Follow us:

Memaknai Hijrah sebagai Jalan Keluar dari Kebuntuan

Dalam Islam ada beberapa momentum yang mengajak sejenak menghentikan langkah dan merenung. Mulai dari syahdunya Ramadhan, fitrahnya Syawalan, keikhlasan Idul Qurban, hingga tibanya bulan suci Muharram.

Itu semua bukanlah sekadar perayaan seremoni tahunan. Di baliknya, tersimpan perintah mengingat untuk peringatan dan menggali ‘ibrah (pelajaran) dari lembaran sejarah.

Momentum Muharram, Allah SWT merekam sebuah memoar penting dalam surah Al-Anfal ayat 30, yang artinya: “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.”

Kita diminta untuk mengingat kembali sebuah episode menegangkan, sebuah titik balik yang mengubah wajah dunia: peristiwa hijrah.

Jalan Panjang Menuju Hijrah

Dakwah Rasulullah SAW di Makkah tidak pernah berjalan mudah. Kuatnya hegemoni dan kerasnya penindasan kaum Quraisy memaksa umat Islam mencari suaka demi keberlangsungan akidah.

Jauh sebelum kesuksesan hijrah di Madinah, Rasulullah SAW telah merancang tiga gelombang percobaan hijrah. Ketiga fase ini bukanlah sebuah kegagalan, melainkan sebuah proses pematangan mental, uji coba diplomasi, dan penguatan strategi dakwah.

Hijrah pertama ke Habasyah (tahun ke-5 kenabian). Dipimpin oleh Utsman bin Affan, rombongan awal ini berhasil mendapat perlindungan dari Raja Najasyi. Namun, mereka terburu-buru kembali ke Makkah akibat termakan hoaks bahwa Quraisy telah menerima Islam, yang realitanya penindasan justru semakin bengis.

Fase ini mengajarkan umat Islam tentang pentingnya validasi informasi dan kewaspadaan membaca situasi politik.

Hijrah kedua  ke Habasyah lagi. Berangkat dengan rombongan yang lebih besar di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib. Di hadapan Raja Najasyi (seorang penguasa Kristen), umat Islam melatih kemampuan diplomasi tingkat tinggi.

Ja’far secara elegan membacakan surat Maryam, menemukan benang merah teologis tanpa sedikit pun mengorbankan akidah.

Fase ini menjadi simulasi sukses tentang bagaimana umat Islam membangun hubungan luar negeri dan berdiplomasi lintas agama.

Hijrah ketiga, perjalanan ke Thaif (tahun ke-10 kenabian). Ketika mencari dukungan dari kerabat di Thaif, Rasulullah SAW justru diusir dan dilempari batu hingga terluka parah.

Di titik paling menguras emosi ini, mental beliau ditempa habis-habisan. Beliau menolak tawaran malaikat untuk menghancurkan kota tersebut, dan memilih menanamkan visi masa depan dengan mendoakan agar keturunan mereka kelak memeluk Islam.

Fase ini adalah puncak penguatan mental, mengajarkan kesabaran strategis dan pentingnya visi dakwah jangka panjang.

Kemarahan kaum Quraisy terhadap eksistensi dakwah Islam akhirnya mencapai puncaknya. Seluruh pemuka dan kekuatan otoritas Makkah berkumpul. Mereka melakukan lobi politik tingkat tinggi, menggalang kekuatan penuh, dan sepakat menyusun sebuah makar besar, yaitu konspirasi atau makar untuk mengakhiri dakwah Rasulullah secara permanen.

Dalam ruang sidang Darun Nadwah, tiga opsi kejam dilemparkan ke meja: Pertama, dipenjara seumur hidup dalam keadaan terbelenggu. Kedua, diusir dari Makkah, tanah kelahiran. Ketiga, dibunuh secara bersama-sama.

Keputusan terberat pun diambil, yaitu Nabi Muhammad harus dibunuh. Malam itu, Makkah menjadi sangat mencekam dan tegang. Rumah kecil Rasulullah dikepung rapat bak pagar betis. Pemuda-pemuda terkuat dan paling bengis, yang dipilih mewakili setiap kabilah, berdiri bersiaga di semua sudut rumah dan jalanan dengan pedang terhunus.

Manajemen Krisis ala Nubuwah

Ketika tekanan di Makkah memuncak pada rencana pembunuhan terencana, bagaimana Rasulullah SAW merespons? Beliau tidak membalas dengan mengangkat senjata secara membabi buta, tidak pula pasrah menyerah pada takdir tanpa ikhtiar.

Meski Rasulullah adalah kekasih Allah, manusia paling mulia yang selalu dalam bimbingan dan pertolongan Allah, namun tetap melakukan ikhtiar untuk menghadapi konspirasi kaum Quraisy. Seperti melakukan percobaan hijrah sebelumnya, yang melibatkan tim kecil dan mengatur strategi.

Di sinilah hijrah bersinar sebagai sebuah “makhraj” (jalan keluar) yang brilian. Rasulullah SAW mempertontonkan manajemen krisis tingkat tinggi dengan menggabungkan kecerdasan intelektual, ketajaman intelijen, dan ketenangan jiwa (sakinah) yang bersumber dari wahyu.

Berikut adalah gambaran bagaimana krisis tersebut dikelola dengan presisi yang memukau:

Operasi mengecoh dan lolosnya sang target utama malam itu, kediaman Nabi telah dikepung oleh para pemuda algojo pilihan dari berbagai kabilah Quraisy. Namun, Rasulullah SAW menunjukkan keberanian dan ketenangan luar biasa. Beliau menugaskan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di ranjangnya. Sebuah operasi pengecoh bertaruh nyawa.

Sementara itu, Rasulullah SAW melangkah keluar tepat di hadapan para pengepung. Sambil membaca surat Yasin, beliau menaburkan segenggam debu ke arah mereka. Keajaiban terjadi. Pandangan para algojo itu tertutup dan mereka tertidur lelap. Nabi pun melenggang pergi tanpa tersentuh.

Saat rantai pasokan logistik dan kontra-intelijen di Gua Tsur dimaksudkan untuk menghindari kejaran, Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq tidak langsung menuju Madinah di utara, melainkan bersembunyi di dalamnya, di arah selatan Makkah.

Di sinilah sebuah tim kecil beroperasi dengan sangat solid. Secara garis besar dapat diperinci sebagai berikut:

1. Logistik terselubung

Asma binti Abu Bakar bertugas menyuplai makanan di tengah malam yang gelap dan di medan yang terjal, mempertaruhkan nyawanya demi memastikan asupan gizi kedua tokoh utama tetap terjaga.

2. Jaringan intelijen

Abdullah bin Abu Bakar (putra Abu Bakar) bertugas membaur dengan warga Makkah di siang hari untuk menyadap rencana musuh, lalu melaporkannya ke Gua Tsur pada malam harinya.

3. Penghapusan jejak

Untuk menutupi jejak kaki Asma dan Abdullah, seorang budak bernama ‘Amir bin Fuhairah’ digerakkan untuk menggembalakan kawanan kambing tepat di atas jejak mereka. Selain menghapus jejak, susu kambing-kambing itu juga menjadi tambahan logistik segar. Sebuah operasi intelijen yang sangat rapi!

Selanjutnya, Nabi juga berhasil melakukan manajemen emosi di titik nadir (ketegangan di mulut gua).

Sebagaimana tercatat dalam sejarah, krisis paling kritis terjadi ketika para pelacak Quraisy berhasil berdiri tepat di mulut Gua Tsur. Abu Bakar dilanda ketegangan luar biasa. Sambil berbisik gemetar, ia berkata, “Jika salah satu dari mereka melihat ke bawah telapak kakinya, pasti mereka akan melihat kita.”

Sebagai pemimpin, Rasulullah SAW tidak ikut panik. Dengan ketenangan spiritual yang paripurna, beliau menatap sahabatnya dan menanamkan manajemen krisis psikologis terbaik sepanjang masa: “La tahzan, innallaha ma’ana” (Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita). Ketenangan inilah yang akhirnya menjadi perisai tak terlihat yang membutakan mata musuh.

Ketegangan belum berhenti meski sudah berhasil keluar dari Gua Tsur. Ternyata ada Suraqah bin Malik yang mengejar. Seorang pemburu bayaran yang mengincar hadiah 100 ekor unta.

Rasulullah SAW kembali menunjukkan ketenangan yang tak tertandingi. Beliau tidak lari terbirit-birit. Beliau terus berjalan dan berdoa.

Setiap kali Suraqah mendekat, kaki kudanya selalu terperosok ke dalam pasir hingga ia jatuh berulang kali.

Ketenangan dan wibawa Rasulullah SAW pada akhirnya meruntuhkan nyali Suraqah. Sang pemburu tak hanya menyerah, namun berbalik arah menjadi pelindung yang mengecoh para pengejar lain agar menjauh dari rute Nabi.

Demikianlah pelajaran yang dapat dipetik. Hijrah bukanlah pelarian dari ketakutan. Ia adalah orkestrasi “makhraj” (jalan keluar) yang sangat indah dan terukur.

Langkah-langkah yang digambarkan di atas membuktikan bahwa tawakal dan keyakinan pada wahyu, apabila dipadukan dengan ikhtiar manusiawi yang profesional dan terencana, akan mampu membalikkan krisis paling mematikan menjadi kemenangan sejarah yang abadi.

Penulis: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I. (UYR/MUI)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved