Follow us:

Mengenali Tiga Kekuatan Manusia

Manusia dibekali dengan berbagai potensi yang menentukan arah hidup dan perilakunya. Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Prof. Sahiron mengingatkan masyarakat agar dalam beribadah tidak hanya terjebak pada aktivitas fisik dan lahiriah semata, tapi juga harus terus memperkuat dimensi spiritual, pengelolaan diri, dan akhlak.

Prof. Sahiron membedah pandangan filosofis Imam Fakhruddin al-Razi mengenai tiga kekuatan utama yang ada di dalam diri manusia, yaitu: 1) Kekuatan Ruhaniyah (spiritual dan akal); 2) Kekuatan Syahwat (keinginan/dorongan dasar); dan 3) Kekuatan emosional. Menurutnya, kekuatan syahwat pada dasarnya bersifat netral, tetapi arah dan dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia mengendalikannya melalui akal dan ruhani.

“Kalau kekuatan syahwat bergabung dengan kekuatan ruhani dan akal sehat, maka akan melahirkan kebaikan. Jabatan digunakan untuk menolong orang lain, harta digunakan untuk membantu sesama,” jelasnya di Makkah, Minggu/Ahad (24 Mei 2026).

Hakikat Spiritualitas di Balik Ritual Fisik

Prof Sahiron menegaskan bahwa momentum ibadah di Tanah Suci sejatinya menjadi salah satu sarana besar untuk mengasah kekuatan ruhani. Meski sebuah ibadah tampak didominasi oleh gerakan fisik seperti tawaf dan sa’i, hakikat yang terkandung di dalamnya adalah kekuatan spiritual untuk mengendalikan ego.

“Ketika tawaf mengelilingi Ka’bah, hati kita diajak terus mengingat Allah SWT melalui zikir dan doa. Di situlah spiritualitas kita dibangun,” katanya.

Mengutip pandangan Imam al-Ghazali, Prof. Sahiron mengingatkan agar aktivitas penghambaan tidak boleh berhenti pada gerakan lahiriah semata. Inti dari segala bentuk ibadah adalah proses pembersihan hati dan sarana muhasabah (evaluasi) diri.

“Jangan sampai haji hanya menjadi ibadah jasad saja. Yang paling penting adalah menata hati,” tegasnya.

Kesetaraan dan Persatuan Universal

Lebih lanjut, Prof. Sahiron menjelaskan bahwa momentum sakral seperti wukuf di Arafah merupakan saat penting bagi manusia untuk merenungi dosa-dosa dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Simbolisme pakaian ihram yang serbaputih dan sama bagi semua orang juga membawa pesan moral yang mendalam tentang nilai kesetaraan dan kerendahan hati.

“Tidak ada perbedaan antara petinggi dengan masyarakat biasa. Semua sama di hadapan Allah SWT,” ujarnya.

Dimensi sosial ini bahkan memicu kekaguman dari para pemikir barat dan orientalis, salah satunya Richard Burton. Mereka mengagumi bagaimana jutaan manusia dari berbagai belahan dunia, ras, dan latar belakang budaya yang berbeda dapat berkumpul bersama dalam harmoni tanpa konflik karena adanya ikatan spiritual yang kuat.

“Umat Islam dari berbagai tradisi dan budaya bisa bersatu karena diikat oleh Islam,” katanya.

Prof. Sahiron lalu menekankan bahwa keberhasilan dari proses penguatan ruhani ini tidak diukur saat ritual tersebut berlangsung, melainkan pada dampak nyata berupa perubahan perilaku dan peningkatan akhlak dalam kehidupan sehari-hari setelahnya.

“Haji harus menjadi starting point untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih tawadu, dan lebih menghormati orang lain,” pungkasnya. (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved