Follow us:

Gema Syawal di Darussalam: Meneguhkan Mandat Khalifah, Membasuh Luka Kemanusiaan

Di bawah naungan langit Syawal 1447 H yang merekah bening, ribuan umat muslim membanjiri pelataran Masjid Darussalam Kota Wisata. Sejak fajar menyingsing, gelombang jamaah mengalir bak sungai kesalehan, memenuhi setiap jengkal ruang hingga meluber ke jalanan, menciptakan mosaik persaudaraan yang menggetarkan jiwa.

Suasana khidmat dimulai setelah shalat Subuh berjamaah. Takbir bergema di seantero jagat. Sebanyak 3 orang santri Ma’had Darussalam Al-Islami memimpin takbiran dan diikuti oleh jamaah yang hadir.

Tepat pukul 06.50 WIB, Hanifuddin Aminullah yang bertindak sebagai pembawa acara (MC) membuka rangkaian acara dengan suara yang menggugah. Ia menyambut para tamu Allah dengan penuh kehangatan, seraya menginformasikan tata tertib dan jajaran petugas shalat Idul Fitri, Sabtu (21 Maret 2026) pagi itu.

“Insyaa Allah yang akan bertindak sebagai imam pada kesempatan Idul Fitri kali ini adalah Syaikh Abdurrahman Al-Yamani, kemudian yang bertindak sebagai khatib adalah Dr. KH. Khairul Huda Basyir, Lc., S.Ag., M.Si.,” ujar sang MC dengan nada takzim saat memperkenalkan tokoh-tokoh yang akan menjalankan tugas dalam rangkaian shalat dan khutbah Idul Fitri.

Simfoni Kemenangan: Sambutan Ketua Umum Yayasan Darussalam Bapak Nofil Anoverta

Sebelum takbiratul ihram shalat Idul Fitri dikumandangkan, Ketua Umum Yayasan Darussalam, Bapak H. Ir. Nofil Anoverta, berdiri di balik mimbar untuk menyampaikan laporan dan pesan spiritualnya. Setelah memanjatkan puji syukur kehadirat Allah dan shalawat serta salam kepada Rasulullah, ia menyapa Imam dan Khatib yang akan bertugas. Menyampaikan salam takzim kepada para dewan pembina, pengawas dan pengurus Yayasan Darussalam Kota Wisata, berikut dengan para karyawan yang hadir. Tak lupa, Bapak Nofil menyampaikan salam takzim kepada para tokoh masyarakat dan pemuda serta para jamaah yang datang.

Dengan suara yang penuh syukur, ia melukiskan Idul Fitri bukan sekadar ritual tahunan, melainkan puncak dari pendakian spiritual selama sebulan penuh.

“Hari ini bukan sekadar hari raya, hari ini adalah hari kemenangan. Hari di mana air mata perjuangan Ramadhan berubah menjadi cahaya kemenangan,” ucap Bapak Nofil menggambarkan transisi puasa Ramadhan menuju sukacita Idul Fitri.

Hari ini, lanjutnya, kita berdiri bukan sebagai orang yang sama seperti sebelum bulan Ramadhan.

Bapak Nofil mengatakan, di balik kemegahan Masjid Darussalam yang didatangi para jamaah pagi itu ada hal-hal yang tak terlihat.

“Ada kerja keras yang tak terlihat, ada doa-doa yang tidak terdengar dan ada sebuah keikhlasan yang hanya Allah mencatatnya,” tuturnya.

Bapak Nofil menyampaikan, Masjid Darussalam saat ini telah menampung jamaah sejumlah 8.000 orang. Jika ditambah dengan yang berada di luar masjid, jelasnya, total jamaah berjumlah 20.000 orang.

“Tanah seluas lebih kurang 1 hektar tempat berdiri masjid kita sekarang ini, kita pijak hari ini bukan sekedar lahan, tapi amanah besar menuju wakaf peradaban. Bahwa kita tidak hanya membangun bangunan, tapi sedang membangun pusat peradaban Islam,” jelasnya.

Dalam laporannya, Bapak Nofil mengungkapkan rasa haru atas kepercayaan umat yang begitu besar. Ia sampaikan gambaran umum laporan kegiatan selama Ramadhan 1447 H.

Program Iftar: Menyiapkan 2.000 hingga 3.000 porsi setiap hari untuk jamaah berbuka puasa di dalam masjid.

Pemberdayaan Ekonomi: Melibatkan vendor makanan lokal dan UMKM.

Relawan Muda: Melibatkan anak muda sebagai energi baru dalam melayani umat.

Program Tadabur Al-Qur’an dan Iktikaf: Dihadiri hampir 150 peserta dengan bimbingan ustaz tingkat nasional.

Program Tebar Da’i Pelosok: Mengirim santri terbaik ke 5 provinsi (Banten, DKI Jakarta, Lampung, Sumbar dan Jawa Tengah).

Donasi Palestina: Penyaluran dana sebesar 300 juta rupiah untuk pakaian musim dingin, menu berbuka, dan bantuan Ramadhan di Gaza.

Statistik Aksi Nyata: Keterlibatan 68 kluster perumahan, 40.920 paket iftar dan 15.000 paket sahur/iktikaf yang tercatat.

Laporan Keuangan Ziswaf (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf):

Infak Umum: 1,3 Miliar.

Infak Terikat: 1,6 Miliar.

Wakaf: 400 Juta.

Zakat Mal: 2 Miliar.

Zakat Fitrah: 700 Juta.

Total Penerimaan: Mencapai 6,4 Miliar Rupiah, meningkat 30% dari tahun sebelumnya (5 Miliar).

Bapak Nofil menegaskan bahwa Masjid Darussalam kini berdiri sebagai amanah besar menuju wakaf peradaban, di mana pengelolaan rumah Allah harus dilakukan dengan transparansi dan keikhlasan yang mendalam.

“Pengeluaran kita selama bulan Ramadhan ini adalah 2,6 Miliar. Ini bukanlah beban, ini adalah panggilan. Masjid ini milik kita, masjid ini milik umat, tempat kita bersujud, tempat kita kembali kepada Allah,” lanjutnya.

Ia pun berpesan agar api Ramadhan tidak padam begitu saja, karena menurutnya, kemenangan sejati adalah istiqamah setelah Ramadhan.

“Mari kita jaga Ramadhan ini, jangan padam dan jangan redup. Karena kemenangan sejati adalah istiqamah setelah Ramadhan. Hidup bukan tentang menjadi lebih baik daripada orang lain, tapi menjadi lebih baik dari kita yang kemarin,” pungkasnya.

Setelah itu, pada pukul 07.08 WIB shalat berjamaah Idul Fitri dilangsungkan. Imam yang memimpin shalat adalah Syaikh Abdulrahman Az-Zira’i. Surah yang dibaca setelah Al-Fatihah adalah Al-A’la pada rakaat pertama dan Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua.

Risalah Mimbar: Khatib Dr. KH. Khairul Huda Basyir, Lc., S.Ag., M.Si.

Kiai Khairul Huda Basyir menyampaikan khutbahnya yang bertajuk “Merenungkan Kembali Tanggung Jawab Kemanusiaan Kita sebagai Khalifah di Muka Bumi”. Dengan retorika yang indah namun tajam, beliau membedah eksistensi manusia yang mengemban dua amanah besar: sebagai hamba (ibadullah) dan sebagai wakil Allah di bumi (khalifatullah).

Beliau mengingatkan jamaah bahwa mandat sebagai khalifah menuntut manusia untuk mengelola bumi demi kemaslahatan, bukan kerusakan. Namun, khatib tak kuasa menyembunyikan keprihatinannya atas krisis kemanusiaan yang tengah melanda dunia saat ini, termasuk konflik geopolitik yang kian memanas.

“Perang tidak akan pernah membawa kemenangan bagi kemanusiaan, ia sejatinya hanya mewariskan penderitaan dan kehancuran yang bahkan membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk pemulihannya,” tegas Kiai Khairul Huda dengan nada penuh penekanan pada dampak destruktif konflik bersenjata.

Beliau menjelaskan secara tidak langsung bahwa jika Ramadhan telah mendidik kita untuk menahan amarah dan lapar, Idul Fitri seharusnya menjadi momentum untuk memperluas nilai-nilai kasih sayang ke ranah sosial. Beliau mengutip pesan kenabian yang sangat mendalam sebagai standar moral seorang Muslim, “Seorang Muslim adalah orang yang membuat manusia lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

Menurut Kiai Khairul Huda, kemuliaan manusia bersifat universal dan melampaui sekat identitas bangsa atau ras. Beliau mengajak jamaah untuk memiliki kemampuan dalam “memanusiakan manusia” tanpa terkecuali, sebuah tindakan yang beliau sebut sebagai bentuk ketaqwaan yang nyata.

Penutup yang Syahdu

Rangkaian ibadah Idul Fitri 1447 H ini ditutup dengan untaian doa panjang yang menggetarkan kalbu. Kiai Khairul Huda mendoakan keselamatan bangsa Indonesia agar dijauhkan dari marabahaya, persatuan umat, serta kekuatan bagi saudara-saudara di Gaza, Palestina yang masih berjuang di bawah bayang-bayang konflik.

Khutbah Idul Fitri berakhir pada pukul 07.51 WIB. Para jamaah membubarkan diri dengan tertib, lalu bersalam-salaman dengan keluarga, kerabat dan sahabat. (UYR)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved