Utawi-Iki-Iku: Ketika Pesantren Mendahului Artificial Intelligence
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sedang mengubah wajah peradaban manusia. Dalam hitungan detik, mesin mampu menjawab pertanyaan, menerjemahkan berbagai bahasa, menulis artikel, menganalisis data, bahkan menghasilkan karya seni. Kecepatan yang sebelumnya hanya menjadi impian kini menjadi kenyataan. Dunia pendidikan pun bergegas menyesuaikan diri. Sekolah dan perguruan tinggi mulai berlomba memasukkan AI ke dalam proses pembelajaran agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi.
Di tengah euforia tersebut, muncul anggapan bahwa lembaga pendidikan tradisional, termasuk pesantren, harus segera mengejar ketertinggalannya. Pesantren sering diposisikan sebagai institusi yang sibuk menjaga warisan masa lalu, sementara AI dipandang sebagai simbol masa depan. Cara pandang ini tampak masuk akal, tetapi sesungguhnya terlalu sederhana. Ia melihat teknologi hanya sebagai persoalan perangkat, bukan sebagai persoalan cara manusia berpikir.
Sesungguhnya, tantangan terbesar era AI bukanlah apakah manusia mampu menciptakan mesin yang semakin cerdas. Tantangan yang jauh lebih mendasar adalah apakah manusia masih memiliki kemampuan bernalar ketika hampir semua jawaban tersedia hanya dengan satu perintah. Dunia mungkin tidak sedang mengalami krisis informasi. Yang sedang terjadi justru krisis penalaran. Informasi melimpah, tetapi kemampuan menguji, memverifikasi, dan mempertanggungjawabkan informasi semakin menipis.
Di titik inilah pesantren menawarkan sesuatu yang sering luput dari perhatian. Selama berabad-abad, pesantren membangun tradisi keilmuan yang tidak hanya mengajarkan isi pengetahuan, tetapi juga mengajarkan bagaimana pengetahuan diperoleh. Tradisi membaca kitab kuning melalui pola utawi-iki-iku bukan sekadar teknik memberi makna pada teks Arab. Ia adalah mekanisme pembentukan nalar yang melatih manusia berpikir secara runtut, teliti, dan bertanggung jawab.
Karena itu, mungkin sudah saatnya cara pandang terhadap pesantren diubah. Pesantren bukan institusi yang terlambat memasuki era AI. Dalam hal pembentukan nalar, pesantren justru telah lebih dahulu memiliki teknologi berpikir yang kini sedang dicari dunia.
Utawi-Iki-Iku: Protokol Bernalar Pesantren
Banyak orang mengira utawi-iki-iku hanyalah metode menerjemahkan kitab kuning ke dalam bahasa Jawa. Pandangan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak menyentuh hakikatnya. Yang berlangsung dalam tradisi tersebut bukan sekadar proses alih bahasa, melainkan latihan berpikir yang sangat sistematis.
Seorang santri tidak diperbolehkan langsung menyimpulkan makna sebuah kalimat. Ia harus mengenali fungsi setiap kata, memahami hubungan antarkata, mengurai struktur kalimat, lalu menelusuri kaitan antargagasan hingga menemukan makna yang utuh. Dari satu kalimat saja, santri belajar nahwu, sharaf, balaghah, ushul fikih, logika, sekaligus etika keilmuan. Setiap kesimpulan harus memiliki alasan yang dapat dijelaskan.
Jika dalam ilmu komputer dikenal istilah algoritma sebagai urutan langkah untuk menghasilkan keluaran, maka utawi-iki-iku dapat dipahami sebagai protokol bernalar. Ia memastikan bahwa sebuah pengetahuan lahir melalui tahapan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Yang dilatih bukan sekadar kemampuan mengetahui jawaban, melainkan kemampuan menjelaskan mengapa jawaban itu benar.
Perbedaan inilah yang membuat tradisi pesantren menarik ketika dikaitkan dengan perkembangan AI. Salah satu persoalan terbesar AI modern adalah fenomena black box, yaitu keadaan ketika mesin menghasilkan jawaban yang sangat meyakinkan, tetapi proses penalarannya sulit dijelaskan. Karena itu, para ilmuwan mengembangkan konsep Explainable Artificial Intelligence (XAI), yaitu AI yang mampu menunjukkan alasan di balik setiap keputusan sehingga hasilnya dapat dipercaya dan diaudit.
Menariknya, semangat tersebut telah lama hidup dalam tradisi pesantren. Seorang santri tidak cukup mengatakan bahwa suatu hukum adalah wajib, sunnah, atau makruh. Ia harus mampu menunjukkan dalilnya, menjelaskan struktur bahasa yang melandasinya, membandingkan pendapat para ulama, serta menerangkan mengapa satu pendapat lebih kuat daripada yang lain. Dengan kata lain, pesantren sejak lama membangun budaya explainable reasoning, yakni budaya menjelaskan proses berpikir sebelum menerima hasil berpikir.
Tradisi seperti ini memiliki nilai yang sangat penting pada era AI. Ketika manusia semakin bergantung pada mesin untuk memperoleh jawaban, pesantren mengingatkan bahwa kualitas ilmu tidak hanya ditentukan oleh benar atau salahnya hasil, tetapi juga oleh kualitas proses yang melahirkan hasil tersebut.
Menjaga Manusia Tetap Mampu Berpikir
Psikolog Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow (2011) menjelaskan bahwa manusia memiliki dua sistem berpikir. System 1 bekerja cepat, intuitif, dan spontan, sedangkan System 2 bekerja lambat, reflektif, dan analitis. Dunia digital saat ini mendorong dominasi System 1. Orang membaca cepat, menyimpulkan cepat, lalu membagikan informasi tanpa sempat memeriksa validitasnya.
Tradisi pesantren justru membangun kebiasaan yang berlawanan. Membaca kitab dilakukan perlahan. Makna tidak diterima begitu saja. Argumentasi diuji melalui dialog, sanad keilmuan ditelusuri, dan kesimpulan tidak diambil sebelum seluruh struktur penalarannya dipahami. Kebiasaan ini membentuk apa yang kini disebut sebagai slow thinking, yakni kemampuan berpikir reflektif yang semakin langka di tengah budaya serba instan.
Dalam konteks ini, pesantren sesungguhnya menawarkan model pendidikan yang sangat relevan. Pendidikan bukan hanya soal mentransfer informasi, melainkan membentuk kemampuan manusia untuk berpikir, menilai, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. AI dapat membantu manusia menemukan jawaban, tetapi tidak dapat menggantikan proses pembentukan kebijaksanaan yang lahir dari latihan berpikir, dialog, dan pengalaman belajar.
Tradisi sanad juga memberikan pelajaran penting bagi dunia digital. Di tengah banjir informasi, persoalan utama bukan lagi akses terhadap pengetahuan, melainkan kepercayaan terhadap sumber pengetahuan. Pesantren sejak awal membangun mekanisme verifikasi melalui sanad, yaitu rantai transmisi ilmu yang memastikan bahwa pengetahuan tidak hanya benar isinya, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan jalur pewarisannya. Prinsip ini sejalan dengan kebutuhan membangun trustworthy AI, yaitu sistem kecerdasan buatan yang dapat dipercaya karena transparan, dapat diaudit, dan memiliki akuntabilitas.
Karena itu, masa depan pendidikan tidak cukup hanya diukur dari seberapa cepat lembaga pendidikan mengadopsi AI. Ukuran yang jauh lebih penting adalah apakah lembaga tersebut tetap mampu melahirkan manusia yang bernalar, beradab, dan bertanggung jawab dalam menggunakan ilmu. Pendidikan yang hanya mengejar kecanggihan teknologi berisiko menghasilkan generasi yang pandai menggunakan mesin, tetapi kehilangan kemampuan berpikir mandiri.
Pada akhirnya, dunia mungkin tidak membutuhkan lebih banyak jawaban. Dunia membutuhkan lebih banyak manusia yang mampu menjelaskan mengapa sebuah jawaban layak dipercaya. Di sinilah pesantren menemukan relevansinya. Tradisi utawi-iki-iku menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar hasil, melainkan proses. Ia bukan hanya metode membaca kitab, tetapi juga metode membentuk cara berpikir. Ketika AI terus berkembang menghasilkan jawaban yang semakin cepat dan murah, kemampuan bernalar justru menjadi modal intelektual yang paling berharga.
Mungkin inilah saatnya kita melihat pesantren dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai institusi yang tertinggal oleh perkembangan teknologi, melainkan sebagai penjaga salah satu kemampuan yang paling dibutuhkan pada abad ke-21, kemampuan berpikir secara jernih, kritis, dan bertanggung jawab. Jika AI adalah revolusi teknologi, maka utawi-iki-iku adalah revolusi epistemologi. Dan di tengah dunia yang dipenuhi kecerdasan buatan, pesantren mengingatkan bahwa masa depan peradaban tetap bergantung pada kecerdasan manusia yang dibentuk oleh ilmu, adab, dan penalaran.
Penulis: Fahmi Arif El Muniry dan Shohibul Adib (Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak). (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments