Follow us:

Menua adalah Keniscayaan, Bijaksana adalah Pilihan

Suatu hari, seorang ayah dan anaknya yang menjelang remaja—usia anak SD akhir atau SMP awal—naik kereta. Di sepanjang perjalanan, si anak memandang keluar jendela dengan wajah penuh riang dengan celotehan yang terdengar setengah lucu nan lugu.

“Yah, lihat, pohon-pohon itu berlari ke belakang,” celotehnya riang sambil tangannya menunjuk pepohonan yang tumbuh di sepanjang kanan-kiri rel kereta. Sang ayah tersenyum melihat tingkah anaknya. Si anak kemudian mendongak ke atas melihat awan dari balik jendela kereta. Dengan wajah yang tampak terpesona dengan gumpalan-gumpalan awan putih di angkasa, si anak menoleh ke ayahnya sambil jarinya menunjuk ke awan, “Yah, awan itu berlari bersama kita.” Sang ayah kembali tersenyum bahagia sambil mengelus-elus kepala anaknya.

Sepasang suami-istri muda yang duduk dekat anak itu tampak terganggu dengan celotehan si anak. Lama kelamaan, sang istri tidak tahan untuk tidak komentar. Dengan suara ketus yang dipaksa sehalus mungkin, perempuan muda itu berbicara ke ayah si anak tadi, “Tampaknya Anda perlu membawa anak Anda ke dokter karena saya kira ada sesuatu yang tidak beres dengan anak Anda.” 

Dengan tenang, si ayah menjawab, “Terima kasih sarannya. Kami memang baru saja pulang dari dokter. Sejak kecil anak saya memiliki penyakit mata yang parah sehingga semuanya hanya terlihat seperti bayangan hitam baginya. Setelah berobat berkali-kali, hari ini kami baru pulang dari dokter matanya untuk membuka perban matanya. Ini adalah hari pertama dia bisa melihat benda-benda dengan sedikit lebih jelas. Hari ini dia baru bisa melihat pohon, awan dan benda-benda lain. Maaf jika celotehan anak saya mengganggu Anda.” 

Dalam hidup ini, kita mungkin memiliki penyesalan yang tak terhitung jumlahnya. Penyesalan itu bisa terkait dengan hal-hal receh. Misalnya, membeli sesuatu dengan harga yang terlalu mahal, menerima tawaran teman untuk jalan-jalan rekreasi tapi ternyata hasilnya tidak sesuai ekspektasi, contoh lain tentu saja banyak. Penyesalan-penyesalan jenis ini biasanya akan berakhir dengan tertawa bersama kawan setelah kejadian usai. Namun, ada juga penyesalan untuk hal-hal serius hingga rasa sesal itu tersimpan sangat lama, bahkan mungkin sampai mati. 

Ragam penyesalan itu tidak jarang karena kita terlalu cepat membuat keputusan. Kisah di awal tulisan ini menggambarkan tentang orang yang terlalu cepat menilai orang lain dan mengambil keputusan. Terlepas apakah perempuan di kereta itu menyesali ucapannya atau tidak, sebagian besar kita pasti menyesalkan apa yang dilakukan perempuan tersebut. Kita berandai-andai, seandainya perempuan itu bertanya lebih dulu ke ayah si anak, atau dia cukup menyimpan kejengkelannya di hati, tentu ucapannya tidak akan menyakiti hati si ayah. 

Sering kali kita terjebak pada kebiasaan menilai orang lain hanya dari apa yang tampak di permukaan, bahkan hanya dari isu, tanpa benar-benar memahami latar belakang, pengalaman, atau pergumulan yang mereka alami. Saya sendiri beberapa kali menyesal karena terlalu cepat menilai seseorang. Salah satu penyesalan saya yang masih tersisa hingga kini adalah sebuah peristiwa kecil saat naik pesawat.

Bagi penumpang kelas ekonomi seperti saya, kursi dekat jendela (window) atau dekat lorong (aisle seat) adalah posisi favorit. Kursi dekat lorong menjadi favorit lantaran kalau mau ke kamar kecil (lavatory) atau saat hendak turun tidak ada halangan. Kelemahannya adalah harus sabar memberi jalan ke penumpang kursi tengah dan jendela jika mereka mau ke lavatory. Sementara, kursi dekat jendela menjadi favorit terutama bagi mereka yang ingin tidur di pesawat tanpa gangguan. Kekurangan duduk di dekat jendela adalah harus meminta jalan ke penumpang kursi tengah dan lorong jika hendak ke lavatory, atau harus sabar menunggu dua penumpang bergeser dari kursinya saat mau turun. Tak perlu membicarakan penumpang yang duduk di kursi tengah (middle), karena itu adalah “pilihan terpaksa”.

Hari itu, saya naik pesawat di posisi favorit: dekat jendela. Begitu duduk, pasang seat belt, langsung ambil posisi tidur. Tak butuh waktu lama, langsung tak ingat apa-apa. Tidak ada yang mengganggu. Baru terbangun saat pesawat terguncang. Landing. Begitu pesawat berhenti sempurna, para penumpang, terutama yang duduk di lorong, mulai berdiri untuk mengambil tas di kabin dan antre keluar pesawat.

Saya menunggu penumpang kursi lorong untuk berdiri. Tanpa kesediannya untuk berdiri dan bergerak turun, penumpang tengah dan saya tak bisa melakukan apa-apa selain diam di tempat. Tapi, sampai beberapa penumpang di belakang berjalan melintasi baris kursi kami, penumpang paling ujung itu tetap tak bergerak. Padahal, saya perlu segera turun karena agenda saya mepet.

Hati saya jengkel. Andai kejengkelan itu keluar dalam bentuk suara, kejengkelan itu akan menjadi makian. Dengan hati yang dongkol itu, otak saya membuat penilaian bahwa penumpang yang duduk di kusi lorong itu sebagai penumpang egois, tak bertanggung jawab, tak punya tenggang rasa, tak berakhlak, tak bermoral dan berbagai penilaian buruk lain. Judgement yang semula ringan semakin lama semakin berat kadarnya. Untunglah itu hanya saya simpan di hati.

Setelah menunggu agak lama, penumpang sudah hampir habis, baru penumpang kursi lorong itu bergerak untuk berdiri. Ternyata dia adalah penumpang penyandang disabilitas. Tentu dia kesulitan berdiri dan butuh bantuan. Ternyata orang yang membantunya duduk di bagian belakang. Seketika saya sangat menyesali kejengkelan dan umpatan-umpatan yang sedari tadi menderu-deru di dalam hati.

Peristiwa-peristiwa semacam itu memberi pelajaran pada kita bahwa sering kali ketergesaan dalam membuat penilaian dan keputusan berakhir dengan penyesalan. Apalagi, jika penilaian dan keputusan itu menyangkut nasib orang lain.

Kecenderungan ini disebut dengan istilah fundamental attribution error. Yaitu, kita terlalu cepat mengaitkan perilaku seseorang dengan karakter atau kepribadian mereka, bukan dengan situasi atau kondisi yang sedang mereka hadapi.

Misjudgement seperti ini dapat menimbulkan rasa penyesalan yang mendalam ketika akhirnya kebenaran terungkap. Penyesalan muncul karena kita menyadari bahwa prasangka dan penilaian yang tergesa-gesa telah melukai atau bahkan merugikan orang lain. Pengalaman seperti kisah di atas membuka mata kita tentang pentingnya empati dan kehati-hatian dalam menilai sesama.

Bagaimanapun, penyesalan atas sebuah kesalahan tetap lebih sehat daripada bersikeras untuk tidak mengakui kesalahan hanya karena urusan gengsi. Menyesal setelah salah menilai merupakan proses refleksi yang sehat. Perasaan menyesal mendorong kita untuk berpikir ulang, mengevaluasi tindakan dan sikap kita, serta berusaha lebih memahami orang lain. Penyesalan juga dapat memotivasi perubahan perilaku agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Dalam jangka panjang, pengalaman ini mengasah kemampuan kita untuk menjadi lebih bijaksana, terbuka, dan toleran.

Kita pun belajar bahwa setiap individu membawa cerita dan pergumulannya sendiri, yang mungkin tak kasat mata bagi orang lain. Dengan mengasah empati dan memupuk rasa ingin tahu yang tulus, kita dapat menghindari prasangka serta menjadi pribadi yang lebih menghargai perbedaan dan keunikan masing-masing. Pada akhirnya, penyesalan karena misjudgement bukan sekadar rasa bersalah, tetapi juga pintu menuju pertumbuhan pribadi dan hubungan yang lebih harmonis antarmanusia.

Mestinya, semakin bertambahnya usia, dengan berbagai tumpukan pengalaman yang kita miliki, membuat kita semakin arif dalam membuat penilaian dan mengambil sebuah keputusan. Sayangnya, usia tidak selalu melahirkan kearifan. Sekali lagi, kita harus mengakui kebenaran sebuah peribahasa, “menua adalah keniscayaan, menjadi bijaksana adalah pilihan.” Menjadi bijaksana tidak otomatis terjadi hanya karena kita menua. Menjadi bijaksana adalah buah dari proses refleksi diri dan keberanian untuk mengakui kesalahan, tanpa diberati oleh pertimbangan gengsi dan posisi.

Penulis: Ahmad Inung (Sekretaris Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Agama). (UYR/Kemenag)

Share This:

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved