Follow us:

Ketika Lisan Lebih Cepat dari Otak

Pada zaman modern ini, teknologi digital dan media sosial telah memberikan ruang bagi setiap orang untuk berbicara dan mengomentari segala hal secara instan. Segera setelah suatu kejadian terjadi, ribuan komentar dan pendapat tajam langsung bermunculan tanpa pertimbangan yang matang.

Fenomena ini muncul karena kemudahan akses yang membuat banyak orang merasa bebas menyampaikan apa saja. Padahal, kebebasan berkomentar tanpa berpikir cukup sering berakhir pada ucapan yang menyudutkan, menyinggung atau bahkan merugikan pihak lain.

Baru-baru ini kasus yang sangat viral adalah yang menimpa seorang YouTuber bernama Resbob (Adimas Firdaus). Dalam sebuah live streaming, ia melontarkan ujaran yang menghina suku Sunda dan kelompok suporter Persib (Viking), yang kemudian tersebar luas dan memicu kecaman publik.

Reaksi terhadap ucapan tersebut sangat cepat: masyarakat marah, tokoh publik mengutuk, bahkan dirinya dilaporkan ke polisi dan menjadi tersangka kasus ujaran kebencian menurut hukum di Indonesia.

Tak hanya itu, akibat dari ucapan tanpa pikir panjang itu, Resbob juga kehilangan statusnya sebagai mahasiswa dan mendapat sanksi sosial dari organisasi kemahasiswaan tempatnya bernaung.

Kasus ini menjadi pelajaran nyata bahwa apa yang keluar dari lisan seseorang — entah itu komentar, perkataan atau hinaan — bisa berdampak besar dalam kehidupan nyata, bukan sekadar di dunia maya saja.

Dalam Islam, menjaga lisan adalah satu hal yang sangat penting. Nabi Muhammad SAW bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini dengan tegas mengajarkan bahwa berbicara tanpa berpikir dahulu apalagi tanpa manfaat yang jelas adalah sesuatu yang seharusnya dihindari oleh seorang mukmin. Pikirkan terlebih dahulu apakah perkataan itu membawa manfaat, menghindarkan mudharat, atau justru sebaliknya.

Imam An-Nawawi dalam penjelasannya menyatakan bahwa perkataan yang tidak bermanfaat bisa menyeret seseorang ke dalam perkataan yang haram atau makruh, dan melemahkan keselamatan diri.

Islam mengajarkan adab berbicara: berbicara hanya hal yang bermanfaat, mempertimbangkan dampaknya, serta menjauhi ucapan yang bisa menimbulkan fitnah, ujaran kebencian atau permusuhan antar manusia.

Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang bahaya ucapan yang sembarangan: banyak dosa, ghibah (menggunjing), fitnah, dan perselisihan seringkali bermula dari mulut yang berbicara tanpa berpikir panjang.

Di era digital, tekanan untuk cepat mendapatkan perhatian sering membuat kita atau orang lain mengabaikan etika berbicara. Konten yang provokatif sering lebih cepat viral, tetapi juga lebih mudah menyinggung perasaan banyak pihak — seperti yang terlihat dalam kasus Resbob yang tujuannya bukan sekadar berbagi tetapi juga demi viral dan keuntungan finansial.

Sementara itu, dalam Islam seseorang diminta selalu menimbang kata-kata sebelum mengucapkannya. Adab ini bukan sekadar norma sosial, tetapi bagian dari etika beragama yang melindungi kehormatan diri sendiri dan orang lain.

Ketika kita melihat peristiwa seperti ini, seyogyanya kita juga introspeksi: sejauh mana kita berpikir sebelum berkomentar di media sosial? Apakah kita ikut menyebarkan hal yang menyudutkan atau justru ikut menenangkan keadaan?

Akhirnya, mari kita jadikan kejadian semacam ini bukan hanya sekadar peristiwa viral, tetapi sebagai pengingat bahwa lisan yang cepat bisa membawa bahaya besar. Sebagaimana Islam mengajarkan, perkataan yang baik itu membawa manfaat, meredam kerusakan, dan menjaga keharmonisan umat manusia — karena kata-kata yang keluar dari mulut adalah cermin dari hati kita sendiri. (UYR/MINA)

Share This:
Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved