Follow us:

Dari “Ngeri” Jadi Bangga: Kisah Zainab Arifin Taklukkan Diklat Semi-Militer PPIH

Bayangan tentang barak, latihan keras dan disiplin ala militer sempat membuat Zainab Arifin bergidik. Perempuan asal Kota Cirebon ini mengaku, saat pertama kali mendengar bahwa Diklat PPIH Arab Saudi 2026 akan dilaksanakan dengan pola semi-militer dan barak selama satu bulan, yang terlintas di benaknya hanyalah satu kata: ngeri.

“Dalam bayangan saya, kok petugas haji harus dibarak? Hubungannya apa dengan tugas di Arab Saudi?” tutur Zainab mengenang.

Sebagai petugas haji perempuan, Zainab berpikir tugas di Tanah Suci identik dengan hotel, pelayanan administratif, dan tenda di Armuzna. Bahkan ketika melihat jadwal pelatihan yang memuat Peraturan Baris Berbaris (PBB), kebingungannya semakin bertambah. Namun semua bayangan itu perlahan runtuh, berganti rasa kagum dan bangga.

Disiplin yang Membebaskan, Bukan Menakutkan

Setelah mengikuti diklat, Zainab justru menemukan makna lain dari pelatihan tersebut. Baginya, sistem barak dan latihan fisik bukan untuk menakut-nakuti, melainkan membentuk kesiapan mental dan fisik petugas.

“Setelah dijalani, ternyata keren banget,” ujarnya antusias.

Latihan fisik dirancang proporsional dan aman, disesuaikan dengan kondisi peserta. Tidak ada paksaan ekstrem, bahkan berlari pun dibatasi demi keselamatan. Yang ditekankan adalah kegesitan, disiplin dan kerja sama, modal utama saat bertugas melayani ratusan ribu jemaah di tengah situasi padat dan melelahkan.

“Di Arab Saudi itu kerja kita pakai fisik. Jadi memang harus dilatih dari sekarang,” katanya.

Semua Setara, Tanpa Jabatan

Salah satu hal paling berkesan bagi Zainab adalah nilai kesetaraan yang ditanamkan selama diklat. Tak ada jabatan, tak ada perbedaan latar belakang.

“Kita semua wajib menanggalkan jabatan apa pun. Di sini semua sama, semua belajar,” ungkapnya.

Bagi Zainab, inilah ruang di mana perempuan petugas haji benar-benar ditempa: kuat secara fisik, tangguh secara mental, dan rendah hati dalam kebersamaan.

Tak hanya latihan lapangan, materi di kelas pun dinilainya sangat berbobot. Baik kelas besar maupun kelas tugas dan fungsi (tusi), seluruh materi disusun sesuai kebutuhan riil di lapangan nanti.

Perempuan Kuat untuk Jemaah

Di balik seragam dan barisan, tersimpan tekad besar para perempuan petugas haji: menjadi pelayan terbaik bagi jemaah. Zainab menyadari, diklat ini bukan sekadar pelatihan, melainkan proses penyaringan mental.

“Cuma yang niatnya kuat yang bisa ikut sampai akhir,” ujarnya mantap.

Kini, rasa ngeri itu telah berubah menjadi keyakinan. Keyakinan bahwa setiap keringat selama diklat adalah bekal untuk pengabdian di Tanah Suci. (UYR/Haji)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved