Cara Guru MTsN 1 Pamekasan Sembuhkan Krisis Adab Generasi Z
Madrasah identik dengan pendidikan ilmu dan pembentukan akhlakul karimah. Namun, perkembangan teknologi dan perubahan sosial menghadirkan tantangan baru: krisis adab di kalangan siswa.
Fenomena ini terlihat dari berbagai persoalan, mulai dari perundungan (bullying), berkurangnya rasa hormat kepada guru, hingga lemahnya etika dalam bermedia sosial. Data Riskesdas, YPMA, dan KPAI (2023) menunjukkan bahwa lebih dari 37% remaja tingkat sekolah menengah pernah terlibat dalam tindakan verbal agresif atau pelecehan emosional, baik di lingkungan sekolah maupun ruang digital.
Kondisi ini menghadirkan paradoks. Peserta didik memperoleh pendidikan agama dan nilai-nilai kebaikan, tetapi tidak semuanya terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Karena itu, persoalan adab tidak cukup dijawab dengan aturan dan hukuman. Menurut Glasser (1998) melalui Choice Theory, setiap perilaku manusia merupakan upaya untuk memenuhi lima kebutuhan dasar: kelangsungan hidup (survival), rasa memiliki (belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan pengakuan (power). Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi secara positif di kelas atau ruang keluarga, siswa meluapkannya dalam bentuk penyimpangan adab.
Karenanya, anak juga membutuhkan seseorang yang mau bertanya, mendengar, dan membantu mereka memahami alasan di balik perilakunya. Dari sinilah Program Si BK (Siap Berakhlakul Karimah) dikembangkan.
Tiga Cara Si BK Menyentuh Peserta Didik
Si BK merupakan sebuah manifestasi gerakan kebudayaan madrasah kami yang mengintegrasikan nilai-nilai Bimbingan Konseling modern berbasis psikologi positif dengan tradisi kepengasuhan Islam (Tarbiyah Islamiyah). Program ini didesain bukan sekadar sebagai agenda tahunan, melainkan sebuah framework ekosistem madrasah.
Program Si BK dibangun melalui tiga pendekatan utama:
a. Personalized Counseling & Empathy First (Pendampingan Berbasis Empati)
Selama ini, ruang Bimbingan dan Konseling (BK) masih sering dipandang sebagai tempat bagi siswa yang bermasalah. BK seolah menjadi “polisi sekolah” yang tugas utamanya mencari kesalahan dan memberikan konsekuensi. Ketika seorang siswa dipanggil ke BK, tidak sedikit yang langsung merasa takut atau menganggap dirinya sedang menunggu hukuman.
Pandangan seperti ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana siswa dapat terbuka mengenai persoalan yang mereka hadapi jika sejak awal mereka sudah merasa takut terhadap guru BK?
Maka dari itu, di MTsN 1 Pamekasan, kami mengubah pandangan tersebut.
Guru BK bertindak sebagai mentor dan pendengar aktif (active listener) tanpa memberikan penilaian secara instan (nonjudgmental). Pendekatan ini membantu meruntuhkan dinding ketakutan peserta didik dan membangun rasa aman (psychological safety).
Dengan demikian, peserta didik dapat lebih terbuka dalam menyampaikan pergolakan batin maupun persoalan yang berpotensi memicu krisis adab dalam kehidupan mereka.
b. Habituation of Tazkiyatun Nafs (Habituasi Penyucian Jiwa dan Etika)
Pendekatan ini mengintegrasikan metode bimbingan kelompok dengan refleksi moral harian. Peserta didik diajak mempraktikkan konsep “3S” (Senyum, Salam, Sapa), “3M” (Meminta Maaf, Meminta Tolong, dan Mengucapkan Terima Kasih), serta melakukan refleksi diri melalui jurnal adab harian.
c. Restorative Justice in Discipline (Keadilan Restoratif dalam Penegakan Disiplin)
Ketika terjadi pelanggaran adab, pendekatan yang semata-mata menekankan hukuman atau pemberian poin pelanggaran digantikan dengan dialog restoratif. Pelanggar diajak memahami dampak perbuatannya terhadap orang lain dan menyepakati langkah pemulihan atau reparasi moral yang konstruktif.
Strategi Implementasi: Mengubah Wacana Menjadi Realita
Agar program Si BK tidak berhenti sebagai dokumen administratif di atas kertas, pelaksanaannya membutuhkan langkah-langkah strategis yang sistematis dan terukur:
1. Asesmen Diagnostik Adab & Karakter: Memetakan pemetaan kondisi psikososial dan budaya perilaku siswa menggunakan instrumen sosiometri dan angket kebutuhan peserta didik (AKPD). Hasil asesmen menjadi dasar penyusunan peta kerawanan sekaligus profil adab madrasah.
2. Pembentukan Peer Counselors (Konselor Sebaya): Melatih perwakilan siswa dari setiap kelas untuk menjadi “Duta Adab atau Agen Si BK” dan Konselor Sebaya. Studi menunjukkan bahwa 70% remaja lebih nyaman bercerita kepada teman sebaya dibanding figur otoritas. Selain itu, tugas Agen Si BK adalah memberikan contoh nyata penerapan adab di lingkungan madrasah melalu tutur kata dan tingkah laku terhadap guru, sesama siswa dan seluruh warga madrasah. Selain itu, Agen Si BK juga bertugas menegur atau mengingatkan siswa lain yang berperilaku kurang baik di madrasah.
3. Tripartit Sinergi (Guru BK, Wali Kelas, & Orang Tua): Menyelenggarakan kunjungan (home visit) ke rumah siswa secara berkala berbasis perkembangan karakter, bukan sekadar nilai akademik. Melalui sinergi tersebut, pola pembinaan di rumah dan lingkungan madrasah diharapkan dapat berjalan selaras.
Dua Bulan Pertama, Perubahan Mulai Terlihat
Eksperimentasi dan penerapan model bimbingan berbasis akhlak dan psikologi positif seperti Si BK telah membuktikan hasil yang signifikan di berbagai daerah. Berdasarkan data evaluasi internal di beberapa madrasah pilot project Kementerian Agama, intervensi integratif BK berhasil menurunkan angka pelanggaran kedisiplinan dan perundungan hingga 42% dalam kurun waktu satu tahun ajaran.
Hal itu juga menjadi awal mula madrasah kami MTsN 1 Pamekasan menerapkan program Si BK yang sudah berjalan sekitar 2 bulan. Namun, selama 2 bulan ini sudah tampak perubahan dari perilaku siswa di madrasha kami.
Penyembuhan krisis adab di MTsN 1 Pamekasan tidak bisa ditempuh melalui jalan pintas penghukuman, melainkan melalui proses penyembuhan kultural dan emosional yang menyentuh akar masalah. Program Si BK hadir bukan sekadar sebagai pembuat regulasi baru, melainkan sebagai paradigma baru yang menempatkan Bimbingan Konseling sebagai jantung transformasi moral di madrasah.
Penulis: Nice Abdiana S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia MTsN 1 Pamekasan). (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments