Follow us:

HAK-HAK ALQURAN YANG HARUS DITUNAIKAN

Oleh:Ustadz Arham Bin Ahmad Yasin

Alhamdulillah kita masih diberikan banyak nikmat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, khususnya nikmat keimanan yang tidak bisa tergantikan dengan apapun. Manakala nikmat ini tidak ada, niscaya tidak bisa menebus dari adzab Allah, meskipun seseorang tersebut menebusnya dengan emas seberat bumi sekalipun.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ لَوْ أَنَّ لَهُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُواْ بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (المائدة: 36)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi Ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih”. (Al Maidah: 36)

Tentunya, sesuatu yang sangat berharga bagi seseorang pasti mendapatkan tingkat perhatian istimewa. Dan iapun khawatir ataupun takut kehilangan atasnya. Pertanyaannya, apakah kita sudah merawat, menjaga keimanan kita? Dan sudahkah kita memberikan pengamanan berlapis untuk menjaga dan memperhatikan iman ini?

Salah satu dari konsekuensi atas dua kalimat syahadat yang kita ucapkan adalah konsekuensi tanggungjawab terhadap alquranul karim. Sebelum memasuki pembahasan, saya ingin menyampaikan bahwa seluruh pembicaraan kita nanti, hanya dalam konteks karena kita hidup sebagai muslim, baligh, berakal. Dengan harapan, jangan sampai kita beranggapan sebagai orang awam dan lain sebagainya.

“…. bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).…”. (Al Baqarah: 185)

Ayat ini menjelaskan bahwa diantara tujuan diturunkannya alquran adalah sebagai petunjuk bagi manusia. Oleh karena itu, jangan bingung dan terlalu lama berfikir menunggu hidayah, sebab hidayah telah ada sejak alquran diturunkan. Banyak orang malas beribadah, dengan alasan “menunggu hidayah”. Namun sebenarnya alasan ini sangat tidak tepat, karena ini adalah alasan orang yang suka beralibi.

إِنَّ هَـذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبِيراً (الإسراء: 9)

“Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (Al Isra’: 9)

Namun dalam menjalankan fungsinya sebagai hidayah, Allah Ta’ala juga memberikan tanggungjawab lainnya untuk berinteraksi dengan alquran. Dengan kata lain, kita harus menunaikan hak-hak alquran karena itu sebuah kewajiban. Sepertihalnya di dalam hadits Muadz bin Jabal Radhiallahu Anhu, bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Haknya Allah atas seorang hamba adalah beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Haknya hamba kepada Allah adalah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak menyekutukannya dengan sesuatupun”. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Hak Allah terhadap hamba maknanya adalah kewajiban hamba terhadap Allah yang harus dipenuhi. Sedangkan hak hamba terhadap Allah maknanya adalah kemurahan pemberian Allah terhadap hamba-Nya yang taat. Demikian juga terhadap hak-hak alquran.

Sebagaimana pula kisah Salman Al Farisi dan Abu Darda Radhiyallahu Anhuma

Diriwayatkan oleh Abu Juhaifah Wahb bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Adalah Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam mempersaudarakan Salman dan Abu Darda’. Suatu ketika Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’. Ia melihat Ummu Darda’ dengan pakaian yang kumal, maka ia bertanya, ‘Ada apa denganmu?’ Ummu Darda’ pun menjawab, ‘Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak menginginkan dunia lagi’.

Kemudian datanglah Abu Darda’, maka ia pun membuatkan makanan. Lalu Abu Darda’ berkata, ‘Makanlah, sesungguhnya aku sedang berpuasa’. Salman menjawab, ‘Aku tidak akan makan sampai engkau ikut makan’. Maka Abu Darda’ ikut makan.

Ketika telah tiba waktu malam Abu Darda’ pun beranjak hendak melaksanakan shalat malam, namun Salman justru berkata, ‘Tidurlah!’. Maka Abu Darda’ pun tidur. Kemudian ia pun hendak beranjak untuk shalat malam lagi maka Salman kembali berkata, ‘Tidurlah!’. Ketika akhir malam telah tiba barulah Salman berkata, ‘Sekarang bangunlah!’

Maka keduanya pun shalat bersama-sama. Salman kemudian menasihati Abu Darda’, ‘Sesungguhnya dalam dirimu terdapat hak Rabbmu, dan dalam dirimu terdapat pula hak untuk dirimu sendiri, juga terdapat hak bagi keluargamu, maka tunaikanlah setiap hak bagi masing-masing yang berhak mendapatkannya.’

Kemudian Abu Darda mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian menyebutkan perihal  Salman, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pun berkata, ‘Sungguh benar apa yang diperbuat oleh Salman”. (HR. Bukhari 4/209 dalam Al Fath)

Hak-Hak Alquran

  1. Beriman Dan Membenarkannya

Kita harus benar-benar yakin bahwa Al Qur’an adalah kalamullah  yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam.  Kita wajib mengimani semua ayat-ayat yang kita baca, baik yang berupa hukum-hukum maupun kisah-kisah.  Baik yang menurut kita terasa masuk akal maupun yang belum dapat kita pahami, yang nyata maupun yang ghaib.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

 “Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.  (Al Baqarah: 2)

Al Qur`an adalah kalamullah bukan makhluq, siapa yang meyakini bahwa al Quran adalah makhluq maka ia telah kufur. Begitu juga orang yang menolak satu ayat atau bahkan satu huruf saja dalam al Quran, maka ia telah kufur.

  1. Membacanya Dengan Tartil Dan Membaguskan Suara

Membaca Al Qur’an dengan baik dan benar, adalah wajib bagi setiap muslim. Dikarenakan wajib, maka harus ditunaikan. Tentu saja membutuhkan proses dan kesungguhan. Salah satu ilmu yang merupakan alat untuk dapat membaca al Qur’an dengan baik dan benar, adalah Ilmu Tajwid. Ilmu ini harus dikuasai (minimal bagi muslim/muslimah) disamping ilmu-ilmu lain mengenai al Qur’an seperti Qira’ah, Tafsir dan lain sebagainya.

Allah Ta’ala berfirman:

ورتل القرآن ترتيلاً

“Dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan”. (QS. al-Muzammil: 4)

Dan hukum mempelajari Tajwid adalah Fardlu Kifayah, sedangkan mengamalkan/membaca Al Qur’an sesuai dengan aturan ilmu Tajwid adalah Fardlu ‘Ain.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menegaskan dan menjamin bahkan sampai 4 kali pengulangan, bahwa Ia memudahkan pelajaran alquran. Pertanyaannya, sudahkan kita sungguh-sungguh belajar ilmu membaca (tajwid/tahsin), menghafal dan mentadabburi ayat-ayat alquran?? Memang semuanya membutuhkan waktu, proses, dan pengorbanan, baik pengorbanan waktu, tenaga maupun harta. Karena tidak mungkin mencapai hasil, tanpa sebuah pengorbanan.

Sebab, sebagaimana di muka bahwa sesuatu yang berharga pasti mendapatkan perhatian yang besar dan istimewa. Alquran adalah istimewa, maka jika ada kajian, diklat, seminar alquran atau apapun namanya, maka seharusnya pengumumannya seperti ini:

“Jama’ah sekalian, insya Allah di Masjid Darussalam akan diselenggarakan program tahsin alquran, karena acara ini penting, mohon bisa diprioritaskan, dan bagi yang kebetulan memiliki agenda atau acara mohon bisa dibatalkan”. Ini baru namanya prioritas dan istimewa!!

Hindari mengumumkan seperti ini:

“Jama’ah sekalian, insya Allah di Masjid Darussalam akan di adakan program tahsin alquran, mohon bagi jama’ah yang tidak memilki kesibukan, kebetulan tidak ada acara dan nganggur, bisa mengikuti acara tersebut. Dan kami mohon maaf sebesar-besarnya jika acara tersebut mengganggu aktivitas jama’ah sekalian”.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ (القمر: 22)

“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al Qamar: 17, 22, 32, 40)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Orang-orang yang telah Kami berikan al-kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi”. (QS. al-Baqarah: 121)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  bersabda:

زَيِّنُوْا اْلقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيْدُ اْلقُرْآنَ حَسَنًا

“Hiasilah al-Qur`an dengan suara-suara kalian, karena suara yang indah akan memperindah al-Qur`an”. (HR. Hakim dan lain-lain. Lihat Shahih al-Jami’: 3581)

Dan suara bacaan al-Qur`an terindah adalah ketika dibaca satu ayat satu ayat dengan penuh  kekhusyu’an. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ صَوْتًا بِالْقُرْآنِ الَّذِيْ إِذَا سَمِعْتُمُوْهُ يَقْرَأُ حَسِبْتُمُوْهُ يَخْشَى اللَّهَ

“Sesungguhnya termasuk suara manusia terindah terhadap al-Qur`an adalah tatkala engkau mendengarnya, engkau anggap pembacanya khusyu’ kepada Allah”. (HR. Ibnu Majah dll, lihat Shahih Ibnu Majah: 1101)

  1. Mentadabburi Makna Dan Memahaminya Pada Saat Membaca Atau Mendengarkannya

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ (ص: 29)

“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Shad: 29)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (محمد: 24)

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (Muhammad: 24)

Tadabbur Al Qur’an dapat dilakukan dengan mengulangi ayat-ayat yang kita baca dan meresapinya ke dalam hati serta memikirkan maknanya dengan bacaan yang lambat. Tidak hanya hati yang mentadabburi, tapi fisik kita yang lain pun ikut bertadabbur.  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam merupakan contoh terbaik bagi kita dalam cara mentadabburi Al Qur’an, diriwayatkan ketika diturunkan surat Huud dan Al Waqi’ah sampai beruban rambutnya karena takut terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً

“Maka apakah mereka tidak mentadabburkan Al Qur’an?  Kalau kiranya Al Qur’an itu turun dari sisi selain Allah tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya”.  (QS. An Nisaa’: 82)

Diriwayatkan sejumlah hadits dan atsar Salaf. Antara lain, diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sabdanya:

– اُتْلُوْ الْقُرْآنَ وَابْكُوْ فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا – رواه ابن ماجة

 “Bacalah Al Qur’an dan menangislah. Jika kamu tidak menangis, maka usahakanlah supaya menangis (karena ayat yang engkau baca)”. (HR. Ibnu Majah)

Belajarlah untuk tidak sekedar mengejar banyaknya target bacaan, namun miskin hikmah dan pelajaran yang didapat. Ya, membaca al Quran mendapat pahala, namun apakah dengan sekedar membaca kita akan mendapatkan petunjuk untuk mengarungi kehidupan..?

Baca satu ayat, lalu baca artinya (bila belum bisa bahasa arab), renungkan makna yang terkandung di dalamnya, resapi keindahan bahasanya, dan ambil pelajaran darinya.

Imam An Nawawi Rahimahullahu berkata: “Seyogyanya bagi Seorang Qori’ (pembaca Alquran) untuk senantiasa dalam keadaan khusyu’, tadabbur dan tunduk. Inilah maksud dan yang dituntut dari membaca Alquran, sehingga dengan sebab itu dada akan menjadi lapang dan hati akan menjadi bersinar”.

Imam al-Ghazali Rahimahullahu telah berkata, “Disunnahkan menangis tatkala membaca dan mendengarkan al-Qur`an. Hal itu bisa terjadi dengan cara menghadirkan rasa sedih dan takut di dalam kalbu. Merenungi kandungan ayat yang dibaca atau di dengarkan, baik berupa ancaman yang biasa sampai yang sangat keras atau ikatan-ikatan perjanjian seorang hamba dengan Rabbnya. Kemudian bandingkan dengan keteledoran dan kekurangan dirinya yang lalai terhadap hal-hal tersebut!. Namun jika kesedihan tidak hadir di dalam kalbu, maka hendaklah ia menangisi hilangnya kesedihan tersebut, karena itu merupakan musibah terbesar”.

  1. Mengamalkan

Mengamalkan berawal dari memahami ilmu-ilmunya serta berpegang teguh pada hukum-hukumnya, kemudian menyelaraskan hidup dan tingkah laku serta akhlaqnya, sebagaiman akhlaq Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam Al Qur`an.

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.  Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu.  Dan Allah tiada memberi petunjuk pada kaum yang dzalim”. (QS. Al Jumu’ah: 5)

Alangkah buruknya perumpamaan ini bagi mereka yang tidak mengamalkan ayat-ayat Allah (termasuk di dalamnya Al Qur’an), yaitu dengan perumpamaan keledai yang memikul kitab-kitab besar tetapi ia tidak mengerti apa yang ada di dalamnya.  Jadi bila manusia tidak mengamalkan Al Qur’an seperti keledai yang tidak merasakan selain beban bawaan tanpa dapat memanfaatkan apa yang dibawanya itu.

Wajib bagi setiap muslim untuk mengamalkan Al Quran, baik dalam perkara-perkara kecil dalam kehidupan individu maupun dalam perkara-perkara besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hukum Al Quran mutlak harus ditegakkan dalam setiap lini kehidupan kita.

Kita paham bahwa untuk beriltizam (komitmen) dalam memenuhi hak-hak al Quran dengan sempurna adalah perkara yang berat. Kewajiban ini bukanlah perkara yang mudah. Semua ini hanya bisa dilakukan dengan langkah yang bertahap. Dan tidak ada waktu terbaik untuk memulai tahapan demi tahapan tersebut selain hari ini. Ya, sekaranglah saat yang tepat untuk melalui tangga demi tangga tahapan demi memenuhi hak al Quran sebagai bukti keimanan kita terhadap Al Quran.

  1. Mendakwahkan Atau Mengajarkan Alquran

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik di antara kalian adalah yang belajar al-Qur`an dan mengajarkannya”. (HR. al-Bukhari)

Masih dalam hadits riwayat Al-Bukhari dari Utsman bin Affan, tetapi dalam redaksi yang agak berbeda, disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Dalam dua hadits di atas, terdapat dua amalan yang dapat membuat seorang muslim menjadi yang terbaik di antara saudara-saudaranya sesama muslim lainnya, yaitu belajar Al-Qur`an dan mengajarkan Al-Qur`an.  Tentu, baik belajar ataupun mengajar yang dapat membuat seseorang menjadi yang terbaik di sini, tidak bisa lepas dari keutamaan Al-Qur`an itu sendiri.  Al-Qur`an adalah kalam Allah, firman-firman-Nya yang diturunkan kepada Nabi-Nya melalui perantara Malaikat Jibril Alaihissalam. Al-Qur`an adalah sumber pertama dan acuan utama dalam ajaran Islam.  Karena keutamaan yang tinggi inilah, yang membuat Abu Abdirrahman As-Sulami –salah seorang yang meriwayatkan hadits ini– rela belajar dan mengajarkan Al-Qur`an sejak zaman Utsman bin Affan hingga masa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi.

Al Hafizh Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhailul Quran halaman 126-127 berkata: [Maksud dari sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkan kepada orang lain” adalah, bahwa ini sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.

Imam Nawawi Rahimahullahu berkata: Ada beberapa hal yang dapat dipetik dari hadis ini, di antaranya: sunat hukumnya mendengarkan bacaan Alquran, merenungi, dan menangis ketika mendengarnya, dan sunat hukumnya seseorang meminta kepada orang lain untuk membaca Al Quran agar dia mendengarkannya, dan cara ini lebih mantap untuk memahami dan mentadabburi Al Quran, dibandingkan dengan membaca sendiri.

Namun demikian, meskipun orang yang belajar Al-Qur`an adalah sebaik-baik orang muslim dan mengajarkan Al-Qur`an kepada orang lain juga sebaik-baik orang muslim, tentu akan lebih baik dan utama lagi jika orang tersebut menggabungkan keduanya. Maksudnya, orang tersebut belajar cara membaca Al-Qur`an sekaligus mengajarkan kepada orang lain apa yang telah dipelajarinya. Dan, dari hadits ini juga dapat dipahami, bahwa orang yang mengajar Al-Qur`an harus mengalami fase belajar terlebih dahulu. Dia harus sudah pernah belajar membaca Al-Qur`an sebelumnya. Sebab, orang yang belum pernah belajar membaca Al-Qur`an, tetapi dia berani mengajarkan Al-Qur`an kepada orang lain, maka apa yang diajarkannya akan banyak kesalahannya. Karena dia mengajarkan sesuatu yang tidak dia kuasai ilmunya.

  1. Menghafal

Sesungguhnya orang yang menghafal Al-Qur’an dan mengamalkan yang ada di dalamnya, Allah akan memberikan pahala yang besar. Dia akan mendapatkan kemuliaan yang tinggi, hingga akan naik derajatnya di surga sesuai dengan apa yang dibaca dengan tartil dari Kitabullah.

Telah diriwayatkan oleh Tirmidzi, 2914 dan Abu Daud, 1464 dari Abdullah bin Amr dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam  bersabda:

يقال لصاحب القرآن اقرأ وارتق ورتل كما كنت ترتل في الدنيا فإن منزلتك عند آخر آية تقرأ بها (والحديث صححه الألباني في السلسلة الصحيحة، 5/281 ، برقم 2240(

“Dikatakan kepada pemilik Al-Qur’an, bacalah dan mendakilah. Bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca secara tartil di dunia. Karena kedudukanmu di akhir ayat yang engkau baca.” (Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albany dalam As-silsilah As-Shahihah, 5/281 no. 2240)

Beliau berkomentar, “Ketahuilah bahwa maksud perkataan ‘Pemilik Al-Qur’an’ adalah orang yang hafal di luar kepada, sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam “Yang menjadi imam di suatu kaum adalah yang lebih banyak bacaannya terhadap Kitabullah”. Maksudnya yang paling banyak hafalannya.

Maka keutamaan derajat di surga sesuai dengan hafalan di dunia. Bukan sesuai dengan bacaan dan memperbanyak bacaan sebagaimana orang-orang mengiranya. Di dalamnya ada keutamaan yang jelas bagi penghafal Al-Qur’an. Akan tetapi dengan syarat menghafalnya karena Allah semata. Bukan karena dunia, dirham dan dinar. Kalau tidak, maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak akan bersabda, “Kebanyakan munafik dari ummatku adalah orang yang ahli membaca (Al-Qur’an).”

Dalam hal keutamaan penghafal Al-Qur’an, terdapat riwayat dari Bukhari, dari Aisyah dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مثل الذي يقرأ القرآن وهو حافظ له مع السفرة الكرام البررة ومثل الذي يقرأ وهو يتعاهده وهو عليه شديد فله أجران

“Perumpamaan yang membaca Al-Qur’an sementara dia menghafalkannya bersama para Malaikat. Sedangkan perumpamaan yang membaca Al-Qur’an sementara dia menjaganya dengan sungguh-sungguha maka dia mendapatkan dua pahala.”

Orang yang hafal Al-Qur’an akan dimudahkan baginya untuk qiyamul lail, sehingga ia bisa mendapatkan syafaat di hari kiamat. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة يقول الصيام أي رب إني منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه يقول القرآن رب منعته النوم بالليل فشفعني فيه فيشفعان (رواه أحمد والطبراني والحاكم ، وصححه الألباني في صحيح الجامع برقم : 3882(

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Tuhanku sesungguhnya aku menghalanginya dari makan dan syahwat pada siang hari, maka berikanlah syafaat kepadaku untuknya. Lalu Al-Qur’an berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menghalanginya dari tidur waktu malam hari, maka berikanlah syafaat kepadaku untuknya. Maka keduanya dapat memberikan syafaat.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani dan Hakim. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 3882)

Wallahu Ta’ala A’lam

 

 

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved