Follow us:

Wawancara Eksklusif Dengan Ustadz Oemar Mita (Bagian 2)

Baca: Wawancara Eksklusif Dengan Ustadz Oemar Mita

Di kompleks-kompleks perumahan seperti yang ada sekarang, jarang sekali atau bahkan tidak ada tempat bertanya masalah agama bagi masyarakat. Seperti yang Ustadz katakan, masyarakat membutuhkan seorang figur murabbi yang eksis. Bagaimana tanggapan Ustadz?

Itulah sebabnya dibutuhkan pemahaman masyarakat tentang urgensi masjid. Semuanya dimulai dari masjid. Pembangunan umat yang dilakukan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun dimulai dari masjid. Selama masjid bisa menjadi mercusuar yang baik untuk umat, maka masjid itu bisa menggerakkan mereka. Apalagi, kalau saya melihat masjid Darussalam ini. Antusias masyarakat di sekitar Cibubur untuk menjadikan masjid Darussalam sebagai referensi sangat besar. Itu sudah menjadi harga yang sangat mahal. Kita harus memanfaatkannya dengan baik. Trust yang diberikan umat sangat besar. Kita mesti mengajarkan sunnah kepada mereka dengan cara yang benar dan akhlak yang mulia. Sebab, banyak yang mengaku mengikuti sunnah tapi tidak mempunyai akhlak. Ada pula yang berakhlak tapi tidak mengikuti sunnah.

Semuanya dimulai dari masjid. Jika masjid sudah menjadi referensi berbagai macam aktivitas dan umat sudah memberikan kepercayaannya, maka satu demi satu solusi dari problem yang dihadapi akan kita dapatkan.

Di masjid kita melakukan syura (musyarawah-red). Orang-orang yang terlibat dalam mengurusi masjid harus berlapang dada menerima konsep kebenaran, siap dikritik dengan dalil dan menyampaikan sesuatu dengan cara yang lembut. Jika semu syarat terpenuhi, maka masjid akan menjadi mercusuar bagi umat.

Orang-orang yang datang dari masjid itu biasanya beda dari yang lain. Kita merindukan masjid itu seperti yang ada pada masa Nabi. Mobilisasi umat untuk berjihad pun dilakukan Nabi di masjid. Semuanya beliau lakukan di masjid, kecuali ketika beliau memberikan taklim (pengajian-red) kepada ummahat (kaum ibu-red). Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan ilmu agama kepada shahabat dari kalangan wanita di rumah salah seorang shahabat. Kita merindukan masjid yang menjadi sentral kehidupan umat. Jika sebuah masjid sudah demikian, maka semua solusi pun mudah untuk didapatkan.

Jadi, di masjid itu ada seseorang yang bisa dijadikan rujukan dalam masalah agama?

Iya. Ada konsultan syariah, ada yang menyamapaikan materi tauhid. Sehingga, jika ada umat yang bertanya tentang al-wala wal bara (loyalitas dan anti loyalitas-red), lalu ustadznya tidak ada, maka disediakan paket tentang materi itu. Seiring dengan perkembangan teknologi, maka masjid harus bersiap juga mereformasi perangkat-perangkatnya. IT (Information technology) harus dipersiapkan untuk merespons segala perkambangan yang terjadi. Jadi umat benar-benar tahu. Saya membayangkan, bahwa jika ada orang yang ingin mengetahui tentang wudhu, maka masjid menyediakan videonya. Sehingga, dia mengerti apakah cara wudhunya sudah benar atau belum. Sehingga, masjid itu betul-betul menjadi referensi.

Oleh karena itu, untuk mengurusi masjid dibutuhkan orang yang benar-benar mengharap pahala dari Allah. Itu perangkatnya sangat banyak. Jika membutuhkan banyak orang, maka di masjid dibutuhkan juga idaratul khilaf, yakni manajemen perbedaan. Kenapa? Setiap aktivitas yang akan dilakukan dalam masjid tidak pernah lepas dari perbedaan di antara pengurusnya. Pengurus masjid sejatinya harus mengerti bagaimana menyikapi perbedaan. Jika tidak, maka kepengurusan tidak akan berjalan dengan baik.

Bagaimana membangun masjid yang komprehensif?

Analoginya seperti komputer. Banyak direktori dan foldernya. Tinggal dibagi-bagi saja. Ada yang bertindak sebagai imam masjid, konsultan syariah. Bagian ini untuk si fulan dan bagian itu untuk yang lain. Ada orang yang alim, tapi bacaan qurannya kurang enak didengar seperti saya….(tertawa)

Ada yang bacaan alqurannya bagus, hafalannya bagus, tapi pemahaman terhadap syariat masih kurang. Jadi, semuanya mendapat tugas masing-masing. Jangan semuanya kerja, tapi yang dibutuhkan adalah bekerja sama. Jika diharuskan bekerja, semua orang juga bisa bekerja. Saya bekerja, ustadz yang lain bekerja, jamaah masjid juga bekerja. Yang dibutuhkan adalah membagi-bagi kerja untuk satu tujuan.

Terkait konsultasi syariat, Ustadz punya gambaran konkretnya?

Barangkali bisa disediakan pertanyaan secara online atau telepon khusus untuk konsultasi seperti di Makkah Mukarramah. Lalu disediakan waktu khusus juga untuk itu. Misalnya tanya tentang fikih. Jadi kita berusaha masjid menjadi sentral referensi umat.

Studi kasus, ketika ditanya tentang satu masalah fikih ke beberapa orang, maka jawabannya berbeda-beda. Bagaimana menyikapinya?

Konsekuensi fikih itu memang membutuhkan perbedaan dari satu sudut, meskipun kita juga harus dituntut untuk bersatu. Contohnya adalah kisah para sahabat yang dikirim Nabi ke Bani Quraizhah. Beliau bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mengerjakan shalat Ashar kecuali di (daerah) Bani Quraizhah.” Mereka lalu berjalan. Ketika itu, waktu shalat ashar hampir habis namun belum sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Sebagian dari mereka menghentikan perjalanan untuk mengerjakan shalat Ashar. Sebagian yang lain tetap melakukan perjalanan dan memegang teguh perintah Rasul, bahwa tidak boleh mengerjakan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah. Mereka pun sampai di sana selepas shalat Isya. Ketika dilaporkan kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, beliau tidak marah kepada yang mengerjakan shalat Ashar di perjalanan dan tidak pula kepada yang mengundur shalatnya hingga waktu Isya.

Ulama Ahlussunnah mengatakan bahwa yang benar adalah yang pertama, yaitu mengerjakan shalat Ashar di perjalanan berdasarkan firman Allah Ta’ala, Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisâ` [4]: 103).

Hanya saja, di sini masalahnya terletak pada pemahaman terhadap konteks perintah Nabi, yaitu jangan berjalan terlalu lambat, sehingga bisa mengerjakan shalat Ashar di Bani Quraizhah.

Perbedaan dalam masalah fikih adalah sesuatu yang lumrah, tapi mesti punya dalil. Contoh lain adalah makna quru’ terkait masa iddah wanita yang diceraikan oleh suaminya. Iddah itu mempunyai dua arti yang berbeda, yaitu haid dan suci. Perbedaan dalam memahami ayat dan hadits harus dengan ilmu, karena dengan itu akan menciptakan keindahan. Tapi, jika dipahami dengan kebencian terhadap pihak yang berbeda pandangan, maka itu akan hilang.

Oleh karena itu, sebelum belajar fikih, kita harus mempelajari materi al-wala wal bara (loyalitas dan anti loyalitas-red). Jika ada yang mempelajari fikih dan tidak mengetahui materi itu dan ketika orang lain berbeda pendapat dengannya pada masalah fikih, maka dia akan membencinya melebihi bencinya kepada orang kafir. Ketika bertemu di jalan tidak mau mengucapkan salam. Orang seperti ini hanya paham fikih ibadah, tapi tidak paham al-wala wal bara. Wallahu A’lam. (UYR)

Share This:

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved