Bekerja dan Memaknai Hidup
Mungkin kelelahan setelah mengikuti Baznas Collaborative Leadership (BCL) Program 2026 bersama seluruh skuad pimpinan baru Baznas 2026-2031, saya menepi dan harus istirahat total selama beberapa hari. Tenggorokan yang sakit memang cepat reda tetapi seluruh tubuh serasa habis dipukuli, ngilu dan sakit merata. Tidur malam tidak nyenyak, terganggu dengan rasa sakit di sekujur tubuh yang menyiksa.
Demam, batuk dan pilek mulai mendera, rasa sakit di badan belum berkurang setelah beberapa hari istirahat. Rupanya, tubuh ini membutuhkan antibiotik yang hanya bisa dibeli dengan resep dokter. Rasa sakit agak reda dan proses recovery membutuhkan sedikit waktu. Aktivitas di kantor mulai dijalani meski terasa klemeng-klemeng dan sedikit lemas. Berharap cepat bugar dengan menjalani aktivitas seperti biasa.
Hari ke-7 saya putuskan untuk menghubungi ‘tukang pijat’ langganan. Mas Kris Namanya. Masih muda, seusia jauh di bawah saya. Sebenarnya tidak betul-betul langganan sebab belum tentu rutin sebulan sekali ia dipanggil. Terakhir bertemu akhir tahun lalu ketika tangan kanan sedikit ada masalah dan harus dibeneri. Ketrampilannya sangat berguna. Cukup dua kali dipijat, alhamdulillah, gangguan di tangan itu segera hilang.
Rupanya tidak jodoh. Ia sedang pulang kampung. Cari alternatif tukang pijat di sekitar tempat tinggal yang mau dipanggil ke rumah. Tidak sulit rupanya. Bertemulah dengan Aziz, terapis kebugaran muda. Ia berasal dari Cianjur dan masih berusia 20 tahun. Baru lulus dua tahun lalu dari SMA. Ia ngekos bersama dengan teman-teman muda lainnya di dekat rumah.
Tenaganya masih sangat kuat. Ia menawari orang yang dipijat dengan tiga pilihan tenaga: ringan, sedang atau berat. Ketika saya tanya kenapa menekuni pijat? Apa punya keturunan dari bapak atau ibu yang juga berprofesi sebagai tukat pijat? Dengan polos ia mengaku mengikuti teman-temannya. Ia berlatih memijat, terkhusus pijat kebugaran atau pijat untuk menghilangkan capek. Ini bahasa dia.
Ia masih terus belajar untuk sampai pada level yang lebih tinggi. Pijat keseleo, pijat saraf, pijak refleksi, pijat terapi atau entah apa namanya. Dia baru lulus SMA dan belum sempat kuliah. Jika ia serius dan bangga dengan profesinya, mungkin hanya soal waktu baginya untuk berpendidikan tinggi dan berhasil merubah nasib menjadi lebih baik.
Dijalani-Dimaknai
Hidup memang harus dijalani dan dimaknai. Belajar dan bekerja serta berkarya yang positif. Anak muda yang belum punya kesempatan studi lanjut tapi memilih tetap berkegiatan positif patut dipuji. Nalarnya tetap jalan sekalipun tidak mudah hidup merantau di kota besar.
Dengan profesi tersebut, Aziz dan teman-temannya bukan hanya mampu membiayai hidupnya sendiri. Mungkin mereka mampu membantu keluarga yang di kampung. Jika beruntung, ia bisa menabung. Satu orang yang dipijat membutuhkan waktu sekitar satu sampai dengan satu setengah jam. Honornya cukup lumayan, meski mereka tidak mematok tarif.
Hidup yang tidak membebani orang lain adalah hidup yang patut disyukuri, apalagi mampu meringankan keluarga dan orang lain. Aziz adalah salah satu wajah gen-Z yang tidak malu berkarya dan bekerja pada bidang yang tidak populer di kalangan mereka. Pasar yang membutuhkan jasa mereka sangat besar. Bukankah hampir semua orang suka dengan terapi pijat? Tua atau muda, laki-laki atau perempuan. Sekarang sudah menjamur terapi pijat di berbagai sudut kota, dari yang masih dikelola perorangan hingga profesional.
Dengan pendekatan yang tepat, apalagi dikombinasikan dengan skill penyembuhan atau kesehatan secara umum, profesi memijat akan terus ada dan sustainable. Saya sangat menghormati anak muda yang mau terus berkarya, di tengah berbagai keterbatasan yang ada.
Perbincangan elit tentang profesi atau pekerjaan memang tidak pernah menyentuh atau membicarakan tukang pijat, potong rambut, marbot masjid dan berbagai profesi informal lainnya. Profesi yang bukan sekedar menyambung hidup tetapi juga menjadi jembatan untuk hidup yang lebih baik.
Sebagai contoh, World Economic Forum (WEF) pernah melansir data Future of Jobs Report 2020. Pada 2025, terdapat 85 juta pekerjaan yang digantikan mesin. Tetapi, beruntungnya, terdapat 97 juta pekerjaan baru lahir karena dorongan perkembangan teknologi dan transformasi digital.
Antara lain misalnya AI engineer atau IA prompter, self-driving car engineer, data scientist dan lain-lain. Termasuk juga drone operator, search engine optimization (SEO) analyst, community manager dan seterusnya. Seluruh profesi baru itu, diasumsikan untuk mereka yang berpendidikan.
Profesi informal sangat membantu anak-anak muda untuk tetap tumbuh dan menjadi jembatan agar mereka dapat memperoleh pendidikan tinggi yang lebih baik dan akhirnya menemukan profesi yang paling diminatinya. Sekurang-kurangnya, mereka tidak menjadi beban bagi orang lain. Hargai dan dukung anak-anak muda yang baru belajar hidup dengan sesungguhnya.
Penulis: Abu Rokhmad (Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag). (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments