Wawancara Eksklusif Dengan Ustadz Oemar Mita
Wawancara ini dilakukan pada tahun 2015 silam oleh kru Majalah Mimbar Darussalam, atau tepatnya 9 tahun yang lalu. Namun demikian, topik pembicaraan masih relevan dengan kondisi hari ini.
Bagaimana cara mengobati masyarakat sekarang yang kondisinya sangat jauh dari ajaran agama?
Solusi pendidikan umat itu kembali kepada apa yang telah dirintis oleh para Rasul dan para Nabi. Hal itu tidak lain adalah meletakkan fondasi akidah dan tauhid dalam pendidikan umat. Hari ini, kita mendapati umat Islam jauh dari tauhid dan akidah. Sehingga, semua urusan mereka itu berantakan ketika akidah dan tauhid mereka rusak. Umat Islam pada umumnya banyak mengenal fikih, mengetahui ibadah, memahami tazkiyatun nafs (penyucian diri), tapi jarang yang paham tentang akidah. Banyak orang mengetahui urusan tazkiyatun nafs seperti sabar, qanaah (merasa cukup-red), tapi banyak juga yang tidak mengetahui bagaimana meletakkan pondasi akidah dalam kehidupan.
Seseorang akan mengerti beratnya dosa makanan haram jika dia mengerti akidah. Keterikatan dirinya dengan Allah Ta’ala sangat kuat, bisa membayangkan gambaran surga dan neraka di setiap waktu, sehingga membuatnya mudah untuk meninggalkan makanan yang haram. Sebab, dia mengetahui bahwa makanan haram akan menyalakan api neraka dan memadamkan janji Allah berupa surga kepada dirinya.
Mengembalikan umat kepada tauhid adalah pekerjaan kita. Sungguh, sebuah kewajiban terbesar bagi kita adalah mengembalikan umat kepada rel akidah. Para sahabat Nabi telah menjadi sebuah umat yang dituntun oleh Allah. Mereka adalah umat yang diberikan kemenangan dan kejayaan, serta mampu menggeser peradaban Romawi dan Persia hanya dalam waktu yang kurang dari 100 tahun. Itu semua karena mereka bersentuhan langsung dengan akidah dan sunnah. Setelah melakukan itu semua, Allah memberikan kejayaan kepada mereka.
Jika seseorang telah membayangkan surga dan neraka yang merupakan cermin dari akidah setiap waktu, maka sesungguhnya semua problema hidup akan lurus kembali.
Jadi semuanya bermula dari pendidikan tauhid. Sementara, saat ini dunia pendidikan di negara kita ini diwarnai oleh kaum sekuler, yang menjauhkan pendidikan itu sendiri dari akidah. Apa solusinya menurut Ustadz?
Semuanya kembali kepada alim (ulama-red) dan juru dakwah. Merekalah seharusnya yang memiliki misi menyebarkan akidah yang benar. Saya yakin, pada dasarnya umat Islam ini adalah hanif (orang yang lurus), mereka ingin belajar. Tapi, terkadang mereka tidak mendapat seorang ulama yang menuntun mereka sebagaimana Nabi menuntun umatnya. Sehingga, ketika ada ulama yang tidak mempunyai visi yang sesuai dengan akidah yang benar, maka umatlah yang menjadi korban.
Banyak umat Islam yang mengerti fikih tapi tidak mengetahui masalah tauhid. Jika banyak yang mengerti fikih tapi awam dalam masalah tauhid, maka terciptalah profil-profil yang rajin melaksanakan umrah dan haji, tapi tetap melakukan korupsi. Orang-orang itu merasa bahwa umrah menghapuskan dosa termasuk dosa korupsi. Sebab, mereka menimbangnya dengan fikih bukan dengan ukuran akidah. Itulah sebabnya, semua urusan ini dikembalikan kepada alim dan juru dakwah yang membawa risalah kenabian. Tugas mereka mengajak umat untuk kembali kepada tauhid.
Apakah Ustadz melihat jumlah dai yang ada sekarang sudah sepadan dengan kebutuhan umat?
Tidak sepadan. Antara kebutuhan masyarakat terhadap ilmu agama sangat tidak sepadan dengan jumlah dai. Pada saat ini, kita melihat banyak dai yang muncul, namun masyarakat yang haus akan agama jauh lebih banyak lagi. Masih banyak masyarakat yang membutuhkan bimbingan dai dalam ilmu agama. Terlebih lagi, masih ada dai yang belum mengetahui bahasa dan retorika dakwah yang mudah diterima oleh masyarakat umum. Banyak dai yang pintar, tapi kesulitan dalam membahasakan ilmu yang diketahuinya. Akhirnya, umat tidak mengetahui apa yang disampaikannya. Kenapa? Umat tidak mengerti apa maksud dari materi yang disampaikan oleh dai itu.
Jadi, masyarakat benar-benar membutuhkan banyak dai. Di situlah kita harus memikirkan bagaimana pertumbuhan kader-kader dakwah di masa datang. Hari ini (tahun 2015-red) kita senang mendapati ustadz-ustadz bermunculan. Tapi, terkadang kita lupa siapa yang akan menggantikan mereka di kemudian hari. Seperti saya, ustadz-ustadz yang lain. Semua ustadz ada waktunya tersendiri untuk aktif berdakwah. Jika kita tidak mempersiapkan kader dakwah dari anak-anak kita, maka umat akan berjalan sangat berat menghadapi ujian kebenaran yang bertubi-tubi dan berlapis-lapis. Oleh karena itu, umat Islam sangat membutuhkankan kader-kader yang kuat hari ini. Itulah kebutuhan kita yang sangat besar.
Kita ketahui bahwa ada NU dan Muhammadiyah semenjak lama. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah organisasi dakwah. Tapi kenapa dakwah itu seolah-olah tidak sampai kepada masyarakat?
Menurut saya, mereka hanya memerhatikan dakwah struktural semata dan dakwah yang bersifat formalitas. Sehingga pelakunya mempunyai kedudukan di instansi tertentu. Yang kurang adalah dakwah kultural sehingga tidak ada kedekatan personelnya dengan masyarakat. Padahal, umat itu butuh untuk disapa, diayomi, dan dipegang tangannya agar berjalan menuju jalan yang diridai Allah.
Kita membutuhkan dakwah kultural, dakwah yang menyentuh masyarakat secara langsung meskipun dakwah struktural juga penting. Agar mengukuhkan kedudukan kita sehingga tidak bisa dikalahkan oleh kebatilan yang tersistem rapi. Kedua bentuk dakwah itu penting. Namun, pada hari ini kita melihat banyak yang mementingkan dakwah struktural. Seperti disebutkan tadi, bahwa ada yang ingin mendapatkan posisi tertentu dengan melakukan dakwah struktural, tapi malah melupakan dakwah kultural. Padahal itulah yang menjadi pilar atau ruh dari dakwah itu.
Sejauh mana bisa ditoleransi dakwah kultural ini? Seperti diketahui, dakwah kultural ini dipelopori oleh Walisongo. Mereka berdakwah melalui kultur masyarakat setempat. Sekarang ada semacam koreksi bahwa dakwah harus kembali kepada tuntunan salafush-shalih. Bagaimana bentuk dakwah kultural yang modern?
Sebenarnya, dakwah kultural itu dakwah Rasul. Dakwah Rasul itu adalah dakwah yang menitikberatkan kepada masyarakat, bukan dakwah Walisongo saja. Dakwah kaum salaf juga dakwah kultural. Mereka menyajikan ilmu dan mengajarkan sunnah, lalu menyampaikannya kepada umat. Sehingga, umat mengetahui kehidupan mereka sehari-hari, bagaimana akidah mereka. Umat pun hidup bersama para ulama itu dan dibesarkan bersama ilmu mereka. Jadi, Walisongo hanya salah satu contoh yang melakukan dakwah kultural. Sebab, yang menyampaikan dakwah keseluruhan secara kultural kepada masyarakat adalah Nabi Muhammad.
Sesungguhnya yang kita butuhkan pada waktu ini adalah dakwah. Kita banyak membicarakan hal-hal besar tapi ternyata umat juga tidak memahaminya. Terkadang, umat tidak mengerti bagaimana memandikan jenazah dan tidak memahami bahwa syirik itu tidak berkaitan dengan menyembah kuburan saja. Terkadang, apa yang disampaikan para dai adalah hal-hal yang besar, akhirnya umat tidak paham sama sekali.
Oleh karena itu, kita harus menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga, dari sini kita dapat memahami perbedaan antara murabbi (pendidik-red) dan muallim (guru-red). Muallim hanya bertugas menyampaikan materi. Setelah materi disampaikan, tugasnya selesai. Itulah muallim. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bukan hanya muallim tapi juga murabbi.
Murabbi adalah seorang pendidik, sehingga dia harus hidup bersama masyarakat. Melihat kehidupan sehari-hari masyarakat dan mengoreksi kesalahannya dengan cara yang lembut dan memperlihatkan akhlak yang baik. Hidup di tengah-tengah masyarakat lebih efisien daripada membentuk para dai-dai yang berfungsi hanya sebagai muallim.
Coba kita lihat, jika di sebuah masyarakat yang hidup bersama seorang dai. Lalu mereka bersama-sama menjalankan sunnah. Itu lebih efisien daripada masyarakat yang juga hidup bersama seorang dai, namun dai ini hanya pulang-pergi berdakwah di tempat lain. Sehingga, yang dibutuhkan saat ini bukan hanya dai bervisi akidah, tapi dai yang berfungsi juga sebagai murabbi. Itu sama dengan yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad. Beliau mengurusi negara di kala masih hidup. Pada saat itu ada 120 ribu sahabat. Meski demikian, Nabi mengetahui siapa tukang sapu masjidnya yang meninggal dunia. Beliau juga mengetahui orang Yahudi sakit, lalu menjenguknya. Beliau juga memahami kondisi sahabatnya yang sedang bersedih.
Di situlah kita dapat memahami bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bukan hanya muallim tapi beliau juga seorang murabbi. Beliau tidak segan melakukan hal-hal yang sangat sederhana. Seorang sahabat yang bernama Jabir pernah dijenguk oleh Nabi. Lalu beliau memegang kepalanya dan mengusap wajahnya dan dadanya. Setelah sekian lama Nabi wafat, Jabir tetap merasakan hangatnya usapan tangan beliau tersebut. Itulah seorang murabbi.
Masyarakat kita ini sangat membutuhkan murabbi. Tapi sangat disayangkan, jumlah murabbi yang tidak mencukupi kebutuhan masyakarat dalam ilmu agama. Mendidik masyarakat satu demi satu itu memang susah. Makanya, memperbanyak dai dengan kualitas akidah dan sunnah yang berjiwa murabbi sangat susah.
Saya rasakan, mungkin saya juga dai yang masih bersifat muallim. Selesai mengajar, langsung pulang. Padahal yang dibutuhkan masyarakat bukan dai yang sekadar mengajar, tapi memerhatikan keadaannya. Umat memang butuh untuk disapa. Banyak orang yang gembira disapa oleh seorang ustadz dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana. “Bagaimana kabarnya pak? Sehat?” Umat terkesan dengan sapaan seperti itu. Sebab, lagi-lagi saya katakana, bahwa umat membutuhkan umat yang berjiwa murabbi. (UYR)
Baca: Wawancara Eksklusif Dengan Ustadz Oemar Mita (Bagian 2)
Leave Your Comments
Copyright 2023, All Rights Reserved
One Comment to 'Wawancara Eksklusif Dengan Ustadz Oemar Mita'
Wawancara Eksklusif Dengan Ustadz Oemar Mita (Bagian 2) – Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur
6 February, 2024 at 9:04 AM[…] Baca: Wawancara Eksklusif Dengan Ustadz Oemar Mita […]