Follow us:

Kenapa Banyak Tentara IDF Tembak Teman Sendiri?

Pasukan penjajahan Israel (IDF) melansir bahwa dari 170 tentara Israel yang tewas di Jalur Gaza selama serangan darat Israel yang dimulai pada akhir Oktober 2023, 29 orang tewas akibat tembakan sesama dan kecelakaan lainnya. Data yang dilansir pada Senin (1 Januari 2024) itu belum mengumumkan mereka yang terluka akibat insiden serupa.

Dengan jumlah yang diumumkan tersebut, sekitar 17 persen tentara IDF tewas bukan karena diserang musuh. Jumlah ini termasuk yang paling banyak secara proporsional dibandingkan perang-perang terdahulu.

Sepanjang puncak invasi AS ke Irak sepanjang 2003-2010, Angkatan Darat AS hanya mencatat 24 orang tewas akibat ditembak teman sendiri dari 3.059 tentara yang terbunuh di Irak sejak invasi. Sedangkan dalam agresi AS ke Afghanistan sejak 2001, enam dari 484 orang tewas, atau berkisar 1,24 persen. 

Sepanjang sejarah, hitungan Angkatan Darat AS mengenai tingkat tembakan ramah pada setiap perang mulai dari Perang Dunia II hingga Badai Gurun adalah antara 10 dan 14 persen. Selama konflik AS terakhir di Irak, Operasi Badai Gurun pada tahun 1991, pembunuhan saudara menewaskan 35 dari 298 anggota militer AS, atau angkanya hampir 12 persen, menurut laporan tahun 1992 oleh Center for Army Lessons Learned.

Times of Israel melansir, data kematian akibat saling tembak dan kecelakaan di jajaran IDF tersebut tidak mencakup tentara yang terluka akibat tembakan teman dan kecelakaan, serta tidak mencakup dua tentara yang tewas pada tanggal 30 dan 31 Desember 2023.

Laporan IDF memerinci, 18 dari 170 tentara tewas akibat tembakan teman karena kesalahan identifikasi, termasuk dalam serangan udara, penembakan tank, dan tembakan. Selanjutnya, dua tentara tewas akibat tembakan yang tidak dimaksudkan untuk mengenai mereka.

Sembilan tentara tewas dalam kecelakaan, termasuk pelepasan senjata yang tidak disengaja, tertabrak kendaraan lapis baja, dan terkena pecahan peluru dari penghancuran yang terkendali. Sejak awal operasi darat, antara dua dan enam tentara telah tewas setiap minggunya dalam insiden tembak-menembak atau kecelakaan, menurut data tersebut.

IDF menilai ada banyak alasan yang menyebabkan kecelakaan mematikan tersebut.  Termasuk di antaranya banyaknya jumlah pasukan yang beroperasi di Gaza, masalah komunikasi antar pasukan, dan kelelahan tentara serta tidak memperhatikan peraturan.

Saat ini terdapat puluhan ribu pasukan infanteri, tank, dan pasukan lainnya di Gaza yang mengambil bagian dalam serangan darat Israel terhadap Hamas, yang beroperasi di lingkungan padat di Jalur Gaza.

Tekanan mental juga jadi kemungkinan penyebab selanjutnya. Surat kabar Yedioth Ahronoth sebelumnya melaporkan bahwa Departemen Rehabilitasi IDF memutuskan untuk meluncurkan program untuk membantu tentara yang menderita gangguan psikologis akibat perang di Gaza.

“Tim akan dibentuk terdiri dari perawat dan psikiater yang dapat menangani kecenderungan bunuh diri untuk melakukan evaluasi terhadap tentara yang menderita gangguan psikologis,” bunyi pengumuman tersebut.

Surat kabar itu menambahkan, “Perang di Gaza menimbulkan korban jiwa, cedera fisik, dan gangguan psikologis yang sangat berat dan tidak terganggu, terutama di kalangan tentara penyandang disabilitas dari tentara pendudukan.”

Surat kabar Haaretz sebelumnya memberitakan bahwa 500 tentara Israel saat ini mengalami kesulitan psikologis dan gangguan stres pasca trauma, sejak dimulainya perang Israel di Jalur Gaza.

Sebelumnya, sumber medis Israel mengungkapkan bahwa tentara pendudukan yang terluka dalam pertempuran di Gaza menimbulkan trauma psikologis yang parah dan mimpi buruk yang mengganggu akibat pemandangan perang yang mengerikan.

Mengutip keluarga para tentara, situs berbahasa Ibrani Walla mengatakan pada November lalu bahwa keganasan perlawanan Palestina menyebabkan guncangan dan keresahan bagi tentara yang kembali dari Gaza.

Rumah sakit terpaksa menyuntik tentara yang mengalami trauma psikologis dengan zat narkotika agar mereka bisa tidur. Dalam salah satu insiden terkini, seorang tentara cadangan bangun dari mimpi buruk dan langsung melepaskan tembakan dan melukai rekan-rekannya di kota Ashkelon, selepas pulang bertugas dari Gaza.

Militer penjajah mengatakan mereka terus-menerus menilai pertempuran yang sedang berlangsung, termasuk kasus-kasus baku tembak, dan dengan cepat menerapkan pelajaran yang didapat. Meski begitu, IDF berulang kali memuji kerja sama antara berbagai cabang militer, terutama pesawat yang memberikan dukungan udara kepada pasukan di darat.

IDF telah mengumumkan kematian 172 tentara yang terbunuh di Gaza sejak dimulainya serangan darat pada 27 Oktober. Sebanyak 937 tentara lainnya terluka dalam operasi darat tersebut, 211 luka berat, 347 luka sedang, dan 379 luka ringan, menurut data IDF pada Ahad (31 Desember 2023). (UYR/Republika)

Share This:

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved