Follow us:

MENJADI MUSLIM AKHIR ZAMAN

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً (الأحزاب: 40)

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Al Ahzab: 40)

Ayat ini menegaskan bahwa dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, maka tertutuplah sudah pintu kenabian. Sebab, Allah menjuluki Nabi Muhammad dengan julukan “Penutup Para Nabi” atau lebih dikenal dengan nabi akhir zaman. Bila beliau dijuluki Nabi Akhir Zaman berarti kita merupakan Ummat Akhir Zaman. Sebab, tidak ada nabi lagi setelah beliau dan tidak ada umat lagi setelah umat ini. Oleh karena itu, kita sedang berada di akhir zaman.

Kesadaran bahwa kita sedang hidup di akhir zaman sangat penting. Kenapa? Karena orang yang sadar berada di akhir zaman, ia akan bersikap waspada. Kenapa mesti waspada?

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu Anhu: “Adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bila menyampaikan khutbah mata beliau memerah, suara meninggi dan sangat marah, seakan-akan panglima perang yang sedang memperingatkan pasukannya dengan aba-aba: “Awas! Berjaga-jagalah kalian pada pagi hari dan petang harimu!” Dan Rasulullah Shallallahu Alaih Wasallam bersabda: “Aku dan hari kiamat diutus (berdampingan) seperti ini.” Dan beliau menghimpun jari telunjuk dengan jari tengahnya”. (HR Muslim)

Bayangkan..! Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam jika memberitakan tentang dekatnya kiamat diriwayatkan bahwa mata beliau memerah, meninggi suaranya dan berkhutbah dalam keadaan sangat marah…! Sungguh persis seperti seorang komandan di tengah medan jihad yang sedang memberi arahan kepada pasukannya. Beliau sama sekali tidak ingin seorangpun pasukannya lengah dalam mengantisipasi gerak musuh. Sebab kelengahan pasukan bisa menyebabkan musuh berhasil menjebol benteng ummat dan itu berarti seluruh ummat Islam bakal terancam nyawanya.

Sehingga pernah diriwayatkan bahwa pada suatu hari seorang sahabat melihat di kejauhan ufuk ada asap yang mengepul. Maka sahabat tersebut langsung keliling ke rumah para sahabat lainnya menggedor pintu rumah mereka seraya berteriak: “Asap…! Asap…!”

Artinya, pada saat sahabat ini melihat asap tersebut, maka ia teringat penjelasan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengenai salah satu tanda besar menjelang datangnya hari Kiamat adalah bila sudah terlihat asap mengepul. Jika lima belas abad yang lalu saja sahabat telah sedemikian seriusnya mensikapi tanda-tanda akhir zaman, bagaimana lagi sepatutnya kita yang hidup di zaman ini?

Bahkan sedemikian pentingnya urusan hari Akhir ini sehingga dari enam rukun iman yang kita pelajari sejak masih SD, maka beriman kepada hari Akhir adalah yang paling sering disebut berpasangan dengan beriman kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Di dalam Al-Qur’an maupun Hadits sangat sering kita dapati hal ini.

Para ulama yang berbicara tentang akhir zaman banyak cenderung berpendapat bahwa kita sedang berada di persimpangan jalan. Sebab tanda-tanda kiamat dibagi menjadi dua kelompok; yaitu tanda-tanda kiamat kecil dan tanda-tanda kiamat besar.

Diantara tanda-tanda kiamat kecil:

Diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَيُشِيْرُ بِإِصْبَعَيْهِ فَيَمُدُّ بِهِمَا.

“Aku diutus bersamaan dengan kiamat seperti dua (jari) ini.” Beliau berisyarat dengan kedua jarinya (jari telunjuk dan jari tengah), lalu merenggangkannya”. (Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq bab Qaulin Nabiyyi Shallallahu Alaihi Wasallam Bu’itstu Ana was Saa’atu ka Haataini)

Jadi, tanda kiamat kecil yang paling pertama adalah diutusnya Nabi Muhammad sebagai penutup dari segala Nabi dan Rasul, itu artinya umur dunia yang tersisa semakin sedikit sekali dibandingkan dengan umur dunia yang telah berlalu sesuai sabda Rasulullah:

“Masa dunia yang tersisa bagi umatku hanyalah seperti waktu yang tersisa dari suatu hari apabila shalat Ashar telah dilaksanakan”. (HR. Imam Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Umar)

Al Hafizh Ibn Hajar berkata; telah berkata Ad Dhahhaq: “Tanda kiamat yang pertama adalah diutusnya Nabi Muhammad dan menjadi hikmah dari munculnya tanda kiamat pada masa awal adalah untuk memperingatkan orang-orang yang lalai dan mendorong mereka untuk bertobat dan bersiap sedia”. (Lihat kitab Fathul Baari, kitab Ar Raqqaq)

Berlomba-Lomba Memperindah Masjid

عَنْ أَنَسٍ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُتَبَاهَى بِالْمَسَاجِدِ ” .

Dari Anas ia berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Tidak akan tegak hari kiamat sampai manusia bermegah-megah dengan (membangun) masjid.” (HR. Abu Dawud)

Para Pendusta Dipercaya

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad menyatakan isnadnya hasan dan matannya shahih. Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya dalam al-Shahihah no. 1887)

Sedikitnya Ilmu, Merebaknya Perzinahan, Banyaknya Kaum Wanita

نْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ : ” إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ ، وَيَكْثُرَ الْجَهْلُ . وَيَكْثُرَ الزِّنَا ، وَيَكْثُرَ شُرْبُ الْخَمْرِ ، وَيَقِلَّ الرِّجَالُ ، وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ ، حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ

Dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara tanda – tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, banyaknya kebodohan, banyaknya perzinahan, banyaknya orang yang minum khamr, sedikit kaum lelaki dan banyak kaum wanita, sampai pada 50 wanita hanya ada satu pria”.  (HR Bukhari)

Dominannya Fitnah, Banyaknya Kedustaan, Berdekatannya Pasar

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَظْهَرَ الْفِتَنُ , وَيَكْثُرَ الْكَذِبُ , وَيَتَقَارَبَ الْأَسْوَاقُ , وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ , وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ ” , قِيلَ : وَمَا الْهَرْجُ ؟ قَالَ : ” الْقَتْلُ ” .

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:  “Tidak akan terjadi Kiamat, sampai dominannya fitnah, banyaknya dusta, berdekatannya pasar, zaman-zaman akan saling berdekatan, dan haraj akan banyak”. Para sahabat bertanya “Apakah (haraj) itu?” Beliau menjawab “Pembunuhan”. (HR. Ahmad)

Diantara Tanda-Tanda Besar Menjelang Atau Mengiringi Terjadinya Kiamat

Munculnya Imam Mahdi

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَا تَنْقَضِي الْأَيَّامُ ، وَلَا يَذْهَبُ الدَّهْرُ ، حَتَّى يَمْلِكَ الْعَرَبَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي ، اسْمُهُ يُوَاطِئُ اسْمِي

Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Hari-hari tidak akan berakhir dan masa tidak akan berlalu hingga bangsa Arab dipimpin oleh laki-laki dari keturunanku, dimana namanya sama dengan namaku”. (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Keluarnya Dajjal

Dalam sebuah hadits shahih, dari Abu Umamah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda 15 abad lalu,

يآأيُّهَا النّاسُ! إِنَّها لَمْ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ مُنْذُ ذَرَأَ اللَّهُ ذُرِّيَّةَ آدَمَ أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا إِلَّا حَذَّرَ أُمَّتَهُ الدَّجَّالَ وَأَنَا آخِرُ الْأَنْبِيَاءِ وَأَنْتُمْ آخِرُ الْأُمَمِ وَهُوَ خَارِجٌ فِيكُمْ لَا مَحَالَةَ

“Wahai sekalian manusia, sungguh tidak ada fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajjal di muka bumi ini semenjak Allah menciptakan anak cucu Adam. Tidak ada satu Nabi pun yang diutus oleh Allah melainkan ia akan memperingatkan kepada umatnya mengenai fitnah Dajjal. Sedangkan Aku adalah Nabi yang paling terakhir dan kalian juga ummat yang paling terakhir, maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Dajjal akan muncul di tengah-tengah kalian.” (Dikeluarkan dalam Shahih Al Jaami’ Ash Shaghir no. 13833. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 

Fitnah dalam bahasa Indonesia berarti tuduhan tanpa bukti. Namun menurut alquran atau hadits maknanya lebih luas yaitu fitnah berarti ujian. Dan pada hakekatnya kita hidup di dunia ini pasti mengalami ujian demi ujian, apalagi kita mengaku beriman. Kenapa? Karena Allah Ta’ala ingin menyingkap keaslian orang yang mengaku beriman, apakah imannya jujur atau dusta?

 

عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ : لَمَّا فُتِحَتْ إِصْطَخْرُ إِذَا مُنَادٍ يُنَادِي : أَلَا إِنَّ الدَّجَّالَ قَدْ خَرَجَ . قَالَ : فَلَقِيَهُمُ الصَّعْبُ بْنُ جَثَّامَةَ فَقَالَ : لَوْلَا مَا تَقُولُونَ لَأَخْبَرْتُكُمْ أَنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ : ” لَا يَخْرُجُ الدَّجَّالُ حَتَّى يَذْهَلَ النَّاسُ عَنْ ذِكْرِهِ ، وَحَتَّى تَتْرُكَ الْأَئِمَّةُ ذِكْرَهُ عَلَى الْمَنَابِرِ ”

 

Dari Rasyid bin Sa’ad berkata, “ketika bumi Ishthakhr telah ditaklukan, ada orang yang berseru: “ketahuilah, sesungguhnya Dajjal telah muncul! Rasyid bin Sa’ad kemudian berkata, “Kemudian Ash Sha’b bin Jutsamah menemui mereka. Kemudian Rasyid bin Sa’ad berkata: “karena ucapan kalian, maka aku beritahukan kepada kalian bahwa aku telah mendengengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Dajjal tidak akan muncul sehingga manusia melupakannya dan para Imam meninggalkan untuk mengingatnya di atas mimbar-mimbar”. (HR. Ahmad)

 

Nabi Shallallahu Alaih Wasallam bersabda bahwa pada saat kebanyakan orang awam melupakan perkara Dajjal dan para Imam tidak lagi memperingatkan ummat akan bahaya puncak fitnah Dajjal, maka ketika itulah justru Dajjal bakal keluar. Sedangkan realitas dunia kita dewasa ini sudah mengandung kedua fenomena tersebut.

 

Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah Shallallahu Alaih Wasallam. Bila rangkaian fitnah telah bermunculan menjelang datangnya Dajjal, maka manusia akan mengalami proses seleksi. Barangsiapa yang sanggup istiqomah menghindarkan diri dan keluarganya dari rangkaian fitnah tersebut, maka ia bakal sanggup terbebaskan dari puncak fitnah, yakni Dajjal. Dan sebaliknya, barangsiapa yang malah ikut serta menyemarakkan rangkaian fitnah sebelum datangnya Dajjal, niscaya ia akan sangat mudah menjadi sasaran tipudaya Dajjal. Barangsiapa yang tanpa jiwa kritis menerima bahkan mendukung the New World Order, maka ia termasuk mereka yang pada hakikatnya turut menanti-nanti dan menyambut dengan sukacita kedatangan pucuk pimpinan, yaitu Dajjal.

 

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ (أحمد)

 

Dari Hudzaifah Radhiallahu Anhu berkata: “Suatu ketika, ihwal Dajjal dibicarakan di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaih Wasallam. Kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi diantara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal). Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali dalam rangka menyongsong fitnah Dajjal.” (HR. Ahmad)

 

فَأَسِيرَ فِي الْأَرْضِ فَلَا أَدَعَ قَرْيَةً إِلَّا هَبَطْتُهَا فِي أَرْبَعِينَ لَيْلَةً غَيْرَ مَكَّةَ وَطَيْبَةَ فَهُمَا مُحَرَّمَتَانِ عَلَيَّ كِلْتَاهُمَا كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَ وَاحِدَةً أَوْ وَاحِدًا مِنْهُمَا اسْتَقْبَلَنِي مَلَكٌ بِيَدِهِ السَّيْفُ صَلْتًا يَصُدُّنِي عَنْهَا وَإِنَّ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَائِكَةً يَحْرُسُونَهَا

 

“Aku akan keluar, lalu berjalan di bumi. Aku tak akan membiarkan suatu negeri, kecuali aku injak dalam waktu 40 malam, selain Makkah dan Thoibah (nama lain bagi kota Madinah, –pent.). Kedua kota ini diharamkan bagiku. Setiap kali aku hendak memasuki salah satunya diantaranya, maka aku dihadang oleh seorang malaikat, di tangannya terdapat pedang terhunus yang akan menghalangiku darinya. Sesungguhnya pada setiap jalan-jalan masuk padanya ada malaikat-malaikat yang menjaganya”. (HR. Muslim dalam Kitab Asyroot As-Saa’ah, bab: Qishshoh Al-Jassasah dari Fathimah binti Qais)

 

“Dajjal akan datang dan naik ke gunung Uhud. Ia memandang ke arah kota Madinah, kemudian bertanya kepada pasukannya, ‘Tahukah kalian apa istana putih itu? Itulah masjid Ahmad (Muhammad)”. Dajjal kemudian mendatangi Madinah, namun di setiap jalan masuk menuju Madinah telah dikawal oleh malaikat yang menghunuskan pedangnya. Dajjal pun segera berpindah Sibkhah Jurf (tanah berbatu vulkanik), lalu memukul serambinya sehingga kota Madinah bergetar (guncang) sebanyak tiga kali. Pada saat itu tidak ada seorang munafik laki-laki maupun perempuan, kecuali akan keluar dari kota Madinah dan bergabung dengan Dajjal. Itulah yang dimaksud dengan hari pembersihan”. (HR. Ahmad dan Hakim)

 

Dajjaal hadir untuk membuat fitnah yang menyebabkan orang beriman menjadi sesat dan kafir. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, di samping ada Dajjaal yang sebenarnya, ada juga manusia-manusia yang mempunyai karakteristik seperti Dajjaal. Oleh karena itu umat Islam juga harus mewaspadainya. Mereka adalah para pemimpin yang sesat dan nabi-nabi palsu. Mereka sangat berbahaya karena datang pada setiap tempat dan waktu. Sedangkan Dajjaal akan datang hanya menjelang hari kiamat. Maka para pemimpin yang sesat yang memiliki sifat-sifat Dajjaal tingkat bahayanya lebih kuat dari Dajjaal yang sebenarnya. Namun keduanya adalah fitnah yang harus diwaspadai oleh setiap muslim.

 

Para pemimpin di sepanjang masa selalu ada yang menjadi musuh para nabi dan para dai yang mengajarkan kebenaran. Dari mulai Raja Namrud, Fira’aun, dan Abu Jahal, sampai pemimipin sesat setelah wafatnya Rasulullah saw. Mereka di antaranya pemimpin-pemimpin dunia yang membantai dan menghancurkan negeri muslim, dan pemimpin-pemimpin dunia lainnya yang menimbulkan fitnah, menebar kesesatan, dan membuat kerusakan di dunia.

 

Keberadaan para pemimpin zalim lagi jahil sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, bahkan fitnah yang ditimbulkannya lebih menakutkan daripada fitnah Dajjal. Abu Dzar Radhiallahu Anhu pernah pertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam,

 

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ شَيْءٍ أَخْوَفُ عَلَى أُمَّتِكَ مِنْ الدَّجَّالِ قَالَ الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

“Wahai Rasulullah, apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal. Beliau menjawab, “Para pemimpin yang mudhillin (menyesatkan)”. (HR. Ahmad. Syaikh Al-Albani mengatakan para perawinya terpercaya kecuali Ibnu Luhai’ah buruk hafalannya)

Menurut penulis Fath al-Majid, penggunaan kata Innama yang mengandung makna al-hashr (pembatasan/penghususan) menjelaskan bahwa beliau sangat takut dan khawatir terhadap umatnya dari para pemimpin yang menyesatkan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggambarkan penyesalan orang-orang karena mentaati pemimpin yang menyesatkan,

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا(66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (68) رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْناً كَبِيراً (الأحزاب: 66-68)

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, Andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata;:”Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami Telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (Al Ahzab: 66-67)

Marilah kita jauhi sikap santai dan acuh tak acuh terhadap fenomena hidup di Akhir Zaman menjelang datangnya Kiamat. Marilah kita tingkatkan pengetahuan dan keyakinan kita akan tanda-tanda menjelang datangnya Kia.mat agar kita dapat mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan skenario ilahi yang bakal –insyaAllah- pasti terjadi. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’aala memasukkan kita ke dalam golongan yang tidak salah mensikapi segenap tanda demi tanda Akhir Zaman yang kian membenarkan kenabian Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh:Ustadz Ihsan Tanjung

(Hud/ darussalam.id)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved