Perniagaan yang Tak Pernah Merugi, Pesan Al-Qur’an dari Panggung MTQ Nasional 2026
Malam itu, dari panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah, terdengar satu penggalan ayat yang seakan merangkum perjalanan panjang para pecinta Al-Qur’an.
“Tijārotan lan tabūr.”
Perniagaan yang tidak akan pernah merugi.
Kalimat itu mengalun dari bacaan Syamsuri Firdaus, qari terbaik putra MTQ Nasional 2026. Qari asal DKI Jakarta tersebut yang melantunkan Surah Fāṭir ayat 29 hingga 32. Syamsuri Firdaus, mengukir prestasi Terbaik 1 (Juara 1) cabang Tilawah Dewasa Putra pada ajang MTQ Nasional XXXI tahun 2026 di Semarang.
Ia sukses mengungguli M. Reza Maulana Nurdin dari Jawa Barat di posisi Terbaik 2, serta Ari Wicaksono dari Sumatera Selatan yang menduduki posisi Terbaik 3. Prestasi ini menambah deretan catatan membanggakan Syamsuri Firdaus di panggung tilawatil Qur’an, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Di tengah suasana MTQ Nasional, ayat-ayat yang dilantunkan Syamsuri di panggung penutupan seperti pesan bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an tak berhenti pada indahnya suara dan panggung perlombaan.
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.” (QS Fāṭir: 29)
Ayat berikutnya melanjutkan janji itu: Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambahkan karunia-Nya.
Ada makna yang terasa dekat dengan perjalanan MTQ. Selama berhari-hari, para qari, qariah, hafiz, hafizah, mufasir, dan peserta dari berbagai penjuru Indonesia datang membawa ikhtiar terbaik mereka. Ada yang pulang dengan gelar juara, ada yang tidak. Ada yang namanya disebut di atas panggung, ada pula yang perjuangannya berhenti sebelum final.
Namun, Al-Qur’an seperti menawarkan ukuran keberhasilan yang berbeda.
Bahwa membaca, menjaga, dan mengamalkannya adalah “tijārotan lan tabūr”, sebuah perniagaan yang tak mengenal kerugian.
Pesan itu semakin kuat ketika Samsuri melanjutkan Surah Fāṭir ayat 31. Al-Qur’an ditegaskan sebagai kebenaran yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Lalu pada ayat 32, manusia diingatkan tentang amanah besar sebagai pewaris Kitab Suci.
“Kemudian, Kitab Suci itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami…”
Di antara mereka, kata ayat tersebut, ada yang menzalimi dirinya sendiri, ada yang berada di pertengahan, dan ada yang berlomba lebih dahulu dalam kebaikan dengan izin Allah.
Maka malam itu, lantunan Syamsuri seperti membawa MTQ kembali pada hulunya.
Musabaqah memang melahirkan juara. Ada nilai, peringkat, dan penghargaan. Tetapi setelah panggung ditutup dan para kafilah kembali ke daerah masing-masing, tersisa pertanyaan yang jauh lebih panjang: setelah Al-Qur’an dilantunkan begitu indah, sejauh mana ia akan hidup dalam keseharian?
Sebab mungkin di situlah kemenangan yang sesungguhnya terus diperjuangkan. Bukan hanya ketika sebuah nama diumumkan sebagai juara, melainkan ketika ayat yang dibaca di atas panggung menjelma menjadi kebaikan setelah lampu-lampu MTQ dipadamkan.
Dan untuk perjalanan semacam itu, Al-Qur’an telah memberikan sebuah janji:
“Tijārotan lan tabūr.”
Perniagaan yang tidak akan pernah merugi. (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments