Follow us:

Bicara Urgensi Sanad Keilmuan Pesantren, Menag: Ruh Pendidikan Islam

Menteri Agama Nasaruddin Umar menggarisbawahi pentingnya sanad keilmuan dalam tradisi pendidikan pesantren. Menag menilai sanad keilmuan pesantren sebagai ruh dari pendidikan Islam.

Sanad keilmuan ini menjadi salah satu tema perbincangan Menteri Agama saat bersilaturahim ke Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, Jawa Tengah. Bertemu KH Achmad Chalwani, Menag memutar kembali sejarah panjang pesantren, sanad keilmuan para masyayikh, hingga peran An-Nawawi Berjan dalam menyebarkan ajaran Islam ke berbagai penjuru Indonesia.

Menag menaruh perhatian pada kekuatan tradisi keilmuan pesantren yang terjaga lintas generasi. Ia menyebut pesantren bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga ruang pewarisan nilai, adab dan keteladanan para ulama.

“Pesantren seperti An-Nawawi Berjan ini bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mewariskan adab dan karakter. Di sinilah mata rantai keilmuan para ulama dirawat dengan penuh kesungguhan,” ujar Menag, Jumat (6 Februari 2026).

Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan berdiri sejak akhir abad ke-19. Cikal bakalnya dirintis oleh KH. Zarkasyi di Berjan, Purworejo, melalui pengajian-pengajian tradisional di surau sederhana. Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh KH. Shiddiq Zarkasyi yang memperkuat tradisi pengajian kitab klasik dan thariqah. Perkembangan pesantren semakin pesat pada masa KH. Nawawi Shiddiq, yang menata sistem pendidikan lebih terstruktur dan memperluas peran pesantren sebagai pusat pengaderan ulama. Sejak 1996, pesantren ini dikenal dengan nama Pondok Pesantren An-Nawawi, yang kini diasuh oleh KH. Achmad Chalwani.

Menag menilai, kesinambungan sanad keilmuan yang terjaga dari generasi ke generasi merupakan kekuatan utama pesantren yang patut dirawat bersama.

“Yang membuat pesantren tetap relevan sepanjang zaman adalah kesinambungan sanad keilmuan. Tradisi ini tidak boleh terputus, karena di situlah ruh pendidikan Islam tumbuh,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Menag juga menyerahkan bantuan untuk mendukung penguatan sarana dan kegiatan pendidikan di lingkungan pesantren sebesar Rp100 juta. Menurutnya, pesantren memiliki peran besar dalam membentuk wajah keberagamaan Indonesia yang ramah, berakar pada tradisi, dan tetap terbuka terhadap perkembangan zaman.

“Pesantren telah membuktikan dirinya sebagai ruang lahirnya ulama, guru umat, sekaligus penggerak sosial. Peran ini perlu terus dirawat agar pesantren tetap menjadi rujukan moral di tengah masyarakat,” kata Menag.

Ia berharap, semangat keilmuan yang tumbuh di An-Nawawi Berjan dapat terus mengalir kepada para santri, sehingga mereka kelak mampu berkontribusi bagi umat dan bangsa di berbagai bidang.

“Saya berharap para santri tidak hanya kuat dalam ilmu, tetapi juga kokoh dalam akhlak. Dari pesantren seperti inilah lahir pribadi-pribadi yang membawa kesejukan bagi lingkungannya,” tambahnya.

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, KH. Achmad Chalwani, menyampaikan apresiasi atas silaturahmi tersebut. Ia menilai pertemuan ini menjadi penguat semangat bagi keluarga besar pesantren untuk terus menjaga tradisi keilmuan yang telah dirintis para pendahulu.

“Kami bersyukur atas silaturahmi ini. An-Nawawi Berjan berdiri di atas perjuangan para masyayikh. Amanah kami hari ini adalah menjaga tradisi keilmuan itu agar tetap hidup dan memberi manfaat luas bagi umat,” ujarnya. (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved