Marhaban, Ya Syahra Ramadan!
Sepekan lagi umat Islam seantero bumi menyambut datangnya Ramadan, suatu bulan dalam kalender Hijriah yang sangat diagungkan, melebihi 11 bulan lainnya, karena memiliki keistimewaan. Pada bulan Ramadan (jalan menuju) pintu surga dibuka lebar, (jalan menuju) pintu neraka ditutup rapat, dan (bisikan) setan (yang mengajak kepada kemaksiatan) dibelenggu. Salah satu malam di bulan Ramadan yang penuh misteri dinobatkan sebagai malam yang memiliki kadar lebih baik dari 1000 bulan (83 tahun). Setiap mukmin hendaknya terdorong untuk meraih malam tersebut. Itulah Lailatul Qadr.
Pada bulan ini ada kewajiban berpuasa sebulan lamanya, suatu kewajiban yang tidak dijumpai pada bulan lainnya. “Barang siapa yang berpuasa karena iman dan mengharap rida-Nya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (H.R. Bukhari dan Muslim). Selain itu dianjurkan untuk memperbanyak ibadah: shalat malam (taraweh, tahajjud, dan witir), membaca al-Qur’an, berzikir, dan bersedekah. “Barang siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan sunah di bulan Ramadan, akan meraih pahala seperti mengerjakan amalan wajib di selain Ramadan; dan siapa yang mengerjakan amalan wajib di bulan ini akan meraih pahala seperti mengerjakan 70 kali amalan wajib selain di bulan ini” (H.R Al-Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah). Karena keistimewaannya, umat Islam diserukan untuk menyambut kedatangannya dengan antusias, layaknya menyambut kedatangan tamu agung.
Secara personal, setiap mukmin mempersiapkan diri baik mental, spiritual, maupun emosional agar dapat mengisi hari-hari selama Ramadan dengan sebaik mungkin. Bahkan ditanamkan tekad dalam diri setiap mukmin agar Ramadan kali ini menjadi pengalaman Ramadan terbaik sepanjang hidupnya. Jika seandainya Tuhan tidak memanjangkan umur sampai di Ramadan berikutnya, maka pengalaman Ramadan terbaik dengan perolehan manfaat terbaik telah diraihnya. Intinya adalah jangan pernah menyia-nyiakan keistimewaan Ramadan.
Secara komunal, khususnya di Indonesia, penyambutan Ramadan diadakan di hampir semua komunitas di masjid, mushalla, majelis taklim, sekolah/madrasah, pesantren, bahkan perkantoran. Dimulai dari membersihkan perlengkapan dan peralatan tempat ibadah, merancang kegiatan keagamaan, sampai pembentukan panitia pengumpulan zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Tidak terkecuali media informasi dan hiburan, seperti radio siaran dan televisi menyesuaikan diri dengan suasana Ramadan. Suasana yang tercipta seperti ini tentu semakin menambah semangat dan mempertebal kesiapan mental personal.
Pemerintah tidak tinggal diam. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, melalui kewenangannya, pemerintah memberlakukan peraturan khusus jam kantor selama Ramadan dengan mengurangi jam kerja dari 7,5 jam per hari (07.30-16.00) menjadi 6 jam per hari (08.00-15.00). Kebijakan ini untuk mengurangi beban kerja sekaligus memberikan kesempatan pekerja dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk beribadah bersama dengan keluarga dan orang yang dikasihinya.
Takwa: The Ultimate Goal
Puasa (Arab: al-shiyam, al-shaum) berarti menahan diri dari (al-imsâk ‘an). Setiap tindakan menahan diri dari sesuatu itulah makna asal puasa. Maka seseorang yang mampu menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual dari waktu fajar sampai terbenam matahari disertai dengan niat telah memenuhi terminologi puasa dalam Fiqh. Menahan diri menjadi substansi ibadah puasa.
Tentu saja puasa tidak cukup hanya kemampuan menahan diri dari kebutuhan biologis. Lebih dari itu, puasa menuntut kesanggupan untuk menahan diri dari hawa nafsu, ego, amarah, angkara murka, kesenangan sesaat, dan kepentingan jangka pendek. Kemampuan untuk mengendalikan diri dari segala kenikmatan sesaat itulah puncak keberhasilan berpuasa. Oleh karena itu, ketika berpuasa baru sebatas menahan lapar dan haus, sebenarnya dia belum berpuasa, “Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya selain rasa lapar dan haus”. (H.R Ad-Darimi dari Abu Hurairah). Jadi, puasa adalah ketika seseorang mampu menundukkan egonya di bawah bimbingan nurani. Inilah puncak tujuan berpuasa yang seharusnya dicapai oleh setiap mukmin.
Keberhasilan seorang kapten kapal tidak hanya ditandai dengan sandarnya kapal di dermaga tujuan. Kepiawaiannya menaklukkan gelombang ombak dan badai serta menciptakan rasa aman dan nyaman selama pelayaran sehingga semua penumpang tetap sehat dan hati bergembira sesampainya di tujuan menjadi indikator kesuksesan. Demikian pula kadar kualitas diri dalam pergaulan inter-personal maupun pergaulan sosial dan profesional banyak dipengaruhi seberapa kemampuan seseorang membawakan dan mengendalikan diri. Kegagalan mengelola diri yang didorong oleh keinginan memperturutkan ego menjadi awal munculnya perselisihan dalam interaksi inter-personal.
Berbicara, bersikap dan bertindak adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh negara. Akan tetapi, seseorang yang memiliki kemampuan untuk menggunakan hak tersebut dengan bijak, tidak berlebihan, tidak melanggar hak orang lain itulah kesadaran. Ketika kesadaran tersebut dimaksudkan untuk menghargai sesama, itulah kedewasaan. Ketika kedewasaan itu dilakukan untuk mencegah terjadinya permusuhan dan menciptakan harmoni itulah kearifan. Itulah substansi puasa, yaitu mendidik pribadi agar memiliki kearifan, suatu kemampuan untuk mengenal diri dan lingkungannya melalui tindakan nyata untuk menahan diri dari ucapan, sikap, tindakan dan perbuatan yang tidak perlu.
Disebutkan di dalam al-Qur’an bahwa tujuan mukmin diperintahkan berpuasa agar mereka menjadi orang yang bertakwa (Q.S al-Baqarah/2: 183). Takwa merupakan kadar kesadaran spiritual tingkat tinggi seorang mukmin yang mampu menghadirkan Tuhan dalam setiap pergerakan hati (niat, prasangka), kepala (pikiran), lidah (ucapan), dan tangan (perbuatan)-nya. Dengan kesadaran spiritual seperti ini, mukmin yang bertakwa (muttaqiy) selalu dalam kewaspadaan dan mawas diri sehingga terjaga dari keburukan dan kesalahan yang tidak perlu dalam interaksi inter-personal maupun pergaulan sosial dan profesional. Oleh karena itu, Tuhan memandangnya sebagai pribadi yang paling mulia, walaupun dalam pandangan mata manusia mungkin dia dianggap biasa saja, inna akramakum ‘inda Allahi atqâkum (Q.S. al-Hujurat/49: 13).
Dampak nyata yang ditimbulkan oleh puasa tidak hanya kesalehan individual, tetapi juga sosial. Sebulan berpuasa menempa fisik, mental, dan spiritual dengan membatasi diri dari mengkonsumsi kebutuhan biologis secara berlebihan, dengan mengendalikan emosi dan ego agar tidak melampaui batas, serta dengan mengasah ketajaman akal, pikiran, dan nurani dengan banyak berzikir, bermunajat, dan berefleksi menjadikan pribadi seperti terlahir kembali dengan kepekaan sosial yang tinggi. Setiap individu menjadi tercerahkan, merasakan keindahan hidup dalam kedamaian serta saling menghargai dan mengasihi. Hidup serasa dalam dekapan Tuhan.
Itulah sebabnya, setelah menjelaskan tentang kewajiban dan tata cara berpuasa serta keutamaan Ramadan, Allah memungkasi firman-Nya dengan pernyataan retoris, “Dan apabila hamba-hamba-Ku (yang berpuasa, red.) bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat.” (Q.S. al-Baqarah/2: 186). Kehadiran Allah yang begitu dekat dirasakan oleh setiap mukmin yang muttaqy melahirkan kedamaian hidup dan perilaku terpuji. Jika kesalehan inidividual ini diraih oleh setiap mukmin, maka yang tercipta adalah tatanan sosial yang diidamkan oleh setiap individu. Insyaallah.
Selamat berpuasa. Mari berpuasa, mari mengendalikan ego kita.
Penulis: Syafi’i (Inspektur III, Inspektorat Jenderal). (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments