Follow us:

Menjaga Ritme Belajar di Tengah Fleksibilitas

Beberapa semester terakhir saya sering menemukan pemandangan yang dahulu hampir tidak pernah terjadi. Mahasiswa hadir dalam perkuliahan. Kamera menyala. Nama mereka tercatat. Tugas pun masuk tepat waktu. Namun ketika diskusi dimulai, sebagian tampak seperti baru memasuki ruang belajar itu. Ada yang lupa materi minggu sebelumnya. Ada yang baru mengetahui bahwa pertemuan hari itu sebenarnya berlangsung secara luring. Ada pula yang baru menyadari bahwa tugas yang mereka kerjakan berbeda dengan yang dimaksud dosen.

Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di satu kampus. Hampir semua perguruan tinggi mengalaminya. Sesudah pandemi berlalu, sistem hybrid perlahan menjadi bagian dari kehidupan akademik. Sebagian perkuliahan dilakukan secara tatap muka. Sebagian lagi berlangsung melalui ruang digital. Sistem ini membawa banyak kemudahan. Mahasiswa tidak selalu harus datang ke kampus. Dosen memiliki ruang yang lebih lentur dalam mengatur perkuliahan. Hambatan jarak menjadi semakin kecil.

Namun di balik kemudahan itu, saya sering melihat sesuatu yang lain. Bukan menurunnya kemampuan mahasiswa. Bukan pula melemahnya semangat belajar. Yang perlahan berubah adalah ritme belajar. Dan perubahan itu sering berlangsung tanpa disadari.

Belajar Selalu Memerlukan Irama

Dahulu kehidupan kampus memiliki irama yang relatif tetap. Mahasiswa bangun pagi. Berangkat ke kampus. Bertemu teman. Memasuki kelas. Berdiskusi. Mampir ke perpustakaan. Pulang menjelang sore. Rutinitas seperti itu tampak biasa. Padahal justru dari pengulangan semacam itulah kebiasaan belajar terbentuk.

Aristoteles dalam Nicomachean Ethics mengingatkan bahwa manusia dibentuk oleh apa yang terus-menerus dikerjakannya. Keutamaan tidak lahir dari satu tindakan yang besar, melainkan dari kebiasaan yang dijaga setiap hari (Aristoteles, sekitar 350 SM).

Belajar pun demikian. Ia tumbuh dari ritme, bukan dari ledakan semangat yang muncul sesekali.

Mahasiswa mungkin sangat bersemangat pada awal semester. Buku-buku baru dibeli. Catatan dibuat dengan rapi. Target-target besar dituliskan. Namun sesudah beberapa minggu, semangat sering mulai turun. Yang tersisa hanyalah kebiasaan. Karena itu, belajar lebih banyak ditopang oleh irama daripada oleh suasana hati.

Barangkali sebab itulah kehidupan pesantren memberi tempat yang penting kepada keteraturan. Waktu bangun, mengaji, belajar, makan, dan beristirahat diatur secara jelas. Disiplin semacam ini bukan sekadar aturan. Ia membentuk irama hidup. Dan irama itulah yang menjaga keberlangsungan belajar.

Fleksibilitas yang Memerlukan Kedewasaan

Kuliah hybrid lahir dari kebutuhan zaman. Sistem ini memberi kesempatan kepada mahasiswa yang bekerja, tinggal jauh dari kampus, atau memiliki berbagai keterbatasan untuk tetap memperoleh akses pendidikan.

Dalam banyak hal, fleksibilitas tersebut merupakan kemajuan. Namun fleksibilitas tidak selalu identik dengan kemudahan. Kadang justru menuntut kedewasaan yang lebih besar.

John Dewey melalui Democracy and Education melihat pendidikan sebagai pengalaman yang berlangsung terus-menerus. Pengalaman itu memerlukan kesinambungan agar menghasilkan pertumbuhan (Dewey, 1916). Kesinambungan inilah yang kadang terganggu dalam pembelajaran hybrid. Ketika batas antara rumah dan ruang belajar menjadi kabur, waktu belajar pun kehilangan bentuknya.

Kuliah pagi diikuti sambil berbaring. Diskusi berlangsung sambil membuka media sosial. Presentasi teman didengarkan sambil membalas pesan. Tugas dikerjakan beberapa menit sebelum tenggat waktu.

Semuanya tampak berjalan. Nilai tetap keluar. Presensi tetap tercatat. Namun sesuatu yang menopang proses belajar perlahan mengalami erosi. Dan sesuatu itu bernama ritme.

Kelas yang Sunyi

Perubahan ini sering terlihat dari suasana kelas. Ketika dosen mengajukan pertanyaan, ruangan kadang menjadi sangat sunyi. Padahal materi sudah dibagikan sejak beberapa hari sebelumnya. Ketika diskusi kelompok dimulai, sebagian mahasiswa masih mencari kembali file yang seharusnya sudah dibaca.

Mereka tidak malas. Sebagian besar justru sangat sibuk. Mereka mengikuti organisasi, bekerja sambilan, menjadi kreator konten, mengelola usaha kecil, atau membantu keluarga.

Persoalannya bukan kurang aktivitas. Persoalannya adalah terlalu banyak perpindahan perhatian.

Byung-Chul Han dalam The Burnout Society menggambarkan masyarakat kontemporer sebagai masyarakat yang terus terdorong untuk produktif dan terus bergerak (Han, 2015). Akibatnya, manusia mudah merasa lelah. Bukan karena terlalu sedikit melakukan sesuatu. Justru karena terlalu banyak.

Kelelahan semacam ini sering tidak tampak: tubuh hadir, pikiran berpindah-pindah.

Perpustakaan yang Tidak Lagi Seramai Dulu

Perubahan ritme itu juga terlihat dari perpustakaan. Dahulu mahasiswa datang dengan rasa ingin tahu yang sederhana. Mereka membuka rak demi rak. Kadang menemukan buku yang sama sekali tidak direncanakan. Kadang pulang dengan pertanyaan baru.

Hari ini situasinya berbeda. Jawaban sering diperoleh lebih dahulu dari mesin pencari atau kecerdasan buatan. Perpustakaan menjadi tempat pelengkap. Buku dipakai untuk mengutip, untuk memenuhi daftar pustaka, atau sekadar memastikan referensi.

Padahal membaca selalu mengandung unsur pengembaraan. Jorge Luis Borges dalam berbagai esainya memandang perpustakaan sebagai semesta yang tidak memiliki batas (Selected Non-Fictions, 1999). Orang masuk ke dalamnya bukan hanya untuk memperoleh jawaban, tetapi untuk mengalami kemungkinan-kemungkinan baru.

Belajar pada dasarnya bukan sekadar memperoleh informasi. Belajar adalah membiarkan diri bertemu sesuatu yang belum diketahui. Dan perjumpaan seperti itu memerlukan waktu yang tidak tergesa-gesa.

Teknologi Tidak Salah

Teknologi tidak perlu dipersalahkan. Kecerdasan buatan, ruang digital, dan sistem hybrid merupakan bagian dari perubahan peradaban. Ivan Illich melalui Deschooling Society mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh bergantung sepenuhnya pada institusi formal. Manusia dapat belajar dari berbagai sumber (Illich, 1971).

Dalam arti tertentu, teknologi justru memperluas kesempatan belajar. Mahasiswa hari ini dapat mengikuti kuliah dari universitas lain, mengakses jurnal internasional, bahkan berdiskusi dengan orang-orang dari berbagai negara. Kesempatan semacam ini tidak dimiliki generasi sebelumnya.

Persoalannya bukan pada perangkat. Persoalannya berada pada manusia yang menggunakannya.

Fleksibilitas tanpa kebiasaan mudah berubah menjadi kelonggaran. Kemudahan tanpa disiplin berubah menjadi penundaan. Kebebasan tanpa tanggung jawab perlahan kehilangan arah.

Menjaga Ritme

Semakin saya mengamati kehidupan kampus hari ini, semakin saya merasa bahwa persoalan terbesar pendidikan bukan kekurangan informasi. Informasi tersedia di mana-mana. Buku mudah diperoleh. Kuliah dapat diakses dari mana saja. Penjelasan tentang hampir segala sesuatu tersedia dalam hitungan detik.

Yang jauh lebih sulit adalah menjaga ritme. Ritme membaca. Ritme berpikir. Ritme menulis. Ritme belajar. Ritme yang memungkinkan manusia bertumbuh secara perlahan. Josef Pieper melalui Leisure: The Basis of Culture mengingatkan bahwa kebudayaan tumbuh dari kemampuan manusia menyediakan ruang bagi perenungan (Pieper, 1952).

Manusia tidak hanya membutuhkan kecepatan. Ia juga memerlukan jeda. Karena pertumbuhan yang sesungguhnya jarang berlangsung secara tergesa-gesa. Pohon tidak tumbuh dalam semalam. Demikian pula pengetahuan. Ia bertambah sedikit demi sedikit. Kadang hampir tidak terasa. Namun waktu yang panjang memperlihatkan hasilnya.

Menjadi Mahasiswa di Zaman Hybrid

Mungkin yang diperlukan mahasiswa hari ini bukan sekadar kemampuan menguasai teknologi. Yang lebih penting adalah kemampuan mengatur dirinya sendiri. Membangun kebiasaan. Menjaga jadwal. Membiasakan membaca setiap hari. Melatih kesabaran. Menahan keinginan untuk terus-menerus berpindah perhatian.

Karena pendidikan tidak tumbuh dari ledakan semangat sesaat. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dijaga setiap hari. Kuliah hybrid akan terus berkembang. Teknologi akan semakin canggih. Cara belajar akan terus berubah. Namun satu hal tampaknya tetap sama. Belajar selalu membutuhkan irama.

Dan ketika irama itu terjaga, fleksibilitas tidak membuat manusia kehilangan arah. Ia justru dapat menjadi jalan bagi lahirnya kedewasaan baru dalam belajar. Barangkali yang paling penting bukanlah apakah seseorang belajar dari ruang kelas atau dari layar. Yang lebih penting ialah apakah ia masih mampu menjaga kesetiaan kepada proses belajar itu sendiri.

Sebab ilmu tidak tumbuh dari kehadiran yang tercatat. Ia tumbuh dari kesediaan seseorang untuk kembali membaca, kembali berpikir, dan kembali belajar, hari demi hari.

Penulis: Abdul Wachid B.S. (Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu), Purwokerto). (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved