Rasulullah Sebut 4 Golongan Manusia, Siapakah Paling Beruntung?
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Innamad dunya li arba’atin nafarin.” Maknanya, menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Imam Ahmad, dan Imam Ibnu Majah ini, dunia diisi oleh empat golongan manusia.
Keempat golongan tersebut dibedakan berdasarkan ilmu, harta, serta cara mereka menyikapi kehidupan. Demikian dijelaskan Ustaz Asep Setiawan, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, seperti dilansir dari laman resmi PP Muhammadiyah.
Golongan pertama, jelas Ustaz Asep, adalah mereka yang diberi ilmu dan harta. Dengan ilmu sebagai panduan, mereka mensyukuri nikmat tersebut dan menggunakannya dalam kebaikan.
Orang-orang alim ini menjaga hubungan dengan Allah (habluminallah) melalui ibadah. Mereka pun berinteraksi baik dengan sesama manusia, melalui sedekah, zakat, infak, wakaf, ataupun muamalah. Dalam pandangan Nabi SAW, inilah golongan yang paling beruntung karena mampu menunaikan amanah ilmu dan harta.
Golongan kedua adalah orang-orang yang memiliki ilmu, tetapi tidak berharta. Meski hidup dalam keterbatasan, ilmu menjaga mereka dari ketergelinciran pada hal-hal haram.
Maka jika diberi kelapangan rezeki, orang-orang alim ini memiliki niat tulus dalam beramal. Tidak ada penyakit hati berupa pelit dan bakhil. Rasulullah SAW menegaskan, mereka akan menerima pahala sebagaimana golongan yang pertama.
Golongan ketiga adalah orang-orang yang dikaruniai harta, tetapi tidak memiliki ilmu. Tanpa panduan, mereka hidup dalam kemewahan yang sia-sia. Terlebih lagi bila mengikuti hawa nafsu dan melupakan kewajiban sebagai hamba Allah.
Bila jatuh dalam godaan duniawi, mereka menjadi hamba dunia. Akhirnya, golongan ini tergelincir ke dalam posisi yang buruk.
Golongan terakhir adalah mereka yang tidak memiliki ilmu maupun harta. Hidupnya miskin. Sehari-harinya hanya diisi angan-angan kosong. Kelompok ini lebih suka berpangku tangan daripada berikhtiar dengan pikiran dan tenaga.
Mereka bahkan berangan-angan untuk hidup hedon jika memiliki harta. Ini sama rusaknya dengan golongan ketiga, atau bahkan lebih buruk lagi karena di dunia pun mereka serba terbatas.
Makin berilmu, makin takut kepada Allah
Dalam pandangan Islam, seorang alim menjadi mulia dengan ilmunya. Karena itu, hendaknya ilmu dicari dan diamalkan dengan tujuan yang tertinggi, yakni mengharap ridha Allah Ta’ala. Bukan sanjungan manusia.
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mencari ilmu bukan karena Allah, atau bukan dalam rangka mengharapkan wajah Allah, maka hendaknya dia menyiapkan tempat duduk di dalam api neraka.”
Seorang ulama pada hakikatnya sedang mengemban amanah dari Allah. Karena itu, tidak ada jalan menuntut dan mengamalkan ilmu selain yang sesuai perintah-Nya. Ilmu pun harus dijaga agar tidak jatuh ke dalam kehinaan duniawi.
Ibnu Taimiyah menjelaskan, ada hubungan antara berilmu dan takut kepada Allah. Logikanya, seseorang yang semakin berilmu, maka rasa takutnya kepada Allah pun kian bertambah tebal.
Ibnu Taimiyah menyatakan, “Ketakutan kepada Allah mengharuskan ilmu tentang Allah. Maka, ilmu tentang Allah juga mengharuskan ketakutan kepada-Nya. Dan, takut kepada Allah harus melahirkan ketaatan kepada-Nya. Orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang mengerjakan perintah-perintah-Nya serta menghindari segala bentuk larangan-Nya.” (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments