Haji Tanpa ke Tanah Suci
Apakah kesempurnaan ber-Islam itu hanya milik orang yang telah menunaikan seluruh rukun Islam yang lima? Apakah orang yang tidak berhaji tidak dapat mencapai predikat muslim secara sempurna? Dengan kata lain apakah kesempurnaan ber-Islam dapat diraih oleh orang yang tidak mengerjakan ibadah haji?
Kalau kesempurnaan ber-Islam hanya milik orang yang dapat menunaikan seluruh rukun agama, apes lah orang-orang miskin yang tidak bisa menunaikan rukun Islam kelima karena tidak memiliki cukup bekal. Boleh jadi mereka memiliki keinginan kuat untuk berhaji, sayangnya mereka tidak mampu. Sebaliknya, orang yang berkecukupan dengan mudah dapat menunaikan haji bahkan berulang kali, walaupun berhajinya semata karena dia punya uang, bukan niat beribadah. Jika pandangan ini dibenarkan, maka konsep Tuhan Maha-adil terbantahkan. Padahal dalam keyakinan agama, Tuhan itu Maha-adil. No doubt! Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kesanggupannya. Kesempurnaan beragama hak siapa saja, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Itulah adil.
Berbeda dengan ibadah lainnya, dalam berhaji ada syarat istitha’ah, yaitu kesanggupan finansial, kesehatan fisik, dan keamanan perjalanan. Faktanya tidak setiap muslim memiliki syarat tersebut. Ketika syarat tidak terpenuhi, selama itu pula tidak ada kewajiban. Haji merupakan ibadah yang unik karena hanya diwajibkan sekali seumur hidup.
Keunikannya disebabkan oleh berbagai hal. Haji satu-satunya ibadah yang memiliki locus dan tempus tertentu, tidak dapat digantikan ke tempat dan waktu lain. Untuk mencapai locus tersebut dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Begitu pula kebutuhan selama berada di sana dan kembali lagi ke kampung halaman. Jika jemaah mempunyai keluarga yang ditinggalkan, maka kebutuhan mereka selama ditinggal harus tercukupi. Selain itu, dibutuhkan fisik yang sehat, karena haji merupakan ibadah yang durasinya cukup lama dan dilaksanakan pada beberapa locus. Mobilitas dari satu locus ke locus lainnya berjauhan, serta intensitas berada dalam kerumunan dan body contact dengan orang lain sangat tinggi.
Keamanan perjalanan menjadi bagian penting istitha’ah. Hal ini mencakup alat transportasi serta keamanan tempat dan kawasan baik aman dari peperangan/pergolakan maupun wabah penyakit. Termasuk dalam pengertian ini yaitu tersedianya ruang dan fasilitas serta dukungan operator lapangan yang dapat memberikan keyakinan memadai bahwa pelaksanaan ibadah haji dapat berlangsung aman. Kewenangan untuk menentukan keamanan perjalanan ini ada pada otoritas negara, baik negara asal, negara tujuan, atau keduanya.
Kisah Inspiratif
Dari perspektif ini, muslim yang tidak dapat menunaikan ibadah haji karena tidak mampu, tidak perlu bersedih. Tetapi, penting untuk tetap punya tekad yang kuat dan berusaha semaksimal mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah berkehendak. Nyatanya, setiap musim haji selalu bermunculan kisah inspiratif dari orang-orang yang dalam kesehariannya hidup pas-pasan, tetapi nasib baik mengantarkannya ke Baitullah. Mereka adalah orang-orang bersahaja: buruh tani, penggarap kebon, penarik becak, nelayan, pedagang asongan, dan sejenisnya. Karena tekad yang kuat, ketekunan, dan ketabahan, mereka mampu berhaji, seperti Nenek Jumaria ini.
Nenek sebatang kara berusia 70 tahun yang berasal dari Sulawesi Selatan tahun ini berangkat haji. Kisah inspiratifnya bahkan menjadikannya sebagai Icon Haji Indonesia 2026. Kisahnya pun didokumentasikan oleh Kerajaan Arab Saudi. Nenek yang bernama lengkap Jumaria P Sire Said tinggal di rumah sangat sederhana di sebuah desa di Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros. Dia bekerja sebagai penggarap kebun tetangga dan memiliki sepetak sawah untuk bekal kehidupan sehari-hari. Dia simpan uang hasil kerjanya di bawah tempat tidurnya di dalam sebuah ember tua yang ditutupi kain lusuh agar tidak mencurigakan.
Dengan hidup seorang diri tanpa suami dan anak di usia senjanya, Nenek Jumaria tetap teguh memegang suatu pesan dari orang tuanya. “Kalau kau punya uang, pergilah ke Tanah Suci”. Pesan itu menjadi bahan bakar perjuangannya. Sedikit demi sedikit uang dari menggarap kebun ia sisihkan di ember tua yang ditutupi kain lusuh yang disimpan di kolong tempat tidur. Sehari-hari bekerja dia dengan hanya berbekal seadanya. Untuk kebutuhan sehari-hari, dia rela menahan diri dengan apa yang dimilikinya, demi untuk tidak mengambil uang simpanannya. Berkat kesabaran menahan rasa apar, lelah, dan peluh puluhan tahun itu kini terbayar ketika langkahnya benar-benar mengantarkannya sampai ke Baitullah.
Kisah Nenek Jumaria bisa membuat banyak orang iri sekaligus terinspirasi. Bahwa sekalipun berhaji hanya wajib bagi yang mampu, tetapi kemampuan itu dibentuk oleh diri sendiri. Kalau Nenek Jumaria tidak punya tekad kuat untuk memampukan dirinya pergi ke Mekah, perjalanan tersebut tidak pernah ada. Dia membangun jalan menuju Baitullah dengan segala konsekuensinya, termasuk menahan lapar bertahun-tahun dan Allah melapangkan jalannya. (Q.S al-Ankabut/29:60).
Sebaliknya, banyak orang yang berkecukupan dan sehat badannya tetapi tidak tergerak untuk berhaji, karena mereka mengerdilkan dirinya sendiri dengan berbagai alasan. Kuncinya ada pada niat yang tulus dan tekad kuat. Tanpa keduanya berhaji akan sulit terwujud, walaupun dengan iming-iming.
Predikat Haji
Nenek Jumaria tidak berpikir dirinya bangga dengan predikat Hajjah. Dalam pikiran sederhananya dia mungkin hanya ingin menunaikan rukun Islam: merasakan thawaf mengelilingi Ka’bah yang dirindukan, salat di Masjidil Haram yang megah dan Masjid Nabawi yang anggun serta ziarah ke makam Nabi SAW yang mulia. Tekad sudah terpatri kuat dan usaha sudah dijalani dan selanjutnya tawakkal menjalani takdir Allah.
Takdir yang berbeda dari yang dialami oleh Nenek Jumaria bisa saja terjadi, seperti kisah seorang tukang sol sepatu di Damaskus, Syiria. Muwaffaq, nama Si tukang sol sepatu miskin, sudah menabung bertahun-tahun untuk berhaji. Tetapi, dia gagal berangkat, karena semua uang bekal haji ia berikan kepada seorang keluarga yang lebih miskin darinya agar bisa bertahan hidup.
Awalnya istrinya mencium aroma masakan tetangganya dan ingin merasakannya. Demi untuk menuruti istrinya yang sedang hamil, Muwaffaq mengetuk pintu tetangga untuk meminta masakan yang sedang dimasaknya. “Masakan ini halal buat saya dan keluarga saya, tetapi haram buat Tuan”, katanya. “Mengapa demikian?”, tanya Muwaffaq penasaran. “Saya memasak bangkai keledai, karena saya tidak punya apapun selain ini.” Mendengar penuturan tetangga, Muwaffaq menangis dan memberikan semua uangnya.
Walaupun pada akhirnya gagal pergi haji, Muwaffaq telah meraih nilai keutamaan haji. Bahkan, sebagaimana yang dikisahkan oleh Abdullah ibnu al-Mubarak dalam sebuah mimpinya, karena perbuatannya itu, Muwaffaq menjadi sebab diterimanya amalan semua jemaah haji pada musim tersebut, termasuk Abdullah ibnu al-Mubarak sendiri, seorang ulama dan saudagar kaya nan dermawan ketika itu.
Cara Allah memuliakan hamba-hamba-Nya yang mukhlis sungguh indah. Allah memuliakan Nenek Jumaria dengan menakdirkannya bisa berhaji untuk mengobati kerinduannya yang amat dalam kepada Baitullah. Allah memuliakan Muwaffaq, sang pecinta kemanusiaan sejati dengan pahala dan derajat haji, walaupun fisiknya tidak berangkat haji.
Di tengah fenomena berhaji (dan umrah) yang semakin diminati, dua kisah di atas menarik untuk dijadikan refleksi. Bahwa rahasia berhaji itu ada pada niat yang tulus dan tekad kuat serta dibangun di atas landasan cinta sejati. Niat dan tekad untuk membuka jalan, sedangkan cinta sejati untuk mengembalikan semua kepada ridla Allah. Jika ridla-Nya diperoleh dengan membatalkan haji karena ada cinta yang lebih agung, maka itulah yang terbaik untuk dijalani.
Dunia dalam genggaman kapitalisme sekarang ini, komersialisme bisa dengan mudah menyusup ke dalam haji. Selama ada kebutuhan terhadap transportasi, akomodasi, dan konsumsi, terbuka peluang adanya jasa layanan. Dari sinilah muncul berbagai penawaran jasa dengan segala fasilitas yang menyertainya dari kelas reguler sampai eksekutif. Tawaran layanan jasa umroh lebih kompetitif lagi. Tujuannya tidak lain untuk menarik calon jemaah. Inilah satu-satunya ibadah yang dikomersialkan bahkan ada iklannya. Demikianlah nilai-nilai kapitalisme. Kapitalisme tidak menentang agama, tetapi mengemas agama menjadi komoditas.
Dalam perspektif sosiologis, berhaji di era Kapitalisme bisa jadi ajang untuk membangun citra diri (image building), gengsi, dan menaikkan status dalam pergaulan sosial. Terlebih mereka yang berhaji khusus atau yang berumrah berulang kali. Satu sisi kita disuguhi perjuangan Nenek Jumaria yang berhaji dengan susah payah dan pada sisi yang lain kita saksikan kemewahan berhaji sebagai life style. Jika ini adalah pilihan, maka pilihan terbaik yaitu mengembalikan haji pada tujuan awalnya. Wahhau a’lam bi al-shawab.
Penulis: Syafi’i (Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments