Follow us:

Idul Fitri Transformasi Orang Beriman di Tengah Gejolak Dunia

Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadan, lalu menghantarkan kita menuju Idul Fitri, hari kemenangan. Ketahuilah bahwa Idul Fitri bukan sekadar hari raya, namun ia adalah hari transformasi jiwa.

Hari ini kita hidup di zaman yang tidak tenang. Ekonomi tidak stabil, harga naik, konflik meningkat, dan ketidakpastian meluas. Di negeri kita sendiri banyak keluarga yang tertekan, anak muda kehilangan arah dengan narkoba dan pornografi. Nilai agama mulai luntur. Maka pertanyaannya: apakah kita keluar dari bulan suci Ramadan sebagai manusia yang baru, ataukah hanya pakaian kita saja yang baru?

Adapun makna Idul Fitri, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskannya di dalam Quran surah Ar-Rum ayat ke-30, bahwa manusia harus berada di atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah tersebut.

Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Maka, Idul Fitri adalah kembali kepada fitrah yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala; fitrah keimanan, fitrah ketaatan, dan fitrah kedekatan kita kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan kepada kita bahwa hendaknya di dalam menghadapi masalah dan problematika apa pun kita tetap menjaga ketakwaan kita kepada Allah. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ  يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar.” (QS. Al-Aḥzāb [33]:70-71).

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa Allah subhanahu wa taala berfirman di dalam hadis qudsi, “Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Apabila hamba-Ku berbaik sangka kepada-Ku, maka kebaikan pula baginya. Apabila seorang hamba berburuk sangka kepada-Ku, maka buruk sangka itu adalah kepada dirinya sendiri.” (HR. Ahmad).

Maka dunia boleh goyah, namun hati orang yang beriman tetap harus kokoh.

Ini adalah rahasia agar Ramadan tidak hilang begitu saja:

Pertama adalah qillatut thaam, menyedikitkan makan. Nabi bersabda, “Tidak ada wadah yang lebih buruk yang diisi oleh manusia melebihi perutnya.”  (HR. Ahmad).

Fungsi daripada kita berpuasa adalah untuk tetap menjaga kemampuan mengendalikan syahwat dan hawa nafsu. Orang yang kalah dari perutnya akan sulit menang di dalam kehidupannya.

Hal kedua yang harus kita sedikitkan adalah bicara. Nabi bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, hendaklah dia berkata yang baik atau dia diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sedikit bicara menjaga hati daripada dosa gibah dan fitnah. Banyak bicara banyak dosa, sedikit bicara banyak pahala.

Ketiga adalah menyedikitkan porsi tidur kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ

Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam.” (QS. Aż-Żāriyāt [51]:17).

Mereka adalah kaum yang sangat sedikit tidur di malam hari. Fungsinya adalah menguatkan hubungan kita dengan Allah. Apabila hubungan seorang beriman dengan Allah itu semakin kuat dengan salat malamnya, maka Allah akan memenangkan orang tersebut dalam setiap pentas kehidupannya.

Keempat mengurangi kelalaian dalam pergaulan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًاۗ

Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati.(QS. Al-Muzzammil [73]:8). 

Fokuslah untuk beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati. Menjaga hati dari pengaruh buruk memberi ruang muhasabah kepada diri kita.

Kenapa banyak sekali orang jatuh setelah Ramadan? Karena mereka kenal Ramadan tapi tidak kenal Allah. Imam Ibnu Rajab al-Hambali mengingatkan, “Sejelek-jelek orang adalah mereka yang hanya mengenal Allah, masjid, sedekah dan Al-Qur’an di bulan Ramadan saja.”

Dalam sebuah riwayat dinyatakan, “Wahai Ibnu Masud, di antara tanda-tanda kiamat adalah anak-anak menjadi mudah marah.”

Perbaiki keluarga kita, jangan biarkan ada anak-anak yang tidak mengerti adab dan etika kepada orang tuanya, gurunya dan Tuhannya.

“Langit akan menghujani asam.” Kita lihat bagaimana Amerika menghujani Iran dengan bom-bom yang berisikan racun yang dapat menyebabkan kanker.

“Akan terjadi sebelum hari kiamat, orang beriman itu lebih hina daripada sandal.” 

Ada sandal berharga Rp500 juta. Ada manusia yang membeli sandal seharga Rp500 juta namun tidak mau berjuang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Mihrab-mihrab ditinggikan, masjid-masjid diperbaiki, namun hati menyimpang.” 

Kita dibuat berdebat dengan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu: lebaran beda hari, qunut atau tidak, maulid atau tidak. Sampai akhirnya kita lupa bahwa saudara-saudara kita di Palestina sedang dibantai. Singsingkan dulu perbedaan kita, hadapi musuh kita yang terbesar yaitu Zionis laknatullah.

Sangat miris dan memalukan bahwa 70% kaum muslimin dari bangsa Indonesia ini tidak mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Namun semuanya ingin menjadi mufti bicara agama. Apa gunanya kita dipandang mulia oleh orang banyak sementara kita tidak punya waktu menangisi dosa-dosa kita pada Allah?

Idul Fitri itu bukan bagi orang yang berpakaian baru, namun Idul Fitri adalah bagi diri mereka yang bertambah amal salehnya.

Tulisan ini disarikan dari khutbah Jumat yang disampaikan Habib Geys Assegaf, Lc., M.A. Selengkapnya bisa klik tautan di bawah ini.

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved