Follow us:

Mengenal Allah

Berkata Asy-Syaikh Muhammad “bin Abdul Wahhab At-Tamimi:

أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل : ( الأولى) العلم وهو معرفة الله، ومعرفة نبيه، ومعرفة دين الإسلام بالأدلة

Bahwasanya wajib bagi kita untuk mendalami empat masalah, yaitu: (Pertama)  Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalilnya.

Kewajiban itu ada dua: Wajib ‘Ain dan Wajib Kifayah. Yang dimaksud dengan wajib di sini adalah wajib ‘ain, yaitu sesuatu yang wajib dikerjakan oleh setiap orang muslim yang sudah mendapat beban hukum (mukallaf). Adapun Wajib Kifayah yaitu sesuatu kewajiban yang bilamana telah ada sebagian kaum muslimin yang menunaikannya maka kewajiban tersebut gugur bagi yang lainnya, adapun bila tidak ada seorang pun yang menunaikannya maka seluruhnya berdosa.

Yang dimaksud dengan ilmu disini ialah ilmu syar’i. Yakni sesuatu yang hukumnya fardhu ‘ain memperlajarinya. Yaitu segala ilmu yang dibutuhkan oleh para mukallaf (orang yang sudah terkena kewajiban syari’at) dalam permasalahan agamanya. Seperti landasan keimanan, syariat-syariat Islam, perkara-perkara haram yang harus dihindari, hal-hal yang dibutuhkan dalam bab mu’amalah dan hal-hal lain yang berkaitan dengan perkara-perkara yang tidak sempuma suatu kewajiban kecuali dengan perkara itu, maka wajib juga mempelajarinya. [Lihat buku Jami’u Bayani Al-Ilmi Wa Fadhlihi karya Ibnu Abdil Barr, Hasyiyah Ibnu Qasim Ala Tsalatsati Al-Ushul]

Tiga landasan utama tersebut jika dipelajari akan membuahkan keimanan. Jika ingin beriman, kita harus mengenal Allah, Rasul-Nya dan agama islam dengan dalil-dalilnya. Sebaliknya, orang yang tidak mau mempelajari ketiga hal ini maka mustahil baginya beriman. Mustahil ia beriman jika tidak kenal Allah, Rasul-Nya dan agama Islam.

Permasalahan Pertama Adalah Ilmu

Ilmu secara bahasa adalah lawan kata bodoh/jahl. Bila dilihat dari makna istilah maka ilmu adalah mengetahui sesuatu sampai hakikatnya. Pendapat lain mengatakan, ilmu adalah suatu sifat yang menyingkap (rahasia) sesuatu secara sempurna.

Adapun makna ilmu secara syar`i, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dan Imam Syatiby mengatakan bahwa ilmu adalah ilmu yang sesuai dengan amal, baik amal hati, amal lisan maupun anggota badan, sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Al Auza`i berkata: “Yang dinamakan ilmu adalah apa-apa yang datang dari para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, adapun yang selain itu maka bukanlah ilmu”.

Sufyan Ats Tsauri berkata, “Sesungguhnya ilmu adalah sesuatu yang dapat menimbukan rasa takut kepada Allah Ta’ala”.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu bila dilihat dari makna bahasa adalah lawan dari bodoh. Sedangkan jika dilihat dari sisi istilah adalah menyingkap sesuatu sehingga menjadi jelas hakikatnya. Dan bila ilmu dilihat dari dimensi dien/syar`i, maka ilmu adalah sesuatu yang bisa mengarahkan rasa takut kepada Allah, dan yang dimaksud ilmu ini hanyalah apa yang datang dari Nabi dan para sahabatnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullaah mengatakan, “Ilmu adalah mengetahui sesuatu dengan pengetahuan yang sebenarnya.

Tingkatan Ilmu Pada Seseorang Ada Enam Tingkatan

  • Al-‘Ilmu yakni mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang pasti dan yang sebenarnya dengan pengetahuan.
  • Al-Jahlul basith yakni tidak mengetahui sesuatu sama sekali.
  • Al-Jahlul murakkab yakni mengetahui sesuatu tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Disebut murakkab karena pada orang tersebut ada dua kebodohan sekaligus, yaitu bodoh karena ia tidak mengetahui yang sebenarnya dan bodoh karena beranggapan bahwa dirinya tahu padahal sebenarnya ia tidak tahu.
  • Al-Wahm yakni mengetahui sesuatu dengan kemungkinan salah lebih besar daripada benarnya.
  • Asy-Syakk yakni mengetahui sesuatu yang kemungkinan benar atau salahnya sama.
  • Azh-Zhann yakni mengetahui sesuatu yang kemungkinan benarnya lebih besar daripada salahnya.

Mengapa penulis hanya menyebutkan tiga hal (Mengenal Allah, Rasul-Nya dan Islam) ini? Karena tiga hal tersebut merupakan pokok atau landasan agama seseorang. Tiga landasan utama tersebut juga merupakan pertanyaan awal yang akan diajukan kepada setiap hamba di dalam kubur. Beliau (Penulis) menunjukkan kepada kita betapa penting dan berharganya permasalahan ini. Seorang insan pertama-tama harus mengetahui maknanya kemudian melaksanakan konsekuensinya. Barangsiapa mengetahui tiga landasan utama ini dan melaksanakan konsekuensinya maka ia adalah hamba yang berhak memperoleh taufik dari Allah Ta’ala untuk menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur.

Dari Al-Barra bin ‘Azib radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْرِ فَشَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاءُ

‘’Apabila seorang muslim ditanya di dalam kubur, maka dia bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah”. Itulah maksud firman Allah: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di dalam kehidupan dunia dan di akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang dia kehendaki’’. (HR. Bukhari)

Apabila anda ditanya: “siapakah Tuhanmu?, Maka katakanlah: “Tuhanku adalah Allah yang telah memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni’mat yang dikaruniakan-Nya. Dan Dialah sembahanku, tiada bagiku sesembahan yang haq selain Dia.

Allah Ta’ala berfirman:

الحمد لله رب العالمين

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-fatihah: 2)

Selanjutnya, jika anda ditanya: “dengan perantaraan apakah anda mengenal Tuhan? Maka hendaklah anda menjawab: “melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah: malam, siang, matahari dan bulan. Sedangkan diantara ciptaan-Nya ialah: tujuh langit dan bumi beserta segala makhluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (Fushshsilat: 37)

Dan juga firman-Nya:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ(54) سورة الأعراف

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, yang mengikutinya dengan cepat. Dan (diciptakan-Nya pula) matahari , bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah Tuhan semesta alam”. (Al-A’raf: 54)

Tuhan inilah yang haq untuk disembah. Allah tidak ridha untuk dipersekutukan dengan sesuatupun. Wajib beriman kepada Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya, dan Asma’ dan sifat-Nya yang mulia. Dalilnya, firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ{21} الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan air hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)

Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala, mengatakan: hanya pencipta segala sesuatu yang ada inilah yang berhak dengan segala macam ibadah.

Dan macam-macam ibadah yang diperintahkan Allah itu, antara lain: Islam ([3]), Iman, Ihsan, do’a, khauf (takut), raja’ (pengharapan), tawakkal, raghbah (penuh minat), rahbah (cemas), khusyu’ (tunduk), khasyyah (takut), inabah (kembali kepada Allah), isti’anah (memohon pertolongan), isti’adzah (memohon perlindungan), istighatsah (memohon pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), dzabh (menyembelih), nazar, dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah Allah).” (Al-Jin: 18)

Karena itu, barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka ia adalah musyrik dan kafir. Firman Allah Ta’ala:

وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung”. (Al-Mu’minun: 117)

Ada sebuah ungkapan dari para ulama,

من كان بالله أعرف فكان منه أخوف

Barangsiapa yang lebih mengenal Allah maka dirinya lebih takut kepada Allah daripada lainnya”.

Apakah Allah sedang memperhatikan kita? Pasti… Apakah Allah sedang menyaksikan pertemuan ini? Wallahu khabiirun bimaa ta’maluun, “Dan Allah Maha Mengetahui apapun yang kamu lakukan”. Apakah Allah sedang mendengarkan setiap yang terucap? Pasti. Wallahu samii’un ‘aliim. “Allah Maha Mendengar dan Maha Tahu”. Apakah Allah jauh atau dekat? Wahuwa ma’akum ainamaa kuntum. “Dan dia bersamamu di manapun kamu berada”. Laisa kamitslihi syai’un. “Tetapi Allah tidak menyerupai dan tidak diserupai apapun”.

Kepahaman yang paling utama, kepahaman yang paling hebat, kepahaman yang paling besar adalah kepahaman tentang Allah. Itulah yang termahal. Itulah pondasi. Orang yang paling beruntung adalah orang yang oleh Allah dibuat dirinya kenal kepada Allah, Pencipta alam semesta. Semua ilmu yang lain kalau tumbuh di atas pondasi kenal Allah, maka sekecil apapun ilmu menjadi manfaat. Tapi sehebat apapun ilmu (tapi) tidak kenal Allah, ilmu itu bisa merobohkan dirinya. Amal sesederhana apapun, asal niatnya benar karena Allah, jadi. Amal sehebat apapun, kalau tidak kenal Allah, tidak jadi. Jadi, ilmu yang paling utama, paling agung, paling penting adalah ilmu mengenal Allah.

Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah bukan sesuatu yang asing. Bukankah kita telah mengakui itu semua? Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian.

Yang dimaksud kenal Allah yaitu mengenal Allah yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup. Dan orang yang takut kepada Allah Ta’ala adalah mereka yang mengenal-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun telah menegaskan,

… إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء …. (فاطر: 28)

….”Hanyasanya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…” (Fathir: 28)

Namun faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya?

Konsekuensi Beriman Kepada Allah

Mendengar Dan Taat

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (النور: 51)

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (An Nur: 51)

Dalam al-Quran cukup banyak ayat yang menggambarkan sifat-sifat kaum Mukmin. Ayat ini termasuk salah satu di antaranya. Oleh ayat ini, karakter kaum Mukmin digambarkan bersikap sami’nâ wa atha’nâ (kami mendengar dan kami taat) terhadap seruan dan segala keputusan Allah dan Rasulullah. Mendengar dan taat adalah dua sifat yang melekat secara bersama-sama pada diri kaum Mukmin dalam merespon ketentuan-Nya.

Mendengar merupakan salah satu metode paling penting untuk memahami sebuah seruan. Jika tidak mendengar dan menyimak sebuah seruan, mustahil  seseorang bisa memahami seruan itu. Tidak aneh jika kata as-sam‘u (mendengar) kadang juga digunakan untuk makna memahami. Menurut al-Asfahani, inilah makna yang terkandung dalam ayat ini: sami‘nâ berarti fahimnâ.

Berikutnya, pemahaman atas sebuah seruan menjadi kunci utama untuk melaksanakan sebuah seruan, termasuk dalam melaksanakan seruan Allah Ta’ala. Al-Quran juga menegaskan bahwa hanya orang yang mendengarkan seruan Allah saja yang mematuhi seruan-Nya (Al-An‘am: 36). Perintah untuk mendengarkan seruan Allah disampaikan dalam banyak ayat, seperti QS. Al-Maidah: 108 dan at-Taghabun: 16.

Tidak sebatas mendengarkan seruan syariah, karakter Mukmin juga bersedia untuk mentaatinya. Mereka menaati dan mengikuti semua ketetapan syariah tanpa menimbang dengan akal atau hawa nafsunya, apakah ketetapan syariah itu menguntungkan atau merugikan mereka; menyenangkan atau menyusahkan mereka. Mereka siap menerima dengan lapang dada apa pun keputusan syariah.

Sikap itu muncul karena keimanan meniscayakan ketaatan pada syariah. Siapa pun yang mengaku beriman maka keimanannya harus diwujudkan dalam bentuk amal salih, yakni amal yang sejalan dengan syariah dan dilandasi dengan niat ikhlas mencari keridhaan-Nya. Al-Quran dan as-Sunnah amat banyak  menyebutkan iman dan amal salih secara beriringan dan mengaitkan amal perbuatan dengan keimanan, seperti dalam surah Al-Baqarah: 279, Al-Bayyinah: 7, At-Tin: 6, Al-‘Ashr: 3, dan masih banyak lagi. Allah Ta’ala juga menegaskan pengakuan orang yang mengaku beriman hingga mereka berhukum kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, hatinya tidak merasa berat, dan menerimanya dengan sepenuh hati.

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (An-Nisa’: 65)

Ketika Jilbab Diwajibkan

Saat turun ayat jilbab para sahabat wanita langsung melaksanakannya tanpa banyak alasan dan keberatan

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu dan ALLAAH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Ahzab: 59)

Berkata Ibnu Abi Hatim, telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah Azh-Zhahraniy, dari apa yang ditulisnya untukku, telah menceritakan kepadaku Abdur Razaq, telah menceritakan kepadaku Ma’mar, dari Ibnu Khutsaim, dari Shafiyyah binti Syaibah, dari Ummu Salamah Radhiallahu Anha berkata:

لَماَّ نَزَلَتْ هذِهِ الآيَةُ: (يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ….) الآيةَ, خَرَجَ نِسآءُ اْلأَنْصَارِكَأَنَّ عَلَى رُؤُوْسِهِنَّ اْلغِرْبَانَ مِنَ السَّكيْنَةِ, وَعَلَيْهِنَّ أَكِيْسَةٌ سُوْدٌ يَلْبَسْنَهَا

“Pada saat turun ayat, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…” dst, maka keluarlah para wanita dari kalangan Anshar dengan tenang, seolah-olah di atas kepala mereka ada burung gagak, dan ada di atas mereka adalah pakaian hitam yang mereka kenakan”.

Seorang wanita tidak boleh keluar rumah kalau tidak memakai jilbab. Dan yang namanya jilbab ialah pakaian muslim yang menutupi mulai dari ujung rambut hingga telapak kaki. Seorang muslimah tidaklah halal dilihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya, hingga menutup wajah, dan seluruh tubuh beserta perhiasan yang dipakai. Semua ini dimaksudkan, agar wanita yang berhijab tersebut berbeda dengan para wanita jahiliyah yang terbuka auratnya. Sehingga, bagi para wanita yang berhijab, akan terjaga dari tangan jahil yang berupaya mengusiknya.

Namun justru saat ini, pemakaian jilbab ini sering dilalaikan oleh kebanyakan kaum wanita ketika mereka keluar rumah. Kenyataan yang ada mereka tidak memenuhi kriteria berhijab. Terlebih lagi masih kita dapati, para wanita memakai kerudung tetapi masih terbuka bagian tubuh yang diharamkan oleh Allah untuk mereka tampakkan, seperti rambut, kepala bagian depan dan leher. Yang mereka kenakan yaitu jilbab yang mereka sebut jilbab gaul atau jilbab cantik, yaitu penutup kepala yang banyak tertempel berbagai hiasan hingga menarik perhatian, dengan desain yang mengikuti mode paling kini katanya.

Padahal Allah Ta’ala telah menjelaskan hikmah dari perintah mengulurkan jilbab ini dengan firmanNya:

ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ

“Hal itu adalah agar mereka lebih mudah untuk dikenali dan tidak diganggu”. (Al Ahzab: 59)

Yaitu, bahwa bila seorang wanita itu memakai jilbab, bisa dimengerti bahwa dia adalah seorang wanita yang bersih, menjaga diri dan berperilaku baik. Sehingga orang-orang fasik tidak berani menggodanya dengan perkataan-perkataan yang kurang sopan. Berbeda halnya kalau dia keluar dengan membuka auratnya. Tentu dalam keadaan semacam itu dia akan menjadi incaran dan sasaran orang-orang fasik, sebagaimana yang kita saksikan dimana-mana. Sehingga kita sulit membedakan antara wanita muslimah dengan wanita-wanita kafir.

Demikian, adalah wajib bagi seluruh kaum wanita, baik yang merdeka, maupun yang budak untuk menutupkan jilbab ke seluruh tubuhnya ketika mereka keluar rumah. Maka saudariku, kenakanlah jilbab sebagai bentuk ketaatanmu kepada Allah dan RasulNya. Sungguh, perintah Allah Ta’ala akan memuliakanmu, menghindarkan dirimu dari kerusakan, menahanmu dari maksiat, melindungimu agar tidak tergelincir kepada kehinaan.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Oleh:Ust. Cecep Rahmat, Lc

(Hud/Darussalam.id)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved