Syeikh Yusuf al-Qaradawi: Suara Nurani Umat dan Warisan Ilmu yang Tetap Hidup
Tanggal 9 September 1926, lahir seorang ulama yang kelak menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia Islam modern: Syeikh Yusuf al-Qaradawi.
Beliau bukan hanya seorang alim, bukan sekadar dai, melainkan ulama rabbani — ulama yang hidup sepenuhnya untuk Allah dan untuk umat-Nya. Cahaya Allah memancar dari hatinya, wibawa terpancar dari lisannya, dan hujjah mengalir deras dari penanya.
Al-Qaradawi telah menjadi lidah umat yang bersuara, hati umat yang berdetak, dan nurani umat yang terjaga. Ia membela Palestina, menentang tirani, dan mengingatkan para penguasa agar tidak menjual agama demi kepentingan sesaat.
Fiqh Wasathiyah: Jalan Tengah Umat
Meski beliau telah berpulang, warisannya tak akan pernah padam. Syeikh al-Qaradawi meninggalkan ensiklopedia karya lengkap sebanyak 105 jilid. Isinya meliputi fiqih dan ushul, tafsir dan ‘ulum al-Qur’an, dakwah dan manhaj, hingga kritik sosial dan pemikiran Islam kontemporer.
Ini bukan sekadar buku. Ia adalah proyek seumur hidup, warisan peradaban yang akan terus menyinari generasi. Beliau pernah menegaskan:
“Ilmu adalah warisan para nabi. Bukan harta, bukan kekuasaan. Karena itu, barangsiapa ingin memimpin umat, hendaklah ia mewarisi ilmu mereka.”
Dari kedalaman ilmunya lahirlah Fiqh Wasathiyah — fiqh keseimbangan. Islam, kata beliau, bukan agama yang keras tanpa belas kasih, dan bukan pula agama longgar tanpa aturan.
“Islam adalah agama keseimbangan, jalan tengah antara ghuluw (ekstremisme) dan tafrith (kelalaian).”
Fiqh Wasathiyah inilah yang menjadikan al-Qaradawi diterima luas umat Islam. Ia mampu menepis dua bahaya besar: ekstremisme takfiri di satu sisi, dan liberalisme sekuler di sisi lain.
Pelajaran untuk Indonesia
Bila kita bercermin pada Indonesia, pesan beliau terasa begitu relevan. Umat Islam negeri ini bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dan mercusuar peradaban Islam moderat.
Namun, cita-cita besar itu hanya bisa terwujud jika kita meneladani ulama-ulama rabbani. Syeikh al-Qaradawi pernah mengingatkan, “Umat yang melupakan ulamanya sejatinya sedang menggali kuburnya sendiri.”
Menghormati dan meneladani ulama adalah kunci kebangkitan bangsa. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi bangsa yang besar di angka, tapi kecil di peradaban.
Suara Umat, Bukan Stempel Penguasa
Sejak awal 2000-an, Syeikh Yusuf al-Qaradawi konsisten berada di puncak daftar The Muslim 500 (500 Muslim paling berpengaruh di dunia). Bahkan, beberapa tahun ia berada di atas Syaikhul Al-Azhar dan ulama top dunia lainnya.
Faktor penopang pengaruhnya antara lain:
- Ilmu & karya monumental: lebih dari 100 karya (105 jilid). Termasuk Fiqh al-Zakat, Fiqh al-Jihad, al-Halal wal Haram fil Islam, dan Mausu‘ah al-Fiqh al-Muyassar.
- Tokoh fiqh wasathiyah: digelari “Bapak Moderasi Islam”.
- Pengaruh global: acara al-Shari‘ah wal Hayah di Al-Jazeera ditonton jutaan orang.
- Independensi dari rezim: bebas bicara karena tidak terikat penguasa.
- Sikap politik tegas: membela Palestina, Hamas, dan isu-isu umat global.
Namun, tiga momentum besar mengubah posisinya di mata penyusun daftar itu:
- Dukungan pada Revolusi Arab Spring (2011–2013) – beliau mendukung rakyat Mesir melawan Mubarak, lalu mengecam keras kudeta As-Sisi.
- Sikap terhadap Revolusi Suriah – beliau berpihak pada rakyat melawan rezim Bashar al-Assad yang didukung Iran dan Rusia.
- Dukungan terbuka pada Hamas – beliau menolak normalisasi dengan Israel meski banyak negara Arab melakukannya.
Akibat dari sikap politik tersebut, nama al-Qaradawi diturunkan dari daftar 10 besar. Hal ini bukan karena pengaruhnya di hati umat berkurang, melainkan karena pertimbangan politik. Penyusun daftar The Muslim 500 sering lebih ramah terhadap state scholars (ulama negara) yang dekat dengan rezim, ketimbang ulama rakyat yang berani bersuara.
Dengan demikian, al-Qaradawi tetaplah lebih berpengaruh di mata umat. Penurunan namanya dalam daftar hanyalah gambaran tarik-menarik antara kepentingan politik rezim Arab, sekutu Barat, dan dinamika regional.
Ulama Tidak Pernah Mati
Syeikh Yusuf al-Qaradawi meninggalkan kita, tetapi ilmunya tetap hidup, pemikirannya tetap membimbing, dan jejak jihadnya tetap menjadi saksi.
Beliau pernah berkata, “Kami hanyalah orang-orang yang menanam. Jika kami tidak memetik hasilnya di dunia, kami yakin umat setelah kami akan menuainya di akhirat.”
Ulama sejati memang tidak pernah mati. Mereka abadi lewat ilmu, amal, dan perjuangannya.
Di usia ke-99 tahun kelahiran Imam Qaradawi, marilah kita hidupkan kembali warisannya, sebarkan ilmunya, dan tegakkan Islam dengan ilmu, keberanian, dan cinta pada umat — sebagaimana beliau tegakkan sepanjang hidupnya. Wallahu a‘lam.
Penulis: Fahmi Salim Zubir, Direktur Baitul Maqdis Institute. (UYR/Hidcom)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments