Follow us:

Memohon Perbaikan Urusan Agama dan Dunia

Sebelum kita melakukan sebuah perbuatan, kita dipandu oleh suatu keinginan. Jika seseorang sudah tidak punya keinginan dan semangat, maka bisa disebut ia telah kehilangan dirinya. Dari keinginan lahir semangat, dari semangat lahir sebuah perbuatan, dari perbuatan lahir sebuah hasil.

Oleh sebab itu, marilah kita bangun keinginan ini. Sebab, jika tidak membangun keinginan sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah, maka jangan-jangan semangat dan hasilnya akan berbeda. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam memandu kita dalam berkeinginan. Keinginan ini disampaikan oleh Rasulullah dalam bentuk permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak lima keinginan. Ini adalah keinginan Rasulullah supaya menjadi keinginan umatnya.

Tetapi semua keinginan ini tidak mungkin dicapai jika tidak memulainya dengan shalat. Karena jika seorang tidak shalat, maka ia belum dikatakan menjalankan agama.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berdoa sebagai berikut,

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng (ishmah) urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan!”. (HR. Muslim) Imam An Nawawi Rahimahullahu membawakan hadits ini dalam bab “Berlindung dari sesuatu yang telah diamalkan dan apa-apa yang belum diamalkan”.

  • Perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng (ishmah) urusanku

Permohonan pertama merupakan pokok segala urusan, yakni agama. Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki untuk kita agama kita. Inilah yang menjadi benteng penjaga terpenting untuk segala urusan kita, baik di dunia maupun akhirat. Tidak ada jalan keselamatan di akhirat, bahkan ketika kita mengerjakan urusan dunia, kecuali pada agama.

Bagaimana mungkin seseorang agamanya baik jika shalatnya ditinggalkan??! Kita harus punya keinginan untuk baik dan taat dalam beragama, karena dengan menjalankan agama, semua urusan kita akan terpelihara. Jadi, mulailah berbaik dalam agama. Sebab, Islam adalah benteng yang melindungi seseorang agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan ketergelinciran serta menjaga dari kesesatan dan sekedar mengikuti hawa nafsu. Menjalankan agama dengan baik, haruslah dimulai dengan shalat.

Inilah keinginan pertama Rasulullah agar keinginan ini diteruskan oleh umatnya.

  • Perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku

Maksudnya meminta kepada Allah agar memperbaiki urusan dunia hamba di dunia yang fana lagi sebentar ini. Yaitu dengan memberikan rizki yang cukup, halal dan berbarakah. Yaitu rizki yang membantunya untuk taat dan ibadah kepada Allah. Masuk di dalamnya minta agar dijadikan baik keluarganya; istri yang shalihah, anak-anak yang shalih, kehidupan yang tentram dan aman, sumber daya alam yang tercukupi, berada di lingkungan yang baik dan lain sebagainya.

Di sini kita tinggal. Di sini kita hidup dan sepatutnya menjadikannya sebagai ladang akhirat. Maka kita meminta kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki dunia kita yang dengannya kita berusaha dengan sungguh-sungguh menjadikan sebagai ladang akhirat. Semoga kita mampu bertekun-tekun mengerjakan amal dunia untuk meraih akhirat, dan melakukan amal akhirat juga untuk kehidupan akhirat kita.

  • Perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku

Selanjutnya kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla perbaikan urusan akhirat kita. Sebesar apa pun rumah kita, semegah apa pun tempat tinggal kita, pada akhirnya kita akan kembali ke kampung akhirat. Sebaik apa pun karier kita, ada saatnya untuk berhenti. Perjalanan hidup ini terus melaju ke masa depan dan tak ada pilihan untuk surut ke masa kecil atau batal dilahirkan. Maka pilihan kita hanyalah menyiapkan diri pulang ke kampung akhirat. Jika amal shalih kita tak dapat diharap sama sekali, semoga tangisan kita yang menghiba ampunan-Nya dapat menjadi sebab Allah Ta’ala berikan rahmat berupa surga-Nya.

Tetapi bagaimana kita akan memohon ampun kepada Allah Ta’ala atas dosa yang bertumpuk ini jika kita masih saja lalai dengan urusan akhirat terlebih meninggalkan shalat?? Maka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita meminta perbaikan urusan akhirat kita.

  • Meminta hidup bertambah kebaikan

Yaitu meminta kepada Allah agar menjadikan hidupnya sebagai sarana menambah kebaikan, ibadah dan ketaatan yang Allah ridhai. Khususnya nilai dari ibadah shalatnya bertambah, sebab salah satu sebab yang membuat orang mukmin beruntung adalah ia yang khusyu’ shalatnya.

Barangkali ada yang dipanjangkan umurnya oleh Allah Ta’ala, selayaknya umur tersebut digunakan untuk menambah amal shalih yang akan meninggikannya di surga kelak. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah ditanya, siapa orang yang paling baik? Beliau menjawab,

مَنْ طَالَ عُمْرُهُ، وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Siapa yang panjang umurnya dan bagus amalnya.” (HR. Ahmad, al-Tirmidiz, dan selainnya. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih)

  • Meninggal, istirahat dari keburukan

Penutup atas segala perkara di dunia baik itu kegundahan, fitnah, bencana, cobaan maksiat dan lain sebagainya adalah kematian. Ini dapat menjadi pembebas dari segala kesulitan untuk menuju nikmat kubur dan nikmat akhirat, dapat pula menjadi awal musibah yang tiada henti.

Suatu hari, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dilewati oleh iring-iringan jenazah. Beliau lalu bersabda,

مُسْتَرِيحٌ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ

“Yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa maksud yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya?” Beliau menjawab,

الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

“Seorang hamba yang mukmin beristirahat dari keletihan dunia dan kesusahannya, kembali kepada rahmat Allah. Sedangkan hamba yang jahat, para hamba, negeri, pohon dan binatang beristirahat (merasa aman dan tenang) darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kepada Allah Ta’ala kita memohon agar kematian kita kelak adalah pembebasan dari segala kepayahan di dunia.

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh: Ustadz Drs. H. Asep Aonuddien, M.Si

(Hud/darussalam.id)

 

 

 

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved