Follow us:

Kisah Sedekah untuk Pezina, Orang Kaya, dan Pencuri, Serta Hikmah Tersembunyi di Dalamnya

Tidak sedikit orang yang mengurungkan niat bersedekah karena dihantui satu kekhawatiran yakni bagaimana jika bantuan yang diberikan ternyata jatuh ke tangan orang yang tidak berhak?

Kekhawatiran itu wajar. Ada yang takut uangnya dipakai untuk maksiat, ada pula yang cemas sedekahnya diberikan kepada orang yang sebenarnya mampu.

Namun, sebuah hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim menghadirkan pelajaran yang menenangkan hati setiap Muslim: Allah tidak menyia-nyiakan amal yang dilakukan dengan niat tulus dan ikhlas.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال : قال رجل : لأتصدقنّ بصدقة، فخرج بصدقته فوضعها في يد سارق، فأصبحوا يتحدثون : تُصُدِّق على سارق، فقال : اللهم لك الحمد !، لأتصدقنّ بصدقة، فخرج بصدقته فوضعها في يدي زانية، فأصبحوا يتحدثون : تُصُدِّق الليلة على زانية، فقال : اللهم لك الحمد على زانية !، لأتصدقنّ بصدقة، فخرج بصدقته فوضعها في يدي غني، فأصبحوا يتحدثون : تُصُدِّق على غني، فقال : اللهم لك الحمد على سارق وعلى زانية وعلى غني !، فأُتي فقيل له : أما صدقتك على سارق، فلعله أن يستعف عن سرقته، وأما الزانية، فلعلها أن تستعف عن زناها، وأما الغني، فلعله يعتبر فينفق مما أعطاه الله

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang laki-laki berkata, ‘Sungguh, malam ini aku akan bersedekah.’ Ia pun keluar membawa sedekahnya, lalu memberikannya kepada seorang pencuri. Keesokan harinya orang-orang membicarakan, ‘Sedekah diberikan kepada seorang pencuri.’ Laki-laki itu berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Aku akan bersedekah lagi.’

Ia kembali keluar membawa sedekahnya, lalu memberikannya kepada seorang perempuan pezina. Keesokan harinya orang-orang membicarakan, ‘Tadi malam seseorang bersedekah kepada seorang perempuan pezina.’ Ia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas seorang perempuan pezina. Aku akan bersedekah lagi.’

Untuk ketiga kalinya ia keluar membawa sedekahnya, lalu sedekah itu diberikan kepada seorang kaya. Keesokan harinya orang-orang kembali membicarakan, ‘Sedekah diberikan kepada orang kaya.’ Ia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas sedekah yang diberikan kepada pencuri, perempuan pezina, dan orang kaya.’

Kemudian ia didatangi seseorang dan dikatakan kepadanya, ‘Adapun sedekahmu kepada pencuri, mudah-mudahan dengan itu ia menahan diri dari mencuri. Adapun sedekahmu kepada perempuan pezina, mudah-mudahan ia menahan diri dari perbuatan zina.

Sedangkan sedekahmu kepada orang kaya, mudah-mudahan ia mengambil pelajaran sehingga mau menginfakkan sebagian dari apa yang telah Allah karuniakan kepadanya.’” (HR Bukhari dan Muslim)

Pelajaran paling utama dari kisah ini adalah pentingnya keikhlasan. Dalam Islam, nilai sebuah amal tidak hanya diukur dari hasil yang terlihat, tetapi juga dari niat yang menggerakkannya. Rasulullah SAW bersabda:

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى

“Sesungguhnya setiap amal bergantung kepada niat, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Laki-laki dalam hadis tersebut telah berusaha memberikan sedekah dengan niat yang benar. Ia keluar pada malam hari agar tidak diketahui manusia.

Tidak ada keinginan untuk dipuji, disanjung, ataupun disebut sebagai dermawan. Yang ia cari hanyalah keridaan Allah.

Karena itulah, meskipun secara lahiriah sedekahnya tampak salah sasaran, Allah tetap menerima amal tersebut dan bahkan menjadikannya sebagai sebab datangnya kemungkinan kebaikan bagi orang lain.

Meski demikian, hadis ini tidak berarti seorang Muslim bebas memberikan sedekah tanpa mempertimbangkan siapa penerimanya.

Islam tetap mengajarkan agar kita berusaha menyalurkan zakat, infak, maupun sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan.

Meneliti kondisi penerima, memilih lembaga yang amanah, serta memastikan bantuan sampai kepada yang berhak merupakan bentuk ikhtiar yang dianjurkan.

Yang ditekankan oleh hadis ini adalah jangan sampai rasa takut salah sasaran justru membuat seseorang enggan bersedekah sama sekali.

Jangan pula berlebihan dalam mencurigai setiap orang yang meminta bantuan hingga akhirnya pintu kebaikan tertutup rapat. Tugas manusia adalah berikhtiar sebaik mungkin, sedangkan hasil akhirnya diserahkan kepada Allah Ta’ala.

Ada satu hikmah yang sangat indah dari hadis ini. Kebaikan yang dilakukan seseorang terkadang menjadi sebab berubahnya kehidupan orang lain, meskipun ia sendiri tidak pernah menyaksikan perubahan itu.

Pencuri mungkin tersentuh oleh kemurahan hati seseorang hingga memilih meninggalkan pekerjaannya yang haram.

Perempuan pezina mungkin menyadari bahwa masih ada kasih sayang dan kebaikan di dunia, lalu bertobat kepada Allah SWT.

Sementara orang kaya yang menerima sedekah bisa jadi merasa malu karena dirinya justru diberi, sehingga hatinya tergerak untuk menjadi dermawan.

Semua itu menunjukkan bahwa Allah mampu menjadikan satu amal kecil sebagai pintu lahirnya perubahan besar. Seorang hamba tidak pernah tahu dari mana hidayah datang.

Karena itu, jangan meremehkan satu sedekah, satu senyuman, atau satu pertolongan yang diberikan dengan tulus.

Bisa jadi, di mata manusia perbuatan itu tampak sederhana, tetapi di sisi Allah ia menjadi sebab terbukanya jalan kebaikan bagi banyak orang.

Hal lain yang sangat mengesankan dari kisah ini adalah sikap laki-laki saleh tersebut dalam menghadapi kekecewaan. Tiga kali harapannya tidak sesuai kenyataan. Tiga kali pula ia tetap mengucapkan hamdalah.

Ia tidak berkata, “Mengapa sedekahku selalu gagal?” Ia juga tidak berhenti berbuat baik karena merasa amalnya sia-sia. Justru setiap ujian dihadapinya dengan kalimat yang sama: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu.”

Inilah gambaran seorang mukmin yang memiliki keyakinan kuat kepada qadha dan qadar Allah. Ia memahami bahwa tidak semua yang tampak buruk benar-benar buruk, dan tidak semua yang tampak berhasil merupakan keberhasilan sesungguhnya.

Allah SWT memiliki hikmah yang jauh melampaui pandangan manusia. Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa seorang Mukmin senantiasa memuji Allah dalam berbagai keadaan.

Ketika memperoleh nikmat ia bersyukur, ketika diuji ia bersabar, dan dalam setiap keadaan ia tetap menjaga husnuzan kepada Rabb-nya.

Kisah ini menjadi pengingat bagi siapa saja yang sedang ragu untuk berbagi. Jangan biarkan kekhawatiran membuat tangan menjadi kikir dan hati kehilangan semangat berbuat baik. Bersedekahlah dengan niat yang ikhlas. Berusahalah memilih penerima yang tepat.

Salurkan bantuan melalui jalan yang amanah. Namun setelah semua ikhtiar dilakukan, jangan bebani hati dengan sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia. Sebab, kita hanya menanam kebaikan, sedangkan Allah yang menumbuhkan buahnya.

Boleh jadi sedekah yang kita berikan hari ini menjadi alasan seseorang meninggalkan dosa. Boleh jadi bantuan sederhana menjadi titik awal seseorang kembali mendekat kepada Allah SWT.

Bahkan bisa jadi, orang yang semula tampak tidak membutuhkan justru mendapatkan pelajaran berharga untuk menjadi hamba yang gemar memberi.

Pada akhirnya, yang sampai kepada Allah bukan sekadar harta yang keluar dari tangan, melainkan keikhlasan yang tumbuh dari dalam hati.

Sebagaimana firman dan petunjuk Rasul-Nya, amal yang dilakukan dengan niat tulus tidak akan pernah hilang nilainya di sisi Allah, meskipun manusia tidak selalu melihat hikmah yang tersembunyi di baliknya. Wallahu a’lam bish-shawab. (UYR/Republika)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved