Pesan Menenangkan untuk Orang Tua: Allah Menjaga Pencari Ilmu
Ada kegelisahan yang hampir selalu menyertai perpisahan. Seorang ibu menahan air mata saat melepas anaknya ke pesantren.
Seorang ayah berkali-kali berpesan agar sang anak menjaga diri ketika harus menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman. Di balik pelukan dan doa yang mengiringi keberangkatan itu, tersimpan satu pertanyaan yang sama: siapakah yang akan menjaga mereka di perantauan?
Islam memberikan jawaban yang menenangkan. Bagi seorang Muslim, menuntut ilmu bukan sekadar aktivitas pendidikan, melainkan jalan ibadah yang mengantarkan seseorang semakin dekat kepada Allah SWT. Karena itu, perjalanan mencari ilmu tidak pernah dipandang sebagai perjalanan biasa.
Di dalamnya terdapat keberkahan, perlindungan, dan pertolongan Allah yang dijanjikan kepada hamba-hamba-Nya.
Rasulullah SAW bahkan menggambarkan kemuliaan para pencari ilmu dengan sebuah gambaran yang begitu indah. Dalam sebuah hadis disebutkan:
وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : طَالِبُ الْعِلْمِ تَبْسُطُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا بِمَا يَطْلُبُ
“Nabi Muhammad SAW bersabda: Terhadap orang yang menuntut ilmu, para malaikat membentangkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap ilmu yang sedang dicari orang tersebut.” (HR dalam kitab At-Targhib wat Tarhib).
Hadis ini menunjukkan bahwa pencarian ilmu yang dilandasi niat ikhlas memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah SWT. Para malaikat, makhluk yang selalu taat kepada-Nya, memberikan penghormatan kepada para pencari ilmu karena mereka sedang menempuh jalan yang dicintai Allah.
Karena itu, orang tua yang sedang mengantarkan anak-anaknya belajar di pesantren, madrasah, sekolah Islam, atau perguruan tinggi tidak perlu larut dalam kekhawatiran yang berlebihan. Ikhtiar menjaga anak memang tetap harus dilakukan, namun setelah itu hendaknya hati diserahkan kepada Allah SWT.
Sebab, tidak ada penjagaan yang lebih kuat daripada penjagaan Allah. Anak yang sedang berjalan menuju majelis ilmu sesungguhnya sedang berada di jalan kebaikan.
Mereka mungkin jauh dari rumah, jauh dari orang tua, dan jauh dari kampung halaman. Namun jika niat mereka benar, mereka tidak pernah benar-benar sendiri. Ada doa orang tua yang mengiringi, ada keberkahan ilmu yang menaungi, dan ada penjagaan Allah yang tidak pernah terlelap.
Di sisi lain, para pencari ilmu juga perlu meluruskan niat sejak awal. Ilmu tidak dicari untuk memperoleh pujian, kedudukan, atau kebanggaan dunia semata. Ilmu dicari karena Allah SWT memerintahkannya dan karena manusia membutuhkan cahaya petunjuk untuk menjalani kehidupan.
Dengan ilmu, seseorang dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Dengan ilmu, seseorang dapat mengenal Tuhannya dengan lebih baik. Dan dengan ilmu pula, seseorang mampu membimbing dirinya agar tidak tersesat oleh hawa nafsu dan godaan dunia.
Para ulama mengajarkan bahwa niat terbaik dalam mencari ilmu adalah menghilangkan kebodohan dari diri sendiri, kemudian menerangi orang lain dengan ilmu yang telah diperoleh. Ilmu yang sejati bukanlah yang berhenti di kepala, melainkan yang hidup dalam amal dan akhlak.
Karena itu, setiap langkah menuju tempat belajar sejatinya adalah langkah menuju kemuliaan. Setiap lembar kitab yang dibaca, setiap pelajaran yang dipahami, dan setiap kesabaran yang dijalani dalam perjalanan menuntut ilmu adalah bagian dari investasi akhirat yang nilainya tidak dapat diukur dengan materi.
Maka jangan takut ketika anak-anak pergi merantau demi ilmu. Khawatirlah justru ketika mereka kehilangan semangat untuk belajar dan mengenal agamanya. Sebab rumah yang jauh masih bisa ditempuh, tetapi hati yang jauh dari ilmu dan petunjuk Allah jauh lebih sulit untuk ditemukan kembali. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments