Follow us:

Kesungguhan Menjemput Petunjuk Allah

Ada masa ketika seseorang telah berdoa, belajar, dan berusaha, tetapi jalan di hadapannya masih tampak berkabut. Ia ingin memperoleh kepastian sebelum melangkah, sedangkan kepastian itu justru sering datang setelah langkah pertama diambil.

Penutup Surah Al-Ankabut menghadirkan janji yang menenteramkan: kesungguhan yang diarahkan kepada Allah tidak akan dibiarkan tersesat tanpa petunjuk. Ayat ini bukan janji bahwa setiap keinginan pasti terpenuhi sesuai rancangan manusia, melainkan jaminan bahwa orang yang bersungguh-sungguh mencari keridaan-Nya akan dituntun menuju jalan yang benar.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Wallażīna jāhadū fīnā lanahdiyannahum subulanā, wa innallāha lama‘al-muḥsinīn.

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh demi mencari keridaan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”

Pengerahan Kemampuan

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa frasa “orang-orang yang berjihad pada jalan Kami” mencakup Rasulullah SAW, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka hingga hari kiamat. Kata jāhadū di sini menunjukkan pengerahan kemampuan dan kesungguhan demi Allah, bukan usaha yang diarahkan untuk memenuhi kesombongan, ambisi pribadi, atau memperoleh pujian manusia.

Ada perbedaan besar antara bersungguh-sungguh karena Allah dan sekadar bekerja keras. Seseorang dapat bekerja tanpa mengenal lelah, tetapi apabila seluruh tujuannya hanya kehormatan diri, kekuasaan, atau pengakuan, kesungguhannya belum tentu termasuk dalam makna “fīnā”, demi Kami, yang disebutkan ayat tersebut.

Kesungguhan dalam ayat ini harus memiliki arah. Seorang hamba berjuang untuk mempertahankan iman, mempelajari kebenaran, mengamalkan ilmu, meninggalkan larangan, memperbaiki akhlak, menunaikan amanah, dan melawan dorongan diri yang menjauhkannya dari keridaan Allah. Dengan demikian, jihad dalam ayat tidak selayaknya otomatis dipersempit hanya menjadi pertempuran bersenjata. Makna dasarnya ialah mengerahkan kemampuan dalam jalan ketaatan dan mencari keridaan-Nya.

Ibnu Katsir kemudian menerangkan frasa “Kami benar-benar akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” dengan makna bahwa Allah akan memperlihatkan kepada mereka jalan-jalan-Nya di dunia dan di akhirat. Kata subulanā berbentuk jamak, “jalan-jalan Kami”, memberikan ruang makna yang luas. Petunjuk Allah dapat hadir dalam bentuk kemampuan membedakan yang benar dan keliru, keteguhan menjalankan kebaikan, jalan keluar dari kebingungan, pertemuan dengan guru yang baik, terbukanya ilmu, atau kekuatan untuk meninggalkan sesuatu yang selama ini mengikat hati.

Petunjuk itu tidak selalu berarti hidup menjadi mudah. Terkadang Allah menunjukkan jalan yang benar justru melalui keputusan yang berat. Ada pekerjaan yang harus ditinggalkan karena tidak halal, hubungan yang perlu dijaga batasnya, kesalahan yang harus diakui, atau kebiasaan yang mesti dilawan berulang kali. Jalannya mungkin menanjak, tetapi arahnya menjadi jelas.

Ibnu Katsir juga menukil sebuah riwayat melalui Ibnu Abi Hatim dari Al-Abbas al-Hamdani. Menurut riwayat tersebut, orang yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya akan diberi petunjuk kepada pengetahuan yang sebelumnya belum ia ketahui. Perkataan ini bukan hadis Nabi SAW, melainkan penjelasan seorang ulama yang dikutip dalam rangka menafsirkan ayat.

Pesannya sangat lembut sekaligus menegur. Kita kerap menunggu memahami seluruh persoalan sebelum mulai taat. Kita ingin semua pertanyaan terjawab sebelum mengamalkan satu kebenaran yang telah jelas. Padahal, boleh jadi ilmu berikutnya baru dibukakan setelah ilmu pertama diamalkan.

Seseorang yang telah mengetahui kewajiban shalat tidak perlu menunggu seluruh persoalan hidupnya selesai untuk memperbaiki shalat. Orang yang mengetahui bahwa perkataannya melukai orang lain tidak perlu menanti menjadi ahli akhlak untuk mulai menjaga lisan. Orang yang memahami bahwa rezekinya tercampur sesuatu yang meragukan tidak harus menunggu kaya untuk mulai membersihkannya.

Ayat ini mengajari kita bahwa amal dan petunjuk bukan dua hal yang selalu datang secara terpisah. Amal yang tulus dapat menjadi pintu bagi petunjuk berikutnya, tentu bukan karena manusia berhak menuntut balasan kepada Allah, melainkan karena Allah sendiri yang menjanjikan bimbingan tersebut.

Kesungguhan yang Berujung pada Ihsan

Ayat ini tidak berhenti pada janji petunjuk. Allah menutupnya dengan firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”

Ibnu Katsir mengaitkan kata al-muḥsinīn dengan hadis Jibril tentang ihsan. Ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai ihsan, beliau menjelaskan bahwa ihsan ialah menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya; apabila seseorang tidak mampu mencapai keadaan itu, ia menyadari bahwa Allah senantiasa melihatnya. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih Muslim.

Kesungguhan yang dikehendaki ayat ini, dengan demikian, bukan kegigihan yang kasar dan kehilangan adab. Ia bergerak menuju ihsan: melakukan sesuatu sebaik-baiknya karena merasa berada dalam pengawasan Allah.

Orang yang bersungguh-sungguh di jalan Allah tidak hanya bertanya, “Apakah pekerjaan ini selesai?” Ia juga bertanya, “Apakah cara saya menyelesaikannya diridai Allah?” Ia tidak hanya mengejar keberhasilan yang terlihat, tetapi menjaga kejujuran, niat, dan hak orang lain selama perjalanan.

Di sinilah ayat tersebut mempertemukan tiga perkara: usaha, petunjuk, dan ihsan. Manusia mengerahkan kemampuannya; Allah membukakan jalan; lalu manusia menempuh jalan itu dengan kesadaran bahwa Allah melihatnya.

Diterangi Sekaligus

Petunjuk kadang menyerupai jalan setapak di tengah malam. Kita berharap seluruh jalan diterangi sekaligus sampai ke tujuan. Namun, yang diberikan kepada kita mungkin hanya cahaya kecil yang cukup untuk melihat satu atau dua langkah ke depan.

Cahaya itu tidak memperlihatkan seluruh perjalanan, tetapi cukup untuk membuat kita tidak diam. Setelah satu langkah diambil, bagian jalan berikutnya mulai terlihat.

Begitu pula seorang petani. Ia tidak membelah biji setiap pagi untuk memastikan tunas telah tumbuh. Ia menggemburkan tanah, menanam, menyiram, dan menjaga kebun dengan sabar. Pertumbuhan berlangsung dalam wilayah yang tidak seluruhnya dapat ia lihat.

Kesungguhan seorang hamba adalah menanam dan merawat. Adapun membukakan tunas, menurunkan hujan, dan menghidupkan tanah merupakan kuasa Allah.

Menggerakkan Kaki

Mungkin selama ini kita terlalu lama meminta jalan yang terang, tetapi belum bersedia menggerakkan kaki. Kita menunggu hati sepenuhnya ikhlas sebelum berbuat baik, menunggu hidup tenang sebelum mendekat kepada Allah, atau menunggu diri sempurna sebelum meninggalkan kesalahan.

Surah Al-Ankabut ayat 69 tidak meminta kita mengetahui seluruh jalan. Ia mengajak kita bersungguh-sungguh menempuh bagian jalan yang telah Allah perlihatkan.

Pertanyaannya bukan hanya, “Mengapa petunjuk belum datang?” Barangkali kita juga perlu bertanya dengan jujur: kebenaran apa yang sebenarnya telah kita ketahui, tetapi belum sungguh-sungguh kita jalankan?

Semoga Allah menjadikan usaha kecil kita sebagai langkah menuju jalan-jalan-Nya, bukan karena usaha itu besar, melainkan karena rahmat dan petunjuk-Nya jauh lebih besar. (UYR/Republika)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved