Masjid Biru, Kala Sultan Ahmet Membangunnya dengan Tangan Sendiri Bak Buruh Kasar
Masjid Sultanahmet di Istanbul, Turkiye dikenal dunia sebagai “Masjid Biru” karena interiornya dihiasi dengan ubin Iznik berwarna biru. Masjid ini selalu dipenuhi keluarga yang berkunjung sepanjang malam Ramadhan.
Ada sebuah pepatah di kalangan penduduk Istanbul lama: “Istanbul tidur di malam hari selama 11 bulan dalam setahun, tetapi selama Ramadhan, kota ini tetap terjaga dari sholat Maghrib hingga Subuh.”
Sebagai salah satu pencapaian paling terkemuka dalam arsitektur Turki Utsmani, Masjid Sultanahmet selama lebih dari empat abad terus berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai simbol penting dari identitas sejarah dan budaya Istanbul.
Menukil Dailysabah, Rabu (25 Februari 2206), bangunan megah ini dibangun oleh Sultan Ahmed I dengan menugaskan seorang arsitek bernama Sedefkar Mehmed Agha. Masjid yang pertama dalam arsitektur Ottoman dengan enam menaranya ini mulai dibangun pada 1609. Pembangunan masjid memakan waktu selama tujuh tahun lima bulan.
Masjid Sultanahmet dianggap sebagai salah satu karya paling indah dari peradaban Turki-Islam, masjid ini secara resmi dibuka untuk peribadatan pada 9 Juni 1617.
Dengan halaman yang luas, kubah pusat, dan kubah setengah lingkaran, struktur ini menonjol baik dari segi estetika maupun teknik. Posisinya yang berhadapan dengan Hagia Sophia menciptakan keseimbangan arsitektur yang khas dalam cakrawala Istanbul.
Kompleks yang terdiri dari masjid, madrasah, sekolah dasar, paviliun kerajaan, dan arasta (pasar), berdiri sebagai contoh penting dari pendekatan perencanaan kota yang berpusat pada masjid pada era Ottoman.
Melalui struktur külliye ini, kehidupan keagamaan, pendidikan, dan interaksi sosial diorganisir di sekitar satu pusat kemasyarakatan. Saat ini, dengan jutaan pengunjung lokal dan internasional setiap tahunnya, Masjid Sultanahmet terus mempertahankan statusnya sebagai salah satu landmark bersejarah yang paling banyak dikunjungi di kota ini.
Akademisi dan sejarawan seni, Yasin Saygılı membahas latar belakang sejarah masjid, desain arsitektur, motif interior, suasana kota selama Ramadhan, dan aspek kehidupan sosial pada periode Ottoman.
Saygılı menjelaskan bahwa Sultan Ahmed I, yang naik tahta di usia muda, memerintahkan pembangunan masjid tersebut sebagai kompleks holistik yang mencakup masjid itu sendiri beserta külliye, madrasah, pemandian, dan pasar.
Ia mencatat, nama Sultan Ahmed I dikenal dalam sejarah Ottoman sebagai penguasa yang menghapus praktik pembunuhan saudara kandung dan memperkenalkan sistem suksesi “senioritas dan prestasi” setelah kematian ayahnya, Sultan Mehmed III. Saygılı menekankan bahwa pembangunan masjid tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan dan prestise Kekaisaran Ottoman pada saat itu.
Menyoroti pilihan lokasi tersebut, Saygılı menyatakan bahwa sultan memilih area yang sekarang dikenal sebagai Lapangan Sultanahmet, yang pada saat itu merupakan tempat tinggal para pejabat tinggi Utsmani dan secara historis disebut sebagai “Hippodrome” atau “At Meydanı.”
Karena alasan itulah Sultan Ahmed I berkonsultasi dengan sang arsitek, Sedefkar Mehmed Agha dan memerintahkan pembangunan masjid yang kemudian menjadi masjid terbesar yang dibangun hingga saat itu, yang dimaksudkan sebagai hiasan baru bagi Istanbul.
“Setelah keputusan ini, Masjid Sultanahmet menjadi masjid Utsmani pertama yang dibangun dengan enam menara,” kata Saygılı.
Saygılı mencatat dekorasi ubin yang luas di dalam masjid, menyatakan bahwa terdapat sekitar 20 ribu ubin dan hampir 50 motif tulip di seluruh interiornya.
Ia menambahkan, penggunaan ubin biru yang begitu banyak adalah alasan mengapa pengunjung asing umumnya menyebut bangunan itu sebagai “Masjid Biru”. Tidak seperti masjid Süleymaniye dan Şehzade, bangunan ini menandai transisi ke apa yang kita sebut periode pasca-klasik. Bagian dalam Masjid Sultanahmet seluruhnya dilapisi dengan ornamen ubin.
Menurut Saygılı, interior masjid menampilkan beragam warna dan motif yang dihasilkan selama periode Ottoman, sementara kubahnya bertumpu pada empat pilar utama, sesuai dengan arsitektur masjid Utsmani klasik.
Ia juga mengungkap meskipun beberapa komponen külliye tidak bertahan hingga saat ini, pasar tetap utuh di belakang masjid. Ia menjelaskan bahwa wakaf kekaisaran didirikan untuk mendanai pemeliharaan masjid, memastikan keberlanjutannya melalui pendapatan yang dihasilkan oleh yayasan-yayasan ini.
Lebih lanjut, dia mencatat bahwa Sultan Ahmed I secara pribadi mencurahkan upaya yang signifikan untuk pembangunan masjid tersebut. Sumber-sumber sejarah menunjukkan, sultan datang ke sini setiap pagi setelah sholat Subuh dan bekerja di lokasi pembangunan seperti seorang buruh hingga azan Dzuhur, sambil memegang beliung di tangannya.
“Beliung itu masih dapat dilihat hingga hari ini di Perpustakaan Ahmed Ketiga yang terletak di Halaman Enderun Istana Topkapı,”kata dia.
Seperti semua masjid kekaisaran besar, menurut Saygılı, Masjid Sultanahmet secara tradisional menarik perhatian publik yang tinggi selama bulan Ramadhan. Halaman masjid merupakan bagian integral dari kehidupan sosial Ottoman selama Ramadhan, menjadi tempat pelaksanaan ibadah dan pertemuan komunitas.
“Orang-orang berkumpul tidak hanya untuk beribadah tetapi juga untuk berinteraksi sosial, mirip dengan bagaimana alun-alun publik berfungsi saat ini. Praktik-praktik seperti makan kastanye panggang atau jagung, berbincang-bincang, dan mengunjungi masjid-masjid besar sudah menjadi tradisi yang mapan pada waktu itu,” jelas dia.
Saygılı menambahkan, ayunan juga dipasang di alun-alun yang berdekatan selama periode Ottoman. Sama seperti ruang publik saat ini yang menampilkan suguhan musiman seperti kastanye dan boza, menurut Saygılı, keluarga-keluarga di era Ottoman juga berkumpul di sana untuk bersosialisasi, menghabiskan waktu bersama, mengamati lingkungan sekitar, dan memenuhi masjid.
Masjid Sultanahmet, yang diterangi dengan lampu mahya dan lampu minyak, akan dipenuhi keluarga yang berkunjung sepanjang malam. Catatan sejarah mengkonfirmasi keberadaan kios-kios kecil yang menjual permen kepada anak-anak, menjadikan masjid dan alun-alunnya sebagai pusat perhatian bagi keluarga yang datang dari seluruh penjuru kota. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments