Muhammad Nasril, Penghulu Asal Aceh Jemput Gelar Doktor di UIN Jakarta
Wajah-wajah cerah dan bahagia terpancar dari 3.154 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Rasa bahagia tersebut terpancar, di hari yang sangat spesial. Pasalnya 3.154 mahasiswa tersebut mencapai puncak pendidikan di kampus kebanggaan mereka, yakni wisuda.
Dengan pakaian toga yang membaluti tubuh 3.154 mahasiswa itu, mereka menjalani Wisuda Sarjana, Magister, dan Doktor ke-141. Perhelatan akademik tersebut digelar dalam dua gelombang, yakni 5 – 6 September 2026 dan 12 – 13 September 2026, di Kampus I UIN Jakarta.
Salah satu orang yang bahagia itu adalah Dr. Muhammad Nasril, Lc., M.A., ASN Kementerian Agama yang bertugas sebagai penghulu di KUA Aceh Besar. Namun, di balik toga yang dikenakannya, tersimpan perjalanan panjang seorang anak gampong asal Laweung, Pidie, yang menempuh pendidikan dari Aceh, Kairo, hingga Jakarta.
Gelar tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan akademik yang ditempuhnya selama delapan semester. Namun, perjalanan menuju toga doktor itu tidak sesederhana prosesi wisuda yang berlangsung sehari.
Nasril menyelesaikan Program Doktor Pengkajian Islam, Konsentrasi Syariah, dengan disertasi berjudul “Hegemoni Ulama dalam Praktik Pernikahan Usia Anak di Aceh.” Ia dinyatakan lulus dengan nilai 93,33 dengan IPK 3.80.
Keluarga Sederhana
Nasril tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayah dan ibunya, Kamaruzzaman, S.Pd. dan Ani, S.Pd., merupakan guru sekolah dasar. Dari keduanya, ia mengenal arti pendidikan dan pentingnya menuntut ilmu.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SD Meunasah Mesjid Laweung, MTs Darul Ulum Banda Aceh, dan MAS Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) Aceh Besar, langkahnya berlanjut jauh ke Mesir. Di Universitas Al-Azhar, Kairo, Nasril menyelesaikan pendidikan Strata satu (S1) Syaiah Islamiah dan meraih gelar Lc pada 2009.
Sekembali ke Aceh, ia mengabdikan diri sebagai ASN Kementerian Agama dan bertugas sebagai penghulu, selain pernah menjalankan sejumlah tugas lainnya, termasuk di bidang Humas dan Ortala Kanwil Kemenag Aceh.
Pendidikan tetap dilanjutkan. Nasril kemudian menempuh pendidikan magister di Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, jurusan Fiqh Modern, dan menyelesaikannya pada 2014.
Kesempatan untuk kembali ke bangku akademik datang melalui Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) tahun 2022, program kolaborasi Kementerian Agama dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Ia mengikuti seleksi secara nasional dengan sempat menyimpan rasa pesimis karena bukan berasal dari kalangan tenaga pendidik. “Awalnya saat baca pengumuman beasiswa BIB, coba fokus persiapan dan ikut ujian. Sempat pesimis karena bukan dari tenaga pendidik, sampai akhirnya alhamdulillah dinyatakan lulus,” kenang Nasril.
Bagi Nasril, beasiswa tersebut bukan sekadar pembiayaan pendidikan. BIB menjadi jalan yang membawanya kembali ke ruang akademik, setelah sebelumnya lebih banyak bergelut dengan tugas pelayanan keagamaan di tengah masyarakat.
“Alhamdulillah, berkah Beasiswa Indonesia Bangkit – LPDP telah mengantarkan saya meraih doktor,” ujarnya lirih usai mengikuti prosesi wisuda.
Meneliti Hegemoni Ulama dan Pernikahan Usia Anak di Aceh
Pilihan tema disertasi Nasril tidak lahir dari ruang akademik semata. Sebagai penghulu yang sehari-hari berinteraksi dengan masyarakat, ia bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan keluarga dan pernikahan.
Pengalaman itu kemudian membawanya meneliti praktik pernikahan usia anak di Aceh dengan menggunakan perspektif hegemoni Antonio Gramsci.
Penelitian tersebut mengkaji bagaimana otoritas keagamaan, pemahaman agama, budaya, struktur sosial, dan kepentingan keluarga saling berkelindan dalam membentuk praktik pernikahan usia anak.
Bagi Nasril, persoalan itu tidak cukup dibaca hanya melalui hukum negara. Di dalamnya terdapat tafsir keagamaan, adat, konstruksi sosial, kehormatan keluarga, hingga realitas kehidupan masyarakat Aceh.
Untuk mendapatkan data, Nasrilpun harus turun langsung ke lapangan. Tidak semua proses berjalan mudah. Ia pernah menunggu narasumber berjam-jam dan menghadapi penolakan. Ada informan yang baru bersedia ditemui setelah Nasril terlebih dahulu menyampaikan ceramah. Bahkan, sebuah wawancara berlangsung sekitar pukul 01.00 dini hari.
“Banyak dinamika, tetapi hari ini semua terasa indah untuk dikenang,” kata Nasril.
Menjadi peneliti sekaligus mahasiswa doktoral juga menuntut penyesuaian besar. Rutinitas sebagai penghulu berbeda dengan kehidupan akademik yang menuntut ketekunan membaca, menulis, melakukan penelitian lapangan, dan berdiskusi ilmiah. Belum lagi jarak dengan keluarga.
“Awalnya terasa sangat sulit, tapi alhamdulillah kawan-kawan sangat banyak membantu. Intinya, proses penyesuaian di kampus ini lumayan memakan waktu,” ujar suami dari Jusnaini Hasni.
Mau tidak mau, lanjut ayah dari Muhammad Ahza dan Muhammad Adeeb ini, saat sudah masuk di SPS ini harus fokus, sehingga kerap jauh dari keluarga. Rutinitas perpustakaan juga berbeda dari rutinitas sebelumnya.
Delapan semester berlalu. Tahapan demi tahapan dilalui hingga akhirnya ia menghadapi ujian promosi doktor pada Mei lalu. Nasril dinyatakan lulus dengan nilai 93,33 dan predikat sangat memuaskan.
Bagi seorang anak gampong yang memulai perjalanan dari ruang kelas sekolah dasar di Laweung, Pidie, capaian itu bukan sekadar angka di lembar hasil ujian. Ada proses panjang yang menyertainya: buku-buku yang harus dituntaskan, perjalanan yang harus ditempuh, data yang harus dikumpulkan, narasumber yang harus ditemui, serta waktu bersama keluarga yang harus dikorbankan.
Kini, selain menjalankan tugas sebagai ASN Kementerian Agama Aceh, Nasril juga aktif dalam sejumlah kegiatan sosial-keagamaan. Ia tercatat sebagai pengurus Dayah Insan Qurani Aceh Besar, pengurus Badan Wakaf Indonesia periode 2025–2028 serta Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah Aceh.
Namun, di balik gelar doktor dan berbagai aktivitas tersebut, ada keluarga yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjangnya.
Ada Ayah dan Mak yang sejak awal menanamkan kecintaan kepada pendidikan. Ada Bapak dan Mak Mertua yang terus memberi dukungan. Ada istri tercinta, Jusnaini Hasni, M.Ed, yang berbagi suka dan lelah selama perjalanan akademik itu. Ada anak-anak yang tumbuh di tengah kesibukan dan jarak.
Ada pula keluarga besar, rakan, sahabat, guru, pembimbing, dan orang-orang baik yang hadir pada berbagai tahap perjalanan. Begitu juga pimpinan Kemenag Aceh, Aceh Besar, kawan-kawan ASN Kemenag secara khusus serta keluarga besar dayah Insan Qurani yang telah mensupport jalan proses pendidikan ini.
Karena itu, ketika toga akhirnya dikenakan pada 5 September 2026, kebahagiaan tersebut bukan hanya milik Nasril seorang.
“Terima kasih untuk Ayah dan Mak, Bapak dan Mak Mertua, istri tercinta, anak-anak tersayang, keluarga, rakan, sahabat, para guru dan pembimbing, serta semua pihak yang telah hadir dalam perjalanan ini. Terima kasih untuk setiap doa, dukungan, dan setiap kebaikan yang diberikan. Terima kasih untuk semuanya,” tuturnya.
Bagi Nasril, Toga itu akhirnya bukan sekadar simbol kelulusan. Ini juga sekaligus sebagai penanda perjalanan seorang anak gampong dari Meunasah Mesjid Laweung yang perlahan menapaki lorong-lorong ilmu, dari Pidie, Banda Aceh, Kairo, hingga Jakarta.
Di balik pencapaian itu ada banyak doa, dukungan bimbingan dan perjuangan panjang yang tidak selalu terlihat.
Hingga akhirnya, perjalanan itu sampai juga pada satu titik ketika toga dikenakan, nama dipanggil, dan gelar doktor resmi disandang.
Dari pelosok negeri yang bernama Laweung, Nasril akhirnya tiba di panggung doktoral. Bukan karena perjalanan itu selalu mudah, tetapi karena ia memilih untuk terus berjalan. Hingga akhirnya di usia genap 38 tahun, Nasril berhak menyandang gelar Dokter (Dr) di namanya. (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments