Memuliakan Rumah Allah, Memuliakan Hati
Ada kalanya seseorang memasuki sebuah masjid tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tetapi hatinya mendadak menjadi tenang. Lantunan ayat suci, aroma karpet yang bersih, saf yang rapi, dan suasana yang teduh seolah mengingatkan bahwa ada tempat di dunia ini yang dikhususkan untuk menghubungkan manusia dengan Tuhannya.
Alquran menyebut tempat itu sebagai rumah-rumah yang telah Allah perintahkan untuk dimuliakan. Kemuliaannya bukan semata karena bangunannya megah, melainkan karena di dalamnya nama Allah senantiasa disebut, dipuji, dan diingat dari pagi hingga petang.
فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ
Fī buyūtin adzinallāhu an turfa‘a wa yudzkara fīhasmuhu yusabbiḥu lahu fīhā bil-ghuduwwi wal-āṣāl.
“Di rumah-rumah (masjid-masjid) yang telah diperintahkan Allah untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Di sana, orang-orang bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. An-Nur [24]: 36)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini mengarahkan perhatian kepada masjid-masjid, yaitu tempat yang Allah pilih sebagai pusat ibadah, zikir, dan penyebaran petunjuk-Nya. Karena itu, pemahaman terhadap ayat ini lebih didasarkan pada keterkaitan maknanya dengan ayat sebelum dan sesudahnya daripada pada peristiwa sejarah tertentu yang melatarbelakangi turunnya.
Arti Rumah-rumah
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “rumah-rumah” (buyūt) dalam ayat ini adalah masjid-masjid. Allah memerintahkan agar rumah-rumah itu “ditinggikan” (an turfa‘a), bukan sekadar dalam arti dibangun atau diposisikan lebih tinggi secara fisik, tetapi terutama dimuliakan kedudukannya. Bentuk pemuliaan itu mencakup menjaga kesuciannya, membersihkannya, menjauhkan segala bentuk perkataan maupun perbuatan yang tidak pantas, serta menghidupkannya dengan ibadah.
Ibnu Katsir mengutip sejumlah hadis yang menunjukkan keutamaan masjid sebagai tempat yang paling dicintai Allah. Di antaranya sabda Nabi Muhammad ﷺ:
“Tempat yang paling Allah cintai adalah masjid-masjid.” (HR. Muslim)
Karena itu, masjid bukan sekadar ruang berkumpul, melainkan tempat yang menjaga hubungan manusia dengan Allah. Di dalamnya nama Allah disebut, Alquran dibaca, ilmu diajarkan, doa dipanjatkan, dan hati dilatih untuk tunduk kepada-Nya.
Frasa “yusabbihu lahu fīhā bil-ghuduwwi wal-āṣāl” menunjukkan bahwa masjid senantiasa hidup dengan tasbih kepada Allah, baik pada pagi maupun petang. Menurut Ibnu Katsir, penyebutan dua waktu tersebut bukan untuk membatasi ibadah hanya pada pagi dan sore, melainkan menggambarkan kesinambungan zikir dan ketaatan sepanjang hari. Masjid menjadi ruang yang terus hidup oleh ibadah, tidak hanya pada saat shalat berjamaah, tetapi juga melalui tilawah Alquran, majelis ilmu, doa, dan amal-amal saleh lainnya.
Ayat ini juga memiliki hubungan yang erat dengan firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 18:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian…”
Dengan demikian, memuliakan masjid bukan hanya membangun bangunannya, melainkan juga menghidupkannya dengan kehadiran orang-orang yang beribadah dan menjaga kehormatannya.
Ibarat Sebuah Pelabuhan
Masjid ibarat sebuah pelabuhan yang tenang di tengah lautan kehidupan. Di luar sana ombak kesibukan, kegelisahan, dan berbagai urusan dunia datang silih berganti. Namun ketika seseorang melangkahkan kaki ke dalam rumah Allah, ia seperti kapal yang menemukan tempat berlabuh untuk memperbaiki layar, menenangkan arah, dan mengisi kembali bekal sebelum kembali mengarungi samudra kehidupan.
Masjid juga laksana sebuah taman yang tidak hanya dirawat oleh tukang kebun, tetapi oleh setiap orang yang datang kepadanya. Semakin banyak tangan yang menjaga kebersihannya, semakin banyak lisan yang berzikir di dalamnya, dan semakin banyak hati yang tunduk kepada Allah, semakin suburlah taman itu menumbuhkan ketenangan bagi siapa pun yang singgah.
Sering kali kita mengukur kemuliaan sebuah bangunan dari kemegahan arsitekturnya. Padahal, Alquran mengingatkan bahwa kemuliaan rumah Allah justru lahir dari apa yang terjadi di dalamnya: nama Allah disebut, hati-hati mengingat-Nya, dan manusia kembali menyadari tujuan hidupnya. Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan hanya, “Seberapa sering saya datang ke masjid?” tetapi juga, “Sudahkah saya ikut memuliakannya?”
Bisa jadi dengan menjaga kebersihannya, merapikan safnya, menghadiri majelis ilmunya, atau sekadar menghadirkan hati yang khusyuk ketika memasukinya. Sebab setiap langkah yang memuliakan rumah Allah pada hakikatnya adalah langkah untuk memuliakan hati kita sendiri. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments