Follow us:

Ta’alluq yang Menghidupkan Pesantren

Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali kembali ke pesantren, waktu seperti berjalan dengan cara yang berbeda. Jalan-jalan kecil itu mungkin sudah berubah. Bangunan bertambah. Santri semakin banyak. Tetapi ada sesuatu yang tetap sama. Aroma masjid selepas subuh. Suara santri membaca kitab. Dan perasaan menjadi anak kecil lagi ketika melangkah masuk ke lingkungan yang dahulu ikut membentuk hidup kita. Perasaan itu kembali saya rasakan saat menghadiri Haul Simbah KH. Abdurrahman bin Qasidil Haq dan Keluarga ke-86 di Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Sabtu, 30 Mei 2026.

Bagi sebagian orang, haul mungkin hanya dipahami sebagai acara tahunan untuk mengenang orang yang sudah wafat. Tetapi bagi saya, dan mungkin bagi banyak alumni pesantren, haul adalah semacam jalan pulang. Pulang kepada kenangan. Pulang kepada guru. Dan pulang kepada diri sendiri.

“Kok Bisa Cinta Padahal Tidak Pernah Bertemu?”

Malam sebelum acara puncak, Masjid Futuhiyyah dipenuhi para masyayikh dan jamaah yang membaca tahlil serta Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Saya duduk di antara jamaah. Mendengar lantunan manaqib yang dulu sangat akrab di telinga saat menjadi santri. Entah mengapa, suasana seperti itu selalu membuat saya merasa kecil. Seolah semua kesibukan dan jabatan yang dibawa dari luar pesantren luruh begitu saja.

Keesokan harinya, acara Haul Akbar. Mauidhah hasanah disampaikan oleh KH. Abdul Ghofur Maemun pengasuh Pesantren Al Anwar Sarang 3. Beliau membuka dengan sesuatu yang sederhana tetapi menghentak,

“Panjenengan semua ini jangan merasa jauh dengan para masyayikh hanya karena tidak pernah bertemu.”

Kalimat itu membuat saya langsung memperhatikan. Beliau lalu bercerita bahwa beliau memiliki banyak sanad kitab kuning. Sebagian sanad panjang dan tidak semuanya beliau hafal. Tetapi ada satu sanad yang sangat beliau ingat karena pendek dan melewati jalur Mbah Muslih.

Beliau pernah mengaji Tafsir Munir karya Syekh Nawawi Al Bantani kepada Kiai Ahmad Zaini. Kiai Ahmad Zaini mengaji kepada kakaknya, Kiai Ahmad Kusairi. Kiai Ahmad Kusairi mengaji kepada Mbah Muslih. Mbah Muslih mengaji kepada Kiai Jam’an dari Banten. Dan Kiai Jam’an mengaji langsung kepada Syekh Nawawi Al Bantani.

Beliau berhenti sebentar. Lalu berkata,

“Saya tidak pernah ketemu Mbah Muslih. Tapi saya merasa dekat.”

Masjid hening. Kemudian Gus Ghofur melanjutkan dengan kisah yang lebih jauh.

“Para tabi’in juga begitu.”

Beliau menyebut nama Uwais al-Qarani. Uwais tidak pernah bertemu Rasulullah SAW. Tetapi cintanya begitu besar. Beliau menggambarkan bagaimana Uwais memilih tetap menjaga ibunya daripada datang menemui Rasulullah.

Lalu Gus Ghofur bertanya kepada jamaah,

“Menurut panjenengan, siapa yang lebih dekat kepada Nabi? Yang pernah ketemu tapi tidak cinta, atau yang tidak pernah ketemu tapi sangat cinta?” Beberapa jamaah tersenyum.

Beliau menjawab sendiri, “Yang penting itu ta’alluq.”

Beliau lalu menyebut Abu al-Aswad al-Du’ali dan Abu Muslim al-Khawlani. Mereka tidak pernah melihat wajah Rasulullah. Tetapi hidup mereka dipenuhi rasa cinta kepada beliau. Di situ saya seperti sedang diajak bicara langsung.

Kami Tidak Menjumpai, Tetapi Kami Menikmati Buahnya

Saya dan teman-teman masuk Futuhiyyah setelah wafatnya Syaikh Muslih bin Abdurrahman. Apalagi dengan ayahanda beliau, Simbah KH. Abdurrahman bin Qasidil Haq, yang haulnya kami hadiri hari itu. Kami tidak pernah menjumpai keduanya. Tetapi anehnya, kami tidak pernah merasa jauh.

Saya membatin sendiri saat itu, “Mungkin beginilah rasanya ta’alluq.”

Kami menikmati pesantren yang mereka bangun. Kami belajar dari sistem yang mereka rancang. Kami tumbuh dari budaya yang mereka wariskan. Bahkan di akhir masa belajar, kami masih diberi kesempatan mengaji bandongan secara khusus kepada Syaikh KH. Ahmad Muthohar bin Abdurrahman bin Qasidil Haq dengan Kitab Bidayatul Mujtahid di ndalem beliau hingga khatam.

Saya masih menjumpai KH. Lutfil Hakim Muslih. Saya masih menjumpai KH. Muhammad Hanif Muslih. Saya masih menjumpai KH. Abdul Hadi Muthohar. Sebagian dari kami pernah sekelas dan sampai sekarang berkarib dengan cucu-cucu beliau. Saat itu saya seperti menemukan jawaban dari pertanyaan Gus Ghofur tadi. Kedekatan ternyata bukan hanya soal pernah bertemu. Kedekatan adalah ketika seseorang tetap hidup dalam keputusan-keputusan kita. Tetap hidup dalam cara kita belajar. Tetap hidup dalam doa-doa kita.

Sepulang dari haul, saya terus memikirkan satu hal. Mengapa pesantren bisa bertahan begitu lama? Mungkin jawabannya bukan semata kitab. Bukan hanya bangunan. Bukan pula sistem. Tetapi karena pesantren mengajarkan cara mencintai. Mencintai guru. Mencintai ilmu. Mencintai orang-orang yang bahkan tidak pernah kita jumpai.

Saya lalu membayangkan anak-anak hari ini. Mereka mengenal banyak tokoh dari layar. Tetapi belum tentu mengenal siapa guru yang membentuk hidupnya. Padahal manusia tumbuh bukan hanya dari informasi. Tetapi dari hubungan. Dan mungkin di situlah pesantren tetap penting. Karena pesantren mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang menjadi orang besar. Tetapi menjadi orang yang tahu kepada siapa ia harus berterima kasih.

Bagi saya, warisan terbaik yang bisa diberikan orang tua kepada anak bukan hanya sekolah terbaik. Tetapi menghadirkan anak dekat dengan orang-orang baik. Dekat dengan guru. Dekat dengan para masyayikh. Dekat dengan pesantren. Karena anak yang tumbuh dengan cinta kepada guru, biasanya tumbuh dengan hati yang lebih lembut dan arah hidup yang lebih jelas.

Dan saya pulang dari haul itu dengan satu keyakinan bahwa para masyayikh tidak pernah benar-benar pergi. Mereka tetap mengumpulkan murid-muridnya. Lewat doa. Lewat sanad. Lewat kenangan. Dan lewat cinta. Al-Fatihah.

Penulis: Fahmi Arif El Muniry (Alumnus MTs, MAK Futuhiyyah-1 dan Pesantren Al Anwar Suburan Mranggen Demak). (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved