Al-Fudhail bin ‘Iyadh: Menolak Emas dari Raja untuk Menjaga Kemurnian Nasihat
Beliau adalah al-Fudhail bin ‘Iyadh bin Mas’ud al-Tamimi al Yarbu’i. Seorang guru dan ulama besar di Masjidil Haram Makkah. Banyak ulama besar yang belajar kepadanya, salah satunya Imam al-Syafi’i. Beliau lahir di Samarkand (wilayah Uzbekistan). Beliau menghabiskan masa tuanya dengan menetap di kota suci Makkah hingga wafat di sana. Al-Fudhail bin ‘Iyadh dikenal sebagai ulama hadis yang dipercaya sekaligus ahli ibadah yang zuhud dan sangat saleh di zamannya (Al-Zirikli, 2002). Sifat zuhud dan kesalehannya tersebut yang menjadikan ia selalu berani menyampaikan kebenaran melalui nasihat-nasihatnya tanpa disertai rasa takut pada siapapun termasuk pada raja di masanya.
Dikisahkan dalam Tadzkiratul Auliya’ karya Fariduddin ‘Atthar bahwa suatu ketika Harun ar-Rasyid sang pemimpin dunia Islam saat itu mendatangi rumah al-Fudhail untuk meminta nasihat tentang menjalankan kepemimpinan dengan baik. Al-Fudhail lalu berkata:
Takutlah kepada Allah, bersiaplah untuk menjawab (pertanggungjawaban), dan waspadalah! karena sesungguhnya Allah akan membangkitkanmu di hari kiamat bersama setiap orang yang berada di bawah kekuasaanmu satu per satu, dan Dia akan bertanya kepadamu tentang mereka semua. Dia akan menuntut keadilan bagi orang yang dizalimi dari orang yang zalim. Bahkan jika ada seorang wanita tua yang tidur di rumahnya dalam keadaan lapar, dia akan bergantung padamu di hari kiamat dan menuntutmu.’
Ketika Harun mendengar ucapan Al-Fudhail ini, ia menangis hingga jatuh pingsan.
Dalam suasana haru itu, sang khalifah ingin menunjukkan rasa terima kasih dan kepeduliannya. Ia bertanya kepada al-Fudhail, “Apakah engkau memiliki utang yang belum lunas?”
Dengan tenang, al-Fudhail menjawab, “Ya, aku punya utang ketaatan kepada Allah. Jika Dia menuntut pelunasannya dariku sekarang, celakalah aku.”
Khalifah mencoba meluruskan maksudnya, “Maksudku adalah utang kepada sesama manusia, wahai al-Fudhail.”
Namun, al-Fudhail, tetap pada pendiriannya. Ia merasa cukup dengan karunia Allah dan enggan mengeluh kepada manusia mana pun. Meski ditolak secara halus, Harun ar-Rasyid tetap meletakkan sebuah kantong berisi 1.000 Dinar di hadapan al-Fudhail. Ia meyakinkan bahwa uang itu Ilustrasi al-Fudhail bin ‘Iyadh memberi nasihat kepada Harun al-Rasyid berasal dari warisan ibunya yang sah dan halal.
Namun, reaksi al-Fudhail justru tak terduga. Ia menegur sang Khalifah seraya berkata “Wahai Pemimpin kaum Muslimin, ternyata nasihatku tadi tidak membekas sedikit pun di hatimu! Engkau justru kembali melakukan kezaliman kepadaku,” ujar al-Fudhail.
Khalifah tertegun dan bertanya heran, “Kesalahan apa yang telah kulakukan?” al-Fudhail menjawab, “Aku berusaha membawamu
menuju jalan keselamatan, tapi engkau malah menjerumuskanku ke dalam fitnah dunia. Aku memintamu mengembalikan harta kepada yang berhak, tapi engkau malah memberikannya kepada orang yang tidak berhak menerimanya (diriku). Sungguh, percuma aku bicara!”
Setelah itu, al-Fudhail berdiri dan membuang kantong emas itu keluar rumah. Ia tidak ingin hatinya terikat atau nasihatnya terbeli
oleh pemberian penguasa. Baginya, menjaga kemandirian hati jauh lebih berharga daripada ribuan dinar.
Melihat keteguhan tersebut, Harun ar-Rasyid tidak marah. Sebaliknya, ia justru takjub dan berkata, ” al-Fudhail adalah raja
yang sebenarnya bagi umat manusia. Ia sangat teguh, dan dunia ini terlihat begitu kecil di matanya.” Khalifah pun meninggalkan rumah sederhana itu dengan rasa hormat yang mendalam, membawa pulang pelajaran bahwa kekuasaan sebesar apa pun tidak akan mampu menundukkan hati yang sudah penuh dengan cinta kepada Allah.
Kisah keteguhan hati al-Fudhail bin ‘Iyadh dalam menjaga diri dari harta yang bukan miliknya adalah sebuah pengingat bagi kita saat ini agar menjaga kehormatan ilmu di hadapan penguasa. Al-Fudhail mengingatkan kita tentang integritas dan prinsip anti-korupsi, terutama dalam hal menghindari konflik kepentingan (conflict of interest). Menerima pemberian dari penguasa, meskipun dianggap sebagai hadiah halal, dapat menjadi jerat yang membungkam kebenaran. Dalam konteks modern saat ini sikap tegas al-Fudhail bin adalah bentuk nyata dari upaya menjaga independensi; ia menolak hadiah raja agar nasihat dan objektivitasnya tidak terbeli atau tersandera oleh rasa utang budi.
Sikap tegas al-Fudhail mengajarkan bahwa seorang profesional atau pemimpin harus berani menolak pemberian yang berpotensi
memengaruhi keputusan atau integritasnya.
(Kisah ini bersumber dari buku Nyala Obor Integritas: Kisah Ulama Melawan Korupsi, terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia). (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments