Follow us:

Kisah Keramahan Penduduk Syam yang Tak Terlupakan

Jatuhnya rezim Bashar al-Assad baru-baru ini menandai lebih 100 tahun penduduk Suriah mengalami penindasan. Menandai ini, redaksi mengangkat kisah pengalaman Dzikrullah, wartawan Hidayatullah yang juga relawan KITA yang pernah tinggal di Suriah (Kawasan Syam).

Setelah penggulingan Bashar al-Assad pada 8 Desember 2024, Komando Umum Revolusi Suriah memilih Ahmed al-Sharaa sebagai Presiden Suriah pada 29 Januari 2025 dalam Konferensi Kemenangan Revolusi di Damaskus, menandai lebih dari lima dekade kekuasaan keluarga Assad di Suriah.

Perlu diketahui, Suriah mengalami penindasan 4 fase. Fase Kolonial & Mandat Perancis (30 tahun, dari 1916–1946), Fase Instabilitas Pasca-Merdeka (24 tahun, dari 1946–1970), Fase Hafez al-Assad (30 tahun, dari 1970–2000) dan Fase Bashar al-Assad (24 tahun, dari 2000–2024), total 108–112 tahun dibawah penindasan.

Mulianya Penduduk Syam

Tahun 2008, saya dan istri menginjakkan kaki di Suriah — bagian dari negeri Syam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai “negeri yang diberkahi.”

Kami datang bukan untuk berlibur atau mencari penghidupan, tetapi membawa niat belajar dan mengabdi, menempuh kehidupan sederhana dalam tapak jejak para nabi.

Damaskus menjadi tempat tinggal kami. Kota ini bukan sekadar ibukota: ia adalah saksi bisu dari keberkahan yang telah mengalir selama ribuan tahun. Dari sinilah para ulama besar muncul. Di tanah ini, saya belajar bahwa hidup bisa berada dalam dua alam yang bertentangan: satu sisi penuh cahaya, satu sisi penuh bayangan.

Di satu sisi, Suriah adalah negeri yang didoakan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda, yang artinya; “Ya Allah, berkahilah negeri Syam dan Yaman.”   (HR. Bukhari dan Muslim).

Saya menyaksikan langsung keberkahan itu. Kami tinggal tidak jauh dari sekolah milik Syekh Nuruddin ‘Itr — seorang ahli hadis yang setiap tahun meluluskan 80 perempuan penghafal Shahih Bukhari dan Muslim.

Tak ada yang viral. Tapi keikhlasan ilmu nyata terasa di udara. Saya melihat sendiri betapa penduduk Syam memuliakan ilmu dan para penuntutnya.

Suatu hari, keponakan saya yang masih remaja masuk ke toko kelontong. Pemilik toko bertanya, “Dari mana?” — “Indonesia,” jawabnya.

“Ngapain di sini?” — “Belajar Qur’an.”

Sang pemilik langsung berkata, “Ambil apa yang kamu butuh. Gratis.”

Dan itu bukan satu-satunya. Apotek di ujung gang memberi obat gratis bagi pelajar asing. Seorang bidan menolak dibayar saat membantu istri penuntut ilmu melahirkan. Di Suriah, kami tak merasa seperti tamu, tapi seperti keluarga dari satu umat.

Lebih dari itu, saya menyaksikan bahwa akhirat benar-benar dekat di hati mereka. Saya sering berkata,  “Saya melihat, akhirat itu seperti ada di sebelah kamar mereka.”

Namun, di sisi lain, negeri ini (kala itu masih di tangan Assad) berada dalam genggaman tirani. Sejak 1973, kekuasaan dikuasai oleh keluarga Assad — minoritas Nushairiyah Alawiyah — yang mengendalikan segalanya meski 70% penduduk Suriah adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Rezim ini mewarisi kekuasaan dari ayah ke anak: dari Hafez ke Bashar, dari tangan besi ke tangan besi lainnya.

Di Suriah, ada ungkapan populer, “Kalau di Saudi, dinding bisa mendengar. Di Mesir, dinding bisa melihat. Tapi di Suriah — dinding bisa menangkapmu.”

Saya merasakannya. Selama dua setengah tahun tinggal, rumah kami didatangi intelijen delapan kali.

Mereka tahu semua: nama mertua saya, saudara ipar, kegiatan kami, siapa yang datang dan pergi. Data itu bukan disimpan di komputer, tapi dalam lembaran kertas yang diketik rapi.

Saya pernah melihat langsung arsip mereka. Saat saya tanya mengapa tidak menggunakan sistem digital, mereka menjawab, “Justru karena manual, negara kami aman.”

Ironi yang menyakitkan. Kecurigaan menjadi kebijakan. Shalat berjamaah pernah dilarang. Ustadz dan dai dibungkam. Kata “presiden” pun hanya diucap dengan kode. Semua hidup dalam sunyi yang mengawasi. Tapi apa yang mengagumkan: dalam tekanan seperti itu, akhlak mereka tidak mati.

Pernah ada sebuah pertengkaran di jalan. Tiba-tiba ada orang lain meneriakkan “Shallu ‘alan Nabi!” semua langsung reda. Bahkan saat mobil saling salip, sang sopir hanya turun untuk berkata, “Kamu baik-baik saja?”

Saya jadi merenung. Mengapa mereka yang diuji — bukan kita? Padahal kita di Indonesia hidup tenang, beribadah bebas, namun tak selalu bersyukur.

Jawabannya baru ketemu. Karena mereka lebih kuat. Karena iman mereka lebih tinggi, sesuai janji Al-Quran;  “Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian ujian seperti yang dialami orang-orang sebelum kamu?”   (QS. Al-Baqarah: 214).

Kini, ketika saya mengingat Suriah, saya tidak hanya ingat pelajaran agama dan sesi kuliah. Saya teringat pada tukang toko yang memuliakan Qur’an. Pada apoteker yang memberi obat tanpa meminta bayaran. Pada orang asing yang bershalawat saat orang lain marah. Dan pada rasa takut yang tidak membunuh iman.

Penulis: Dzikrullah (UYR/Hidcom)

Share This:
Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved