Follow us:

Menumbuhkan Karakter Pejuang pada Generasi AI

Di era ini kita saksikan semakin menguatnya dampak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang benar-benar mengubah cara manusia belajar, bekerja, hingga dalam mengambil keputusan. Generasi muda saat ini bahkan dapat menyusun presentasi, menerjemahkan bahasa, menganalisis data, serta menghasilkan karya kreatif hanya dengan melalui beberapa perintah saja. Namun demikian, berbagai kemudahan tersebut juga menghadirkan paradoks ketika mesin semakin cerdas, apakah manusia juga semakin tangguh, atau justru semakin menurun daya pikirnya, semakin menurun daya nalarnya, bahkan semakin menurun dorongan untuk berfikir secara mendalam, karena semua sudah serba dimudahkan oleh AI.

Pertanyaan tersebut yang membuat keteladanan, ketangguhan dan daya juang tinggi para pahlawan tetap relevan dengan kondisi saat ini. Mereka (para pahlawan) memang hidup dalam konteks sejarah yang berbeda, akan tetapi keberanian, integritas, daya juang, pengorbanan, dan keberpihakan kepada kepentingan bersama guna memerdekakan NKRI merupakan modal juang para pahlawan. Jika kita tarik pada konteks kekinian, bahwa generasi AI dalam memperjuangkan persaingan global juga harus benar-benar memiliki karakter tangguh,  bertanggung jawab serta daya juang yang tinggi  terhadap masa depan masing-masing yang tidak lekang oleh perubahan teknologi. Masa depan generasi muda ada di tangan masing-masing, dan harus benar-benar diperjuangkan secara optimal agar dapat menjadi pemenang dalam persaingan global ini. Tanpa mau berjuang secara maksimal dalam persiangan global ini, tentu hanya akan menjadi penonton atas keberhasilan orang lain.

World Economic Forum melalui Future of Jobs Report 2025 memperkirakan bahwa transformasi struktural hingga 2030 akan menciptakan sekitar 170 juta pekerjaan sekaligus menggeser 92 juta pekerjaan. Artinya, terdapat pertumbuhan bersih sekitar 78 juta pekerjaan. Akan tetapi, kesempatan tersebut tidak otomatis menjadi milik semua orang. Kesempatan tersebut hanya akan menjadi milik orang-orang dengan karakter pejuang yang handal dan memiliki skills yang sesuai dengan konteks kekinian. Skills yang dimaksud tentunya berkaitan dengan soft skills maupun hard skills.

AI dan big data termasuk keterampilan yang pertumbuhannya paling cepat. Pada saat yang bersamaan, berpikir kreatif, resiliensi, fleksibilitas, kelincahan, rasa ingin tahu, dan kemauan belajar sepanjang hayat semakin dibutuhkan. Kompetisi masa depan, dengan demikian bukan lagi hanya sekadar pertarungan manusia melawan mesin, melainkan persaingan antarmanusia dalam memanfaatkan mesin secara cerdas, etis, dan bernilai guna. Dalam hal ini soft skills maupun hard skills seseorang sangat menentukan. Oleh karenanya karakter yang kuat, jiwa tangguh, serta petarung yang gigih sangat diperlukan bagi generasi AI ini.

Di sinilah pentingnya pahlawan ditempatkan sebagai teladan pendidikan. Menurut teori belajar sosial Albert Bandura, manusia mempelajari sikap dan perilaku melalui pengamatan terhadap model yang dianggap bermakna. Karena itu, kisah kepahlawanan jangan berhenti sebagai hafalan tentang nama, tanggal, dan peristiwa semata. Akan tetapi murid dan generasi AI pada umumnya perlu diajak menemukan “tata bahasa moral” di balik setiap perjuangan yang sudah ditorehkan oleh para pahlawan kemerdekaan kita. Sikap akan keberanian mengambil tanggung jawab, ketekunan menghadapi keterbatasan, kemampuan bekerja bersama, dan kesediaan mendahulukan kemaslahatan sangat penting untuk ditanamkan kepada anak sejak dini. Mengingat bahwa sikap-sikap tersebut sangat penting untuk bekal hidup, dan tidak akan ada dengan sendirinya tanpa dilakukan bimbingan, pendampingan dan pembiasaan sedini mungkin.

Senjata generasi terdahulu mungkin hanya berupa bambu runcing dan strategi gerilya. Seoilah semua itu sangat tertinggal jauh dengan senjata musuh/penjajah kita. Sementara itu, senjata generasi AI adalah ilmu, data, kreativitas, kolaborasi, serta akhlak yang menjaga semuanya tetap berpihak kepada manusia. Tanpa ilmu, data, kolaborasi serta akhlak yang memadai, maka AI hanya akan menjadi sesuatu yang hampa dan tidak aktual, tidak relevan dengan konteks yang riil dalam kehidupan kita. Jadi AI harus tetap dilandasi dengan ilmu, data, kolaborasi serta akhlak yang memadai, agar dapat benar-benar memberikan kemanfaatan dan kemaslahatan secara humanis dan realistis.

Karakter pejuang juga berbeda dari ambisi untuk menang dengan menghalalkan segala cara. Pejuang sejati memiliki tujuan yang melampaui kepentingan pribadi dan golongan. Ia tidak akan menggunakan AI hanya sekedar untuk menyontek, memanipulasi informasi, menyebarkan fitnah digital, atau mengambil karya orang lain tanpa dilandasi dengan ilmu, data, kolaborasi serta akhlak yang memadai. Ia menjadikan AI sebagai mitra untuk memperluas kemampuan berpikir, bukan sebagai jalan pintas yang mematikan proses pembelajaran tanpa ruh kemanusiaan.

UNESCO melalui AI Competency Framework for Students menekankan empat ranah penting, yaitu pola pikir berpusat pada manusia, etika AI, teknik dan aplikasi AI, serta desain sistem AI. Kerangka tersebut mengingatkan bahwa literasi AI tidak cukup diukur hanya berdasarkan dari kecakapan membuat prompt semata. Akan tetapi literasi AI harus benar-benar mencakup kemampuan memeriksa kebenaran, mengenali bias, menjaga privasi, bertanggung jawab atas hasil, dan memastikan manusia tetap menjadi pengendali keputusan akhir. Membekali diri dengan ilmu yang memadai sesuai tuntutan era ini sangat penting, agar tidak menjadi generasi yang lemah secara ekonomi maupun lemah secara ilmu.

Islam dalam hal ini telah memberikan fondasi yang kuat bagi pembentukan karakter tersebut. Allah Swt. menegaskan bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini meneguhkan agensi manusia bahwa perubahan menuntut ikhtiar, pembelajaran, dan keberanian memperbaiki diri. Dalam ayat yang lain Allah SWT (Q.S Al-Mujadilah:11) berjanji untuk meninggikan kedudukan orang beriman serta berilmu beberapa tingkat lebih tinggi.

Sedangkan dalam QS. Al Hasyr: 18 menegaskan bahwa orang-orang beriman diperintahkan memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok. Pesan tersebut sangat aktual bagi generasi yang menghadapi perubahan jenis pekerjaan, tuntutan kompetensi baru, dan ketidakpastian global seperti yang tengah kita hadapi bersama di era ini. Sementara itu, QS. Ali ‘Imran: 139 melarang manusia bersikap lemah dan larut dalam kesedihan, sebuah fondasi spiritual bagi tumbuhnya resiliensi.

Rasulullah saw. juga bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah” (HR. Muslim No. 2664).

Memedomani konteks pendidikan masa kini, kekuatan itu dapat dipahami secara utuh sebagai kekuatan iman, ilmu, mental, fisik, keterampilan, dan kemanfaatan sosial. Generasi kuat bukanlah generasi yang tidak pernah gagal, melainkan generasi yang mampu belajar dari kegagalan tanpa kehilangan arah moral.

Karena itu, pendidikan harus bergerak dari mengenalkan pahlawan, menuju upaya melatih perilaku kepahlawanan pada generasi AI. Guru dapat mendesain pembelajaran yang bersifat aktual, dengan menghadirkan masalah nyata melalui pembelajaran berbasis proyek, misalnya menggunakan AI untuk memetakan persoalan lingkungan, merancang layanan bagi kelompok rentan, mengembangkan usaha lokal, atau memeriksa informasi palsu. Dengan demikian murid benar-benar mempelajari ilmu yang dibutuhkan dalam kehidupan keseharian mereka.

Setiap penggunaan AI perlu disertai verifikasi sumber, deklarasi pemanfaatan teknologi, refleksi etis, dan penilaian terhadap proses. Dengan cara ini, peserta didik tidak hanya menghasilkan produk secara cepat, akan tetapi juga belajar menjadi pribadi yang jujur, tekun, kritis, dan bertanggung jawab. Sekolah pun menjadi ruang latihan kepahlawanan sehari-hari: berani mengakui kesalahan, tekun menyelesaikan masalah, terbuka terhadap kritik, dan hadir memberikan manfaat bagi lingkungan sosialnya.

Generasi AI yang tangguh setidaknya perlu menghidupkan empat kebiasaan. Pertama, terus belajar dan melakukan upskilling karena kompetensi dapat dengan cepat menjadi usang. Kedua, membangun apa yang disebut Angela Duckworth sebagai grit, yaitu kegigihan dan konsistensi dalam mencapai tujuan jangka panjang. Ketiga, menjaga akhlak digital dengan memverifikasi informasi dan menghormati hak orang lain. Keempat, memperkuat kolaborasi dan kepedulian karena persoalan besar tidak dapat diselesaikan hanya dengan kecerdasan individual. Teknologi boleh mempercepat pekerjaan, tetapi empati menentukan untuk siapa kemajuan itu diperjuangkan.

Meneladani pahlawan pada era AI bukan berarti mengulang bentuk perjuangan masa lalu. Yang perlu diwarisi adalah keberanian dan kegigihan menghadapi tantangan zaman, kesanggupan berkorban dan berjuang, keteguhan belajar, dan komitmen pada kemaslahatan umat. Cara terbaik menghormati pahlawan bukan hanya dengan mengenang namanya, melainkan dengan menghidupkan keberanian, integritas, dan semangat perjuangannya dalam menghadapi tantangan zaman.

Indonesia sejatinya tidak kekurangan generasi yang piawai menggunakan aplikasi. Hal yang lebih mendesak adalah menghadirkan generasi yang mampu menentukan tujuan, menjaga nilai, dan menciptakan manfaat di tengah masyarakat kita. Di tengah kompetisi global ini, pemenang sejati bukanlah mereka yang paling menyerupai mesin, melainkan mereka yang paling mampu memadukan kecerdasan teknologi dengan kedalaman iman, kematangan karakter, dan keberanian untuk terus berjuang dengan berlandaskan ilmu dan iman.

Penulis: Dr. Hj. Siti Aminah, M.A (Widyaiswara pada BDK Semarang). (UYR/Kemenag)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved