Merawat Relasi, Merawat Kebahagiaan: Pelajaran dari Riset Harvard dan Teladan Rasulullah
Ukuran Utama Kebahagiaan
Masih dalam momentum bulan kelahiran Rasulullah SAW, setidaknya kita dapat meneladani kembali semangat perjuangan beliau dalam membangun relasi, merawat persaudaraan, dan menjaga kolaborasi antar sesama. Ada sebuah pertanyaan sederhana tetapi sangat dalam: apa sebenarnya yang membuat manusia bahagia? Kebahagiaan ternyata bukan semata tentang harta, jabatan, atau popularitas, melainkan tentang hadirnya hubungan yang bermakna, kasih sayang, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama. Rasulullah SAW telah menunjukkan bahwa kehidupan menjadi lebih berarti ketika kita mampu menguatkan satu sama lain, menjaga silaturahmi, dan memberi manfaat bagi orang lain. Karena pada akhirnya, kebahagiaan bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang siapa yang kita rangkul, siapa yang kita bahagiakan, dan seberapa besar keberadaan kita memberi kebaikan bagi sesama.
Pertanyaan ini mungkin tampak sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan salah satu pertanyaan paling fundamental dalam kehidupan manusia. Sejak dahulu manusia mengejar berbagai hal yang dianggap dapat menghadirkan kebahagiaan: kekayaan, jabatan, pendidikan, popularitas, prestasi, rumah yang megah, kendaraan yang nyaman, bahkan pengakuan sosial.
Kita sering membayangkan bahwa kebahagiaan akan datang setelah mencapai sesuatu.
“Kalau saya sudah kaya, saya akan bahagia.”
“Kalau saya sudah memiliki jabatan tinggi, hidup saya akan tenang.”
“Kalau saya sudah terkenal dan dihargai banyak orang, saya akan merasa berarti.”
Namun, seyogyanya pengalaman hidup dan penelitian ilmiah memberikan pelajaran yang jauh lebih kompleks. Kebahagiaan manusia ternyata tidak sesederhana jumlah harta yang dimiliki seseorang tersebut, setinggi apa jabatan seseorang, atau sebanyak apa orang yang mengenalnya.
Salah satu penelitian yang menarik untuk direnungkan adalah Harvard Study of Adult Development, salah satu penelitian longitudinal terpanjang mengenai kehidupan orang dewasa. Penelitian ini dimulai pada 1938 dan mengikuti kehidupan para peserta selama puluhan tahun, bahkan hingga memasuki usia lanjut. Para peneliti mengamati berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan fisik, kesehatan mental, pekerjaan, keluarga, perkawinan, persahabatan, serta perjalanan kehidupan mereka secara keseluruhan.
Yang menarik, setelah perjalanan penelitian yang sangat panjang tersebut, para peneliti menemukan satu pelajaran yang sangat sederhana tetapi mendalam: hubungan yang baik dengan orang lain mempunyai kaitan yang sangat kuat dengan kehidupan yang lebih bahagia dan lebih sehat.
Robert Waldinger, salah satu direktur penelitian tersebut, menjelaskan bahwa ketika para peneliti melihat kembali kehidupan para peserta pada usia 50 tahun, kepuasan terhadap hubungan mereka terutama dalam perkawinan merupakan prediktor yang sangat kuat terhadap kehidupan yang sehat dan bahagia ketika mereka memasuki usia 80 tahun.
Dengan kata lain, seseorang tidak hanya perlu merawat tubuhnya; ia juga perlu merawat relasinya.
Merawat Hubungan, Merawat Kehidupan
Temuan Harvard ini tidak berarti bahwa uang, pekerjaan, kesehatan, atau pencapaian sama sekali tidak penting. Semua itu tetap mempunyai peran dalam kehidupan manusia. Namun, penelitian tersebut memberikan koreksi terhadap cara pandang kita yang terlalu sering menjadikan materi dan status sosial sebagai pusat kebahagiaan. Kita dapat memiliki rumah yang besar tetapi tidak memiliki seseorang untuk diajak berbicara. Kita dapat memiliki jabatan tinggi tetapi kehilangan kedekatan dengan keluarga. Kita dapat dikenal oleh ribuan orang di media sosial tetapi merasa sangat kesepian ketika kembali ke kamar. Kita dapat memiliki banyak kolega tetapi tidak mempunyai seorang sahabat yang benar-benar dapat kita percaya. Di sinilah letak paradoks kehidupan modern. Kita semakin terkoneksi secara digital, tetapi belum tentu semakin terhubung secara emosional.
Harvard Study of Adult Development menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki hubungan sosial yang lebih kuat dengan keluarga, teman, dan komunitas cenderung lebih bahagia, lebih sehat secara fisik, dan memiliki kehidupan yang lebih panjang. Hubungan yang berkualitas bahkan berkaitan dengan perlindungan terhadap penurunan kesehatan fisik dan kognitif pada masa tua. (Harvard Gazette)
Maka, barangkali salah satu kesalahan terbesar manusia modern adalah terlalu sibuk membangun (Curriculum Vitae) CV kehidupan, tetapi lupa membangun relasi kehidupan. Kita menghitung berapa gelar yang sudah diperoleh. Kita menghitung berapa jabatan yang pernah diduduki. Kita menghitung berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan. Kita menghitung berapa banyak pengikut di media sosial.
Tetapi apakah kita pernah menghitung berapa banyak hubungan yang telah kita rawat?. Berapa banyak orang yang masih mau datang ketika kita tidak memiliki apa-apa?. Berapa banyak sahabat yang dapat kita hubungi ketika sedang jatuh?. Berapa banyak keluarga yang masih nyaman duduk bersama kita tanpa membicarakan harta, jabatan, atau kepentingan?. Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang barangkali lebih penting ketika seseorang mulai memasuki usia senja.
Rasulullah SAW dan Cara Mencintai Orang yang Telah Pergi
Kisah Rasulullah SAW dengan para sahabatnya seperti halnya Sayyidah Khadijah juga sangat relevan. Dalam Sahih al-Bukhari, Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sering menyebut Khadijah dan bahkan mengirimkan bagian daging kepada sahabat-sahabat Khadijah. Menariknya, jauh sebelum penelitian modern berbicara tentang pentingnya relasi, Islam telah memberikan teladan yang sangat indah mengenai bagaimana manusia merawat hubungan.
Salah satu kisah yang sangat menyentuh adalah hubungan Rasulullah SAW dengan Khadijah r.a. Khadijah bukan sekadar istri bagi Rasulullah SAW. Ia adalah pasangan, sahabat, pendukung perjuangan, tempat berbagi kegelisahan, dan salah satu manusia yang paling awal memberikan kepercayaan kepada beliau. Ketika Khadijah telah wafat, Rasulullah SAW tidak kemudian menghapus seluruh hubungan yang berkaitan dengannya.
Dalam hadis Sahih al-Bukhari, Aisyah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah SAW sering menyebut Khadijah. Bahkan ketika beliau menyembelih seekor kambing, beliau membagikan bagian-bagiannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Bagi saya, ini adalah pelajaran tentang kesetiaan dalam cinta. Cinta tidak selalu berhenti ketika seseorang telah meninggalkan dunia. Kadang-kadang cinta justru terlihat dari bagaimana seseorang tetap menghormati jejak kebaikan orang yang telah pergi.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa mencintai seseorang berarti menghargai orang-orang yang dicintainya, menghormati kenangannya, menjaga hubungan dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya, dan tidak memutus kebaikan hanya karena sebuah kehidupan telah berakhir. Di sinilah cinta memiliki dimensi sosial dan spiritual. Cinta bukan hanya tentang “aku dan kamu”, tetapi juga tentang bagaimana kebaikanmu terus hidup melalui hubungan yang kita rawat. Cinta yang Sehat Tidak Berhenti pada Manusia. Namun, dalam perspektif Islam, ada satu hal yang harus menjadi fondasi. Manusia boleh mencintai pasangan. Manusia boleh mencintai orang tua. Manusia boleh mencintai anak. Manusia boleh mencintai sahabat. Manusia boleh mencintai guru, murid, masyarakat, dan sesama manusia. Tetapi seluruh cinta itu pada akhirnya harus memiliki pusat: Allah SWT.
Sebab manusia adalah makhluk yang berubah. Hari ini seseorang berada di samping kita, tetapi suatu saat ia mungkin pergi. Hari ini orang tua masih bersama kita, tetapi suatu saat kita harus mengantarkan mereka ke pemakaman. Hari ini sahabat kita masih dapat diajak berbicara, tetapi waktu dapat memisahkan kita. Hari ini pasangan kita masih berada di sisi kita, tetapi kehidupan manusia memiliki batas. Karena itu, cinta kepada manusia harus disandarkan kepada cinta kepada Allah. Sebuah doa yang sangat indah adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta kepada-Mu, cinta kepada orang yang mencintai-Mu, dan amal yang mengantarkanku kepada cinta-Mu.”
Dengan demikian, relasi manusia tidak menjadi tujuan akhir, tetapi menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah.
“Shadiqun Shalihun”: Teman yang Baik sebagai Sumber Ketenangan
Ada sebuah ungkapan yang sering dinisbatkan kepada Imam al-Syafi’i bahwa ketika ditanya tentang apa yang membuat seseorang merasa tenang dalam kehidupan dunia, jawabannya adalah “shadiqun shalihun” teman yang saleh atau sahabat yang baik. Ungkapan ini sangat menarik untuk direnungkan, meskipun atribusi historisnya perlu ditempatkan secara hati-hati dan tidak diperlakukan sebagai hadis atau kutipan yang pasti berasal dari Imam al-Syafi’i.
Namun, secara substansi, gagasan tersebut sangat kuat. Mengapa seorang manusia membutuhkan teman?. Karena manusia tidak dirancang untuk menjalani seluruh kehidupan seorang diri. Ilmu dapat membuat seseorang cerdas. Harta dapat membuat seseorang berkecukupan. Jabatan dapat membuat seseorang memiliki kewenangan. Popularitas dapat membuat seseorang dikenal. Tetapi semuanya belum tentu memberikan rasa aman secara emosional. Ada keadaan ketika kita tidak membutuhkan nasihat panjang. Kita hanya membutuhkan seseorang yang berkata:
“Saya ada di sini.” Ada saat ketika kita tidak membutuhkan solusi. Kita hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Ada masa ketika kita tidak membutuhkan banyak orang. Kita hanya membutuhkan satu atau dua orang yang tetap bertahan ketika sebagian besar orang pergi. Maka, teman yang baik bukan sekadar teman untuk tertawa. Teman yang baik adalah seseorang yang mampu hadir dalam seluruh musim kehidupan. Seperti dalam istilah adagium Bahasa Sunda, Silih Asih, Silih Asah, Silih Asu. Dalam konteks kebudayaan Indonesia, khususnya nilai-nilai kehidupan masyarakat Sunda, kita mengenal konsep silih asih, silih asah, dan silih asuh.
Silih asih berarti saling mengasihi : Silih asah berarti saling mencerdaskan, saling mengingatkan, dan saling mengembangkan.
Silih asuh berarti saling membimbing, menjaga, dan merawat : Jika dikembangkan dalam konteks kehidupan sosial, ketiganya dapat menjadi fondasi relasi yang sehat. Silih asih : mengajarkan bahwa hubungan membutuhkan kasih sayang. Silih asah : mengajarkan bahwa hubungan harus menghasilkan pertumbuhan. Silih asuh : mengajarkan bahwa hubungan harus melahirkan perlindungan.
Karena itu, relasi yang sehat setidaknya mengandung tiga unsur: Respect, Educate, Dan Protect.
Respect: Saling Menghormati, Relasi yang sehat tidak dibangun dengan merendahkan. Pasangan harus dihormati. Orang tua harus dihormati. Anak harus dihormati. Teman harus dihormati. Guru dan murid harus saling menghargai. Perbedaan tidak selalu harus diselesaikan dengan memenangkan argumentasi. Kadang-kadang hubungan justru diselamatkan dengan kemampuan untuk menghormati perbedaan. Dalam bahasa Islam, penghormatan itu dekat dengan nilai al-ihtiram menghargai martabat manusia.
Educate: Saling Mencerdaskan. Teman yang baik bukan teman yang selalu membenarkan. Teman yang baik adalah teman yang berani mengingatkan ketika kita salah. Ia tidak membiarkan kita jatuh hanya karena takut hubungan menjadi tidak nyaman. Ia berkata: “Menurut saya, kamu keliru.” Bukan karena membenci, tetapi karena peduli.
Inilah makna silih asah. Hubungan yang sehat membuat kedua belah pihak bertumbuh. Kita menjadi lebih dewasa karena memiliki orang-orang yang berani memberikan nasihat.
Protect: Saling Menjaga. Relasi juga membutuhkan perlindungan. Bukan perlindungan dalam arti menguasai, tetapi menjaga satu sama lain dari kehancuran. Teman menjaga temannya dari keputusan yang buruk. Pasangan menjaga pasangannya dari kesepian. Keluarga menjaga anggotanya ketika menghadapi kesulitan. Guru menjaga muridnya dari kehilangan arah. Masyarakat menjaga anggotanya agar tidak terpinggirkan. Inilah semangat silih asuh.
Hubungan bukan hanya tempat mendapatkan sesuatu, tetapi tempat memberikan rasa aman. Kita Sering Baru Menyadari Nilai Relasi Ketika Sudah Terlambat. Ada ironi dalam kehidupan manusia. Ketika masih muda, kita sering mengejar masa depan. Kita berkata: “Nanti kalau sudah sukses, saya akan punya waktu untuk keluarga.” “Nanti kalau sudah mapan, saya akan mengunjungi teman-teman.” “Nanti kalau pekerjaan sudah selesai, saya akan lebih banyak bersama orang tua.” Tetapi “nanti” sering kali tidak pernah datang. Anak-anak tumbuh. Orang tua menua. Sahabat berpindah kota. Pasangan berubah.
Dan akhirnya kita menyadari bahwa waktu ternyata tidak pernah benar-benar menunggu. Harvard Study of Adult Development memberikan pelajaran yang sangat kuat bahwa kualitas hubungan pada perjalanan kehidupan mempunyai konsekuensi terhadap kesehatan dan kebahagiaan pada masa tua. Dalam penelitian tersebut, kepuasan terhadap hubungan pada usia pertengahan kehidupan menjadi salah satu indikator penting bagi kehidupan yang lebih sehat pada usia lanjut. Maka, menjaga hubungan bukan pekerjaan yang dilakukan ketika tua.
Menjaga hubungan harus dimulai ketika kita masih muda. Sebab masa tua yang bahagia tidak dibangun pada usia 70 tahun. Ia dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang kita lakukan sejak hari ini. Pada Akhirnya, Kita Tidak Membawa Popularitas ke Dalam Kesunyian Pada suatu titik kehidupan, seseorang mungkin tidak lagi terlalu peduli berapa banyak orang yang mengenalnya. Ia hanya ingin tahu: “Siapa yang masih mau datang?” “Siapa yang masih mau mendengarkan?” “Siapa yang masih mengingat saya?” “Siapa yang masih mendoakan saya?”
Dan mungkin, pada titik itulah kita memahami bahwa ukuran keberhasilan hidup tidak selalu berada pada apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga pada hubungan apa yang berhasil kita rawat. Kita mungkin tidak dapat membawa rumah ke alam akhirat. Kita tidak dapat membawa jabatan. Kita tidak dapat membawa popularitas. Kita tidak dapat membawa jumlah pengikut media sosial. Tetapi kita dapat meninggalkan kasih sayang. Kita dapat meninggalkan ilmu. Kita dapat meninggalkan kebaikan. Kita dapat meninggalkan hubungan yang penuh penghormatan. Dan yang paling penting, kita dapat meninggalkan orang-orang yang mendoakan kita.
Jangan Hanya Membangun Kesuksesan, Bangunlah Relasi
Harvard telah menghabiskan puluhan tahun untuk mengikuti perjalanan kehidupan manusia. Salah satu pesan terkuat yang muncul dari penelitian tersebut bukanlah tentang bagaimana menjadi paling kaya, paling terkenal, atau paling sukses, melainkan tentang bagaimana manusia tetap terhubung dengan orang lain. Penelitian itu menunjukkan bahwa hubungan yang baik berkaitan erat dengan kebahagiaan dan kesehatan dalam perjalanan kehidupan.
Islam bahkan telah memberikan teladan jauh sebelumnya melalui kehidupan Rasulullah SAW.
Beliau tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana manusia mencintai, menghormati, menjaga, menguatkan, dan menghidupkan hubungan dengan sesama.
Maka mungkin, salah satu investasi terbesar dalam hidup bukanlah investasi finansial.
Investasi terbesar adalah investasi relasi. Rawatlah pasangan. Hormatilah orang tua. Dekatilah anak-anak. Jangan lupakan sahabat. Hargailah guru. Jaga murid-murid. Bangunlah komunitas yang sehat. Maafkan kesalahan.
Jangan Mudah Memutus Silaturahmi
Sebab kita tidak pernah tahu, siapa yang kelak menjadi orang yang duduk di samping kita ketika rambut mulai memutih dan langkah mulai melambat. Dan ketika suatu hari nanti kita menoleh ke belakang, mungkin kita tidak akan terlalu bangga dengan berapa banyak orang yang mengenal nama kita. Kita justru akan bersyukur karena pernah memiliki orang-orang yang mencintai kita, menerima kita, mengingatkan kita, menjaga kita, dan mendoakan kita.
Pada akhirnya, kebahagiaan bukan hanya tentang berapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang siapa yang masih berjalan bersama kita. Dan di atas seluruh cinta kepada manusia, tetaplah kita sandarkan hati kepada Allah SWT.
Karena manusia dapat pergi, tetapi Allah tidak pernah meninggalkan. Silih asih dalam kasih sayang. Silih asah dalam ilmu dan nasihat. Silih asuh dalam penjagaan. Saling menghormati. Saling mencerdaskan. Saling melindungi. Dan semuanya bermuara pada satu cinta tertinggi: cinta kepada Allah SWT.
Penulis: Fardan Abdul Basith (akademisi, dosen, peneliti, dan praktisi pendidikan yang lahir di Cianjur, 12 Juni 1993. Ia menyelesaikan pendidikan Magister Pendidikan pada bidang Bahasa Arab dan saat ini sedang menempuh pendidikan Doktor (S3) pada Prodi Pendidikan Islam Konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam di Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung). (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments