepemimpinan ini dapat dibaca sebagai senja kala Dinasti Zankiyah. Sebab, lambat laun Shalahuddin Yusuf bin Ayyub alias Shalahuddin al-Ayyubi menjadi penguasa muslim terkemuka yang mampu menyatukan Mesir dan Syam.
Di sisi lain, sosok yang disebut bangsa-bangsa Eropa sebagai Saladin itu pada faktanya meneruskan spirit Nuruddin dalam berjihad membebaskan Baitul Makdis dari tangan Salibis. Terlebih lagi, pendiri Dinasti Ayyubiyah itu sejak kecil ditempa oleh alim ulama yang alumni madrasah Qadiriyah.
Shalahuddin adalah putra Najamuddin Ayyub bin Syadzi, seorang panglima suku Kurdi Rawadiyah. Banyak muslimin dari suku bangsa tersebut yang belajar pada madrasah-madrasah al-Adawiyah. Begitu tumbuh mendewasa, mereka turut dalam kancah pertempuran melawan Salibis, baik pada masa Zankiyah maupun—terutama—Ayyubiyah.
Karena itu, pada era Saladin banyak ksatria muslim yang merupakan hasil kaderisasi madrasah-madrasah zaman Nuruddin. Khususnya madrasah Qadiriyah, yang sejak awal membuka pintu bagi anak-anak pengungsi dari wilayah-wilayah jajahan Salibis.
Ash-Shallabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Daulah Zankiyah (2007) menjelaskan, madrasah Qadiriyah mengkader para pemuda yang meninggalkan daerah-daerah yang diduduki Tentara Salib. Bahkan, pengelola madrasah—dengan dukungan finansial dari Zankiyah pula—menyediakan tempat tinggal dan perbekalan untuk mereka. Dengan begitu, anak-anak tersebut dapat memfokuskan perhatian pada belajar dan berlatih.
Ketika tiba saatnya, para murid itu begitu dewasa dan siap dikembalikan ke tempat-tempat perbatasan dengan musuh. Di antara mereka, ada yang menjadi prajurit atau bahkan jenderal-jenderal cerdas. Ada pula yang menjadi mubaligh, membimbing masyarakat.
Ash-Shallabi mengatakan, para alumni Qadiriyah itu dikenal dengan nama Generasi al-Maqadisah. Sebab, perjuangannya dikaitkan dengan pembebasan al-Quds atau Baitul Makdis.
Jelaslah bahwa generasi itu adalah alim yang mujahid sekaligus. Mereka tak sekadar berilmu, tetapi juga berdaya juang tinggi. Kemunculan mereka adalah buah dari kerja sama antara umara dan ulama, yang dicontohkan penguasa Bani Zankiyah dan kalangan cendekiawan yang setia padanya. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments