2 Hadis yang Menjadi Poros Kedudukan Spiritual Agama
Terdapat dua hadis Rasulullah Muhammad SAW yang mengandung inti ajaran Islam yang sangat mendasar, yaitu keridaan dan ketundukan hati secara sempurna kepada Allah, penerimaan penuh terhadap Islam sebagai jalan hidup, serta kecintaan dan ketaatan kepada Rasulullah SAW.
Hadis manakah yang dimaksud?
Pertama,
عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ:ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولً
Dari Al-Abbas bin Abdul Muththalib RA, beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Telah merasakan manisnya iman orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb-nya, kepada Islam sebagai agamanya, dan kepada Muhammad sebagai rasulnya.” (HR Muslim)
Kedua,
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa ketika mendengar muazin mengucapkan adzan lalu ia berkata, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku ridha kepada Allah sebagai Rabb-ku, kepada Muhammad sebagai rasulku, dan kepada Islam sebagai agamaku,’ maka diampuni dosa-dosanya.” (HR Muslim)
Ibnu al-Qayyim dalam Kitab Madarij al-Salikin menjelaskan, kedua hadis ini merupakan poros seluruh tingkatan agama.
Seluruh maqam (kedudukan spiritual) dalam agama berujung kepada keduanya. Keduanya mencakup keridaan kepada Allah sebagai Rabb, sebagai satu-satunya Ilah yang berhak disembah, keridaan kepada Rasul-Nya serta ketundukan penuh kepadanya, dan keridaan kepada agama-Nya serta kepasrahan terhadap seluruh ajarannya.
Barang siapa berhasil menghimpun keempat perkara tersebut dalam dirinya, maka dialah seorang ash-shiddiq (hamba yang sangat jujur dan benar imannya) yang sesungguhnya.
Namun, perkara-perkara ini mudah diucapkan dan diklaim dengan lisan, sementara hakikatnya termasuk urusan yang paling berat ketika diuji dalam kenyataan hidup.
Terlebih lagi ketika seseorang menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan hawa nafsu dan keinginannya.
Saat itulah akan tampak apakah keridaan yang selama ini diucapkannya benar-benar bersemayam dalam hati atau sekadar ucapan di bibir.
“Sebab, bisa jadi keridhaan itu hanya hidup dalam lisannya, bukan dalam keadaan dirinya yang sebenarnya,” tulis Ibnu al-Qayyim.
Adapun keridhaan kepada Allah sebagai satu-satunya Ilah yang berhak disembah, maka hal itu mengandung keridgaan untuk mencintai-Nya semata, takut hanya kepada-Nya, berharap hanya kepada-Nya, kembali kepada-Nya dalam segala urusan, memusatkan ibadah kepada-Nya, serta mengarahkan seluruh kekuatan kehendak dan cinta hanya kepada-Nya.
“Itulah keadaan seorang yang benar-benar ridha kepada Dzat yang dicintainya. Keridaan semacam ini menuntut penghambaan yang tulus dan keikhlasan yang sempurna kepada Allah,” kata Ibnu al-Qayyim.
Sedangkan keridhaan kepada Allah sebagai Rabb mengandung kerelaan terhadap pengaturan dan ketetapan-Nya atas hamba.
Keridhaan ini juga mencakup pengesaan Allah dalam tawakal, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya, bersandar kepada-Nya, dan merasa ridha terhadap segala sesuatu yang Dia tetapkan dan lakukan atas dirinya.
Keridhaan yang pertama berkaitan dengan menerima segala perintah-Nya. Sedangkan keridhaan yang kedua berkaitan dengan menerima segala ketentuan takdir yang Dia tetapkan.
Banyak orang yang mengakui Allah sebagai Rabb dan tidak menghendaki rabb selain-Nya. Akan tetapi, mereka tidak menjadikan Allah semata sebagai pelindung dan penolong.
Mereka justru menjadikan selain Allah sebagai wali-wali yang mereka andalkan. Mereka menyangka bahwa para wali tersebut dapat mendekatkan mereka kepada Allah, sebagaimana para pembesar dan orang dekat raja dapat menjadi perantara untuk mendekati sang raja. Padahal inilah hakikat kesyirikan.
Tauhid yang benar adalah tidak menjadikan siapa pun sebagai wali yang diandalkan selain Allah. Alquran dipenuhi dengan penjelasan tentang kaum musyrik yang menjadikan selain Allah sebagai wali-wali mereka.
Hal ini berbeda dengan mencintai dan loyal kepada para nabi, rasul, serta hamba-hamba Allah yang beriman karena Allah.
Sebab, hal itu justru merupakan bagian dari kesempurnaan iman dan kesempurnaan loyalitas kepada Allah.
Loyalitas kepada para kekasih Allah adalah satu perkara, sedangkan menjadikan selain Allah sebagai wali yang diandalkan adalah perkara yang berbeda sama sekali.
Barang siapa tidak memahami perbedaan antara keduanya, hendaklah ia kembali mempelajari tauhid dari dasarnya. Sebab, masalah ini merupakan pokok dan fondasi tauhid itu sendiri.
Banyak pula manusia yang mencari hakim selain Allah untuk menjadi tempat mereka berhukum dan menyelesaikan perselisihan.
Mereka merasa puas dengan hukum selain hukum-Nya. Padahal tiga perkara inilah yang menjadi pilar utama tauhid: tidak menjadikan selain Allah sebagai rabb, tidak menjadikan selain Allah sebagai ilah yang disembah, dan tidak menjadikan selain Allah sebagai hakim yang ditaati secara mutlak.
Adapun keridhaan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rasul, maka hal itu menuntut ketundukan yang sempurna dan kepasrahan total kepada beliau.
Seorang mukmin harus menempatkan Rasulullah SAW lebih utama daripada dirinya sendiri. Ia tidak mengambil petunjuk kecuali dari ajaran beliau, tidak menjadikan selain beliau sebagai tempat berhukum, serta tidak mendahulukan keputusan siapa pun di atas keputusan beliau.
Ia tidak rela dengan hukum selain hukum Rasulullah SAW baik dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah, perbuatan-perbuatan-Nya, hakikat-hakikat iman dan tingkatan-tingkatannya, maupun dalam seluruh hukum yang berkaitan dengan lahir dan batin kehidupan.
Dalam semua perkara itu, ia tidak menerima hukum selain hukum Rasulullah SAW dan tidak merasa puas kecuali dengannya.
Apabila seseorang tidak mampu mengetahui hukum Rasulullah SAW dalam suatu persoalan, lalu ia mengikuti pendapat selain beliau, maka keadaan itu hanyalah seperti orang yang terpaksa memakan bangkai atau meminum darah demi mempertahankan hidup ketika tidak menemukan makanan yang halal.
Dalam keadaan terbaiknya, hal itu serupa dengan tayamum menggunakan tanah ketika tidak mampu menggunakan air yang suci untuk bersuci.
Adapun keridaan terhadap agama Islam, maka maknanya adalah ketika Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu perkataan, hukum, perintah, atau larangan, ia menerimanya dengan keridaan yang sempurna.
Tidak tersisa sedikit pun keberatan dalam hatinya terhadap hukum tersebut. Ia menyerahkan diri sepenuhnya, sekalipun hukum itu bertentangan dengan keinginan pribadinya, hawa nafsunya, atau pendapat guru, tokoh, mazhab, maupun kelompok yang selama ini diikutinya.
Pada titik inilah hampir seluruh manusia akan terasa asing bagimu, kecuali segelintir orang yang tetap teguh dalam kebenaran. Karena itu, janganlah engkau merasa gentar dengan keterasingan dan kesendirian di jalan ini.
Demi Allah, justru di sanalah letak kemuliaan yang sejati, kebersamaan dengan Allah dan Rasul-Nya, serta ruh ketenangan yang lahir dari kedekatan dengan-Nya, dari keridaan kepada Allah sebagai Rabb, kepada Muhammad SAW sebagai Rasul, dan kepada Islam sebagai agama.
Bahkan seorang yang benar-benar jujur imannya, setiap kali merasakan keterasingan itu dan mengecap manisnya, ia akan berdoa:
“Ya Allah, tambahkanlah kepadaku keterasingan dari dunia dan manusia, serta tambahkanlah keakraban dan kedekatan dengan-Mu.”
Semakin ia merasakan manisnya keterasingan dan keteguhan dalam kebenaran itu, semakin ia menyadari bahwa apa yang dianggap manusia sebagai kebersamaan sejatinya bisa menjadi kesepian, bahwa apa yang mereka anggap kemuliaan bisa menjadi kehinaan, bahwa mengikuti pendapat-pendapat manusia tanpa petunjuk wahyu adalah kebodohan, dan bahwa terikat pada tradisi serta kebiasaan yang menyelisihi kebenaran sesungguhnya adalah bentuk perbudakan.
Karena itu, ia tidak pernah mengutamakan siapa pun di atas bagiannya dari Allah. Ia tidak menjual kedudukannya di sisi Allah hanya demi mendapatkan persetujuan manusia dalam perkara yang pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa selain kerugian dan kehilangan.
Paling jauh yang bisa diperolehnya dari mengikuti mereka hanyalah kasih sayang sementara selama kehidupan dunia.
Namun ketika seluruh sebab telah terputus, kebenaran telah tampak nyata, kubur-kubur dibongkar, segala isi hati disingkapkan, rahasia-rahasia diuji dan ditampakkan, dan seseorang tidak lagi menemukan penolong maupun kekuatan selain Rabb yang Mahabenar, pada saat itulah ia akan mengetahui dengan jelas di mana letak keuntungan dan kerugian yang sebenarnya, serta apa yang membuat timbangan amal menjadi berat atau justru ringan. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments