Membawa Keindahan Bahasa Al-Quran di Kelas Bahasa Indonesia
Di kelas Bahasa Indonesia, santri tidak hanya diajak menemukan majas dalam puisi atau mengurai unsur intrinsik dalam cerpen. Mereka juga diajak bertanya: apa yang dapat dipelajari dari cara sebuah kata menggambarkan alam, atau dari perjuangan seorang tokoh dalam cerita? Pendekatan ini saya gunakan untuk menjembatani pembelajaran sastra dengan nilai yang telah akrab dalam keseharian santri melalui Al-Qur’an. Majas dipelajari melalui puisi dan pengamatan terhadap alam, sementara cerpen dan teks narasi digunakan untuk mengajak santri menyelami pengalaman tokoh dan menemukan ibrah dari setiap cerita.
“Untuk apa sebenarnya kita repot-repot membedah makna puisi dan menghafal jenis majas, Ustadzah?”
Pertanyaan itu pernah terlontar dari salah seorang santri di tengah riuhnya jam pelajaran Bahasa Indonesia. Sebuah pertanyaan jujur yang menampar, namun sekaligus menjadi titik balik yang sangat penting bagi saya sebagai seorang pendidik. Selama ini, pendidikan sastra di ruang kelas kerap kali terjebak pada hal-hal mekanis dan administratif: menghafal teori, mengidentifikasi rima, membedah struktur kalimat, atau sekadar syarat menuntaskan rubrik penilaian kurikulum. Akibatnya, santri kehilangan ruh dari sastra itu sendiri. Sastra dianggap sebagai deretan teks mati yang tidak memiliki relevansi dengan kehidupan nyata mereka.
Di lingkungan pesantren atau Islamic boarding school, santri hidup berdampingan dengan hafalan dan tilawah Al-Qur’an setiap harinya. Namun, sering kali tanpa disadari, ada sekat imajiner yang memisahkan antara sakralnya ayat suci dengan pelajaran yang kerap dilabeli “duniawi” seperti Bahasa Indonesia. Padahal, jika kita menengok pada literatur paripurna sekaligus mukjizat terbesar umat Islam, yakni Al-Qur’an, Tuhan justru memilih instrumen bahasa dan sastra untuk menyampaikan pesan-pesan agung-Nya kepada umat manusia.
Sebagai guru Bahasa Indonesia, realita ini menyadarkan saya bahwa kelas bahasa seharusnya bukan sekadar arena olah kata, melainkan laboratorium olah rasa. Kelas ini adalah sebuah jalan sunyi untuk merobohkan sekat dikotomi keilmuan, sekaligus medium untuk menuntun santri pada puncak spiritualitas tertinggi seorang hamba: rasa syukur.
Menjembatani Balaghah Al-Qur’an dan Materi Majas
Dalam tradisi keilmuan Islam, kita mengenal I’jazul Qur’an atau kemukjizatan Al-Qur’an dari segi bahasa (balaghah). Al-Qur’an sarat dengan tasybih (perumpamaan/majas) yang luar biasa indah dan akurat. Misalnya, ketika Allah mengumpamakan kalimat yang baik (kalimah thayyibah) seperti pohon yang baik, akarnya teguh menghunjam ke bumi, dan cabangnya menjulang ke langit memberikan buah setiap musim (QS. Ibrahim: 24-25). Al-Qur’an tidak menggunakan gaya bahasa atau majas untuk membuat tatanan kalimat menjadi rumit dan membingungkan, melainkan justru untuk mengonkretkan makna abstrak agar mudah dicerna, direnungkan, dan meresap ke dalam palung hati yang paling dalam.
Di sinilah letak benang merahnya dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Ketika saya mengajarkan materi Majas (seperti metafora, personifikasi, hiperbola, atau simile) melalui puisi-puisi karya penyair Nusantara, paradigmanya harus diubah secara radikal. Majas tidak lagi diajarkan untuk dihafal jenisnya demi bisa menyilang jawaban yang benar di kertas ujian.
Lebih dari itu, majas adalah instrumen dan cara manusia meneladani gaya bahasa Tuhan dalam memandang alam semesta. Mari ambil contoh saat santri membedah puisi bertema alam dan menemukan personifikasi yang menggetarkan tentang daun yang berbisik atau ombak yang bertasbih. Mereka sedang dilatih mempertajam daya observasi terhadap detail ciptaan Tuhan. Di tengah gempuran dunia digital yang serba cepat dan instan, hal-hal kecil seperti embun pagi, daun yang gugur, atau gemuruh angin sering kali luput disyukuri. Memahami majas berarti melatih kepekaan batin. Memahami majas berarti memahami cara bersyukur lewat kacamata estetika bahasa.
Menggali Ibrah Lewat Teks Narasi dan Cerpen
Selain keindahan gaya bahasa, sepertiga isi Al-Qur’an adalah Qashash (kisah-kisah). Allah menceritakan dengan detail kisah keteguhan hati Nabi Yusuf, keberanian pemuda Ashabul Kahfi, hingga kebijaksanaan Luqman dalam mendidik anak. Kisah-kisah ini dihadirkan oleh Sang Pencipta bukan sebagai dongeng fiktif pengantar tidur atau hiburan semata, melainkan untuk diambil Ibrah (pelajaran) dan hikmahnya oleh manusia yang mau menggunakan akalnya untuk berpikir.
Prinsip Qashash ini sangat bisa dan relevan untuk diadopsi ketika kita mengajarkan materi Teks Narasi, Cerita Pendek (Cerpen), atau Novel di kelas Bahasa Indonesia. Saat santri ditugaskan membedah unsur intrinsik, seperti konflik tokoh utama, alur cerita yang berliku, serta amanat tersembunyi, mereka sebenarnya sedang dilatih membedah kehidupan. Mereka sedang belajar mencari Ibrah dari kepingan kehidupan manusia lain.
Sering kali, santri yang hidup di asrama dengan jadwal padat merasa lelah, jenuh, atau mengeluhkan rutinitas mereka. Namun, ketika di kelas mereka disajikan cerpen tentang anak-anak marginal yang berjuang menyeberangi sungai deras demi bisa pergi ke sekolah, atau novel tentang pengorbanan berdarah-darah seorang ayah, dinding keluhan itu perlahan runtuh. Ketika santri diajak menyelami penderitaan, pergolakan batin, atau perjuangan hidup sang tokoh fiksi, mereka secara tidak langsung sedang bercermin dan membandingkannya dengan realita hidup mereka sendiri yang jauh lebih beruntung. Empati yang mekar perlahan dari proses membaca karya sastra inilah yang menjadi embrio terbaik dari rasa syukur atas nikmat, fasilitas, dan kondisi yang mereka miliki saat ini. Sastra berfungsi sebagai cermin untuk melihat betapa besarnya karunia Tuhan yang membalut kehidupan mereka.
Menulis Diksi yang Jujur di Tengah Polusi Digital
Pada akhirnya, meneladani keindahan bahasa Al-Qur’an di ruang kelas tidak boleh berhenti hanya pada kepasifan proses membaca, melainkan harus melesat berlanjut pada penciptaan karya. Al-Qur’an menggunakan diksi yang sangat presisi; indah namun selalu jujur, berbobot, dan berlandaskan kebenaran hakiki, bukan sekadar bualan estetis para penyair yang memanipulasi emosi.
Di era digital saat ini, di mana generasi Z dan Alpha begitu mudah dan cepat mengetikkan komentar tajam, menyebarkan hoaks, atau memproduksi kalimat nir-makna di media sosial, pengajaran diksi menjadi sangat krusial. Al-Qur’an mengajarkan konsep qaulan sadida (perkataan yang benar/jujur) dan qaulan karima (perkataan yang mulia). Tugas kita sebagai pendidik adalah mendorong santri untuk menginternalisasi nilai ini saat menggunakan bahasa Indonesia, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
Saat mereka ditugaskan menulis puisi, cerpen, esai, atau sekadar teks tanggapan, tekankan dengan tegas bahwa tulisan mereka haruslah jujur, mampu menginspirasi kebaikan, dan membawa manfaat bagi pembacanya. Menulis bukan sekadar merangkai huruf dan merias kata agar terlihat cerdas di atas kertas, tetapi adalah upaya merawat hati nurani agar senantiasa berpijak pada kebenaran. Tulisan yang baik adalah sedekah jariyah, dan mengkreasi kalimat yang bermartabat adalah wujud syukur atas karunia akal yang Tuhan berikan.
Sebagai penutup, kelas Bahasa Indonesia di madrasah atau sekolah harus berani bertransformasi. Ia bukan sebatas fasilitas formalitas agar santri mendapatkan nilai tuntas di rapor atau lulus ujian tata bahasa. Ruang kelas ini sejatinya adalah ladang subur tempat kita menyemai kehalusan budi, membentangkan empati yang luas, dan menjadikan sastra sebagai jalan terang benderang menuju rasa syukur yang sejati kepada Sang Maha Pencipta.
Penulis: Elyanoor Oktaviana, Pendidik di ThursinaThursina International Islamic Boarding School (IIBS) Malang. (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments