Dekatkan Akses, Kemenag Siapkan 4.301 Titik Lokasi CBT Olimpiade Madrasah Indonesia 2026
Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) digelar serentak berbasis Computer-Based Test (CBT) mulai 7 – 9 September 2026. Untuk mendekatkan akses peserta, Kementerian Agama menyiapkan 4.301 titik lokasi (tilok) dengan 9.181 ruang ujian dengan kapasitas mencapai 346.895 kursi.
OMI 2026 diikuti 229.592 siswa yang telah lolos verifikasi. Mereka berasal dari 34 Provinsi dan 492 kabupaten/kota di Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno mengatakan, peningkatan partisipasi dalam OMI menunjukkan semakin kuatnya minat peserta didik alias murid untuk mengembangkan kemampuan dan berkompetisi secara sehat dan kompetitif.
“OMI kita bangun sebagai bagian dari ekosistem manajemen talenta madrasah. Yang kita cari bukan sekadar juara, tetapi bagaimana menemukan potensi terbaik peserta didik, memberikan ruang untuk berkembang, dan menyiapkan mereka menjadi generasi yang unggul,” ujar Amien Suyitno di Jakarta, Senin (7 September 2026).
Menurutnya, madrasah memiliki potensi besar dalam pengembangan talenta akademik, riset, sains, dan inovasi. Karena itu, kompetisi seperti OMI harus terus dikembangkan agar menjadi ruang yang sehat bagi peserta didik untuk menguji kemampuan sekaligus membangun karakter.
“Prestasi harus berjalan bersama dengan integritas, sportivitas dan karakter. Kita ingin anak-anak madrasah tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki nilai, kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat,” sambung mantan Direktur GTK Madrasah.
Partisipasi Meningkat
Jumlah peserta OMI 2026 juga menunjukkan perkembangan dibanding penyelenggaraan tahun sebelumnya. Pada OMI 2025 tercatat 204.222 pendaftar, dengan 202.117 peserta lolos verifikasi. Sementara pada 2026, peserta yang telah terdata mencapai 229.592 siswa.
Untuk diketahui, dengan menggunakan angka peserta terverifikasi 2025 sebagai pembanding, jumlah peserta OMI 2026 meningkat sekitar 13,6 persen. Amien menilai peningkatan tersebut menunjukkan bahwa OMI semakin diterima sebagai salah satu ruang aktualisasi prestasi peserta didik madrasah.
“Pertumbuhan partisipasi ini menggembirakan. Artinya, semakin banyak siswa yang berani mengambil kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Tugas kita adalah memastikan kesempatan itu tersedia secara adil dan berkualitas,” kata Dirjen Pendis.
OMI 2026 mengusung tema “Islam, Sains, dan Ekoteologi: Menumbuhkan Talenta serta Menggerakkan Inovasi Madrasah untuk Indonesia Maju.” Tema ini menegaskan arah OMI sebagai ruang pengembangan talenta yang menghubungkan kemampuan akademik dengan karakter, inovasi, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Amien mengatakan, OMI diharapkan menjadi salah satu pintu masuk untuk menemukan talenta-talenta terbaik dari madrasah di seluruh Indonesia. “Setiap peserta yang hadir di OMI adalah anak-anak yang memiliki potensi. Juara itu penting, tetapi proses belajar, keberanian berkompetisi, sportivitas dan pengalaman yang mereka dapatkan juga merupakan bagian dari prestasi,” katanya.
“Karena itu, kita ingin OMI terus tumbuh sebagai rumah bagi talenta madrasah—tempat mereka menemukan potensi, mengembangkan kemampuan dan pada akhirnya memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia,” lanjutnya.
Mendekatkan Lokasi Kompetisi
Direktur KSKK Madrasah Nyayu Khodijah mengatakan, perluasan titik lokasi menjadi salah satu strategi penting OMI 2026. Dengan 4.301 tilok yang tersebar di 492 kabupaten/kota, peserta tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk mengikuti kompetisi.
“Desain OMI tahun ini kita arahkan agar akses peserta semakin dekat. Kita tidak ingin jarak dan kondisi geografis menjadi penghalang bagi anak-anak madrasah untuk berkompetisi,” ujar mantan Rektor UIN Raden Fatah Palembang.
Menurutnya, pelaksanaan CBT juga memungkinkan proses kompetisi berlangsung lebih terukur dan terdokumentasi. Namun, kesiapan teknologi harus diikuti dengan pengawasan yang kuat.
“CBT bukan hanya soal komputer dan jaringan. Ada standar pengawasan, tata tertib dan mekanisme pengamanan yang harus dipastikan berjalan. Prinsip kita adalah kompetisi harus berlangsung adil, transparan dan berintegritas,” tegasnya.
Data operasional menunjukkan kapasitas nasional mencapai 346.895 kursi, sementara peserta terdata sebanyak 229.592 siswa. Dengan demikian, tingkat pemanfaatan kapasitas secara nasional mencapai 66,2 persen, masih tersedia ruang cadangan sekitar 33,8 persen.
Nyayu mengatakan kapasitas cadangan tersebut penting untuk mengantisipasi berbagai kondisi operasional yang mungkin terjadi selama pelaksanaan. “Yang kita siapkan bukan hanya kapasitas untuk kondisi normal, tetapi juga ruang mitigasi. Kalau ada kendala teknis atau kondisi tertentu yang sesuai dengan ketentuan, kita memiliki kapasitas untuk melakukan penanganan tanpa mengganggu integritas pelaksanaan,” kata Direktur KSKK.
Tingkat Okupansi Titik Lokasi
Ketua Panitia OMI 2026 Solla Taufiq menjelaskan, dari 4.301 titik lokasi yang disiapkan secara nasional, konsentrasi terbesar berada di sejumlah provinsi dengan jumlah peserta dan madrasah yang tinggi. Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah tilok terbanyak, yakni 663 lokasi, disusul Jawa Tengah 404 lokasi, Jawa Barat 281 lokasi, Sumatera Barat 231 lokasi, dan Sumatera Utara 201 lokasi.
“Secara nasional kami menyiapkan 4.301 titik lokasi, 9.181 ruang ujian dan 13.207 alokasi sesi. Kapasitas kursinya mencapai 346.895, sedangkan peserta yang telah terdata sebanyak 229.592 murid,” jelas Solla.
Ia menambahkan, rata-rata tingkat okupansi nasional mencapai 66,2 persen. Beberapa provinsi bahkan memiliki tingkat pemanfaatan kapasitas di atas 75 persen.
“Sulawesi Selatan mencatat tingkat okupansi tertinggi sebesar 81,2 persen, kemudian Jawa Tengah 80,8 persen, Banten 80,5 persen, Lampung 79,8 persen, DKI Jakarta 78,1 persen, dan Jawa Barat 76,4 persen,” tukas mantan Kasubbag TU Direktorat PAI.
Menurut Solla, data tersebut menjadi dasar panitia untuk melakukan pemetaan risiko dan memastikan dukungan teknis sesuai karakteristik masing-masing wilayah. “Karakter setiap wilayah berbeda. Di daerah dengan konsentrasi peserta tinggi, perhatian utama adalah kapasitas jaringan dan beban sistem. Sementara di wilayah kepulauan dan 3T, tantangannya bisa berupa konektivitas, listrik dan akses transportasi. Karena itu, mitigasi kami lakukan berbasis data titik lokasi,” katanya.
Laporan operasional OMI 2026 mencatat masih terdapat sekitar 117.303 kursi yang belum terisi atau sekitar 33,8 persen dari kapasitas nasional. Panitia menempatkan kapasitas tersebut sebagai salah satu instrumen mitigasi apabila terdapat kebutuhan penanganan teknis maupun mekanisme ujian cadangan sesuai ketentuan.
Solla menegaskan bahwa ketersediaan kapasitas tidak berarti seluruhnya akan digunakan, melainkan menjadi buffer untuk menjaga kelancaran penyelenggaraan. “Prinsip kami adalah siap menghadapi kondisi normal maupun kondisi khusus. Tetapi setiap penanganan tetap harus mengikuti juknis dan prosedur yang telah ditetapkan,” tandasnya. (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments