Follow us:

Jauh Sebelum Isaac Newton, Alquran Berikan Isyarat Ilmiah tentang Gravitasi Bumi

Ketika Isaac Newton menemukan hukum gravitasi dan membuktikan bahwa benda-benda dapat jatuh ke bumi atau tetap berada di atasnya karena pengaruh hukum tersebut.

Newton  juga membuktikan bahwa keteraturan benda-benda langit, termasuk posisi dan jarak antarbintang, tunduk pada hukum gravitasi.

Namun, Newton mengakui bahwa hukum tersebut belum mampu menjelaskan rahasia mengapa planet-planet berputar pada porosnya dan mengapa benda-benda langit bergerak dalam orbitnya.

Ia menyadari bahwa di balik keteraturan tersebut terdapat kekuasaan dan kebijaksanaan yang menyebabkan semua itu berlangsung.

Hal ini sejalan dengan apa yang telah diberitakan Alquran berabad-abad sebelumnya, pada saat manusia sama sekali belum memahami hakikat gravitasi.

Menurut Dr Muhammad Ash-Shalabi dalam Al-Mujizat al-Khali dah al-I’jaz al-‘Ilmi fi Al-Quran al-Karim Barahin Sathi’ah wa Adillah Qathi’ah, hal tersebut menjadi salah satu bukti kuat bahwa Alquran bukanlah perkataan manusia, melainkan firman Allah, Pencipta alam semesta dan Zat yang mengetahui seluruh rahasianya.

Allah SWT berfirman,

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ كِفَاتًا * أَحْيَاء وَأَمْوَاتًا

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai tempat berkumpul, bagi yang hidup dan yang mati?” (QS Al-Mursalat: 25–26).

Jika kita kembali kepada makna kata kifāt (كِفات) dalam bahasa Arab, kita akan menemukan bahwa kata tersebut berkaitan dengan makna menghimpun, merangkul, menahan, dan menarik.

Dalam bahasa Arab dikatakan kaffata asy-syai’a ilaihi yakfituhu, atau kaffatahu, apabila seseorang menghimpun, menahan, atau menarik sesuatu kepadanya.

Adapun kifāt adalah tempat sesuatu dihimpun atau ditampung; tempat sesuatu diletakkan, ditahan, dan dikumpulkan.

Dengan demikian, berbagai bentuk kata tersebut mengandung makna menghimpun, mengumpulkan, menahan, dan menarik.

Berdasarkan makna tersebut, ayat ini menunjukkan sebuah makna ilmiah yang sangat penting, yang menurut penulis baru diketahui manusia modern setelah melalui penelitian, pengamatan, dan perenungan yang panjang.

Yaitu adanya gaya gravitasi bumi yang menyebabkan manusia dapat tetap berada di permukaan bumi dan tertarik kepadanya.

Agar tidak ada yang mengira bahwa tarikan atau daya penghimpunan tersebut hanya berlaku ketika manusia telah meninggal dan dikuburkan di dalam bumi, ayat tersebut memberikan penjelasan yang bersifat umum: “bagi yang hidup dan yang mati.”

Artinya, bumi diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik manusia kepadanya ketika mereka masih hidup dan bergerak di permukaannya, dan ketika mereka telah meninggal lalu dikuburkan di dalam tanah.

Ketika kita membaca ayat ini dan memahami makna kebahasaan yang terkandung dalam kata kifāt, kita dapat melihat adanya kesesuaian dengan konsep gravitasi.

Jika kita juga menyadari bahwa konsep gravitasi dalam pengertian ilmiah modern belum dikenal pada masa Nabi Muhammad SAW, baik oleh bangsa Arab maupun bangsa-bangsa sebelumnya, serta bahwa hukum gravitasi baru dirumuskan secara ilmiah pada era modern melalui penelitian Isaac Newton, maka hal tersebut menjadi bagian dari argumentasi bahwa ayat ini tidak mungkin merupakan hasil pemikiran manusia.

Apabila kita melepaskan diri dari fanatisme dan hawa nafsu serta mendekati persoalan ini dengan logika dan penalaran yang objektif, kita akan memahami bahwa makna tersebut disampaikan pada masa ketika manusia belum mengetahui hakikat gravitasi sebagaimana yang dipahami dalam ilmu pengetahuan modern.

Dengan demikian, menurut penulis, ayat tersebut merupakan firman Zat Yang Mengetahui segala rahasia, mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi, dan menetapkan hukum-hukum yang mengatur alam semesta.

Ia merupakan firman Allah, sekaligus mukjizat Alquran yang tetap relevan sepanjang zaman, yang mengingatkan manusia bahwa Alquran berasal dari Allah SWT. (UYR/Republika)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved