Follow us:

Posisi Ibu bagi Gen Z di Tengah Ujian Sosial Emosional Era Digital

Hari Ibu dirayakan setiap 22 Desember. Berbagai pernyataan bernada sentimental diungkapkan untuk menggambarkan kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu. Namun di balik semua itu, tampak perubahan mendasar yang menuntut pembacaan lebih arif tentang peran ibu hari ini dan ke depan ketika dihadapkan dengan generasi Z yang tumbuh dan berkembang dalam lanskap digital yang serba cepat dan seringkali tak ramah secara emosional.

Anak Gen Z menjalani kehidupannya ketika teknologi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dalam realitasnya gawai bukan sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi ruang hidup kedua. Berbagai informasi tersedia tanpa jeda, relasi sosial tanpa batas geografis dan identitas dibentuk di ruang digital yang nyaris tanpa henti. Mereka piawai dan tangkas mengakses beragam informasi dan pengetahuan, tetapi pada saat yang sama menghadapi tekanan psikologis yang tak ringan, di antaranya  kecemasan, kelelahan mental, jiwa yang sepi dan perasaan terasing di tengah keramaian digital.

Kondisi ini menempatkan sosok ibu pada posisi yang tidak mudah dan sederhana. Otoritas tradisional ibu sebagai sumber pengetahuan, sikap, perilaku, dan nilai saat ini berhadapan dengan algoritma, media sosial, dan kecerdasan buatan. Nasihat, pitutur ibu sering kali kalah cepat dibandingkan rekomendasi mesin digital. Kekuatan peran ibu menjadi  terpinggirkan, seolah teknologi telah mengambil alih fungsi mengasuh, mendidik, dan membesarkan anak. Tentu saja anggapan itu dapat keliru, teknologi memang mampu menyediakan informasi, tetapi tidak memiliki kapasitas empati. Algoritma dapat memetakan preferensi, tetapi tidak sanggup membaca kegelisahan, kegundahan dan kegersangan mental manusia. Di sinilah posisi peran ibu justru menemukan relevansi sangat mendasar sebagai penjaga kesehatan sosial-emosional dan mental anak.

Ruang digital memproduksi standar kesuksesan dan kebahagiaan yang sering kali semu. Tanpa pendampingan emosional yang memadai, anak mudah terjebak pada rasa tidak cukup, takut tertinggal, dan kehilangan arah. Ibu melalui relasi psikologis dan kehadiran yang konsisten, menjadi ruang pertama tempat anak belajar menerima diri, memahami emosi, dan memaknai kesuksesan dan kegagalan.

Peran ini tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun. Teknologi tidak mampu memahami rasa kecewa, tidak merasakan penolakan, dan tidak tahu bagaimana membangun empati. Ibu melalui percakapan yang jujur dan kesediaan mendengar tanpa menghakimi, membantu anak membangun ketahanan sosial emosionalnya.

Pada saat peran sosial emosional ibu semakin krusial, beban yang dihadapi ibu juga semakin berat. Tuntutan ekonomi, pekerjaan, dan ekspektasi sosial sering kali menyisakan sedikit ruang bagi kehadiran emosional yang utuh. Mendidik anak di era digital tidak cukup hanya dengan pembatasan layar atau kontrol penggunaan gawai. Perlu lebih dikuatkan relasi dialogis dan komunikasi hati, seperti ibu yang mau memahami dunia anak, belajar bersama mereka, dan tetap menjadi rujukan nilai di tengah arus informasi yang tak selalu ramah.

Momentum Hari Ibu semestinya dimaknai sebagai ruang refleksi sosial dan emosional. Bukan sekadar merayakan peran ibu secara simbolik, melainkan menegaskan tanggung jawab kolektif dalam menjaga kesehatan sosial-emosional generasi masa depan. Ibu tidak bisa dibiarkan bekerja sendirian menghadapi kompleksitas zaman. Dukungan keluarga, lingkungan, sekolah, dan kebijakan publik menjadi keharusan.

Pendidikan formal perlu memberi ruang lebih besar pada penguatan aspek sosial-emosional, agar nilai-nilai yang ditanamkan di rumah menemukan penguatan di sekolah. Ketika rumah dan sekolah berjalan searah, anak Gen Z memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga matang secara sosial dan emosional.

Teknologi akan terus berkembang dan membentuk cara hidup generasi. Tentu saja masa depan mereka tidak semata ditentukan oleh kecakapan digital, melainkan oleh kemampuan mengelola emosi, membangun relasi, dan menjaga kemanusiaan. Di titik inilah peran ibu tetap tak tergantikan. Kehadiran ibu sebagai penopang emosional justru menjadi semakin penting. Peran itu tidak selalu tampak dan hasilnya butuh waktu, keberadaannya akan sangat menentukan arah tumbuh kembang generasi yang akan datang.

Penulis: Fauzi (Guru Besar Ilmu Pendidikan dan Dekan FTIK UIN Saizu Purwokerto). (UYR/Kemenag)

Share This:
Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved