Follow us:

Kerusakan Akhir Zaman

Hadits-hadits nabawi merupakan bagian dari aqidah islam. Dan peristiwa akhir zaman juga bagian dari keimanan kepada hari akhir. Kiamat serta hal-hal yang menyertainya, semuanya merupakan bagian dari keimanan yang mesti diimani oleh setiap muslim tanpa ada catatan.

Dari sekian banyak berita tentang akhir zaman ada sebuah hadits yang menceritakan dahsyatnya kerusakan manusia baik akalnya, perilaku maupun agamanya.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Hudzaifah, disaat banyak sahabat yang bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tentang hal-hal kebaikan. Akan tetapi beliau justru mengajukan pertanyaan tentang keburukan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Apa tujuan beliau? Supaya beliau bisa menghindarinya. Lengkap haditsnya sebagai berikut;

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiallahu Anhu beliau berkata: “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku”.

Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita dulu berada dalam kejahiliyahan dan kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini (maksudnya Islam), apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, “Ya.”

Lalu apakah setelah keburukan itu akan datang lagi kebaikan?” tanya Hudzaifah kembali. “Ya, dan di dalamnya ada kerusakan yang tersembunyi.”

“Apa kerusakan yang tersembunyi itu wahai Rasulullah?” “Orang-orang yang menunjuki tanpa petunjuk yang benar, ada hal yang engkau terima dari mereka dan ada pula yang engkau ingkari.”

“Apakah setelah kebaikan itu ada lagi keburukan?” “Ya orang-orang yang berdakwah di pintu-pintu Jahannam, siapa yang menyambut seruan mereka akan mereka lemparkan ke dalamnya.”

“Ya Rasulullah, terangkanlah mereka kepada kami”. “Mereka juga dari bangsa kita dan berbicara memakai bahasa kita”.

“Apa yang engkau wasiatkan kepadaku andaikan aku mendapat masa itu?” “Berpegang teguh dengan jamaah muslimin dan pemimpin mereka.”

“Andaikan mereka tidak punya jamaah dan pemimpin?” “Jauhi semua kelompok itu walaupun untuk itu engkau akan berpegangan pada akar pohon sampai kematian menjemput dan engkau tetap dalam keadaan demikian”. (HR. Bukhari-Muslim dan lainnya)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutnya dengan “Dakhanun”. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari XIII/36 mengartikannya dengan hiqd (kedengkian), atau daghal (pengkhianatan dan makar), atau fasadul qalb (kerusakan hati). Semua itu mengisyaratkan bahwa kebaikan yang datang setelah keburukan tersebut tidak murni, akan tetapi keruh. Dan Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim XII/236-237, mengutip perkataan Abu ‘Ubaid yang menyatakan bahwa arti dakhanun adalah seperti yang disebut dalam hadits lain, “Tidak kembalinya hati pada fungsi aslinya”. (Riwayat Abu Dawud)

Sedangkan makna aslinya adalah apabila warna kulit binatang itu keruh/suram. Maka seakan-akan mengisyaratkan bahwa hati mereka tidak bening dan tidak mampu membersihkan antara yang satu dengan yang lain. Kemudian berkata Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah XV/15: Bahwa sabda beliau: “Dan di dalamnya ada Dakhanun, yakni tidak ada kebaikan murni, akan tetapi di dalamnya ada kekeruhan dan kegelapan”. Adapun Al ‘Adzimul Abadi dalam ‘Aunul Ma’bud XI/316 menukil perkataan Al Qari yang berkata: “Asal kata dakhanun adalah kadurah (kekeruhan) dan warna yang mendekati hitam. Maka hal ini mengisyaratkan bahwa kebaikan tersebut tercemar oleh kerusakan (fasad)”.

Kita menekankan pembahasan kali ini pada istilah “kebaikan yang keruh/tercemar”. Apa maksudnya? Masih ada kebaikan, namun sudah berasap. Manusia yang hidup pada zaman itu, tidak menjadikan islam sebagai pandangan hidupnya dan tidak berpedoman kepada sunnah Rasulullah. Jika dikatakan sunnah Rasul maka maksudnya adalah pola hidup nabi sehari semalam.

Umat pada zaman tersebut tidak menjadikan islam sebagai pedoman hidup. Baik dalam peraturan perundangannya, berbisnis, jual beli, pendidikan, pernikahan dan sebagainya sudah tidak lagi mengikuti tata cara yang disunnahkan Rasul. Tidak mau tunduk lagi kepada sunnah dan petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Mereka hanya mengambil bagian tertentu saja seperti dalam hal ibadah. Namun melepas bagian-bagian lainnya. Pendidikannya sekuler, jual belinya dengan riba, ideology ke barat-baratan, politik dengan system demokrasi dan sekulerisme, ekonominya berbasis liberal. Menolak agama untuk mengatur urusan Negara, inilah yang kita sebut dengan sekuler. Mereka tidak suka jika islam mengurus pemerintahan. Sebab, mereka akan terdesak. Karena semuanya mengacu kepada aturan Allah. Itulah fungsi dari seorang kepala Negara dalam islam yaitu mengawal agama dan mengatur dunia.

Metode berfikir juga kebarat-baratan. Kata mereka “seorang cukup menjadi baik, meskipun tidak shalat dan beribadah”. Inilah yang disebut dengan paham Humanis. Memang dalam berinteraksi dengan sesama manusia baik, suka membantu orang, tapi tidak jelas agamanya. Dalam islam, hal ini ditolak karena islam tidak memisahkan antara dunia dengan akhirat.

Di zaman ini, kehidupan umat mengekor ke barat. Sampai hari raya orang barat juga diikuti. Seperti merayakan tahun baru dengan meniupkan terompet, menyalakan petasan dan sebagainya. Jadi, apa saja yang muncul di barat akan dicontoh. Dari model pakaian, gaya hidup, model pernikahan, perhiasan dan sebagainya diikuti. Bahkan mereka bangga jika bisa hidup ke barat-baratan tanpa berpikir terlebih dahulu.

Sehingga umat islam kehilangan identitas sebagai muslim. Dan akhirnya sulit membedakan antara siapa yang harus dipilih menjadi pemimpin. Mereka tenggelam dengan berita media yang menghanyutkan. Apa kata media “tidak peduli apa agamanya, yang penting kinerjanya bagus”. Padahal dalam islam, kriteria pertama dalam memilih pemimpin adalah agama.

Kebalikan dari umat yang hidup pada zaman nabi, mereka berislam dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pola hidup mereka di atur dan sesuai dengan islam.

Dan sesungguhnya penanam racun yang keji dan menjalar di kalangan umat ini tidak lain adalah oknum-oknum dari dalam sendiri. Seperti yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Mereka adalah dari kalangan bangsa kita dan berbahasa dengan bahasa kita”.

Berkata Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari XIII/36: “Yakni dari kaum kita, berbahasa seperti kita dan beragama dengan agama kita. Ini mengisyaratkan bahwa mereka adalah bangsa Arab”. Sedangkan Al Qabisi menyatakan -seperti dinukil oleh Ibnu Hajar- secara lahir maknanya adalah bahwa mereka adalah pemeluk dien (agama) kita, akan tetapi batinnya menyelisihi. Dan kulit sesuatu adalah lahirnya, yang pada hakikatnya berarti penutup badan. Mereka mempunyai sifat seperti yang dikatakan dalam hadits riwayat Muslim yang artinya “Akan ada di kalangan mereka orang yang berhati iblis dengan jasad manusia” (Riwayat Muslim)

Yakni mereka memberikan harapan-harapan kepada manusia berupa pembangunan, kepemimpinan)  dan kemerdekaan dan kebebasan, dan umat merasa suka dengan propaganda mereka. Untuk itu mereka mengadakan pertemuan-pertemuan, muktamar-muktamar dan diskusi-diskusi. Oleh sebab itu mereka diberi predikat sebagai dai atau du’at -dengan dlamah pada huruf dal- merupakan bentuk jamak dari da’a yang berarti sekumpulan orang yang melazimi suatu perkara dan mengajak serta menghasung manusia untuk menerimanya. (Lihat ‘Aunul Ma’bud XI/317).

Rasulullah bersabda: “Orang-orang yang menyeru di pintu-pintu Jahannam, siapa saja orang yang menerima seruan mereka, maka mereka melemparkannya ke Jahannam”. Nabi menyifati mereka dengan zalim, batil, dan menyalahi sunnahnya, karena mereka tidak akan menjadi para penyeru di pintu-pintu Jahannam, kecuali ketika mereka berada di atas kesesatan. (Syarh Ibnu Baththal, 19/39).

Dengan apa mereka menyeru ke neraka Jahannam? Dengan berbagai media, baik surat kabar, internet dan khususnya televisi. Sebab rata-rata isi televisi adalah sama yaitu lepaskan agama pelan-pelan, hiduplah kamu mengikuti hawa nafsu, permisivisme, seks bebas, ekonomi liberal, politik yang lepas dari akar agama, kampanye pendidikan sekuler, dan kesenangan dunia. Jika kita renungkan, maka inilah pesan semua TV.

Isi kepala mereka adalah merusak kehidupan. Karena mereka berideologi tidak dari ideology islam. Dan semua ideology diluar islam itu rusak dan batil.

Jalan Penyelesaiannya

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah memerintahkan kepada Hudzaifah untuk menjauhi semua firqah yang menyeru dan menjerumuskan ke neraka Jahanam, dan supaya memegang erat-erat pokok pohon hingga ajal menjemputnya sedangkan ia tetap dalam keadaan seperti itu. Dari pernyataan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

Pertama, bahwa pernyataan itu mengandung perintah untuk melazimi Al Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih. Hal ini seperti yang diisyaratkan dalam hadits riwayat ‘Irbadh Ibnu Sariyah yang artinya “Barang siapa yang masih hidup di antara kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan barang siapa yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya)

Jika kita menggabungkan kedua hadits tersebut, yakni hadits Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiallahu Anhu yang berisi perintah untuk memegang pokok-pokok pohon dengan hadits ‘Irbadh ini, maka terlihat makna yang sangat dalam. Yaitu perintah untuk ber-iltizam pada As-Sunnah An-Nabawiyah dengan pemahaman Salafus Shalih manakala muncul firqah-firqah sesat dan hilangnya Jamaah Muslimin serta Imamnya.

Kedua, di sini ditunjukkan pula bahwa lafadz (an ta’adhdha bi ashli syajarah) dalam hadits Hudzaifah tersebut tidak dapat diartikan secara zhahir hadits. Tetapi maknanya adalah perintah untuk berpegang teguh, dan bersabar dalam memegang Al-Haq serta menjauhi firqah-firqah sesat yang menyaingi Al-Haq. Atau bermakna bahwa pohon Islam yang rimbun tersebut akan ditiup badai topan hingga mematahkan cabang-cabangnya dan tidak tinggal kecuali pokok pohonnya saja yang kokoh. Oleh karena itu, maka wajib setiap muslim untuk berada di bawah asuhan pokok pohon ini walaupun harus ditebus dengan jiwa dan harta. Karena badai topan itu akan datang lagi lebih dahsyat.

Ketiga, oleh karena itu menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengulurkan tangannya kepada kelompok (firqah) yang berpegang teguh dengan pokok pohon itu untuk menghadapi kembalinya fitnah dan bahaya bala. Kelompok ini seperti disabdakan beliau Shallallahu Alaihi Wasallam akan selalu ada dan akan selalu muncul untuk menyokong kebenaran hingga yang terakhir dibunuh Dajjal.

Ini semuanya adalah gambaran dari Rasulullah yang bertujuan memberikan pengetahuan apa yang akan terjadi di akhir zaman. Agar bisa mempersiapkan diri, berjaga-jaga serta memetakan kondisinya sedang berada di zaman apa dan lebih dekat ke mana. Namun nampaknya tidak akan keluar dari dua keadaan terakhir. Yaitu kebaikan yang sudah keruh atau tercemar, atau keadaan dimana banyak penyeru ke neraka Jahannam. Na’udzu billahi min dzalik…

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh:Ustadz Daud Rasyid, MA.

(Hud/DARUSSALAM.ID)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved